Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 28: Kejadian Tak Sengaja Membekas di Hati


__ADS_3

Angelina terpana, terdiam beberapa detik....dan bukkkkk….sebuah pukulan menerpa perut Radin, Radin langsung mengaduh. Walaupun pukulan itu tak keras, karena Radin rajin olahraga dan masih rutin mengasah kemampuan ilmu beladirinya dengan latihan kick boxing.


Tapi pukulan secara tiba-tiba dari Angelina membuatnya meringis juga sesaat. “Kurang ajar kamu tu yaa, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.” Angelina terpaksa menahan amarahnya, hingga suaranya setengah berbisik, karena di saat bersaman mobil orang tuanya datang.


Bagaimana tak kaget wanita cantik ini, saat terpana tadi, sempat-sempatnya Radin ******* bibirnya. Bahkan tanpa sadar dia ikutan meladeninya, kesadarannya timbul saat mendengar bunyi mobil masuk ke halaman rumah.


Dan lagi-lagi saksi hidup yang menyaksikan kelakuan keduanya adalah Umi, abege yang baru kuliah semester satu ini sampai membulat matanya, melihat kakaknya dan Radin berciuman singkat di depan kamar.


Braja dan Titin tentu kaget mendengar Ryan terluka di kaki, mereka ikut masuk ke kamar Angelina dan melihat kondisi cucu kesayangannya.


Ryan kini sudah bisa tertawa lagi, obat yang direcokan Angelina dan di bantu Radin yang menahaan tubuh anak mereka, telah bereaksi baik.


Selama itu pula, keduanya saling diam-diaman saja, Angelina merasa malu untuk menatap wajah pria tampan ini.


Di kamar Umi dan dan Titin cekikikan tertawa, dengan berbisik Umi menceritakan kelakuan Angelina dan Radin, sampai-sampai Badrul yang sejak lama mengejar Angelina cemburu berat, dan pulang tanpa pamit.


“Ssstt…sudah-sudah, cukup kamu ceritanya, bikin ibu sakit perut saja tertawa, biarkan saja mereka terus begitu. Kalau emank jodoh mah tak kemana!” bisik Titin dan kini ke dapur dan sibuk menyiapkan makanan buat nanti malam.


Sementara di kamar Angelina, Ryan merajuk dan minta papanya jangan tidur di hotel, tapi di sini menemaninya.


“Ryan…papa kamu tidak boleh tidur di sini…karena..?” Angelina coba beri pengertian pada anaknya ini.


“Masa papa tidak boleh di sini Mah, kan papa bisa nemani Ryan bobo di sini, ranjang ini juga luas, bisa bertiga mah!” Ryan tetap tak mau tahu.


Kamar Angelina ini memang sering Ryan tempati kalau ibunya ini berada di Jakarta, kadang Ryan tidur dengan Umi atau kakek neneknya.


Tapi semenjak Angelina sudah berbalik sayang dengan Ryan, sejak saat itu juga Ryan tidurnya di kamar ini terus.


Radin dan Angelina saling tatap, tiba-tiba melihat Radin tersenyum, Angelina melengus sambil mencebi.


“Baiklah…gini saja…papa akan bobo di sini, tapi papa akan tidur di ruang tamu yaa?”


“Lhoo kenapa nggak di kamar ini pah..?”


“Karena papa dan mama….sudah cerai Ryan, nggak boleh se-kamar lagi, bukan muhrim. Lagian papa kamu sudah punya istri baru, mama tiri Ryan dan tinggal di Jakarta!” sela Angelina cepat.

__ADS_1


Alangkah terperanjatnya Radin mendengar ucapan Angelina. Sampai lama ia menatap wajah jelita ini, seakan tak percaya dengan ucapan Angelina barusan.


Tapi yang di tatap cuek bebek, dan menyibukan diri menjawab pertanyaan cerdas Ryan.


“Ohh gitu ya Ma, jahat papa yaa…kok cerai’in mama dan kawin lagi!” Ryan kini terlihat menatap Radin, wajahnya yang polos terlihat marah dengan Radin.


Untuk sesaat Radin takjub dan bingung mencari jawaban yang pas, agar anaknya ini tidak makin marah dengannya.


“Sayang…papa..ee dan mama kamu ce-cerai…ka-karena…eee…mama kamu…marah sama papa…iya saat itu papa jahat sekali sama mama kamu. Tapi papa sudah sadar dan sudah minta maaf dengan mama kamu!”


“Tuh dengarin Ryan! Kelak kamu dewasa jangan seperti papa kamu kelakuan ya, jahat banget papa kamu itu, sampai mama di perrr…maksudnya mama di jahatin dulu itu. Ninggalin mama saat hamil kamu, lalu papa kamu kawin dengan mama tiri kamu itu!”


“Hmmm papa kok gitu, kasian banget mama pah!”


Angelina menahan mulutnya agar jangan tertawa, dia kini bangkit dari sisi Ryan dan menuju ke pintu keluar kamar.


Apalagi saat melihat Radin terus-terusan membujuk Ryan yang marah dengannya. “Rasain kamu Radin, di marahin anak kesayangan kamu sendiri,” pikir Angelina lalu keluar dari kamar dan menuju dapur.


Sebenarnya, sejak kejadian di Kali itu, Angelina sudah mulai berubah pandangannya terhadap Radin. Bayangannnya pria tampan ini sangat jahat mulai terkikis pelan-pelan. Walaupun rasa sakit hati itu kadang masih keluar tanpa dia sadari.


“Hmm…pantass…!”


“Pantas kenapa Ange..?” Mira kini balik bertanya.


“Si Radin berani datang ke rumah orang tuaku menjenguk Ryan, Mir…!”


“Ohh begitu, ya bagus lah Ange, itu tandanya sepupuku itu sudah benar-benar berubah jadi baik. Artinya dia bertanggung jawab terhadap Ryan yang juga darah dagingnya sendiri,” ceplos Mira tanpa rasa curiga.


Bahkan Mira menasehati Angelina, agar memberi kesempatan pada Radin untuk menunjukan kasih sayangnya pada Ryan. Angelina tidak mengiyakan tapi tidak pula mengangguk, hanya diam saja.


Radin kini keluar kamar dan duduk di kursi tamu, Angelina masuk lagi dan kini gantian wanita ini yang kebingungan dengan kelakuan anaknya.


“Jadi Ryan marah sama papa, lalu Ryan minta papa kamu nginap di sini?”


“Iya mah…eh mah, biarin ajah papa bobo di ruang tamu dan di gigit nyamuk ya mah. Habisnya papa nakal banget sama mama dan kawin lagi sama mama tiri Ryan!” sahut bocil ini polos.

__ADS_1


Radin pun akhirnya memutuskan menginap di sini, untungnya kompleks perumahan ini walaupun masuk di pedesaan, warganya nafsi-nafsi. Karena merupakan wilayah penyangga ibukota Jakarta, tapi masih masuk kawasan Kota Depok.


Adon diminta Radin nginap di hotel, yang bertebaran di Depok, dan untuk pertama kalinya pula, Braja dan Titin terlihat sumringah, mereka makan malam bak keluarga utuh saja.


Entah di sengaja atau tidak, Radin dan Angelina malah duduk berdampingan saat makan, bahkan tanpa di sadari, Angelina kadang menawarkan lauk pada lelaki ini, sehingga Braja dan Titin kadang saling pandang tanpa di sadari Radin dan Angelina, sementara Umi cuek saja, pura-pura tak tahu.


Jam 10 malam, semua orang rumah sudah tidur, Radin pun juga sudah keluar kamar Angelina, karena Ryan yang tadi minta di temani sudah pulas.


Sampai lama Radin yang tak biasa tidur di sofa bolak-balik saja, matanya enggan terpejam.


Pintu kamar Angelina terbuka perlahan, terlihat oleh Radin kaki wanita ini keluar dan melangkah menuju ke tempatnya.


“Ini selimut, malam makin dingin…!” terdengar suara lembut Angelina.


Radin bangkit duduk dan menerima selimut itu. “Ange…boleh aku bicara sebentar…?” Radin juga bicara pelan, Angelina yang semula ingin balik ke kamar menahan langkahnya.


“Mau bicara apa..?”


“Duduklah…please…!” Angelina terdiam sesaat lalu duduk di samping Radin.


“Ange…sekali lagi...aku benar-benar minta maaf atas kejadian dulu itu, aku benar-benar menyesal dan..!”


“Sudahlah Radin…tak perlu berkali-kali kamu minta maaf, tuh semua sudah terjadi, tak bakal bisa di kembalikan lagi!”


Keduanya kini terdiam lagi.


Saat Angelina menoleh ke samping, Radin juga menoleh, tapi Angelina cepat-cepat menatap lurus ke depan lagi.


“Ange…apakah…bekas tunangan kamu itu si Badrul itu orangnya, kalau ya, aku akan menemuinya dan berharap dia mau meni..?”


“Bukan…bukan dia…ahh sudahlah…kamu tidur saja, sudah malam!” Angelina tanpa menatap Radin balik lagi ke kamarnya.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2