Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 94: Ditodong Pistol..!


__ADS_3

Setelah bersusah payah, Ryan akhirnya menemukan sebuah klinik, dia langsung masuk dan meminta agar mahasiswa berjaket ungu ini untuk di obati. Karena si gadis cantik terus bercucuran airmata saking perih matanya.


Untung saja Ryan cepat membawa, sehingga kejadian fatal bisa di hindari, 30 menitan kemudian gadis ini sudah bisa tenang.


Sambil menunggui gadis ini, Ryan lalu mengontak Bambang, dan dari keterangan sahabatnya ini, semua mahasiswa Nusantara sudah kembali ke kampus, tanpa ada yang cedera berat.


Namun, Ryan marah bukan main saat mendengar para aparat men-swipping sampai ke kampus mereka.


“Bilangin ke teman-teman, lepas jaket almamater dan kalau sudah di rasa aman, agar pulang ke rumah masing-masing. Tapi ingat kawal yang mahasiswi, jangan pulang sendiri, kamu, Budi dan Anwar koordinir, aku sedang membawa satu mahasiswi yang terkena gas airmata di klinik!”


Dari tayangan media sosial, Ryan jadi tahu kekacauan merembet kemana-mana, para mahasiwa lakukan perlawanan saat para aparat lakukan swipping di mana-mana.


Dan inilah yang tak di duga-duga semua orang. Ryan lakukan rekaman secara live lewat media sosialnya.


Dia meminta agar aparat jangan lakukan kekerasan berlebihan hingga lakukan swipping ke kampus.


“Jangan sampai masyarakat ikut terprovokasi dan membela mahasiwa, saya minta agar aparat hentikan swipping hingga ke kampus. Ingat kami ini intelektual muda, bukan penjahat. Kalau aparat masih bertindak, saya khawatir warga akan turun ke jalan membela mahasiswa dan akan terjadi kekacauan di mana-mana”


Ucapan Ryan yang heroik ini langsung viral di mana-mana. Bahkan akhirnya di siarkan ber ulang-ulang di TV swasta.


Kapolri hingga Panglima pun mendengar dan melihat ini, dan akhirnya keluar perintah agar semua aparat jangan lagi lakukan swipping.


“Saya minta polisi kawal para mahasiwa yang ingin pulang ke rumah atau ke kostnya, jangan ada lagi kekerasan!” ucapan Kapolri tegas melalui live di TV, dan akhirnya di taati anak buahnya.


Di sebuah rumah mewah…!


Radin yang ikut melihat gaya anaknya begitu ikutan kagum, Angelina juga kaget dan saling toleh dengan suaminya.


“Tumben si abang besar begini heroik, sudah macam politikus ajahh!” seru Angelina tertawa, hingga Radin memencet hidung mancung istrinya, kedua suami istri tetap mesra walaupun sudah setengah baya.


“Anak siapa dulu dongg…!”


“Huu…dasar, ehh di bikinnya di hotel loh!” Angelina terkekeh, hingga Radin hanya tersenyum mesem. Kasus ‘malam jahanam’ memang selalu jadi bahan candaan keduanya, tapi sukses bikin Radin sering salting dengan istri jelitanya ini.

__ADS_1


Radin dan Angelina memang berada di rumah dan menyaksikan demontrasi yang berakhir rusuh ini. Mereka juga tahu Ryan sebagai Ketua BEM ikut demo, inilah yang membuat keduanya ikut tegang menyaksikan aksi-aksi demontrasi ini.


Kembali ke klinik…!


Ryan kini mendekati mahasiswi ini, yang matanya sudah mulai membaik. “Makasih yaa…eh nama kamu siapa, aku Isabella Bayanev dari Kampus Merah Putih…!”


“Nama kamu kayak orang Eropa Timur, aku Ryan Sasmita dari Kampus Nusantara!”


“Panggil Bella! Iya emank…karena ayahku keturunan dari Kazakhstan, makanya namaku seperti negeri sana!” sahut Bella.


“Ayoo Bella kamu ku antar pulang, ini sudah mendekati senja, nanti ortu kamu khawatir. Kita naik taksi saja yaa!”


Isabella mengangguk, Ryan lalu membereskan pembayaran, keduanya kini berjalan ke jalan raya, untuk mencegat taksi. Sambil melepas jaket almamater masing-masing.


Isabella cerita dia dari Fakultas Hukum dan sudah semester 2, yang artinya satu tingkat di bawah Ryan.


Baru 15 menitan mobil ini jalan, Ryan kaget saat melihat ada 5 aparat memukuli dua orang mahasiswa dan di pimpin seorang polisi berpangkat perwira.


“Kenapa Ryan..?”


“Kamu tunggu Bella, aku mau menolong mahasiswa itu, kenapa aparat memukuli dua orang mahasiswa itu, lihat sudah berdarah-darah itu!”


“Heii hentikan itu,” teriak Balang, hingga ke 5 polisi ini berhenti, sang perwira itu terlihat marah.


Balang tentu saja kaget bukan main, saat tahu sang perwira berpangkat Ipda ini ternyata Alfito.


“Heiii kamu jangan ikut campur, dua mahasiswa ini provokator!” bentak Ipda Alfito marah, sekaligus kaget karena yang menegurnya ternyata Balang.


“Bohong…kami mau pulang naik motor, tiba-tiba 6 polisi ini mencegat kami. Lalu membabi buta memukuli kami!” bantah salah satu mahasiswa ini sambil menyeka darah di dahinya.


“Ahhh aku tak peduli, pokoknya mereka provokator!” bentak Alfito.


Balang langsung menahan ke 5 polisi ini yang mau memukuli lagi. “Kalau kalian masih memukuli, aku tidak akan tinggal diam!” dengus Balang dingin.

__ADS_1


“Kamu berani melawan aparat ya?” tiba-tiba Alfito mencabut pistolnya dan menodongkan ke Ryan. 5 anak buahnya yang tadi memukuli dua mahasiswa ini kaget bukan main, karena sang komandan mereka sudah mencabut pistol.


Padahal perintah Kapolri semua polisi di larang bawa senjata api. Ryan kaget juga dengan ulah koboy Alfito ini.


“Kamu mau menembak? Lihatlah kiri kanan kita, ratusan warga berkumpul dan akan jadi saksi ulah kamu ini!” sela Ryan tenang, dua mahasiswa tadi ikutan ketakutan dan langsung berlindung di belakang Balang.


Alfito menoleh kiri kanan, dan benar saja ratusan warga sudah berkumpul, bahkan ada yang mem-video ulahnya ini.


Alfito lalu menurunkan pistolnya dan menyimpannya kembali ke pinggang. “Awas kamu!” ancam Alfito. Lalu mengajak 5 anak buahnya pergi dari sana.


“Hei Alfito, nggak usah main ancam, kalau kamu emank jantan, ku tantang kamu duel satu lawan satu tangan kosong. Tak usah pakai senjata!” ejek Ryan gemas bukan main.


Alfito tak menoleh, malah ngeloyor pergi, tentu saja dia tahu kalau Ryan ini atlet petarung bebas. Menerima tantangan duel satu lawan satu sama juga konyol, pasti dia yang bonyok.


Puluhan warga langsung bertepuk tangan melihat gaya Ryan ini, mereka memuji kehebatan Ryan yang mampu mencegah 6 oknum polisi ini bertindak brutal pada kedua mahasiswa, yang kini menyalami Ryan dan bergegas pulang naik motornya kembali.


“Kamu hebat dan nekat Ryan, gila banget tu polisi, main todong saja!” sungut Bella jengkel. Ryan hanya tersenyum saja.


Akhirnya Ryan sampai juga di rumah Isabella, rumah ini ternyata sangat mewah dan berada di komplek perumahan elit, walaupun tentu saja masih mewah rumah milik ortu Ryan.


“Ryan mampir dulu yuks?” ajak Isabella.


“Kapan-kapan saja Bella, ini udah malam!”


“Janji yaa…eh mana nomor ponsel kamu.” Kini keduanya bertukar nomor ponsel dan Bella tersenyum manis saat mendadah Ryan yang bermaksud ke kampusnya dulu.


Gadis yang mirip selebgram terkenal asal Rusia Dasha Taran, yang terkenal bak barbie ini lama menatap, hingga mobil taksi yang membawa Ryan hilang dari pandangan.


“Lelaki hebat dan tamoan…model gini yang aku cari selama ini!” batin Isabella.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2