Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 48: Masih Egois!


__ADS_3

"Kasian kamu ya nak, saya kayak Abang Ryan, sejak kecil tak dapat kasih sayang papa kalian…sampai kamu lahir tidak ada papi. Untung kamu punya kakek dan nenek yang super-super baikkk..!” Angelina seolah bicara dengan anaknya, yang masih asek melahap ASI-nya.


Baby Delima yang belum bisa melihat dengan sempurna, karena baru 1 bulanan usianya, berhenti dan seakan memandang wajah ibunya.


Mulutnya bergerak-gerak, seakan ingin mengatakan sesuatu.


“Kenapa kamu sayang, marah sama papi yaaa…papi kamu itu egois yaa..? Kasiann…sabar ya nak. Tunggu papi kamu puas dengan dunianya. Nanti papi pasti akan menjemput kita di sini. Dan kembali tinggal di rumah papi yaa…kasian kakek dan nenek yang repot saban hari!”  Angelina lalu mengecup bibir anaknya.


Radin terdiam mendengarkan suara Angelina, ada rasa bersalah di hatinya, namun itu semua di tekan oleh rasa egoisnya yang masih tinggi. Radin sadar, ucapan Angelina sengaja menyindir dirinya.


Radin lalu mendekati dan berdehem, Angelina yang sudah tahu sejak tadi kehadiran orang lain. Yang sudah dia duga suaminya ini, hanya menatap penuh rindu wajah tampan ayah dari dua anaknya ini.


Radin kini duduk di depan Angelina, sambil menatap wajah baby Delima dalam gendongan istrinya. Kakinya bersilang dan kini perlahan melepas kacamatanya coklatnya.


“Hmm…nyindir suami sendiri yaa…apakah kamu sadar, siapa yang ninggalin suami. Suami kalang kabut mencari kemana-mana, hingga putus asa..!” Radin kini blak-blakan menembak Angelina.


“Masih ada uneg-uneg lain lagi d hati…keluarkanlah Mami dengarkan semua ucapan Papi!” sahut Angelina pelan, sambil menepuk-nepuk pelan pantat Baby Delima, yang mau nangis kehilangan ****** ASI nya.


Mendengar dirinya kini tak lagi disebut Abang, tapi Papi, sejenak Radin terdiam! Seakan baru sadar, dia kini ayah dari dua anak Angelina. Bahkan bisa jadi kini anak Stella bernama Jenny, yang dikatakan wanita itu anaknya!


“Apa alasan kamu ninggalin suami…!” sentak Radin, hingga Angelina kaget juga, karena sama-sama diam, suara Radin seolah sangat nyaring.


Baby Delima ikutan kaget, bayi satu bulan ini pun langsung menangis, ikatan batin dengan ibunya membuat si bayi menggemaskan ini kaget, hingga membuatnya langsung kejer.


Angelina pun berusaha menenangkan bayinya agar tenang kembali. Radin langsung menyesal apalagi saat melihat anaknya ini sulit diam.


“Sini biar aku yang gendong!” Radin mengambil baby Delima, Angelina tak keberatan, dia menyerahkan ke Radin.


Ajaibnya si bayi ini langsung diam, saat berada dalam gendongan dan dekapan Radin, yang kini membawanya jalan-jalan di sekitaran sini.


Se egois-egoisnya Radin, saat melihat anak bungsunya, hatinya langsung tersentuh, apalagi si bayi itu kini nyenyak tidur dalam gendongannya.


Si bayi sadar, saat ini dia berada dalam dekapan ayah kandungnya. Sehingga jiwanya langsung tentram dan damai, lalu tidur nyenyak lagi.

__ADS_1


Radin tanpa sadar senyum sendiri, lalu mengecup perlahan bibir mungil si baby Delima. Harumnya tubuh bayinya membuat Radin tak mau melepas anaknya, dia terus jalan-jalan santai di taman ini.


Angelina kini hanya menonton ulah suaminya dan tidak menegur. Puas berkeliling, Radin balik lagi ke tempat semula.


“Hari ini juga kita pulang ke rumah…Ryan mana?”


“Dia masih sekolah Pi, jam 2 siang baru pulang!” sahut Angelina kalem.


“Mama sama papa tak kelihatan, di mana mereka?”


“Beliau berdua ke rumah ka Delima, katanya ibu mertuanya lagi sakit!”


“Ya sudah, tunggu apalagi, kita pulang. Nanti biar Ryan di jemput si Adon ke sekolah!”


“Sekarang pi…?”


“Iya, emank mau tunggu tahun depan!” sungut Radin, yang langsung memelankan suaranya. Karena Baby Delima bergerak dan agaknya tak terima papi nya memarahinya mami nya.


Apalagi Angelina masih berasa bersalah, karena meninggalkan suaminya ini tanpa pamit. Semua ART kaget saat Angelina pamit, karena akan pindah ke rumah suaminya. Mereka merasa sayang  harus berpisah dengan si cantik menggemaskan itu.


Entah kenapa, Radin jadi enggan melepas baby Delima, dia terus menggendong anaknya ini, hingga ke dalam mobil mewahnya.  Angelina hanya mendiamkan ulah suaminya ini.


Walaupun kini sudah tinggal satu rumah, bahkan tidur di ranjang yang sama, Radin dan Angelina masih sama-sama egois.


Jarang bicara, apalagi bercanda. Kelakuan keduanya masih kaku…!


Namun, Radin tak lagi berpesta saban malam, dia pasti sudah ada di rumah sebelum pukul 6 sore. Pastilah selain bertanya di mana Ryan, maka baby Delima lah yang dia gendong.


Setelah satu bulanan lebih, es mulai mencair! Itu saat Radin tiba-tiba demam, kecapekan membuat stamina Radin rontok juga.


Saat pulang kantor, wajahnya sudah pucat. Sebagai seorang dokter, Angelina paham suaminya sedang tak sehat.


Apalagi dia tak menggendong Baby Delima seperti kebiasannya selama sebulan lebih ini. Radin langsung menuju ke kamar dan tanpa melepas pakaianya, dia merebahan diri di kasur.

__ADS_1


Badannya mengigil. “Kamu kenapa pi..?”


“Nggak tahu, sejak dari kantor siang tadi, udah begini…!” Angelina lalu memegang dahi suaminya. Lalu mengambil steteskopnya memeriksa dada suaminya.


“Pi…kayaknya kamu kena gejala demam berdarah…sebentar Mami ambilkan obat, moga masih ada!”


"Demam berdarah...perasaan aku nggak ke hutan," pikir Radin kaget.


Di bantu Angelina, Radin pun minum obat, Angelina juga menyuntikan cairan ke tubuhnya. Tak lama kemudian Radin agak tenang. Tubuhnya tak lagi menggigil, bahkan kini dia bisa tidur nyenyak.


Saat terbangun, Radin kaget, di pinggir ranjang, bertelekan sisi ranjang, dia melihat istrinya yang duduk di kursi ketiduran menjaganya. Radin lama memandang istrinya yang terlihat kecapekan.


Pelan-pelan Radin membelai rambut istrinya yang berbau harum dan sering bikin dia kangen. “Makasih sayang…sudah merawat suami brengsekmu ini,” gumam Radin perlahan. Gerakan tangan Radin membangunkan Angelina.


“Papi…kamu sudah bangun…bagaimana sekarang…apakah sudah sembuh?”


“Sudah…baikan…makasih yaa…mi…maafin kekasaran papi ya…jangan lagi pergi tinggalkan papi….!”


Angelina tersenyum dan berdiri lalu memeluk suaminya dan mengecup bibir Radin. “Mami juga salah…terlalu keras kepala dan egois…!”


Radin langsung menarik tubuh Angelina, hingga istrinya yang masih agak ndut ini jatuh kedalam pelukannya.


“Makasih yaa…tadi saat ngi-gau...udah kebukti semua..?" ceplos Angelina.


“Ngi-gau…papi ngi-gau apa..?” perasaan Radin langsung tak enak. Moga saja nggak ngi-gau wanita lain, batin Radin mulai kebat-kebit hatinya.


“Hmm…ngi-gau…apa yaa…papi…bilang. Udahlah, kini hati Mami lega…setidaknya papi walaupun ke sana kemari. Hati tetap buat anak dan istri..!”


Radin langsung terbelalak…!


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2