
Ryan langsung di datangi 4 sohibnya saat tahu perkelahian yang terjadi tak jauh dari Kampus Nusantara ini, bahkan jadi trending, setelah ada yang diam-diam merekam dan menyebarkannya di medsos. Sehingga kejadian ini langsung viral.
“Gila coii…1 lawan 5, keok tuhh si Arief cs!” ceplos Bambang memandang kagum si calon Macan Kampus ini.
“Gue kan hanya membela diri, masa gue diam di keroyok,” sahut Ryan kalem, sambil memarkir motornya dan kini melepas jaketnya.
Karena masih keringatan usai bertarung sengit tadi, dan Tomi dengan sigap langsung memegang jaskul ini.
“Kapan-kapan ajak kita dong, gatal juga ni tangan lama nggak berantem. Kita perlu beri pelajaran orang yang suka main curang, tak peduli dia senior di kampus ini!” cetus Budi, yang di iyakan Anwar dan Bambang.
“Yee ni anak-anak, mentang-mentang jagoan, maunya beranteemm ajeehh, sebel!” olok Tomi.
Tiba-tiba datang si jangkung cantik, Dewi! Ke 4 sohibnya seakan paham dan menyingkir memberi kesempatan pada Ryan dan Dewi bicara berdua.
“Kamu tak apa-apa kan Ryan, tadi aku lihat video di medsos kamu berantem dengan Arief dan anak buahnya?”
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!” sahut Ryan enteng. Dewi langusung lega. Kini mereka beriringan masuk ke area kampus, lalu berpisah menuju kelas masing-masing.
Pulang dari kampus, Dewi nemplok di jok motor gede Ryan, gadis cantik ini sengaja menunggu Ryan dan ikut pulang dengan pemuda ini.
Kedua kini menuju ke mall dan jalan-jalan di tempat ini. Dewi kadang tak segan menggandeng tangan Ryan.
Kini keduanya santai di sebuah kafe dan memesan minuman. Ryan tak sadar, ada mata seorang wanita cantik berwajah lembut yang menatap dia dan Dewi sedang bercanda, yang kadang di selingi tertawa kecil.
Saat melihat Dewi meninggalkan Ryan, karena kebelet pipis, wanita cantik lembut ini mendekati Ryan.
“Ryan…!” wanita cantik ini memanggil Ryan.
Pemuda ini langsung memutar tubuhnya, dan dia langsung terdiam saat melihat si cantik yang memanggil namanya, karena dia adalah…Ranti!
“Ranti…kamu ada di mall ini juga..? A-apa kabar…?” sahut Ryan agak nervous, lalu buru-buru bangkit dan mempersilahkan Ranti duduk.
Keduanya saling pandang sesaat. Ryan melihat Ranti semakin cantik saja dan tentunya lebih dewasa. Ranti pun berpikiran sama, tubuh Ryan yang dulu biasa-biasa saja, kini terlihat makin kekar dan kokoh.
__ADS_1
Dua tahunan lebih tak bertemu ada rasa kangen di wajah pemuda ini, hal yang sama juga dirasakan Ranti.
“Aku nggak bisa lama-lama…nanti kekasih kamu datang nggak enak!” lirih suara Ranti, seakan ada rasa cemburu di suara itu.
“Dia…? Ohhh Dewi…dia teman kuliahku, kami belum pacaran…hanya dekat!” sahut Ryan apa adanya.
“Hmm…siapa pacar kamu sekarang Ryan..?” tanya Ranti lembut, pemuda ini langsung menggelengkan kepala.
“Kenapa…kamu belum memiliki kekasih? Ryan…rambut kamu makin panjang saja…kenapa nggak di potong?”
Ryan menghela nafas, tak langsung menjawab ucapan Ranti. Pingin bilang dirinya belum menemukan sosok yang cocok di hatinya. Karena sampai kini pikirannya masih terpaku pada sosok wanita…yang berada di depannya ini.
Perhatian Ranti inilah yang membuatnya sulit move on!
Tiba-tiba kepala Ranti memanjang sedikit saat menoleh arah kiri. “Ryan…maaf aku harus pergi…Alfito, tunanganku mencari-cariku!”
“Ranti…nomor ponselku masih belum berubah…tolong hub…!” suara Ryan terpotong, karena Ranti buru-buru pergi sambil berkata maaf.
Ryan pun tak kuasa mencegah, dia hanya bisa memandang saat Ranti berlari kecil mendekati seorang pria berkepala cepak, Alfito, sang tunangannya.
“Kita jalan yuks…kemana kek..!” ajak Ryan. Dewi mengangguk, keduanya kini pergi meninggalkan kafe ini.
Saking tak punya tujuan, Ryan malah mengarahkan motornya ke arah puncak. Dewi tak bertanya dan hanya memeluk erat tubuh Ryan, yang terus meliuk-liukan motor gedenya di di jalanan yang ramai.
Kini mereka sampai di sebuah cottage dan bersantai di bagian belakang yang ada terasnya dan mengarah langsung ke pemandangan indah di bawah. Ryan menyalakan rokoknya yang tadi pesan dari waitress.
“Mikir apa sih, dari tadi kulihat kamu kurang begitu bergairah?” Dewi menatap Ryan, yang menatap pemandan indah dari cottage ini.
Ryan menatap wajah Dewi, wajahnya lalu tersenyum, pemuda ini seakan baru sadar, Dewi sangat cantik dan bodynya juga sangat menggoda. Apalagi saat Ryan ingat, ketika si atlet volly ini berpakaian ketat.
“Aku…lagi mikir…maksudnya…baru sadar, ternyata kamu sangat cantik Wi!” ceplos Ryan, alihkan perhatian.
Dewi langsung tertawa. “Hmmm pujian ini ada maunya, ngapain kamu bawa aku ke cottage ini?”
__ADS_1
Ryan langsung mendekat dan memeluk tubuh Dewi dan berbisik. Dewi terdiam sesaat! Tapi setelahnya Ryan lah yang terkaget-kaget, saat Dewi menarik tangannya dan menutup pintu cottage ini.
Ryan makin terkaget-kaget, Dewi ternyata mengajaknya berlayar, tapi gayanya berbeda, liar dan benar-benar jadi pengalaman baru bagi Ryan.
Dewi ternyata sesuai dengan bodynya yang agak kekar…bercinta dengan suara yang heboh dan meminta Ryan memuaskan dirinya.
Untung saja cottage ini berdinding beton, andai papan, pasti suara Dewi akan terdengar di kamar sebelah.
Ryan bak baru memasuki dunia yang berbeda saat ini, Dewi seolah mengajarinya bagaimana memuaskan hasratnya yang ternyata menggebu-ngebu.
Andai fisik Ryan tak kuat, sudah pasti pemuda tampan ini akan keteteran melayani hasrat si jangkung cantik ini.
Setelah hampir satu jam berlayar, kedua nya mencapai puncak bersama-sama dan terkapar di kasur empuk ini.
Cuaca sangat dingin, hingga keduanya cepat-cepat menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya. Ryan sempat melihat sesuatu yang menggoda! Sesaat sebelum selimut itu menutupi tubuh mereka, yakni ada tato kecil di dekat area yang bikin matanya melotot.
Namun Dewi cepat-cepat menutupi area ini, sambil tertawa dan menggoda Ryan, apakah ingin ‘menyapu’ lagi area tersebut. Ryan tertawa kecil saja.
“Kapan sih kamu bikin itu Wi..?”
“Hmm…saat SMU, tak lama setelah aku dan kekasihku melakukan pertama kalinya begini!”
Dan Ryan kaget bukan main, saat tahu kalau kekasih Dewi itu adalah…Alfito.
“Aku dulu setengah di paksanya, dia janji akan menikahi aku. Namun janjinya hanya di bibir…dia malah bertunangan dengan seorang anak bawahan ayahnya.” Dewi kini merenung ke arah plapon kamar teringat masalalunya.
Ryan kini makin kaget, saat Dewi bilang, Alfito juga berselingkuh dengan salah satu sahabatnya, bahkan sang sahabat itu sampai hamil.
“Tahu nggak…saking patah hatinya, sahabatku itu sampai sakit dan akhirnya keguguran. Benar-benar jahat sekali si Alfito itu, perawanku dia ambil, sahabatku dia hamili dan malah bertunangan dengan gadis lain!” cetus Dewi sambil menghela nafas.
Ryan pun kini ikut termenung…ingat nasib Ranti!
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG