Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 88: Dewi Ternyata Mahasiswa Juga


__ADS_3

“Ryan, kapan lagi kita akan bertemu…?” Ryan yang bermaksud pamit, berbalik menatap si jangkung ‘Amanda Manopo’ yang menatapnya penuh harap.


“Catat saja nomor ponselku Dewi, kapan-kapan kita pasti bertemu lagi!” Dewi langsung sumringah dan mengambil ponselnya. Ryan tersenyum melihat ponsel gadis cantik ini, yang hanya ponsel made in Cina.


Ryan pulang tanpa berpikir kalau perkenalannya yang tak sengaja dengan Dewi akan mempunyai story panjang.


Sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi juara intercotinental yang akan berlangsung 3 bulanan lagi. Ryan kini bersiap untuk ikut oreintasi mahasiswa baru bersama ke 4 sohibnya di Kampus Nusantara.


Pagi pukul 7.00, Jenny sudah senyum melihat si abang tersayangnya ini memakai topi dari bahan purun dan tas dari kaleng susu, lalu jaket almameter warna biru terang, plus tulisan di dada dengan nama nya.


Untung saja si tengil Delano dan Delima sejak pagi sudah sekolah, andai melihat si abang besar begini, pasti di olok-olok keduanya lagi.


“Berapa hari Bang O-M-B nya?” tanya Jenny lembut.


“Tiga hari saja, kan nggak kayak dulu yang bisa seminggu, Abang berangkat dulu yaa…hati-hati sekolah ya sayang. Tahun depan udah seragam putih abu-abu aja nih adikku tercinta ini!” Ryan memeluk Jenny dan mengecup dahi adiknya yang glowing ini.


Angelina yang melihat betapa sayangnya Ryan dengan Jenny tersenyum, kasih sayang Ryan bahkan kadang melebihi sayangnya pada kedua adiknya lainnya, yakni Delima dan Delano.


“Andai Jenny bukan adik kandungnya, pasti aku akan minta keduanya berjodoh. Cocok dan saling sayang…ehh si Jenny kok mirip Ranti yaa…?” batin Angelina jadi ingat anak Brigjen Jimi Subowo dan Tante Oni yang cantik jelita berwajah lembut, mirip Jenny.


Angelina sampai kini masih menyayangkan kenapa Ryan telat menyatakan cintanya pada Ranti yang terlanjur bertunangan dengan Alfito, anak Wakapolri.


Angelina sangat suka dengan Ranti, yang begitu ramah dan hormat dengannya dulu, saat selamatan kepindahan ke Kalimantan.


Ryan langsung membawa sport mahalnya ke kampus, kini remaja yang sudah beranjak jadi pemuda ini, sengaja tak ingin lagi menyembunyikan identitas dirinya.


Baru saja memarkir mobil sport mewahnya, dan otomatis langsung jadi pusat perhatian semua mahasiswa baru plus semua panitia, Ryan kaget...karena dia telat!


Seluruh mahasiswa baru terlihat sudah berbaris rapi di halaman kampus ini. “Apes dah gua, di hari pertama telat, pasti akan di hukum para senior…nasibbb..!” batin Ryan dan berjalan tenang menuju barisan.

__ADS_1


“Heiii…mahasiswa baru yang telat ke sini kauuuu!” teriak seorang panitia dengan lagak atasan militer memarahi prajuritnya. Ryan pun mengangguk hormat.


“Telah kamu yaa…kamu harus di hukum!” ceplos si panitia ini dengan garang.


Ryan langsung di minta pus up hingga 50X, kaget juga pemuda ini, masa cuman telat 5 menitan harus pus up 50X.


Namun Ryan tak punya pilihan lain, terpaksa menuruti kehendak panitia yang terlihat songong ini.


“Jangan mentang-mentang punya mobil mehong bisa seenak jidat ya telat datangnya,” bentak si panitai songong ini.


Bambang, Budi, Anwar dan Tomi saling pandangan sambil tersenyum melihat sang ‘big bos’ mereka ini telat datangnya dan kena hukuman.


Setelah pus up sampi 50 kali hingga badannya mulai berkeringat di pagi hari ini, hingga aroma parfum lembur Ryan menyebar. Si panitia songong yang ternyata aslinya Ngondek ini, langsung mendekat ke arah Ryan, dan tanpa sadar menghirup aroma sedap ini.


“Idihhh…satu kolam juga ternyata sama eike!” gumam Tomi tanpa sadar, hingga Bambang, Budi dan Anwar sakit perut menahan tawa.


“Nggak ngomong ape-ape, akika cuman bilang ye kok sama…eh maksud akika sama klemer-klemer ehh salah lagi!”


“Ye…maju banserrr, ye pus up juga 50X!”


“Alamirrrr…jangankan 50X, 5 kali juga akika lemessss nekkk!” Tomi kaget sekaligus bingung. Puluhan mahasiswa baru sama kayak Bambang cs, sakit perut menahan tawa, melihat perdebatan sesama ngondek ini.


Tiba-tiba datang seorang panitia lainnya. Bambang, Budi dan Anwar juga mahasiswa baru lain, khususnya yang laki-laki kaget menatapnya. Wanita ini sangat cantik dan jangkung, bertinggi hampir 180 centimeteran, dengan wajah bak Amanda Manopo.


“Ada apa sih ribut-ribut?” tanyanya sambil menatap panitia ngondek tadi.


“Ini Wi, si banci ini olok eike, mau eike hukum ehh malah ngeles, kagak tahan katanya!” si panitia Ngondek ini lapor ke panitia cantik ini.


Ryan malah terbelalak menatap si panitia cantik ini, yang ternyata Dewi orangnya. “Kok jadi panitia dan bisa kuliah di kampus ini?” batin Ryan kaget sendiri, sambil terus menatap Dewi.

__ADS_1


“Udah ga usah main hukum-hukum lagi, ayoo kita mulai agenda OMB kita. Ntar kacau lagi, kalau dikit-dikit main hukum,” ceplos Dewi, hingga Tomi menarik nafas lega, karena dia otomatis batal di hukum.


Ryan kini masuk ke barisan di mahasiwa baru. Tapi hatinya penasaran, Dewi jadi mahasiswa di sini! Yang dia tahu bukan sembarangan kampus, karena UKT nya sangat mahal. 4 sahabatanya saja, kalau bukan dia yang membantu, tak bakal mampu kuliah di sini.


Dewi yang sebenarnya tahu dengan Ryan pura-pura tak kenal saja, di terlihat sibuk mengatur ini dan itu.


Tapi Dewi sempat melirik Ryan, hanya melirik doank. “Woww…cantik banget!” gumam Ryan kelepasan. Tapi Dewi tak mendengar, hanya Bambang, Budi, Anwar dan Tomi yang mendengar.


“Kumat lagi bangornya,” bisik Bambang ke Budi dan Anwar, ketiganya kembali menahan tawa.


Dewi ternyata wakil ketua panitia, sehingga dia bersama ketua panitianya terlihat sangat sibuk mengatur seluruh mahasiswa baru, yang berjumlah hampir 600 orang ini.


Jam 12.15 siang, semuanya di istirahatkan untuk makan siang sekaligus beribadah, terutama yang muslim dan muslimah.


Ryan hanya menatap Dewi yang terlihat berbincang dengan puluhan panitia lainnya, sehingga dia tak enak hati mendekatinya.


Sampai berakhirny OMB hari pertama ini, Ryan tetap tak ada kesempatan untuk mendekati Dewi. Si cantik ini benar-benar menjaga diri, untuk tidak ber akrab-akrab ria dengan mahasiswa baru lainnya, termasuk Ryan.


Malamnya Ryan pun penasaran lalu menchat Dewi, namun anehnya chat nya di baca doang tapi tak di balas.


Sampai hari ke 3, atau hari terakhir OMB, Ryan benar-benar tak punya kesempatan untuk menyapa apalagi berbincang dengan Dewi.


Kesempatan itu akhirnya datang juga, pas malam harinya, karena acara hari ini memang sampai malam, sekaligus penutupan acara OMG. Sehingga di tengah lapangan kampus, malam ini akan di adakan api unggung.


“Dewi…boleh aku bicara..!” Ryan nekat mendatangi gadis cantik ini. Dewi menoleh lalu tersenyum dan mengangguk.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2