Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 84: Jadi Petarung Profesional, Musuh Pertama Ternyata..!


__ADS_3

Angelina menatap wajah Ryan yang lebam-lebam, termasuk badannya, Radin juga ikutan memperhatikan. “Siapa yang permak ni anak,” batin Radin bingung sendiri.


“Dengan siapa kamu berkelahi Ryan, baru kali ini Mami lihat badan kamu bonyok parah begini?”


“A-anu Mi…dikeroyok…!”


“Dikeroyok? Apa salah kamu sampai di keroyok, emank kamu jambret atau begal hingga di keroyok begitu?” Angelina kaget juga anak kesayangannya sampai dikeroyok begini.


“Ahh paling rebutan cewek…kan di live medsos di rebutin dua cewek, mungkin ada yang cimbikir, lalu marah kalee…!” ceplos Delima, dan kali ini ceplosan-nya kok pas yaa.


“Hmm…benar juga, kenapa sih sampai punya dua cewek, si Rika dan siapa tuh satunya yang jangkung cantik itu?”


“Amanda mi…!” gumam Ryan tak sadar.


“Nahh iya si Amanda…yang mana sih sebenarnya pacar kamu itu, Amanda atau Rika!” desak Angelina lagi.


“Dua-duanya…bukan pacar Mi…!”


Radin langsung terbatuk mendengar ucapan Ryan. Kaget juga dalam hati ‘si papi’ yang juga sangat parah kelakuan saat muda.


“Ooo…begitu…mulai nurun rupanya ya kelakuan papi kamu. Papinya pensiun, anaknya kini nurun…!” sentak Angelina.


Radin langsung mingkem, menahan ketawanya, sambil pura-pura mencandai Delima dan lalu basa-basi nanya sekolah Jenny. Si bungsu Delano tak terlihat, dia sedang les Bahasa Inggris di taman belakang dengan guru private nya.


Di mata Radin, kelakuan istrinya itu tak aneh lagi, sekian lama berumah tangga, Radin sudah hapal kelakuan istri jelitanya ini.


Ryan hari ini terpaksa pulang, setelah di telpon maminya. Awalnya dia ingin ngedon di apartemen sampai lebamnya hilang. Tapi kalau sudah sang Mami yang nelpon, tak ada alasan! Ryan paling ngeri membantah ucapan ibunya yang dia tahu paling menyayanginya ini.


Kalau papi-nya santai saja, mau tidur di mana saja tak masalah, asal memberitahu. “Anak cowok nggak masalah, paling dua masalahnya. Berkelahi, atau rebutan cewek! Tapi kalau sudah main narkoba…tiada ampun, papi akan bertindak keras!” itulah ucapan tegas Radin buat Ryan.


“Ingat ya Ryan, kamu jangan mainin anak orang, apalagi itu putri pa Wakapolri…duhh bikin malu kalau sampai anak orang patah hati!” semprot Angelina.


“Kawinin aja mi..!” lagi-lagi Delima nyolot, hingga Ryan langsung melotot, tapi setelahnya mengaduh, pipinya masih nyiut-nyiut.

__ADS_1


Melihat si abang besar kesakitan begitu, Jenny yang paling lembut, lalu ke dalam, kemudian membawa kompres dingin. Dan si cantik lembut dengan kasih sayang mengkompres pipi Ryan.


“Heii Delima, ini nihh baru adik yang baik. Lihat ayank Jenny, dia mau ngerawat Abang, kamu ini ngeledek saja kerjanya…awas kalau minta tolong, nggak bakal Abang tolongin, biarin kamu mewek!” Ryan kini ada bahan balas ledekan adiknya yang tengil ini.


“Ladalahhh…kejam amirrrr….ya dehh…kapokkkk…!” Delima lalu sibuk ngurut-ngurut kaki Ryan. Delima paling takut kalau Abang nya tak mau bantu dia.


Angelina dan Radin senyum saja melihat kekompakan 3 bersaudara ini. Namun seperti biasa, begitu si bungsu ikutan bergabung, maka sudah dapat di pastikan kehebohan lah yang melanda.


“Moga mereka terus kompak dan saling menyayangi ya pi, sampai mereka dewasa kelak!”


“Iya…Ryan dan Jenny benar-benar sayang dengan Delima dan Delano, sayang mami nggak bisa hamil lagi. Coba kalau ada tambah satu lagi, rame betul rumah ini!”


“Iya sihh…aneh yaa, padahal Mami nggak pake kontrasepsi loh..dan papi rutin siram rahim Mami!”


“Mungkin sudah takdir kita…ga papalah, 4 sudah cukup!” potong Radin, dan kini keduanya sibuk ke bagian dalam, untuk olahraga sore bersama.


*****


Semenjak di kalahkan Panai, Cacu dan Polo, Ryan kini makin rajin berlatih beladiri di Sasana, dia tak mau lagi konyol di kalahkan tiga musuh beratnya itu.


Radin juga beri semangat ke anaknya ini. “Biasalah yang namanya petarung, pasti kelak keok, tapi jangan sampai keok terus!”


Inilah yang membuat Ryan benar-benar berlatih serius, kali ini pelatihnya tak main-main, yakni mantan juara nasional tarung bebas, Bang Ramos.


Bang Ramos bahkan meminta Ryan sekalian saja jadi atlet tarung bebas. “Kamu punya pukulan dan tendangan hebat Ryan. Sayang kalau hanya di salurkan jadi petarung jalanan. Kenapa tak di salurkan ke wadah yang tepat!” saran Bang Ramos.


Usul Bang Ramos kena di hati Ryan, akhirnya remaja ini tak memikirkan dendam lagi, tapi berlatih tekun dan bersiap bakal jadi petarung bebas secara profesional.


Tentu saja tanpa sepengetahuan Mami nya. Hanya papi-nya yang sangat pengertian tahu. Dan tanpa tedeng aling-aling Radin langsung jempol dan mendukung niatan Ryan ini.


“Pokoknya papi dukung 1000 persen, betul itu kata pelatih kamu. Ngapain sih jadi petarung jalanan, apa yang kamu dapat? Mending jadi atlet profesional…!”


Sehingga 3 bulanan kemudian, Angelina makin heran melihat tubuh Ryan yang makin keras dan berotot, dengan usia yang masih 18 tahunan tubuh Ryan bak pemuda usia 25 tahunan saja.

__ADS_1


Suatu hari, usai berlatih keras…!


“Ryan, kamu akan bertarung melawan petarung dari sasana lain, untuk perbaikan peringkat. Kamu sudah aku daftarkan!” Bang Ramos memberitahu Ryan, setelah 3 bulanan anak asuhnya ini berlatih keras.


“Siap bang, di kelas berapa bang..?”


“Kamu akan bertarung di kelas Lightweight, 70 kilogram, sama kayak Abang dulu. Lawan kamu ini juga hebat. Walaupun sama pendatang baru dengan kamu, namanya Panai, waspadalah!” pesan Bang Ramos.


Ryan kaget bukan main, musuh pertamanya di ring octagon justru salah satu ‘musuh besarnya’ Ryan tentu saja jadi bersemangat bukan main.


“Hmm…akhirnya tak di duga, kita akan bertarung juga di ring resmi sobat, tunggulah pembalasanku!” batin Ryan sangat antusias, dan kini jadi tak sabar ingin segera naik ring octagon.


Bambang, Budi, Anwar dan Tomi kaget bukan main, saat tahu Ryan akan bertarung di Octagon. Lebih kaget lagi saat tahu musuh Ryan adalah Panai. Salah satu orang yang pernah mengeroyok Ryan dulu.


“Mantap…bikin KO si songong itu bro!” dukung Budi dan Anwar serempak, termasuk Bambang.


“Dyehhh dasar kaum cowo, kalau udah urusan berkelahi semangat bingit.” si Tomi langsung nyolot.


Hari yang di tunggu pun datang…!


Dua hari sebelum bertarung, diadakan sesi jumpa pers, tentu saja yang duluan ditampilkan adalah petarung-petarung pemula. Baru petarung juara dan penantangnya.


Panai dan Ryan pun dipertemukan, melihat lawannya seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat, mental Panai mulai terganggu juga.


Namun, Panai memiliki mental kuat, dia senyum-senyum saja seakan-akan Ryan bukan lawan yang keras.


“Tunggulah di atas ring bung…!” bisik Ryan, saat keduanya di pertemukan dan hampir adu jotos di sesi konpres ini.


“Woww…bakalan seru nekkk…!” ceplos Tomi kaget, saat melihat Ryan dan Panai hampir adu jotos di sesi perkenalan.


“Waahh bakalan lebih seru dari partai utama ini,” ceplos Bambang, yang diiyakan Budi dan Anwar.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2