
Pertandingan yang di tunggu pun akhirnya tiba, Ryan berangkat 10 hari sebelum pertandingan besar ini. Kali ini Ranti ikut ke Las Vegas, termasuk sohib-sohibnya, Bambang, Budi, Tomi dan Anwar.
Inilah untuk pertama kalinya Ryan bertanding di kota judi Amerika Serikat. Jauh-jauh hari pelatihnya Johanes sudah beri warning buat Ryan, kalau akan ada hal-hal yang ajaib dan ini merupakan bagian dari ‘pertunjukan’.
“Mereka selalu jadikan apapun bak soap opera, karena semuanya ada cuannya. Jadi kamu jangan kaget, semakin kamu terpancing, justru itulah yang mereka cari-cari!” Ryan mencatat dalam hati warning pelatihnya ini.
Apa yang Johanes katakan jadi kenyataan, Michael Dado dan anak buahnya bikin ulah dengan sengaja bikin keributan di lobby hotel mewah yang Ryan tempati.
Micahel Dado sengaja mendatangi Ryan dan rombongannya di hotel tersebut. Lalu bak preman kampung, sengaja teriak-teriak menantang Ryan, 5 hari sebelum pertandingan.
Ulahnya sukses jadi tontongan semua orang. Michael Dado sengaja bawa ‘buzzer-nya’ lalu bertingkah tengil. Lalu jadi heboh di media sosialnya yang memiliki hampir 2 juta pengikut.
Hebatnya usai bikin ulah, viewernya langsung naik hingg 500 ribu orang dan 80 persen dari Indonesia. Michael Dado cuek saja dengan caci makian para followesrnya yang terkenal pedas ini.
Baginya makin di caci, makin melambunglah namanya, dan Micaheal Dado makin banyak dapat endorse dan cuannya nambah banyak.
Sehingga pertandingan ini makin membuat semua orang penasaran dan ingin tahu. Inilah yang Johanes katakan, kejuaraan dunia ini di kemas dengan cara yang tak biasa, dan rada mirip sebuah tayangan talkshow politik saja.
Ryan pun mengakui, inilah Amerika, di mana seseorang bebas mengeluarkan kata-kata kasar buat runtuhkan mental lawan.
Bahkan saat konfers, Michael Dado mengejar Ryan, hingga hampir saja kerusuhan massal terjadi di acara ini. Untung penjaga keamanan sigap menahan ‘amukan’ Michael Dado, yang bak orang mabuk ngamuk tak karuan.
“Ini Amerika bung…santuy saja!” bisik Bang Ramon, hingga Ryan menganggukan kepala, tapi Ryan sudah bertekad, akan bertarung sampai titik darah penghabisan melawan musuhnya yang suka over acting ini.
Dan dua hari kemudian, Ryan untuk pertama kalinya bertarung di octagon Las Vegas, dan tampil di partai utama.
Bang Ramon dan Johanes beberapa kali memberikan Ryan semangat. Karena dia terlihat sangat tegang dan nervous. Apalagi saat masuk ke ring octagon, teriakan huuuu terus bergema, Ryan menguatkan mentalnya.
__ADS_1
Saat melihat wajah Ranti dan Bambang cs yang terlihat memberinya jempol, tanda Ryan harus buktikan, agar si mulut besar Michael Dado bisa keok di pertandingan ini.
Tingkah Michael Dado yang memiliki julukan ‘The Bulls’ atau si banteng ini masuk ring octagon, setelah Ryan tadi.
Gayanya makin songong saja, The Bulls benar-benar anggap remeh patarung dari Indonesia ini.
Bang Ramon meminta Ryan figth saja sejak ronde awal dan jangan terlalu santai seperti pertandingan Ryan terdahulu.
“Ini juara dunia Ryan, yang kenyang pengalaman dan memiliki pukulan serta tendangan keras, juga ilmu gulatnya yang hebat. Kamu kejutan dia sejak ronde pertama agar dia shock!” bisik Bang Ramon.
“Pokoknya, begitu ronde pertama sikat saja tanpa ampun, jangan sampai musuh kamu bertahan lama. Gebrakan pertama akan meruntuhkan mental musuh kamu itu!” Johanes juga ikut beri Ryan semangat, sehingga wajah Ryan makin dingin saja, seakan-akan ingin memakan bulat-bulat The Bulls ini.
Pembawa Acara terkenal pun mulai mulai sebutkan rekor bertanding Ryan, dengan 21 naik ring, 19X menang, 1X kalah dan satu tanpa pemenang.
Bandingkan dengan Michael Dado, yang sudah 29X naik ring, tak pernah kalah dan 2X seri. Dan ini yang ke 7X nya mempertahankan gelar.
Ryan menang usia karena lebih muda, yang kini sudah 25 tahunan. Sedangkan Michael Dado 31 tahun.
Bahkan ada sponsor asal Indonesia ikut berpartisipasi. Tentu saja hanya Promotor Aseng Jaya yang tahu, kalau sponsor yang berani bayar mahal itu, anak perusahaan Sasmita Group, milik ayah Ryan sendiri.
Ring girls cantik berpakaian minimpun masuk, setelah lenggak lenggok memamerkan papan ronde pertama. Ryan yang terlihat tenang mulai menggenggam kedua tangannya.
Sebagai orang muda yang berdarah panas, pantang bagi Ryan di lecehkan dan inilah saatnya dia harus bikin perhitungan dengan Michael Dado.
Begitu bel berbunyi, tanda ronde pertama di mulai, musuh Ryan yang mempunyai tubuh gempal tapi lebih pendek 2 centimeteran dari badannya langsung menyeruduk badan Ryan, persis seperti sapi ngamuk. Michael Dado ternyata mempunyai basic sebagai pegulat tangguh.
Agaknya dia ingin membanting badan Ryan, namun Ryan sudah paham, ilmu beladiripun ia pakai. Ryan mampu berkelit sambil melancarkan pukulan-pukulan keras ke wajah The Bulls.
__ADS_1
Saking kerasnya pukulan Ryan, karena The Bulls terlalu asek memeluk kuat tubuhnya, seakan ingin bikin remuk, hidung Michael Dado langsung berdarah.
Melihat darah itu, Ryan makin gila-gilaan menyerang The Bulls yang sedapatnya membalas dan adu pukulan jarak dekat tak terelakan.
Ronde pertama sudah berlangsung sengit dan berdarah-darah, tak percuma The Bulls berjuluk begitu, dia seakan tak memperdulikan darah yang mengucur di hidungnya.
Dia tak takut membalas dan mengejar Ryan, tapi yang di kejar juga tak mau mundur, akibatnya pertarungan keras dan brutal tak terelakan lagi.
Tenggg….ronde pertama berakhir, wajah Ryan mulai benga-bengap, wajah The Bulls berdarah-darah dan dokter sampai harus memeriksa hidung sang juara bertahan ini.
Ronde pertama, Ryan menang tipis atas Micahel Dado. Tapi di ronde kedua, The Bulls mulai main aman, dia sering pukul kabur dan pukul kabur.
Agaknya dia mulai paham, musuhnya yang lebih muda ini, lebih gila dari dia. Michael Dado gunakan pengalamannya.
Dia ingin bikin Ryan kelelahan, sehingga sang juara bertahan ini main cerdik. Pukulan dan tendangan serta jepitan The Bulls bisa bikin Ryan mati kutu di ronde kedua.
Akibatnya wajah Ryan mulai mengucurkan darah, The Bulls yang melihat Ryan ulai kelelahan terus sesekali memukul keras, dilanjutkan dengan pukulan-pukulan yang keras dan bertenaga, begitu Ryan ingin membalas, secara cerdik The Bulls menghindar menjauh.
Ronde kedua, The Bulls menang mutlak!
Bang Ramon dan Johanes lalu ubah taktik. “Kamu serang kakinya, bikin dia sempoyongan, gunakan kelebihan tendangan kamu yang keras Ryan,” bisik Bang Ramon.
Teng…ronde ketiga pun di mulai lagi, Michael Dado yang di ronde pertama sempat bikin pendukungnya cemas. Tapi di ronde kedua, kembali menerima teriakan dukungan, setelah main cerdik dan main aman.
Kini di ronde ketiga, The Bulls seakan kembali ke sifat aslinya, tengil dan mulai anggap remeh Ryan.
Apalagi melihat wajah Ryan yang terus mengucurkan darah di alis dan bibirnya, kombinasi pukulan keras The Bulls berkali-kali telak mendarat di wajah Ryan, saat ronde di dua sebelumnya.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG