
Radin menatap wajahnya di cermin, rambutnya sudah di pangkas pendek, cambang bauknya pun di rapikan, tidak dipangkas habis. Radin puas dengan penampilan barunya ini.
“Ganteng om..!” si tukang cukur langsung memuji penampilan Radin yang baru.
Radin tersenyum dan membuka dompetnya, uang 50 ribu pun dia berikan. Saat si tukang cukur mencari kembaliannya. Radin terdiam sejenak, di dompetnya memang hanya selembar uang itu. Upah cukur rambut dan rapikan cambang bauk hanya 20 ribu.
Sementara si tukang cukur ini bilang, sejak pagi, baru Radin ini yang bercukur di tempatnya.
“Udah pak, nggak usah, kembaliannya buat bapak saja!”
“Makasih banyak Om, moga rejeki Om makin banyak!” si tukang cukur ini sampai membungkuk pada Radin.
Radin hanya mengangguk dan kini dia berjalan dengan gontai. Meninggalkan si tukang cukur yang membuka lapak di bawah pohon.
Saat melewati sebuah rumah makan, Radin terdiam sejenak, sejak pagi dia belum sarapan dan hari ini sudah siang.
Radin hanya bisa menahan lapar. Saat melewati sebuah mesjid, Radin akhirnya mampir dan kebetulan pas azan sholat juhur.
Dengan khusuk Radin yang jarang-jarang ibadah ini sholat lalu berdoa. Baru sadar dirinya sekarang, betapa berharganya uang.
Kalau dulu enteng saja dirinya membuang-buang duit, bahkan sampai mengontrak Angelina 100 miliar tanpa di ketahui wanita cantik itu, melalui perusahaan Mira.
Kini…50 ribu pun sangat berharga dan bisa membuatnya kenyang! Andai uang itu masih ada. Kini dengan perut lapar Radin hanya duduk tersandar di pilar mesjid ini, menahan perut lapar.
Radin kini berjalan keluar mesjid, saat itulah dia melihat di sebelah kanan mesjid ini sedang di bangun sebuah menara.
Radin menatap saja pembangunan menara mesjid ini. “Hmm…ini salah pasangannya, kalau di teruskan bisa roboh menara tersebut.” Batinnya sambil berjalan mendekati tempat itu.
“Pak…cara pasang nya salah, itu bahaya bisa roboh kalau di teruskan!”
Orang yang dia ajak ngomong kaget. Dan menatap Radin yang saat itu hanya kenakan celana jeans dan kaos.
“Kamu insinyur tekhnik yaa, yang benar bagaimana? Tau nggak ini sudah yang kedua kalinya, yang pertama dan kedua benaran roboh.” dia malah balik bertanya.
__ADS_1
Radin pun menjelaskan ini itu, dia memang sarjana tekhnik di sebuah kampus bonafid di Jakarta. Dan S2 manajemen tekhnik di London, sehingga enteng saja menjelaskan cara pasangan yang benar.
Kagetlah pria setengah tua ini, dia sampai menatap lama wajah pria tampan ini. Kini mereka pun berkenalan.
“Heii stop dulu kalian kerja, turun semua ke sini!” panggil pria tadi pada para pekerjanya.
5 pekerja pun turun dan mendatangi Radin. “Radin, tolong kamu jelaskan lagi cara pasang yang benar!”
“Pa Songko…bolehkah saya minta makan dulu, saya belum makan. Nanti setelah makan, saya akan bantu anak buah bapak. Tanpa di upah juga tak masalah!”
Orang yang di panggil pa Songko terdiam sebentar, lalu tertawa. “Heii Bajul, cepat belikan dia nasi padang satu bungkus!”
Aneh dan lucu bagi pa Songko, seorang pemuda tampan, walaupun hanya kenakan kaos dan jeans malah kelaparan. Bahkan nasi padang satu bungkus ludes tak tersisa.
Padahal walaupun berpakaian sederhana, wajah ‘aristokrat’ Radin tetap tak bisa di bohongi.
Kini Radin benar-benar ikut membantu cara pemasangan menara yang benar, 5 pekerja ini pun kagum melihat tekhnik yang Radin ajarkan.
Sederhana saja, tapi setelah di pasang, benar-benar pas dan sangat kokoh!
Pa Songko otomatis pusing dan bayangan kerugian pun terbayang, apalagi bukan hanya satu menara yang di bangun, tapi 4 menara, dan ini baru menara pertama.
Dia menang tender pembangunan mesjid ini senilai 5 miliar. Pa Songko kini ikutan kagum melihat cara kerja Radin.
“Pasti pemuda ini ahli teknik. Ahh iyaa…pas banget, aku kan baru menang tender pembangunan jalan sepanjang 20 kilometer di Sumatera. Nanti aku tanya, apakah dia ahli soal itu, kalau ya, langsung ku rekrut jadi pegawaiku!” batin pa Songko.
Dua jam kemudian Radin turun dari menara dan menemui pa Songko lagi. Tanpa basa-basi sambil menikmati kopi panas dan memantau kinerja anak buahnya. Pa Songko menawarkan pekerjaan itu buat Radin.
Radin langsung mengiyakan dan pa Songko minta Radin besok ke kantornya. Alamatnya pun di berikan.
“Baik pa Songko, besok jam 9 saya akan ke kantor bapak!” Radin lalu permisi dan kini tersenyum dalam hati.
Bagaimana tak senyum, pa Songko saking senangnya memberi dia uang hingga 5 juta, sebagai ongkos Radin merubahkan sketsa atau gambar menara, yang sebelumnya di buat tim tekhnik pa Songko.
__ADS_1
Bayangan kelaparan malam ini pun sirna. Radin bisa makan dengan kenyang dan tidur pulas di kosnya. Bahkan sebelumnya Radin bisa beli pakaian yang lebih layak.
Besoknya di kantor PT Songko Jaya..!
Pa Songko makin kagum melihat cara Radin menjelaskan tehknik pembangunan jalan. Tim tekhnik dia sebelumnya dianggap banyak pemborosan di material. Juga makan waktu lama kalau dipaksakan bekerja.
“Kalau gini cara kerjanya, bapak bakalan rugi besar!” jelas Radin, pa Songko melongo.
Radin lalu minta izin merubah gambarnya, pa Songko mengangguk dan makin terpesona. Kini dia bisa menghitung keuntungan. Setelah Radin merubah tekhnik pembangunan jalan tersebut.
Radin ingat, dulu pernah marah besar dengan tim tekhniknya. Sebab proyek besarnya yang bernilai hampir 5 triliun, hampir bikin dia rugi tak sedikit.Gara-gara sektsa yang salah.
Karena tim tekhniknya tak paham tekstur tanah serta jarak material yang sangat jauh. Setelah Radin turun tangan, bayangan rugi besar pun tak terjadi.
Dirinya malah untung besar dan sejak saat itu, saham perusahaannya melesat tak terkendali dan perusahaanya jadi perseroan papan atas.
Pa Songko yang tak mau buang-buang waktu, dua hari kemudian memerintahkan Radin langsung berangkat ke Jambi, survei lokasi.
Pa Songko juga menunjuk Radin sebagai Manajer Proyek-nya. Radin di janjikan gaji hampir 35 juta sebulan dan bonus besar nanti. Radin sampai terdiam dan tersenyum sendiri.
“Apa karena aku sholat ya kemarin, sehingga Tuhan langsung kabulkan doaku.” Batin Radin sumringah. Sejak saat itulah sesibuk apapun Radin pasti sempatkan kewajibannya yang 5 waktu.
Gara-gara ini pulalah, Radin batal mendatangi Ryan, anaknya. Padahal seorang wanita jelita sangat mengharap-harapkan kedatangannya.
“Hmm…begitu keras kepala kah seorang Radin Sasmita, padahal dia bukan Radin yang arogan lagi?” batin Angelina.
Angelina juga mempunyai ego tinggi, apalagi kini dia bukan Angelina yang dulu. Tapi seorang sosialita, model papan atas dan pastinya dokter spesialis tajir melintir.
Angelina pun pasrah. Dan dia mulai pelan-pelan membuka hati buat pria yang baik dan bertanggung jawab.
Di usianya yang sudah hampir 29 tahunan, Angelina tak ingin menua sendiri!
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG