
Dorrr!!
Nayra tersentak kaget dan langsung menoleh kebelakang. Dia tengah duduk di atas selembar koran sambil melihat ke atas.
"Kaget ya...," goda Novi. Novi ikut duduk di atas koran. Dia memberikan sebungkus nasi goreng dan air mineral pada Nayra.
"Makasih." Nayra menerimanya dengan senang hati. Dia membuka dan memakannya dengan lahap.
"Kak Nayra suka banget sama nasi goreng?" Novi ikut mencicipi nasi goreng yang ada didepan Nayra. Sebungkus berdua. Sesekali dia minta disuapi.
Dengan senang hati, Nayra akan menyuapinya. "Andaikan hidup bisa di tentukan sendiri, aku nggak keberatan punya saudara," gumam Nayra.
''Besok ada dokter lho,'' kata Novi sambil mengunyah sesuap nasi goreng di mulutnya. Dia yakin, Nayra pasti belum mengetahuinya.
''Dengar dari siapa?" tanya Nayra.
''Tadi waktu aku mau kesini, aku dengar Kak April di kasih tau sama Ibu pembina." Novi mengingat kembali saat dia lewat didepan kamar pembina asrama. April terlihat begitu akrab dengan pembina asrama. "Apa jangan-jangan mereka punya hubungan keluarga!" fikir Novi dalam hati.
Setelah Nayra menyelesaikan makannya. Dia melirik Novi. "Mikirin apa?" tanya Nayra.
Novi tidak menjawab pertanyaan Nayra. Dia tidak mendengarnya.
__ADS_1
Nayra mentoel bahu Novi dan tersadar. "Mikirin apa?" Nayra mengulang petanyaannya.
"Tadi aku lihat, Kak April akrab banget sama, Ibu pembina. Kayaknya mereka punya hubungan keluarga deh," ujar Novi penasaran.
''April itu anaknya,'' ungkap Nayra dengan santainya.
Novi melihat Nayra dengan mata yang terbuka lebar. "Aku baru tau."
"Jadi tadi mereka bahas apa?" Nayra mengalihkan pembicaraannya.
"Yang aku dengar, besok ada dokter kesini. Dokter mau ngambil sampel darah," jawab Novi. "Jadi itu alasannya Kak April jadi penguasa di asrama ini," gumam Novi.
''Udah jangan di bahas lagi." Nayra mengambil botol air mineral lalu minum.
''Kenapa kamu?" Nayra melirik dengan bingung.
"Kak Nayra takut jarum nggak?"
Nayra mengangkat kedua bahunya. "Aku belum pernah di suntik.'' Nayra bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamar Novi.
Novi ikut berdiri dan menyusul Nayra. ''Mau kemana?" tanya Novi. Menuruni anak tangga.
__ADS_1
''Cek perlengkapan buat tugas liburanmu,'' jawab Nayra.
''Ohh,'' sahut Novi. ''Aku kira mau kemana.''
Setibanya di kamar Novi. Novi mengeluarkan foto berukuran 5R yang sudah dia cuci. Dia memberikannya pada Nayra yang duduk di tepi ranjangnya.
Nayra memperhatikan foto yang ada di tangannya. ''Aku punya kuas tapi cat airku sudah habis,'' kata Nayra.
Novi berfikir sebentar. ''Karna besok hari sabtu. Gimana kalau kita belinya bareng sama ayahku? Sekalian kita jalan-jalan,'' ujar Novi dengan antusias. Dia ingin menghibur Nayra.
''Mau kemana?'' tanya Nayra.
''Kemana saja! Kita bisa main bom bom car, komedi putar, dan lain-lain.'' Novi membayangkannya dengan begitu semangat.
"Aku ada piket kelas besok sore."
"Yah....'' Novi memanyunkan bibirnya dan tertunduk lesu. "Kalau hari minggu?" tanya Novi penuh harap. Dia belum menyerah.
Nayra melihat Novi dan tersenyum. "Aku piket asrama."
Pupus sudah harapan Novi ingin menghibur Nayra. ''Terus kapan dong?" Novi bersandar di bahu Nayra dengan manja.
__ADS_1
''Kapan-kapan kalau kita sama-sama punya waktu." Nayra memberi harapan. Meskipun dia sendiri