Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 52: Jenny Diculik


__ADS_3

Firman, sopir keluarga Radin bingung sampai satu jam lebih sudah bubaran sekolah. Tapi Jenny belum juga terlihat keluar dari pintu gerbang sekolahnya.


Dengan hati mulai tak enak, Firman masuk ke gerbang itu, saat melihat ada seorang guru wanita, Firman pun mendekat.


“Permisi bu guru, mau tanya, Jenny Sasmita apakah sudah keluar dari kelas? Saya Firman sopirnya!”


“Loh sudah sejak satu jam tadi bubaran pa, kan bapak lihat sekolah sudah sepi!” si ibu guru ini malah bingung sendiri, karena sopir salah satu muridnya ini datang telat.


Dengan pikiran masih postifi Firman pun pulang, dipikirnya mungkin Jenny yang baru kelas 1 SD di sini pulang ikut temannya.


Firman sebelumya memang agak lambat 10 menitan, akibat terjebak macet saat menuju ke sekolah ini. Padahal dia sudah 2 jam sebelum bubaran sekolah, otewe dari rumah majikannya.


Namun, sesampainya di rumah, kembali Firman gelisah bukan main, Jenny anak kedua Radin dari istri pertamanya ini tidak kelihatan batang hidungnya.


Sorenya saat Angelina pulang dari rumah sakit kaget mendengar laporan Firman, kalau Jenny tak pulang-pulang sampai pukul 5 sore ini.


Ponsel Jenny juga tak aktif…!


Angelina langsung menelpon Radin yang sedang dalam perjalanan pulang. Radin ikutan kaget dan meminta Angelina menghubungi dulu orang tua teman-teman Jenny.


Sampai pukul 9 malam, Radin dan Angelina belum juga dapat kabar tentang Jenny. Walaupun Jenny anak sambungnya, Angelina terlihat paling gelisah terus sejak tadi, dia sangat menyayangi Jenny bak anak kandung.


Radin mencoba bersikap lebih tenang. Hatinya sempat terharu melihat Angelina benar-benar sayang dengan Jenny. Walaupun hatinya juga mulai tak enak, tak biasanya anaknya yang baru 6 tahun ini pergi sendiri, tanpa pamit lagi.


Ryan kini sudah 11 tahun dan duduk bangku kelas 6 SD juga ikutan tegang dan memperhatikan kedua orang tuanya. Tapi anak ini cerdas, dia diam saja dan sengaja tidak mau merecoki orang tuanya yang lagi tegang.


Dan jelang jam 10 malam, ada chat masuk ke ponsel Radin. Isinya singkat saja.


“Anak kamu si Jenny kami culik, tunggu petunjuk kami, jangan coba-coba lapor polisi, atau anak kamu tinggal nama”


Tidak ada nama pengirim, bahkan nomor pun di private!


Radin langsung terdiam, Angelina pucat pasi, wajahnya takut bukan main setelah membaca isi chat itu.

__ADS_1


Pria ini menebak-nebak siapa penculik anaknya, namun hatinya sedikit tenang, artinya sampai kini Jenny baik-baik saja. Tapi dia belum tahu apa maksud mereka menculik anaknya ini.


“Gimana sekarang pi…apa yang harus kita lakukan, aku takut Jenny kenapa-kenapa, mana masih kecil lagi!”


“Tenang dulu Mi, papi juga lagi mikir, siapa otak penculikan ini…apakah mereka ingin tebusan?”


Angelina dan Radin sampai tidak bisa tidur hingga tengah malam. keduanya benar-benar gelisah memikirkan nasib si kecil Jenny di tangan para penculik, yang belum diketahui identitasnya dan tujuan mereka menculik Jenny.


Paginya, diam-diam Radin menelpon salah satu sahabat dekatnya di bagian reserse Mabes Polri. AKBP Jimi.  Sang perwira menengah ini minta bertemu Radin di sebuah tempat. Dan minta Radin jangan bawa mobil menyolok.


“Aku khawatir rumah kamu di pantau para penculik, kamu gunakan motor saja dan kita bertemu!” AKBP Jimi menyebutkan tempatnya. Radin pun lalu pamit ke istrinya, Angelina otomatis makin ketakutan.


“Sudah jangan takut, papi akan tambah penjaga di rumah, sementara Mami jangan ke mana-mana juga Ryan. Tunggu di rumah saja!”


Radin kini kenakan jaket kulit dan celana serba hitam, Angelina makin gelisah saat suaminya ini membawa pistol berizinnya.


“Pi…hati-hati, jangan sembarangan menembak..!”


Radin memeluk dan mencium bibir istrinya. “Tenang saja, semua akan baik-baik saja yaa…!”


Ketigany berbaju preman, bahkan AKBP Jimi berambut gondrong, juga dua anak buahnya. Radin saja sampai pangling, tak mengira sahabat bak preman.


AKBP Jimi melihat bunyi chat dari para penculik, dia lalu menyerahkan ponsel ini ke anak buahnya yang ternyata ahli IT.


“Lokasinya masih di Jakarta…tapi sudah masuk wilayah Cikarang…!” Bripda Doni, menganalisa nomor private ini.


“Bripka Jono, kamu segera kontak Kasatreskrim di sana, bilangin pantau. Tapi pakai kode khusus, jangan menyolok!” AKPB Jimi memerintah anak buahnya yang satu.


“Siap Ndan..!” sahut anak buahnya.


Tiba-tiba ada lagi chat masuk ke ponsel Radin:


“Segera sediakan uang 500 miliar pecahan dolar Amerika, nanti siang aku beri petunjuk lagi, sekalian di mana kamu serahkan uangnya dan jemput anakmu yang manis ini. Ingat jangan coba-coba lapor polisi atau duitnya kurang”

__ADS_1


“Bangsat…aku hanya punya waktu 4,5 jam menyediakan uang itu…!” Radin menggemerutukan gigi saking murkanya.


AKBP Jimi menepuk bahu Radin agar tetap tenang. “Mas sediakan saja uangnya sekarang. Aku dan anak buah akan segera menyebar dan mulai memantau dari jarak jauh!” cetus AKBP Jimi.


Radin pun menelpon Megi Sekretarisnya, agar segera sediakan uang dalam jumlah jumbo tersebut. Megi tentu saja heran, tapi dia tak berani bertanya buat apa uang tersebut.


Termasuk Alma, Dirut keuangannya yang kelabakan menelpon kepala bank, agar menyediakan uang tak sedikit tersebut dalam mata uang dolar amerika. Lalu dimasukan ke dalam 4 tas lumayan besar.


Megi akhirnya tahu, ternyata Jenny di culik, saat mengantar uang tadi di kawal 4 orang sekuriti ke bos besarnya ini.


“Kalian berlima tolong jangan ngomong pada siapapun, anakku Jenny taruhannya kalau sampai soal ini bocor, paham…!”


Megi dan 4 sekuriti ini pun mengangguk, terperanjat karena anak kedua Radin dari istri pertamanya di tangan para penculik.


Tepat pukul 12 siang, ada lagi chat masuk, penculik menyebutkan kemana Radin harus membawa uang tersebut.


“Nanti ada mobil MPV warna hitam Nopol nya B 13** BFC, kamu pindahkan uangnya di sana. Tunggu petunjuk selanjutnya”


Kembali para penculik mengirim chat pada Radin, AKBP Jimi tersenyum saja, dia beranggapan tekhnik para penculik kini teramat sederhana.


Namun, karena nasib Jenny taruhannya. AKBP Jimi tetap waspada tinggi dan sudah menyiapkan anak buahnya agar mulai meluncur ke TKP dengan cara menyamar.


Menggunakan mobil yang di tinggal Megi dan 4 sekuriti tadi, Radin pun meluncur ke tempat yang disebutkan para penculik.


Mobil ini berisi uang senilai 500 miliar dalam pecahan uang dolar amerika. Mereka sengaja tak mau via transfer, karena akan mudah di lacak dan di blokir.


Radin yang sangat mengkhawatirkan anaknya benar-benar marah tak terkira, dia sampai berniat akan menembak mati saja para penculik anaknya ini.


“Kalau sampai anakku kenapa-kenapa, tak ada ampun buat para penculik Jenny,” batin Radin dengan emosi tinggi sambil meluncur ke tempat yang di minta para penculik tersebut. Tempat ini berada di daerah Sentul, dekat Hambalang, Radin tahu daerah ini relatif sepi.


Siapakah otak penculik Jenny..?


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2