Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 87: Si Tomboy Dewi Ternyata Anak..?


__ADS_3

“Heii kalian jangan ganggu orang yang lewat sini, kembalikan ponselnya mana?” desak Dewi sambil menatap ketiganya.


“He-he…nggak usah belagak kamu Dewi, minggir sana, jangan mentang-mentang mendiang bapak kamu dulu penguasa di sini. Dia udah koit tau nggak!” ejek seorang pria ini sambil mendorong bahu Dewi.


Tiba-tiba Dewi bergerak cepat, plakk..plakk…dua kali tamparan membuat si pria ini hampir terjengkang ke tanah.


Srattt…dua rekannya mencabut belati dari pinggang masing-masing, agaknya ingin membuat gadis agak tomboy kini koit. Karena berani menampar rekan mereka.


Bukannya takut, Dewi langsung mundur dan pasang kuda-kuda, Ryan malah terpesona menatap gaya Dewi. Sehingga dia pun otomatis mundur dan ingin melihat sampai di mana kehebatan wanita nekat ini.


“Huhhh beraninya main keroyokan, dengan wanita lagi!” sungut Dewi, tapi dia terpaksa menghindar ke sana kemari, karena ke tiga orang ini mulai menyerangnya.


Puluhan warga di gang ini langsung menyingkir ketakutan, karena tahu siapa tiga begundal ini, yang kerjanya suka malak warga buat mabuk-mabukan dan main wanita.


Crasss….sebuah sabetan mengenai perut Dewi, untung saja yang kena baju luarnya, hingga sobek lumayan besar, hingga kaos dalam Dewi kelihatan.


Ryan langsung dan kaget dan dia kini bersiaga, agar si cantik ini tidak celaka. Dewi kembali kelabakan menghindari serangan 3 orang ini, Ryan merasa agaknya dia harus turun tangan, karena Dewi mulai kerepotan.


Ryan bergerak ke depan, sasarannya adalah orang yang mengambil ponselnya tadi.


“Hei bung lihat sini,” tegur Ryan, begitu pria ini berbalik. Bukkk…sebuah jurus keras yang biasa bikin KO musuh-musuh di ring octagon Ryan layangkan. Akibatnya orang ini terdorong hingga satu meter.


Brukkkk…! Orang ini jatuh ke jalan gang yang terbuat dari cor beton dan pingsan seketika. Dengan tenang Ryan ambil ponselnya yang di rampas tadi dan mengantongi di celananya.


Dua rekannya melongo, lalu hiaattt…keduanya kini mengalihkan serangan dan membacok Ryan.


Tapi dengan mudah pemuda ini mengelak, tiba-tiba Ryan berputar. Bukkkk…sebuah tendangan keras kembali dia layangkan. Akibatnya orang terdekat dari dirinya terjengkang ke samping dan nanar seketika.


Kini tinggal satu orang, sambil mundur-mundur, apes dia mundur malah mendekati Dewi. Dukkk…tendangan keras Dewi lontarkan ke pantat orang ini, hingga terdorong menuju ke arah Ryan.


Ryan tak sudi kena tubuh orang ini, dia menyingkir dan sebuah jurus dari atas ke bawah Ryan ayunkan, dan itu  sudah cukup membuat orang ini KO dan pingsan di jalan gang ini.

__ADS_1


“Hebat….ku pikir cupu ternyata suhu,” cetus Dewi sambil mendekati Ryan.


“Kamu juga hebat, nekat sekali menantang 3 begundal bersenjata belati ini. Jarang-jarang loh wanita nekat seperti kamu ini ada!” Ryan balik memuji sambil mengenalkan diri.


Kini keduanya sudah jalan dan meninggalkan 3 begundal tadi yang masih menggeletak pingsan di dalam jalan gang ini. Tanpa satupun warga berniat menolongnya, membiarkan ketiganya sadar dan bangun sendiri.


Ryan dan Dewi menuju ke sebuah warung minum kaki lima yang hanya ada meja kecil penuh kue menggugah selera, dan duduk di bangku sepanjang 3 meteran di dalam gang ini.


Sambil minum kopi hitam kesukaanya, Ryan bertanya ke Dewi siapakah ayahnya, yang dikatakan mantan penguasa di daerah ini.


“Ayahku bernama Gubran, dulu beliau jadi bos geng di sini, tapi itu dulu sebelum tewas di tembak polisi. Gara-gara berani menculik orang kaya dan punya pengaruh besar di republik ini,” ceplos Dewi apa adanya. Tapi wajah Ryan langsung berubah menjadi terperanjat.


Tentu saja Ryan tahu betul siapa Gubran ini, orang yang pernah jadi tunangan ibunya, lalu kecewa berat.


Kemudian malah terlibat pembunuhan Stella, ibu kandung Jenny dan suami keduanya Rohmano di Bali, Gubran bersama Frans yang juga cs nya melakukan kejahatan ini.


Lalu Gubran dan Frans tewas setelah d tembak Brigjen Jimi Subowo dan anak buahnya, ketika komplotan ini nekat menculik ayahnya.


Tidak pernah Ryan sangka-sangka, ternyata Dewi ini anak dari Gubran dan kini mereka malah ngobrol akrab, layaknya sahabat lama.


“Loh kamu kayak wartawan saja Ryan, masih adalah! Tapi kini sakit-sakitan!” ceplos Dewi lagi.


“Ohh…kenapa nggak di bawa berobat ke rumah sakit Wi?’


“Nggak ada biaya Ryan, emank kamu mau bantu?” Dewi lalu tertawa berderai.


“Iya...ayoo kita jenguk ibumu dan bawa beliau ke rumah sakit. Nanti tambah parah!”


“Hahh…serius kamu Ryan…?”


“Iya…emanknya aku bercanda apa..?” Ryan kini bangkit, sehingga mau tak mau Dewi ikutan bangkit dari bangkunya.

__ADS_1


Dengan pikiran masih kaget dan rasa tak percaya, Dewi lalu membawa Ryan ke rumahnya, yang dua kali berbelok ke arah gang lain.


Rumah-rumah di sini sangat padat dan berdempetan, juga sangat rame, dengan lalu lalangnya manusia di gang tersebut.


Akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah kecil, Dewi langsung masuk dan mempersilahkan Ryan ikut masuk.


“Kamu darimana Wi, siapa teman kamu itu?” terdengar suara seorang wanita, yang terlihat duduk bersandar di sisi kasurnya.


“Ini teman Dewi bu, baru kenal, katanya mau bawa ibu ke rumah sakit!”


“Ahh kamu ada-ada saja, baru kenal sudah main bawa saja ke rumah dan bilang mau bawa ibu berobat!” tegur wanita setengah tua ini, yang terlihat pucat wajahnya.


“Benar bu…aku memang berniat mau bawa ibu berobat, mau yaa?” sela Ryan sambil duduk di depan ibunda si Dewi ini.


“Jangan dek, ongkos nya mahal!”


“Tak apa bu, yang penting ibu sembuh, kita berangkat sekarang ya. Dewi kamu gandeng ibu kamu keluar gang, di sana kita cari taksi!”


Dewi dan ibunya benar-benar kaget sekaligus senang, kini ketiganya sudah dalam taksi dan menuju ke rumah sakit terdekat.


Ternyata ibunya Dewi, Tante Ira ini menderita gejala demam berdarah. “Untung cepat di bawa Wi, kalau lambat bisa-bisa kamu akan kehilangan ibu kamu!”


“Aduhh Bang jangan segitunya, dialah satu-satu orang yang sangat aku cintai saat ini. Makanya aku bela-belain menunda masuk polisi, kasian ibu kalau di tinggal sendirian!”


Ryan baru sadar, Dewi ternyata sangat cantik, walaupun agak tomboy, tapi saat ngobrol begini, terlihat kalau gadis ini mirip sekali dengan artis Amanda Manopo.


Ditemani Dewi, Ryan membereskan bayaran rumah sakit sekaligus menitip depe untuk menebus obat nanti.


Kini keduanya aseek bercanda, sangat cocok melihat Ryan dan ‘Amanda Manopo’ ini, Ryan juga baru tahu, kalau ibunya Dewi ini keturunan Manado. “Pantes putih dan cantik kamu Dewi, ternyata nurun dari ibu kamu..!”


Bagaimana kah hubungan keduanya dan reaksi Dewi, kalau Ryan adalah anak bekas musuh besar mendiang ayah kandungnya…?

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG


__ADS_2