Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 33: Mulai Turunkan Ego


__ADS_3

Angelina terdiam di depan pintu ruangan perawatan VIP rumah sakit ini, dia lalu menguping pembicaraan 3 orang di ruangan ini.


“Dasar keras kepala, tak sadarkah kamu Radin, lihat pakaian kamu, lihat tubuh kamu…ya Allah ni anak?” tegur Rina Sasmita, sambil geleng-geleng kepala melihat Radin yang kucel begini.


“Radin, kamu kerja apa sih, kenapa sampai begini?” Rudi Sasmita lebih lunak sambil menatap wajah anak kesayangannya ini.


Radin hari ini sengaja menjenguk ayahnya, setelah satu hari Angelina mendatangi ke kos-nya.


“Aku…kerja jadi buruh bangunan lepas pah.”


“Apaaa…! Ya Tuhan Radin, kamu itu sejak kecil jangankan pegang cangkul, pegang golok saja tak bisa. Kok bisa sihh, kenapa nggak pulang ke rumah. Mulai lah bangun usaha, mami dan papa akan memodali kamu lagi untuk bangkit..ingatlah, kamu ini lulusan universitas bonafid...!” kembali Rina Sasmita menegur, serta kaget bukan main dengar ucapan Radin.


Radin hanya diam dan mendengarkan saja nasehat-nasehat kedua orangtuanya, tidak menyela, juga tidak mengiyakan.


“Radin…sekali ini kamu dengarin nasehat papa, bila kamu masih keras kepala, papa nyerah dan terserah apapun yang mau kamu lakukan.”


Kembali kamar perawatan ini sunyi, Radin masih terlihat menunduk. “Radin, jangan jadi anak durhaka. Kamu itu sudah dewasa, usia kamu juga sudah 33 tahunan, tak mau kah kamu berumah tangga lagi, jangan buat dosa lagi yaa..!” suara Rina Sasmita lembut.


Tangannya membelai kepala Radin yang berambut agak gondrong ini.


“Pangkas ni rambut, cukur tu cambang bauk, ngeri banget mami lihat kamu. Belum lagi pakaian, hadeuh mana bau lagi!” Rina menyambung ucapannya, persis menasehati anak kecil. Radin bagi Rina Sasmita memang tetap ‘anak kecil’ sampai kapan pun.


“Radin, kamu mau nggak papa kenalkan dengan seorang wanita, papa yakin pilihan papa kali ini tak bakal salah!”


“Hadeuh paahh, tak kapok kah menjodohkan si Radin!” Rina Sasmita lah yang protes.


“Hmm…mami ini, masa lupa mami lah yang pingin dengan gadis cantik itu, dokter yang merawat papi!”


“Ohh dokter Angelina, wah kalau yang ini sih Mami dukung banget.”


Bak dengar petir di siang bolong, Radin hampir saja terjungkal dari kursi yang dia duduki.


“Ihh kamu kenapa sih, kok kaget gitu, kalau tak suka di jodohkan, mami dan papa kamu juga tak maksa. Jalanin rumah tangga kan kamu.” cetus Rina Sasmita menatap tajam wajah anak kesayangannya ini.


“Bu..bukan gitu Mi…apakah dia mau sama Radin, lihat saja Radin kini bukan siapa-siapa, hanya mantan orang kaya dan kerjapun jadi buruh bangunan.”


“Radin, apakah kamu lupa, kamu itu masih punya orang tua. Kamu pikir papa kamu ini bangkrut kayak kamu…!” jengkel juga Rudi Sasmita melihat keteguhan dan keras kepalanya si anak bengal mereka ini.

__ADS_1


“Sudahlah pah, biarkan saja mengalir apa adanya! Radin, kamu jangan buru-buru pulang. Tunggu di sini, kenalan saja dulu, si dokter cantik itu akan ke sini sebentar lagi. Aneh yaa…biasanya jam segini dia datang, kenapa belum nongol-nongol!” Rina Sasmita menatap jam di dinding rumah sakit, sudah hampir 1 jam dokter Angelina belum jenguk suaminya.


Tak lama kemudian ada ketukan di pintu kamar. “Nahh panjang umur, kok baru datang dok kemana saja!” Rina Sasmita langsung menyapa dan menyambut ramah.


Melihat Angelina yang masuk, Radin langsung menunduk tak berani menatap wajah Angelina. Hatinya tak karuan rasa melihat wanita jelita dalam baju dokter ini.


Sesuai protap, Angelina pun memeriksa Rudi Sasmita, tanpa sekalipun menoleh ke Radin yang hanya membisu dan menunduk.


“Nahh…bapak hari ini sudah bisa pulang, bapak hebat, cepat banget sembuhnya. Selanjutnya bapak minggu depan ke sini cek yaa…!”


“Terima kasih dok, kamu juga hebat, bikin bapak jadi cepat sehat. Oh ya ini anak bapak, si Radin Sasmita, jangan kaget lihat penampilannya. Radin ayo salaman dan berkenalan!”


Radin dengan kagok berdiri dan menyalami Angelina, Radin terus menunduk, tak berani menatap wajah jelita wanita ini.


“Kapan datang…kok baru nongol!” sapa Angelina bersikap biasa-biasa saja. Dalam hati Angelina kaget juga, kasar sekali tangan pria tampan brewokan ini.


Diam-diam Angelina justru suka penampilan Radin saat ini, lebih jantan dan lebih berwibawa di matanya. Dengan cambang bauk lebat. Walaupun tak suka lihat rambutnya yang mulai panjang.


“Ee…anu..si-sibuk kerja…jadi bur..!”


“Radin kok gugup begitu, baru lihat Mami kamu begitu, biasanya kamu itu tak begini.” Celutuk Rina Sasmita yang memandang aneh kelakuan anaknya ini.


Baik Radin dan Angelina justru tak sadar tangan mereka masih bersalaman.


“Ahh aku juga manusia biasa, kok Abang rendah diri begitu…biasa aja abang, semuanya hanya titipan. Kan kita hanya dikenalkan…?” Sahut Angelina kalem.


Radin makin gugup, dia keceplosan, padahal Ange dipikirnya tak tahu kalau mereka mau di jodohkan.


“Ma-maaf…jangan diambil hati ucapanku tadi!” Radin malu bukan main. Baru pertama dia begini menghadapi seorang wanita.


Usai mengucapkan kalimat ini, Angelina baru sadar tangan mereka masih bersalaman. Dan di tatap senyum-senyum saja oleh Rudi dan Rina Sasmita.


“Ange permisi dulu ya…masih mau periksa pasien yang lain!” Angelina lalu keluar kamar ini dengan wajah memerah. Karena malu tangannya tadi lama bersalaman dengan Radin.


“Sebentar pah, Mi…!” Radin buru-buru keluar kamar dan mengejar Angelina.


“Ange tunggu!” Angelina kaget dan berpaling saat melihat Radin mengejarnya.

__ADS_1


“Ange…maafkan papa dan mamaku…soal niat menjo..!”


“Biasa saja Bang Radin, namanya juga orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Lagian papa dan mami kamu kan hanya minta kita kenalan!” sela Angelina cepat.


“Baiklah…maafkan kalimat aku yang tadi..?”


“Kayak lebaran saja, minta maaf mulu! Sudahlah, aku sudah bisa berdamai dengan hatiku, aku tak mau mengungkit-ungkit soal masalalu kita.”


“Makasih Ange…kamu memang wanita emas dan mulia. Beda dengan aku, seorang lelaki bangsat, kotor dan tak tahu diri!” lirih suara Radin, lenyaplah kini semua keangkuhan pria tampan ini.


Sesaat Angelina iba juga melihat Radin begitu. Benar-benar bukan seorang Radin yang dulu dia kenal. Sang mantan pria bangor dan angkuh! Serta bergaya arogan dengan siapa saja, apalagi anak buahnya.


“Syukurlah kalau abang mulai sadar, Ange pun turut senang.”


“Ange…!”


“Iya…apalagi?” Angelina kini menatap dengan sabar wajah Radin.


“Bolehkah…aku ke rumah kamu. Tapi jangan salah duga…aku hanya ingin bertemu Ryan!”


“Hmm…buat abang, kapan pun datang pintu selalu terbuka. Asal jangan tengah malam yaa, ntar di kira maling lagi.” canda Angelina tersenyum manis.


Radin mengangkat wajahnya, tersenyum! Inilah senyum pertama kali seorang Radin, si pria angkuh, semenjak jatuh bangkrut.


Terpana juga Angelina, melihat senyum Radin begini, sangat simpatik, sangat jantan, apalagi wajahnya penuh brewokan begitu.


“Aku permisi dulu yaa…!” ucap Angelina, Radin langsung mengangguk.


“Oh ya…satu hal lagi!” tiba-tiba Angelina yang tadi berpaling bersuara lagi.


Radin juga langsung berbalik dan menatap dengan wajah penuh harap.


“Apa ya…?” sahut Radin cepat.


“Abang…kurangin lah merokok, kalau perlu mulai kini berhenti, kasian anak kita melihat kebiasan jelek Abang. Juga…pangkaslah rambut abang, and rapikan cambang bauk itu…dan kembalilah berpakaian lebih rapi..!”


Angelina lalu melangkah dengan anggun, meninggalkan Radin yang terus menatap punggung dan kaki-nya yang jenjang dan putih bersih di padu heel. Dan kembali menyunggingkan senyum.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG


__ADS_2