
Prija Nat datang lagi sore ini, setelah tadi pagi izin pulang dengan alasan jenguk ibunya. Kondisi Ryan sudah jauh lebih baik, bengkak di wajahnya sudah sembuh, hanya sisakan biru-biru sedikit.
Badannya pun kini tak lagi sakit-sakitan, hingga kondisi Ryan kembali normal dan segar, Prija Nat senang sekali melihat kondisi pria yang dia kagumi sudah bugar lagi.
“Ini aku bawakan buah-buahan segar, bentar aku kupaskan,” Prija Nat lalu mengambi pisau di meja mini bar dan mulai mengupas buah apel.
Hari ini Prija kenakan baju kaos yang agak ngepres di badannya, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, dengan celana jeans yang juga slim.
Sejak di beri Ryan uang tak sedikit, Prija Nat memuaskan dahaganya belanja pakaian-pakaian bagus dan bermerek. Hingga penampilan gadis yang sudah cantik ini makin terlihat jelas.
Ryan tak tahan juga melihat itu, dia memeluk lembut tubuh Prija Nat dari belakang, hingga gadis cantik pura-pura kaget.
“Aku lagi kupas buah…!” bisik Prija, tapi mulutnya langsung terdiam, karena Ryan sudah menyerbunya.
Keduanya kini saling berbalas membelit lidah, kupas buah hari ini berubah jadi saling mencurahkan cinta. Prija Nat sama sekali tak menolak pakaiannya di lucuti Ryan, yang hanya kenakan baju kimono hotel, tanpa ada apa-apa lagi di dalamnya.
Lama tak bersama wanita, semenjak terakhir bersama Bella, membuat Ryan bak kuda liar yang lepas kendali.
Prija Nat memahami ini, dia pun membuka pintu seluas-luasnya buat sang jagoan muda ini. Kini hanya terdengar suara-suara lirih yang membuat siapapun iri melihatnya.
Tubuh Prija Nat benar-benar sempurna, putih bersih dan berbau harum lembut. Kini Ryan melupakan semuanya, dia benar-benar menikmati sore hari di Bangkok untuk berlayar bersama Prija Nat.
Setelah hampir 1,5 jam berlayar, kini keduanya terkapar kelelahan di ranjang empuk dan mahal ini. Prija Nat kini bak kucing, jinak dan manja-manja meow.
Prija Nat tak munafik, dia dengan mantan kekasihnya sudah biasa begini, tapi baginya Ryan jauh di atas kekasihnya.
Selain durasi dan gayanya, Ryan juga benar-benar tak ada puas-puasnya dengan dirinya. “Bang…jangan ke lamaan, aku nggak bisa jalan besok!” bisik Prija Nat manjahhh. Ryan tertawa saja dan bilang siapa suruh Prija Nat memiliki body yang menggiurkan.
__ADS_1
Dibandingkan Bella, Ryan akui Prija Nat menang setingkat, karena gadis Bangkok jelita ini mampu imbangi keperkasaannya.
Kadang bisa bergerak lembut, tapi di sisi lain bisa bergerak liar, sesuai keinginan Ryan. Keduanya kini menikmati manisnya cinta hingga malam hari, dan makan pun pesan dari kamar.
Bang Ramon menerima chat dari Ryan, kalau malam ini dia makan di kamar saja dengan Prija Nat, lalu pelatihnya ini di minta cari makan bersama official lainnya di luar.
“Yahh bakalan berubah jalan besok si gadis Bangkok ini,” canda Bang Ramon, membalas chat Ryan.
Bukan sehari Ryan dan Prija Nat bersama, tapi sampai 5 hari, dan bersamaan dengan keluarnya Johanes dari rumah sakit, karena tinggal penyembuhan lagi.
Saat Ryan dan Prija Nat baru saja berlayar untuk yang ke sekian kalinya. Keluarlah pengumuman mengejutkan melalui breaking news TV lokal. Panchorn Ado memutuskan pensiun selamanya dari dunia keras ini.
Ryan sampai terdiam sambil melihat tayangan TV itu, saat melihat kaki musuhnya pakai gip dan berjalan gunakan kursi roda.
Terlihat keangkuhan Panchorn Ado seakan runtuh. Bahkan petarung ganas ini terlihat memerah matanya. Tanda sangat sedih sekali harus meninggalkan dunia yang sudah membesarkan namanya, di usia emasnya yakni 29 tahunan.
Tapi apa mau di kata, cedera parah di kakinya butuh waktu lama penyembuhannya. Itu pun belum tentu dia bisa normal seperti sedia kala. Pukulan dan tendangan Ryan benar-benar menghancurkan karirnya.
Malamnya, Bang Ramon dan Johanes di temani istri dan anaknya, yang baru keluar dari rumah sakit berkumpul di lobby hotel.
“Ini kesempatan kamu Ryan untuk menjadi juara ASEAN, kamu menduduki rangking satu dan tinggal di bawahmu petarung dari Bangkok juga. Kalau kamu siap, 3 bulan dari sekarang promotor Aseng Jaya akan atur pertandingan kamu, dalam perebutan gelar juara yang lowong ini…!”
Ryan terdiam sesaat. “Aku harus minta izin ortuku dulu…!” sahut Ryan pelan, dia ragu apakah ibu dan ayahnya beri izin. Johanes yang di larang membuka mulut dulu oleh dokter, terlihat menganggukan kepala.
“Iyah…kalau begitu kita bersiap pulang ke Jakarta. Semoga ayah dan ibumu kasih izin Ryan!” Bang Ramon pun mengalah.
Prija Nat terlihat sedih, harus berpisah dengan pejantan tangguh ini. Tapi Ryan janji sewaktu-waktu akan ke Bangkok lagi, atau Prija Nat yang berkunjung ke Jakarta, hingga si cantik ini langsung ceria.
__ADS_1
*****
Angelina dan Radin menatap Ryan yang minta izin untuk bertarung lagi, memperebutkan gelar yang lowong, pasca di tinggalkan Panchorn Ado.
“Kalau papa…yahh terserah mami kamu Ryan!” Radin kini memecah kebuntuan.
“Kan kamu sudah janji, kalah menang akan istirahat dari dunia keras ini. Kenapa sih kamu ngotot untuk bertarung lagi?” Angelina terlihat gamang, antara beri izin atau tidak buat anak tertuanya ini.
Akhirnya, Angelina minta waktu 3 hari lagi berpikir! Kalau ibunya sudah bicara begitu, Ryan terpaksa sabar menunggu. Apalagi ayahnya beri kode agar Ryan jangan ngotot dengan ibunya ini.
Besoknya Ryan mendatangi di studio di mana teman-temannya sedang berlatih, kini Mita Band sudah menjelma jadi band yang sedang naik daun.
Melihat Ranti yang kini makin cantik, Ryan langsung lupa dengan Prija Nat, juga Bella. Wajah Ranti bagi Ryan mengalahkan kedua gadis jelita itu.
Padahal dari kecantikan, kedua wanita itu sebenar nya lebih cantik, tapi wajah Ranti ibarat buah mangga muda, selalu bikin kangen dan tak bosan di pandang.
“Heiii Ryan…selamat datang jagoan!” Anwar lah yang duluan menyapa, hingga mereka sejenak hentikan latihan. Ryan beri kode agar mereka lanjutkan latihan. Tapi mereka langsung menyudahinya. Latihan ini di studio milk Ryan, tapi pemuda ini bebaskan kawan-kawannya memakainya.
Seakan paham, kini ke empatnya sengaja membiarkan Ryan dan Ranti berduaan bicara, setelah tadi asek bersenda gurau.
“Kamu makin cantik saja Ranti, band kalian juga makin bersinar!” puji Ryan, hingga Ranti tersenyum kecil.
“Kamu juga badan makin kekar saja, bikin ngeri lama-lama!” balik Ranti memuji lalu mengoloknya. Keduanya saling pandang, tapi Ranti mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Saat ini mereka sedang bersantai di kafe.
“Ranti…apakah kamu punya…kekasih..?” tanya Ryan lembut. Mata bulat Ranti langsung terbuka lebar..!
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG