Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 66: Mengantar Meni Ketemu Penjahat Lagi


__ADS_3

Ryan dan Bambang dan kali ini Tomi di ajak benar-benar berangkat isok harinya ke Desa Cicalo, di Indramayu, Ryan sengaja bawa mobil SUV nya. Untungnya hari ini hari Minggu, sehingga tak menganggu jadwal sekolah mereka.


Awalnya Ranti mau ikut, tapi tak di izinin orang tuanya, sehingga ketiga sahabat ini berangkat dengan Meni.


Ryan dan Meni duduk di depan, wanita cantik manis ini jadi penunjuk jalan, Bambang dan Tomi duduk di jok tengah.


“Rumpi dyeeehh kalian berdua, baru aja ngasih tau eike,” sepanjang jalan Tomi nyerocos saja bak nenek kehilangan konde. Meni sering tertawa mendengar ucapan si ngondek ini.


Tapi Ryan dan Bambang yang sudah hapal kelakuan si ngondek ini, tak pernah menanggapi serius ucapan Tomi.


“Jadi Meni udah janda ya…!” tanya Bambang antusias, sengaja alihkan perhatian, agar Tomi berhenti nyerocos.


“Idihhh…nanyanya njilemet amiiirrrr!” olok Tomi.


“Diam ahh banserrr…nyelutuk ajee!” sungut Bambang.


“Iya Mas…tapi aku nikahnya bentar doang, nggak sampai 3 bulan cerai! Abisnya dia berbohong. Ngaku kaya raya, ehh ngga tahunya pengangguran. Malah uang mahar masih ngutang sampai kini!” cetus Meni apa adanya.


“Widihh….segitunya, masih belum turun mesin coii..!” celutuk Bambang.


“Ya…elahhhhh, ye itu yaa, masih belum 21 tahun kelessss…!” Tomi langsung mendorong kepala Bambang, hingga Meni dan Ryan tergelak melihat kelakuan dua orang ini.


Hanya Ryan yang tahu, Bambang sahabatnya ini sudah pecah perjaka saat usianya 17 tahun beberapa hari. Gara-gara datang ke sebuah panti pijat. Sebelumnya si Bambang ini sudah pecah di tangan, gunakan sabun mandi!


Perjalanan dari Jakarta ke Indramayu yang berjarak 226 kilometer lebih bisa lebih cepat mereka tempuh. Setelah melewati Jalan Tol Cisumdawu, mobil Ryan bisa memangkas perjalanan hingga hampir separunya.


Setelah keluar tol, jalanan agak rusak, untungnya mobil Ryan SUV 4X4, sehingga saat melewati genangan lumpur di jalanan yang rusak, mobil ini tak masalah.


Tomi sempat menjerit-jerit saat Ryan membawa mobilnya bak off road, Bambang kesal bukan main melihat kelakuan sahabat ngondeknya ini.


“Celamettt...celemett….heee Ryan, jangan kencang-kencang dong kalau melewati jalan berlumpiiir. Eike jadi pingin kencing tauuu.”


“Makanya gue udah bilang, loe ntu nggak usah ngikut, ehh klepek-klepek ajee mau ikut!” semprot Bambang. Tomi langsung mencebi.

__ADS_1


Akhirnya Ryan, Bambang dan Tomi sampai juga ke desa Meni, desa ini memang indah, terlihat Gunung Cerimai menjulang tinggi, hawanya pun sejak sekali.


“Pantas kulit kalian cerah-cerah ya Meni, hawanya sejuk banget,” puji Ryan, Meni tersenyum senang, baru kali ini Ryan bicara memuji secara tak langsung dirinya.


Bambang dan Tomi kini malah jalan-jalan keliling kampung dan melihat situasi desa yang asri dan damai ini, apalagi melihat persawahan yang menghijau.


Namun kedamaian itu hanya sebentar, Ryan kini kaget sendiri saat orang tua Meni malah ketakutan melihat anaknya pulang bersama 3 remaja ini.


“Meni…duhh gimana, emak dan bapak sudah terima uang 10 juta. Kalau mereka datang ke sini, gimana menggantinya!” Mak Ntih, ibunda Meni menatap anaknya yang cantik dengan wajah ketakutan, Jaja, ayahnya juga ikutan diam.


Ryan lalu tersenyum, dia kemudian menyodorkan uang dua bebat warna merah muda ke hadapan Mak Ntih dan pa Jaja, yang dia ambil dari dalam tasnya ransel.


“Pak…bu, tenang saja, ini uangnya, jadi kalau mereka datang menagih, jangan khawatir, kasihkan saja uang tersebut,” potong Ryan, hingga orang tua Meni kaget dan saling pandang.


“Iya sudah, berarti kita sudah tenang. Kapok kami kasih izin Meni kerja ke kota, mending di sini saja, bertani!” sahut pa Jaja kalem.


“Kalian nginap yaa…nggak usah buru-buru pulang ke Jakarta,” Mak Ntih kini cerah wajahnya. Ryan terdiam sejenak.


Bambang dan Tomi juga tak masalah satu malam mereka nginap, pas juga hari senin itu ternyata tanggal merah hingga hari selasa, sehingga mereka anggap kali ini bak liburan di kampung yang indah.


Apa yang dikhawatirkan Ryan benaran terjadi, sorenya datang dua orang berbadan gempal dengan gunakan mobil.


Ryan dan Pa Jaja langsung menyongsong keduanya di halaman rumah kecil ini. Bambang dan Tomi yang barusan datang setelah tadi kembali jalan-jalan di sungai kecil yang jernih, kini ikut menyaksikan apa yang terjadi.


Tampang keduanya sudah bikin Tomi dan Bambang kecut, Mak Ntih gemetaran, hanya pa Jaja dan Ryan yang tetap tenang, Meni sampai bersembunyi di kamar tak berani keluar.


“Hmm…jadi kamu yang sudah bikin dua teman kami bonyok.” Salah seorang kini menatap tajam wajah Ryan.


“Sebaiknya kalian bawa tu uang, jangan lagi ganggu Meni atau wanita-wanita di desa ini. Kalau kalian ngeyel, aku akan laporkan kalian ke polisi!” tukas Ryan tenang.


Dua orang ini terlihat saling pandang. “Heii bocil, kamu berani ngatur-ngatur kami ya! Kami justru membantu para wanita di desa ini agar dapat pekerjaan baik di kota, kamu malah menghalang-halangi,” bentaknya, hingga Tomi hampir mulas perutnya, saking takutnya.


Ryan paham, agaknya dua pria berbadan gempal ini ngotot tetap ingin bawa Meni.

__ADS_1


“Hajar saja bocil sok jagoan ini Pular, habis perkara!” temannya malah mengompori, hingga si badan gempal ini mendengus menatap Ryan.


“Pa Jaja, ke samping dulu, agaknya kedua penjahat ini perlu di kasih pelajaran!” cetus Ryan dingin.


“Aduhh nekkk…bakalan perang ehh adu jotos nihh!” Tomi sampai gemetaran memegang lengan Bambang.


Ryan pun mulai waspada dan dua orang ini mulai mengurung Ryan. Hiattt…lengan si badan gempal alias langsung menjotos wajah Ryan, tapi Ryan bisa mengelak. Tiba-tiba ada tendangan yang mampir ke punggung Ryan, hingga remaja ini jatuh berguling ke tanah.


“Hehe…cuman segitu ajeee si jagoan bocil ini!” olok rekan si Pular.


“Aduh…kena nekkk…matee ehh atitt ehhh salahh!” Tomi klepek-klepek ketakutan melihat Ryan bergulingan di tanah.


“Diam banserr…kamu bikin tegang saja!” sentak Bambang, yang malah mencari-cari tongkat, untuk nantinya di gunakan buat memukul penyerang Ryan ini.


Saat bergulingan, si badan gempal dengan sekuat tenaga menyepak badan Ryan, tapi Ryan juga secepat kilat menyapu satu kaki si badan gempal ini.


Bukkkk…waduwwww…! Teriak Pular, sakitnya bukan main, kakinya langsung terkilir, tendangan kaki Ryan yang sangat keras, si badan gempal terduduk dan berdiri terpincang pincang.


Saat  terkesima melihat rekannya begitu, tendangan susulan Ryan telak bersarang ke perutnya. Kali ini orang tersebut langsung terjerembab ke tanah. Bukk…aduhh ampunnnn…!” teriak Pular.


Ternyata Bambang sudah memukul dengan kayu yang dia temukan di pekarangan rumah.


“Sebaiknya kalian cepat pergi, atau aku tak akan kasih ampun lagi.” Ryan menendang pantat rekan Pular yang tadi mengoloknya.


“Ampunnn…ampunnn,” teriak keduanya menghiba-hiba.


Dengan kaki terpincang-pincang dan satunya terbungkuk-bungkuk. Keduanya buru-buru pergi, sampai lupa membawa uang yang 10 juta tadi, lalu tancap gas meninggalkan rumah Meni.


“Awasss ye berdua berani datang lagi, ku potong tu metonggggggg…!” teriak Tomi mengolok dua preman apes ini.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2