
Ranti masih kebingungan, tapi dia mulai merespon. Ryan langsung semangat melihat Ranti mulai benar-benar siuman dan sudah bisa berkomunikasi.
Semakin hari Ranti makin bisa merespon dengan baik, pelan tapi pasti tubuhnya yang semula kurus mulai berisi. Karena kini bukan lagi bubur cair yang masuk, tapi bubur yang biasa yang sengaja di racik dokter Shia, dan ada campuran obat herbal, sehingga Ranti mulai bertenaga dan tubuhnya mulai berdaging lagi.
Ranti sudah bisa mengangat tangannya sendiri, bahkan Ranti bisa tersenyum saat VC dengan kedua orang tuanya, juga kedua mertua serta adik-adik iparnya.
Ryan sudah membisiki ke telinga Ranti, kalau kini mereka sudah suami istri, sehingga wajah Ranti terlihat berbinar dan ini malah berimbas positif, kesehatan Ranti meningkat drastis.
Dokter Shia pun kagum melihat kemajuan kesehatan Ranti, yang makin hari makin menunjukan kesembuhan.
Sebulan kemudian Ranti malah sudah bisa duduk di kursi roda. Dan setiap hari Ryan mendorong kursi roda ini, lalu mengajak istrinya jalan-jalan di seputaran rumah sakit ini dan bersantai di taman.
Walaupun Ranti belum bisa bicara normal, tapi lebih banyak pakai bahasa isyarat. Namun semakin hari lidah Ranti mulai bisa berucap pelan. Otak Ranti yang sempat di bedah juga mulai menunjukan gejala sembuh.
Rambut Ranti yang dulu panjang dan hitam legam, lalu terpaksa di gunduli untuk jalani operasi, kini mulai tumbuh rambut dengan lebat lagi.
Obat dokter Shia, perpaduan modern dan herbal seakan mampu menyambung urat-urat syarat di otak Ranti. Padahal di Jakarta, dokter sempat memvonis, kalaupun sembuh, ada kemungkinan Ranti akan mengalami kemunduran otak atau idiot.
Dua bulan kemudian, Ranti mulai lancar bicara. Dia sempat menegur Ryan yang kini berbadan kurus dan tak terawat, hingga kumis dan jambang suaminya ini makin lebat saja.
“Sayang, potonglah jambang dan kumis, aku serem lihat kamu begitu, juga mulai lagi latih badan kamu. Kok kurus sih…aku ingin lihat badan kamu berotot lagi!” tegur Ranti dengan suara pelan. Ryan tertawa sambil mengecup pipi istrinya dan mengangguk.
Setelah izin dengan istrinya yang akan jalani observasi lanjutan, Ryan benar-benar cari tukang cukur yang tak jauh dari rumah sakit ini. Diapun memangkas jambang dan kumis nya hingga klimis lagi.
__ADS_1
Dan dia makin senang, di dekat barbershop ini, ada sasana gym. “Demi kamu sayang, aku akan mulai berlatih lagi. Bukan buat bertarung, tapi murni agar kamu bahagia…!” batin Ryan.
Ryan benar-benar berlatih fisik lagi dan mulai menjaga pola makan. Selama menemani istrinya di rumah sakit ini, Ryan tak perlu sewa apartemen atau hotel.
Karena kamar perawatan istrinya dia sengaja pilih yang termahal, yang ada tempat tidur buat penjaganya.
Ranti makin terharu saat tahu Ryan sejak 9 bulanan yang lalu tak pernah jauh dari dirinya, benar-benar suami siaga buatnya.
Itu diketahuinya saat kedua orang tuanya, Irjen Jimi dan Tante Tuti berkunjung dan menceritakan pengorbanan suaminya selama ini.
“Kamu beruntung sekali Ranti, suamimu sangat sayang denganmu, kami saja sampai khawatir loh. Tubuhnya yang semula kokoh berotot, jadi kurus gara-gara tak karuan makan selama kamu koma!” Tante Tuti menceritakan ‘pengorbanan’ Ryan ke Ranti.
Dan setelah 3,5 bulan, Ranti akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan, 1,5 bulan lagi di bawa ke rumah sakit ini, untuk di cek kesehatannya.
Ranti bahagia sekali akhirnya bisa kembali ke tanah air, dan dia akan tinggal sementara di rumah mertuanya.
Pelan tapi pasti, kini tubuh Ryan mulai kekar berotot lagi, dan dia mulai masuk kerja sebagai seorang eksekutif muda, untuk pelan-pelan ambil alih perusahaan ayahnya. Radin sudah berencana akan pensiun total 2 atau 3 tahunan lagi. Sambil membimbing Ryan jadi CEO Sasmita Group.
Ryan diam-diam mengontak Ujang Kosworo, seorang detiktive swasta. Ryan ingin menyelidiki sendiri siapa pelaku penabrak istrinya.
“Baik pa bos, aku butuh waktu dua bulan, untuk pelan-pelan sidik siapa pelaku penabrak istri pa Bos!” ceplos Ujang Kosworo, mantan polisi yang pensiun dini, di usia 45 tahun dengan pangkat terakhir Ajun Komisaris Polisi atau AKP, karena pernah terlibat masalah.
Ujang punya 4 anak buah, sehingga dia fokus untuk membongkar kasus ini. Ujang bertanya siapa musuh Ryan saat ini atau orang yang di curigai.
__ADS_1
Tanpa ragu Ryan sebut dua nama, Dewi dan Alfito. “Aku rada curiga, kedua orang ini terlibat dalam kecelakaan fatal istriku Bang Ujang!” Ryan lalu sebutkan siapa Dewi dan juga Alfito, hingga Ujang Kosworo mengangguk paham.
“Baik pa Bos, kami akan sidik mulai dari dua orang ini dulu, baru nanti kami kembangkan,” sela Ujang. Ryan pun memberi depe buat operasional Ujang sebesar 100 juta.
Ryan kadang senyum, saat James Toy dan Aseng Jaya menelponnya dan menggoda dia agar mau comeback lagi ke ring octagon. Tawaran fantastis pun mereka tawarkan. Tapi Ryan benar-benar tak kepingin kembali ke olahraga keras ini
Ryan sudah menegaskan dia tak minat lagi jadi petarung. Apalagi Ranti juga melarangnya. Di rumah, Ranti kini sudah mulai belajar jalan dan kakinya yang lama tidak melangkah mulai bisa di ajak bergerak. Walaupun paling jauh hanya 10 meteran, ada pelatih khusus yang sengaja Ryan kontrak, untuk melatih istrinya ini.
Hingga suatu hari, secara tak sengaja, Ryan melihat Dewi dan Alfito di sebuah pusat perbelanjaan.
Penasaran Ryan pun mengikuti kedua orang ini, dia mengikuti keduanya menuju ke sebuah kafe, yang ada di mal mewah ini.
Dewi dan Alfito masuk ke kafe ini, Ryan kini sengaja pakai masker di mulut, bahkan tadi sempat membeli topi di mall ini. Jas dan dasinya sudah dia serahkan ke asistennya. Sehingga penampilan Ryan tak begitu kentara dan tak di kenal orang.
Ryan juga masuk ke kafe dan mencari tempat duduk yang tak jauh dari Dewi dan Alfito, mereka kini hanya terhalang dinding tipis, yang terbuat dari rotan.
“Kamu ini bagaimana sih Fito, masa kini kita kere dan kamu belum juga berhasil rebut warisan ayah kamu?” terdengan Dewi menegur Alfito.
“Mau bagaimana lagi Wi, semenjak papa meninggal 4 bulanan yang lalu. Mami malah menyerahkan aset-aset keluarga pada Rika, adikku, aku hanya dapat sedikit!” sungut Alfito jengkel dan marah.
“Huhh…coba kalau dulu itu kita culik saja si Ranti, kan kita bisa minta tebusan pada Ryan, dan mungkin kini kita sudah nongki di LN. Kamu sih cemburu dengan Ranti malah memerintahkan anak buah kamu untuk habisi wanita itu…!”
Ryan langsung terperanjat, dugaannya mulai dekati kebenaran!
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG