
Begitu sadar dan membuka mata, Radin langsung terkesiap saat melihat dua tampang musuh besarnya.
Bukkk…bukkk…dua buah pukulan membuat Radin terbungkuk. “Hmm…bagaimana jagoan, pukulanku masih kuat bukan?” Gubran mencopot lakban yang menutupi wajah Radin.
“Bangsaaaaat kamu Gubran!” Radin meringis juga menahan sakit di perutnya, dua pukulan yang Gubran lesakan sangat keras ke bagian perutnya.
“Tunggu apalagi Gubran, mending patahkan lehernya, habis perkara. Kalau di tembak malah akan menjadi pusat perhatian warga di sini!” kali ini Frans rekannya yang bersuara.
“Cocok sekali kalian ini, dua anji** bersatu dan melakukan kejahatan ini!” cetus Radin, pria ini sengaja memanasi keduanya, walaupun dalam jengkel juga, kenapa Kombes Jimi dan anak buahnya lama sekali muncul, untuk membebaskannya.
Plakkk…! Frans langsung mengkemplang kepala Radin, luar biasa marahnya pria tampan ini, selama hidupnya baru kali ini ada yang berani mengemplang kepalanya.
“Calon bangkai ini ngoceh terus! Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan Stella dan suaminya si Romano itu di neraka, ngocehlah terus mumpung masih ada waktu!” bentak Frans, lalu terbahak-bahak.
“Hmm…aku curiga, jangan-jangan kalian berdua lah otaknya, sehingga Stella dan Rohmano tewas kecelakaan mobil di Bali 6 tahunan yang lalu!” Radin memandang wajah Frans dan Gubran bergantian, di belakang mereka ada 3 orang laki-laki yang tadi menculiknya, hanya diam mendengarkan saja.
“Kamu ceritakan saja Frans, biar si calon mayat ini tidak penasaran lagi dan tidak pusing ketemu arwah mantan istrinya dan mantan tunangan isrinya he-he!” sela Gubran sambil duduk dan menyalakan rokoknya.
“Oke…nahh dengar baik-baik Radin, bekas istrimu dan mantan tunangan istri kamu itu, memang benar kamilah yang sengaja membunuhnya!” Frans berhenti sejenak lagi menyalakan rokoknya.
Mata Radin langsung melotot, kemarahan meluap dalam dadanya, hampir 6 tahun kasus ini masih menyisakan misteri bagi dirinya dan pastinya kepolisian. Akhirnya dua manusia jahat ini mengakui juga. Kalau merekalah dalang pembunuhan itu.
Radin yang terikat di kursi dan tadi lakbannya sengaja di buka dengan kasar hanya terdiam dan tubuh gemetar, menahan amarah yang meluap-luap di dada.
Frans menghembuskan asap rokoknya ke wajah Radin, hingga pria ini terbatuk-batuk, Radin memang sudah lama berhenti merokok.
__ADS_1
“Tak sulit kami membunuh dua sejoli itu, cukup putuskan kabel rem mobil yang mereka sewa. Nahh bereslah…mereka pun meluncur di jalan bebas hambatan dan bummmm…selesailah sudah, bulan madu mereka pindah ke akhirat ha-ha-ha!” Frans kini terbahak-bahak.
“Dan aparat tak pernah bisa melacak kasus ini bukan, lhaa karena kami memang tidak berada di TKP. Trus siapa yang mau di tangkap kelesss…!” ejek Gubran, menambahkan omongan Frans tadi. Kedua pria yang sangat dendam dan sakit dengan Radin benar-benar puas mengejek Radin yang tak berdaya saat ini.
“Kalian berdua memang bajingan, semoga kelak kalian akan menerima balasan setimpal. Atas perbuatan jahat yang kalian lakukan pada Stella dan Rohmano yang tak berdosa itu!” desis Radin menahan amarah di dadanya.
Saat bicara begitu, Radin melihat ada bayangan orang berbaju putih di jendela, hanya sepersekian detik. Batin Radin mulai tenang, dia berpikir itu pasti anak buah Kombes Jimi mulai menyebar di villa ini.
Tanpa sepengetahuan Gubran dan Frans, alat pelacak yan lumayan kecil sudah di taruh Kombes Jimi di tas berisi uang tersebut.
“Sudah Frans, kita patahkan lehernya, lalu masukan mayatnya ke dalam mobilnya, dan setelah itu kita kabur bersembunyi sementara waktu. Uang 100 miliar ini cukup buat modal kita pensiun.”
Tiba-tiba 3 anak buah Frans dan Gubran berteriak ke sakitan, saat 3 pukulan beruntun menghajar kepala mereka, kepala ketiganya langsung bocor, mereka pun menggelepar ke lantai bak ayam kena sembilih.
Pukulan itu sangat keras menggunakan tongkat yang ujungnya ada paku. Belum sempat Gubran dan Frans bergerak, Radin menggulingkan kursinya dan melakukan sapuan ke kaki keduanya, hingga dua orang yang tak mengira Radin senekat ini terjengkang ke lantai.
Dia ternyata Ryan, yang masih mengenakan seragam SMU, tadi saat berendap-endap Ryan menemukan balok kayu sepanjang satu meter. Dengan balok kayu itulah dia menghajar 3 orang tersebut.
Frans kaget melihat aksi nekat Ryan ini, dia buru-buru mencabut pistolnya ke di pinggang, Ryan terpaksa melempar tongkatnya, hingga mengenai tangan Frans.
Ryan lalu buru-buru melepaskan ikatan di tangan papanya, setelah itu Ryan secepat kilat melompat dan menendang wajah Frans.
Berbarengan dengan itu, Radin sekuat tenaga menendang wajah Gubran, hingga keduanya berbarengan terjengkang ke lantai. Namun Gubran sempat mencabut pistolnya.
“Awas Ryan, si Gubran mau menembak,” teriak Radin memperingatkan anak sulungnya ini.
__ADS_1
Frans yang tadi terjatuh juga secepat kilat mengambi pistolnya di lantai, sambil menahan perih di wajahnya, akibat tendangan Ryan tadi.
Dorr…dorrr…tubuh Frans dan Gubran menegang, lalu brukkk…berbarengan jatuh ke lantai bersimbah darah.
Kombes Jimi dan 7 anak buahnya masuk ke ruangan ini. Mereka langsung menginjak tubuh 3 anak buah Gubran dan Frans ini, sambil menodongkan pistol.
“Ryan…pa Radin, anda berdua tak apa-apa, maaf kami tadi sempat berputar-putar mencari alamat ini.
“Tak apa pa Jimi, untung ada Ryan yang datang di saat tepat…!” Radin pun lalu menceritakan apa yang tadi Gubran dan Frans bicarakan. Terkait tewasnya Stella dan Rohmano 6 tahunan yang lalu.
“Hmm sudah ku duga, pasti dua orang ini terlibat. Kami juga akan segera tangkap Della Songko. Anak buahku sudah meluncur ke kantornya!” sela Kombes Jimi.
Radin lalu mengajak Ryan keluar dari ruangan ini, sambil melangkahi mayat Gubran dan Frans.
Drama penyanderaan yang di otaki Gubran dan Frans berakhir dengan kematian kedua pentolan penjahat ini.
Bahkan polisi juga berhasil membongkar kejahatan lainnya dari kedua orang ini, yakni jadi penyedia wanita-wanita tuna susila, yang sebelumnya di tipu mentah-mentah dengan kedok lapangan kerja.
Terdapat 50 orang wanita-wanita yang di sekap dan di jaga 5 orang anak buah Gubran dan Frans di keluarkan dari sebuah rumah yang tak jauh dari villa ini.
Saat polisi menggiring ke 50 wanita ini, Ryan kaget saat melihat ada…Meni, di antara 50 wanita itu.
“Kenapa Meni ada dengan mereka. bukankah dia sudah ku antar ke desanya dulu!” pikir Ryan keheranan. Radin ikut menatap ke 50 an wanita-wanita muda ini.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG