Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 31: Dunia Seakan Terbalik


__ADS_3

Wanita cantik ini terjebak macet, padahal dia benar-benar kecapekan usai lakukan sebuah operasi besar di rumah sakit.


Begitu mobil SUV mewahnya jalan lagi, persis di lampu simpang 4, kembali lampu merah menyala, dia pun terpaksa menghentikan laju mobilnya.


Saat itu pandangannya tertuju ke zebra cross, dimana puluhan orang berjalan menyeberang.


Wanita ini kaget saat melihat seorang pria dengan cambang bauk yang lebat dan rambut agak panjang, pakaiannya agak kucel dan terlihat menyeberang jalan.


“Radin Sasmita…!” tanpa sadar wanita ini bergumam.


Matanya sampai terus memandang sosok lelaki kucel yang di sebutnya Radin Sasmita. Yang kini terlihat berjalan ke arah kanan dan di atas trotoar.


Begitu lampu hijau menyala, wanita jelita ini tak jadi berjalan lurus, tapi berbelok ke kanan, mengikuti pria yang di sebutnya Radin Sasmita ini.


Pria itu terlihat masuk ke dalam sebuah gang, wanita ini buru-buru memarkir mobilnya dan dengan langkag sedikit tergesa masuk ke gang yang lumayan rame. Di mana pria yang di sangka nya Radin Sasmita ini masuk ke dalam gang tersebut.


Pria bercambang bauk ini singgah di sebuah rumah makan sederhana dan terlihat memesan makanan. Pria ini duduk termenung, seolah-olah banyak beban di pundaknya.


Setelah pesanannya datang dan bersiap akan makan, terdengarlah sebuah suara yang membuat pria ini terdiam seketika.


“Radin Sasmita…!” pria ini lalu pelan-pelan mengangkat wajahnya.


Bola matanya membulat, mulutnya yang tadi menyuap nasi terdiam sesaat, lalu kurang dari sedetik menunduk. “Kamu salah orang…aku bukan Radin Sasmita…pergilah!” usir pria ini.


Wanita jelita ini bukannya pergi, di atersenyum dan kini duduk di kursi di depan pria ini.


“Kita terakhir kali bertemu 1 tahun 11 bulanan yang lalu, apakah dalam waktu kurang dari 2 tahun aku bisa salah orang?”


Pria ini terdiam sambil terus menunduk, tak bersuara dan kini terlihat hanya mengaduk-aduk nasinya, selera makannya tiba-tiba hilang seketika.


“Radin…Ryan selalu menanyakan kamu…dia kini sudah kelas 1 SD. Sebentar…!” wanita yang ternyata Angelina ini menuliskan sebuah alamat di kertas kecil.


“Datanglah…rumahku selalu terbuka buat kamu, kapan pun kamu datang…selamat tinggal!”


Sampai Angelina pergi, pria yang memang Radin Sasmita ini tetap duduk sambil menunduk dan dia tak menjawab ucapan Angelina.


Lama dia melihat kertas kecil yang ditinggalkan di atas meja, lalu berdiri dan membayar makananya. Makanan itu tak jadi di makannya, selera makannya sudah lenyap, setelah Angelina pergi.

__ADS_1


Saat akan meninggalkan warung makan ini, Radin berbalik lagi dan akhirnya mengantongi kertas kecil ini. Lalu berjalan kaki menuju ke kos kecilnya.


Di kamar kos kecilnya Radin hanya duduk termangu. “Angelina…Ryan…!” Radin membuka ponselnya.


Inilah satu-satunya benda mahal yang masih dia miliki hingga saat ini dan ternyata ia masih menyimpan foto Angelina dan Ryan.


Lama dia termenung dan seperti orang yang tak punya gairah hidup, satu tahunan terakhir ini dunia seperti terbalik bagi Radin.


Radin yang dulu seorang pria tampan dan perlente, pakaian paling lama 2X pakai lalu masuk lemari atau di berikan ke siapa saja yang mau, kini berubah total.


Baju dan celana yang di pakainya sederhana sekali, bahkan jarang-jarang di gosok, celana jeansnya bahkan terlihat kotor, karena sudah 2 hari di pakai belum di cuci.


Padahal kalau dia mau, bisa saja dia minta tolong pada kedua adiknya, atau orang tuanya, tapi Radin memiliki harga diri tinggi, pantang baginya mengemis pada keluarganya sendiri, apalagi orang lain.


Keluarganya masih kaya raya, hanya dirinya yang bangkrut!


Dua hari kemudian…Radin menatap dari seberang jalan rumah mewah milik Angelina ini, dia tak punya keberanian mendatangi rumah ini, hanya memandang saja dari seberang jalan.


Rasa rendah diri melingkupi hatinya. Radin sengaja mengenakan topi dan sesekali mengisap rokoknya, lalu menghembuskan asap rokoknya ke depan.


Angelina terlihat berdiri di teras rumah mewahnya dan mendadah anaknya yang berangkat ke sekolah dengan sopir pribadinya.


Kaget, dia melihat Radin yang berdiri di seberang jalan dan mengenakan topi hanya memandangnya, keduanya saling tatap.


Radin lalu berbalik dan bergegas berjalan meninggalkan rumah itu. Angelina yang kaget lalu buru-buru mengambil kunci dan masuk ke mobilnya dan bergegas menggejar Radin.


Citt…!


Radin terdiam, sebuah mobil jenis hatback tiba-tiba menghalangi jalannya, lalu Angelina keluar dari mobil tersebut.


“Radin…kenapa tak mampir ke rumah?” tegur Angelina sambil mendekati pria ini.


“Terima kasih Ange…tak perlu…!”


“Radin…ayolah…masuk ke mobil, kita bicara di rumah, tak enak bicara di jalanan begini!” ajak Angelina. Radin langsung menggeleng dan malah berjalan dengan cara memutari mobilnya.


Lalu sampai di jalan besar dan terus menghilang, Angelina hanya bisa terdiam melihat perilaku Radin yang benar-benar berubah hingga 180 derajat.

__ADS_1


Angelina hanya bisa mengangkat bahu dan akhirnya masuk kembali ke mobilnya dan berbalik ke rumahnya.


Sepanjang jalan hingga sampai di rumahnya kembali, pikiran Angelina tak bisa lepas dari Radin Sasmita.


Dulu Radin sosok yang styles, jambang dan kumisnya selalu tercukur rapi, bahkan pakaiannyapun selalu bermerek, senyumnya yang manis dan kadang sinis tak pernah lepas dari bibir nya yang merah alami.


Tubuh Radin juga kokoh dan tegap, kini tubuh itu terlihat kurus, kulitnya juga agak menghitam.


Dan yang bikin Angelina iba, wajah Radin penuh cambang bauk dan mata itu agak cekung, seperti orang kurang tidur dan sangat banyak beban pikiran.


Angelina lalu mengambil ponselnya dan menelpon sahabat dekatnya, sekaligus sepupu Radin, Mira.


“Jadi kamu barusan ketemu Radin dan penampilannya sangat kucel?”


“Iya Mir, ku ajak masuk ke rumah tak mau! Mir…tau kah kamu di mana tempat tinggalnya sekarang?”


“Loh mau apa kamu Ange…mau bertemu dengannya?” Mira yang ditelpon Angelina kaget juga dengan niat sahabatnya ini.


“Iya…!”


“Hmm…ku pikir kamu masih marah dengannya…oke sebentar aku chat saja ya alamatnya!”


Sebelum ponselnya di tutup, Mira wanti-wanti ke sahabatnya ini, kalau Radin tipikal orang yang anti di kasihani, dia punya harga diri dan keangkuhan yang tinggi.


Seminggu kemudian…!


Radin menghitung uang yang baru saja di terimanya, penghasilannya hari ini sangat minim, hanya 80 ribu rupiah, padahal dia kerja selama dua hari, harusnya dia terima 120 ribu, tapi mandor bangunan bilang, pekerjaan hanya kurang dari dua hari karena hujan.


Radin kini ikut kerja sebagai buruh bangunan, di sebuah ruko dua lantai. Tak ada yang tahu, kalau pria ini sebelumnya orang yang sangat tajir melintir.


Dengan peluh yang masih bercucuran, dia pun pulang kembali ke kosnya, karena jam 5 sore, semua pekerja harus istirahat.


Begitu sampai di di depan kos, Radin terdiam mematung, terlihat seorang wanita jelita sedang duduk di kursi tamu terasnya…Angelina.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2