
Pekerjaan jalan milik kontraktor PT Songko Jaya selesai lebih cepat 1 bulan dari jadwal. Dengan pengalaman serta kejeniusan Radin, jalan inipun selesai dengan baik.
Pa Songko bukan main senangnya, perusahaannya pun kini untung besar. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Radin pun diangkatnya jadi Manejer Operasional di perusahaannya.
Manejer Operasional sebelumnya adalah anaknya, Della Songko, kini anaknya naik pangkat jadi Direktur Utama PT Songko Jaya.
Pa Songko kini hanya jabat komisaris saja lagi, dia percaya duet anaknya dan Radin bisa membuat perusahaannya makin besar. Sejak lama ingin pensiun, kini pa Songko bisa lega, niatnya kesampaian.
“Aku percaya anak muda ini bikin perusahaanku makin gede kelak, di bantu anakku” batin pa Songko sumringah.
Saat berkenalan dengan Della, Radin kaget juga, wanita karir ini sangat cantik dan ternyata…sudah janda satu anak!
Tapi Della tak se angkuh Stella, wanita ini malah sangat ramah dan enak di ajak diskusi. Sehingga Radin pun jadi kerasan bekerja sama dengan dengan sang Dirut baru ini.
Mereka kerap berdiskusi terkait lelang-lelang proyek dan tentu saja proyek yang dikerjakan. Dan Della makin kagum dengan pengetahuan Radin yang memintanya tak tanggung-tanggung ambil proyek.
“Kalau hanya kelas 20 atau 30 miliaran, ku rasa kita capek di pekerjaan Bu Della, mending kita mulai ambil proyek dengan nilai di atas 500 milaran. Bahkan kalau perlu kita ikut tender pembanguan jalan tol yang nilai proyeknya di atas 5 triliun, atau pun proyek lainnya.”
Della Songko langsung membulat. Wajah wanita yang sepintas ada Arab-arab nya karena turunan dari pa Songko dan mirip artis Celine Evangelesta ini kaget.
Tak menyangka Radin meminta nya mulai bermain di kolam besar dan bersaing dengan kontraktor-kontraor kuat dan besar yang sudah mapan.
“Tapi bang Radin…kita kalah di modal, sedangkan Bapak nggak mau pinjam di bank, selain bunganya gila-gilaan juga takutnya proyek gagal!”
“Hmm…itu soal mudah Bu Della…kita cari investor!”
“Nahh ini aku setuju Bang, resikonya tak terlalu besar dibandingkan pinjam di bank. Tapi siapa investornya..?”
“Beri aku waktu 1 atau 2 minggu ya…aku akan coba kontak-kontak teman yang mau ber invest di perusahaan ini.”
“Oke…silahkan Bang!”
Radin kini tak lagi tinggal di kos, dia sekarang mampu sewa apartemen. Walaupun tak mewah seperti apartemennya dulu.
__ADS_1
Namun dibandingkan kos-nya, apartemen ini jauh lebih baik dan nyaman.
Seminggu kemudian, Radin kini muncul juga di rumah mewah orang tuanya. Rudi Sasmita menatap wajah anaknya yang akhirnya nongol ini.
“Hmm…nanam saham di PT Songko Jaya, perusahaan apa itu…apa tak kebesaran kalau kita nanam saham sampai 500 Miliar?”
“Papa tak usah khawatir, kan Radin kerja di sana sebagai Manajer Operasionalnya. Untuk perusahaan, kita jangan pakai PT Sasmita Group, Radin yakin pa Langga masih memblok perusahaan kita ini.”
“Lantas pakai perusahaan yang mana? Jangan main-main lo Radin. Kalau sampai ini gagal, habis sudah kita...”
“Punyaku pah, selama ini aku nanam saham di perusahaan milik Mira, jadi biar nanti Mira yang Radin manfaatkan untuk teken kerjasama dengan PT Songko Jaya.”
“Hmmm…ya sudah…ingat, hati-hati, ini aset terakhir kita!”
“Tenang pah, Radin kali ini tak main-main…kalau ini kelak berjalan sesuai rencana Radin, uang bapak akan Radin kembalikan…utuh!”
Setelah dapat nasehat ini dan itu, Radin pun kini menuju ke kantor Mira dan akan membicarakan planningnya tersebut.
Mira juga kaget dengan rencana Radin yang akan nanam saham tak main-main di PT Songko Jaya. Yang dianggap perusahaan kecil. Apalagi saat tahu asetnya tak sampai 70 miliar.
Namun Mira percaya, insting Radin sebagai pengusaha jempolan pasti tepat!
“Oke…aku percaya dengan kamu, aku akan atur draf-drafnya di perjanjian sesuai keinginanmu. Lalu tinggal atur pertemuan dengan Bu Della, sang Dirutnya!” cetus Mira, sambil mengontak notarisnya.
Baru saja Radin akan beranjak dari kursinya, pintu ruangan kerja Mira di ketuk Sekretarisnya. Karena ada dokter Angelina di luar dan ingin bertamu.
Radin dan Mira saling pandang, Radin mengangguk dan Mira meminta sekretarisnya agar mempersilahkan Angelina masuk.
Angelina dan Radin sama-sama terpaku saat bertemu. Hampir 7 bulan semenjak bertemu di rumah sakit dulu, kini mereka bertemu lagi di ruang kerja Mira.
Angelina ternyata tak sendiri, dia bersama seorang pria tampan, yang usianya tak berselisih jauh dari Radin.
“Ange…wahh sama siapa nihh…baru lihat aku teman pria kamu?” Mira langsung memecah kesunyian di ruangan ini.
__ADS_1
“Saya Gubran Sumanjaya, pacarnya Angelina. Bulan depan kami akan bertunangan dan rencananya paling lama 6 bulan ke depan akan naik pelaminan!”
Setelah menyalami Mira, Gubran pun bersalaman dengan Radin. Melihat penampilan Radin yang dianggapnya ‘biasa-biasa’ saja Gubran terlihat anggap remeh pria tampan yang agak kurus ini.
“Radin…! Selamat ya…moga kalian bahagia kelak!” Radin menyalami Gubran yang justru rada-rada kaget saat Radin sebut namanya. Seakan kenal tapi lupa di mana.
“Angelina…maaf aku harus jalan lagi. Sekali lagi…selamat yaa..!” Radin sesaat menatap wajah jelita Angelina, lalu cepat-cepat menunduk.
Sebagai wanita dewasa, Angelina bisa melihat ada kekecewaan di mata pria ini. Walaupun Radin tersenyum. Tapi senyum pria ini seakan di paksakan, beda dengan 7 bulanan lalu. Sangat tulus dan terlihat aura ketampanannya.
Walaupun pakaian Radin jauh lebih baik dari 7 bulanan yang lalu. Tapi masih jauh di bandingkan dengan gaya berpakaiannya, sebelum perusahaannya bangkrut.
“Iya Radin…terima kasih. Kamu juga moga secepatnya dapat pengganti Stella, dan bisa berbahagia!”
Radin langsung mengangkat wajahnya dan keduanya kini saling tatap. Saat bersamaan Gubran aseek bicara dengan Mira, sehingga tak memperhatikan Radin dan Angelina saling bertatapan.
Radin terlihat menggeleng…di bibirnya yang tak jadi berucap. Gerakannya seolah menyebut nama Angelina.
Sesaat kemudian Radin pun melepaskan tangannya di tangan Angelina, lalu pamit ke Mira dan Gubran.
Lama Radin terdiam di mobil SUV yang baru dia beli dengan cara mencicil. Pikirannya tak lepas dari Angelina. “Maafkan aku Ange…semoga kamu bahagia…kamu berhak bersama lelaki yang baik dan bertanggung jawab!”
Radin pun meninggalkan kantor Mira Enterprise ini dan berniat kembali ke kantor PT Songko Jaya. Untuk atur pertemuan Della dan Mira, sekaligus penandatangan kerjasama.
Sepanjang jalan Radin kadang melengut, kadang tertawa. Sejurus kemudian mengutuk dirinya sendiri, yang tak punya keberanian menyatakan cinta pada Angelina.
Radin benar-benat gabut tak terkira…dia akhirnya membatalkan kembali ke kantor. Tapi berbelok menuju ke apartemennya.
Lelaki ini hanya duduk termenung, sambil minum wine seorang diri…Patah Hati!”
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1