
Hari ini pertama kalinya Ryan menjadi mahasiswa, setelah orientasi mahasiswa baru sudah kelar. Rambutnya mulai panjang. Ryan sengaja ingin memanjangkan rambutnya. Cita-cita lama saat di bangku SMU, pingin gondrong.
Ryan meminta sopir keluarganya agar mengeluarkan motor gedenya, yang jarang dipakai. Namun selalu di panaskan saban hari. Moge berharga hampir 1 miliaran ini kini sudah nangkring di depannya.
“Anjaiiiii….abang besar kayak preman jalanan, pake jaskul, terus pake motor gede dan..eh rambut dah mulai panjang…!” seru di centil Delima.
“Anjai-anjaiii….masih kecil juga, rok masih warna merah nggak boleh komen orang dewasa,” sungut Ryan.
“Ciee…sewoootttt…mentang-mentang kini anak kuliahannnn…!” Delima langsung berlari ngacir menuju mobilnya, karena Ryan bersiap akan menjewer kupingnya.
Baru saja duduk di jok motornya, kembali Ryan kaget, saat di jok belakang nemplok…si tengil, Delano.
“Heiii ini satu lagi, ngapain sih nemplok di jok belakang, sono cepat susul Delima, ntar loe telat lagi sekolah!”
Delano tertawa dan kini turun, tiba-tiba si tengil ambil helm Ryan. “Heiii…ya Allah ni anak, helm abang siniiii!” sentak Ryan kaget, tak menyangka adik bungsunya yang tengil ini, pagi-pagi sudah bikin dia naik darah.
Belum sampai masuk ke mobil mewah yang akan bawa dia dan Delima ke sekolah, langkahnya tertahan. Karena Jenny yang kini berpakaian seragam biru putih menungguny.
“He-he-he…!” si tengil Delano malah ketawa lucu, lalu menyerahkan helm ini ke Jenny, kemudian menunggingkan pantatnya ke Abang Besar. Ryan benar-benar kheki dengan kelakuan si bungsu yang kadang ajaib ini.
Begitu mobil jalan, Delima dan Delano kompak mencebi ke Ryan, hingga Ryan langsung genggam tangannya sambil geleng-geleng kepala. Tapi dia kembali tertawa, tingkah lucu keduanya bikin Ryan terhibur.
“Ih Abang ganteng banget begini, Jenny suka lihat gaya Abang!” Jenny tersenyum manis sambil membantu memasangkan helm Ryan. Tubuh Jenny walaupun baru SMP sudah menjulang.
“Nanti kita jalan-jalan ya sayang, Jenny ikut di jok motor Abang ini.”
“Oh ya…aseekkk, boleh Bang…pingin banget Jenny jalan naik motor ini!” kedua kakak adik yang sangat kompak ini lalu saling kissbye.
Jenny naik mobil lain di antar sopir dan satu pengawal (Delima dan Delano juga di kawal satu orang), Ryan berangkat sendiri naik motor gedenya.
Semenjak kasus penculikan dulu, Radin tak lagi membiarkan anak-anaknya pergi tanpa pengawalan. Hanya Ryan yang tidak! Selain sudah dewasa, Ryan juga emank jago berantem.
__ADS_1
Semua aktivitas ke 4 anaknya disaksikan Radin dan Angelina, kedua orang tua mereka ini sambil menahan tawa. Apalagi saat melihat kelakuan Delima dan Delano, yang suka sekali menggoda Ryan.
Delima dan Delano tahu, semarah-marahnya Ryan, tak pernah sekalipun memukul kedua adiknya, menjewer pun pelan. Sehingga mereka tak segan menggoda si Abang Besar, yang aslinya sangat mereka sayangi ini.
Bahkan usai pertandingan dan melihat wajah Ryan bengap-bengap, Delima dan Delano lah yang paling sibuk menguruti bahkan menemani Ryan tidur. Inilah yang membuat Ryan tak pernah tega menyakiti kedua adiknya ini.
Belum juga sampai kampus, Ryan sudah curiga, sejak masuk jalan bebas hambatan non tol, dirinya sudah merasa diikuti sebuah mobil.
“Hmmm…pagi-pagi gini, agaknya sudah ada yang mau bikin perkara dengan gue!” pikir Ryan tanpa takut.
Saat di jalanan sepi…!
Cittt…Ryan terpaksa ngerem mendadak, karena mobil yang mengikuti tiba-tiba memotong jalannya. Kaget juga pemuda. Hampir saja dia jatuh karena ngerem mendadak.
Tak lama, turunlah 5 orang dari mobil ini, yang ternyata di pimpin Arief, sang Ketua BEM Kampus Nusantara. Gayanya yang sok jagoan sudah membuat Ryan tak respeck.
Ryan ingat, saat OMB dulu, sang ketua BEM ini suka sekali petentang petenting dan mulutnya memarahi para mahasiwa baru.
“Mau apa kamu memotong motornya Rief!” tegur Ryan kalem, tapi matanya mulai waspada, karena ke 4 rekan Arief bersikap permusuhan dengannya.
“Hmm…mahasiswa baru belagu, heii Ryan. Ingat! Jangan dekati Dewi, atau kamu akan berurusan denganku!” bentak Arief.
“Oh ya…apakah kamu bodyguardnya?” sahut Ryan enteng.
“Heii kamu nantang yaa!” Arief langsung emosi.
“Aku tak pernah cari perkara, tapi kalau di tantang, aku tak takut, mau kamu bawa lebih banyak orang aku tak masalah!” cetus Ryan.
Empat kawan Arief saling pandang, kini mereka mengurung Ryan. Dua orang langsung menyerang Ryan, Arief juga melompat dan menendang pemuda ini.
Ryan mampu menghindar tendangan Arife, tapi dia gagal menghindari dua pukulan keras yang membuat terjengkang ke depan.
__ADS_1
Ryan terpaksa bergulingan, karena Arief dan 4 kawannya ini ternyata lihai beladiri. Ryan kini jadi bulan-bulanan, hingga pemuda ini marah bukan main.
Ryan nekat, dia menerima semua pukulan dan tendangan, tapi balasannya yang sering membuat KO musuhnya di ring octagon tak kalah dahsyatnya.
Saat dua orang menyerangnya, Ryan melontarkan tendangan sangat keras dan satu orang langsung klenger setengah pingsan di aspal.
Ryan juga terjengkang lagi, bibirnya sudah berdarah. Tapi dia langsung bangkit saat 3 orang mengejarnya, termasuk Arief bermaksud ingin menginjak tubuhnya.
Ryan melakukan sapuan yang luar biasa kerasnya. Dua orang langsung terjatuh ke aspal, mata mereka berkunang seketika, Ryan lalu bangkit dan saat Arief melompat sambil menendangnya, Ryan menyingkir ke samping, tapi sebuah uppercut keras dia layangkan.
Takkkk…telak bersarang di dagu Arief, pemuda ini kelenger dan pingsan seketika, dua giginya patah dan berdarah.
Ryan yang terlanjur marah lalu menerjang satu orang yang dia lihat sangat licik, sehabis memukul selalu mundur.
Orang ini menangkis, tapi itu hanya pukulan tipuan, Ryan melayangkan tangan kanannya. Bukkkk….pukulan melengkung ini tepat menghantam perut orang tersebut.
Pemuda ini terduduk ke aspal sambil memegangi perutnya. Ryan mendekati dua orang yang kena sapuan di kakinya tadi, dengan sekali tendang, orang ini tergeletak di aspal.
Lalu yang orang kedua, juga bernasib sama, dengan sebuah tendangan berputar, dia menyusul rekannya pingsan di tengah jalan.
Ryan memusuti darah yang menetes di bibirnya, hatinya puas, 4 orang pingsan, satu orang bergulung-gulung kesakitan.
Setelah memasang helm nya dan tas ransel, Ryan berlalu dari sana, di saksikan puluhan mahasiwa yang melihat pertarungan tak seimbang ini, 5 lawan 1.
Nama Ryan langsung populer di kampus ini, sang Ketua BEM yang diketahui premannya kampus. Hari ini kalah telak melawan Ryan, sang mahasiswa baru yang jagoan dan pastinya…ganteng!”
Idola baru di kampus Nusantara sudah terlahir di diri Ryan Sasmita!
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1