Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 39: Butuh Jawaban Tegas, Tapi Kenapa Ragu?


__ADS_3

“Lihat apa sih..?” Radin ikut mendekat.


Ryan tertawa saja, Angelina langsung menggelitik anaknya ini, karena Ryan sengaja menggoda dia dan Radin, yang tadi bicara serius dan saling berdekatan.


“Ryan suka nggak ruang kerja papah?”


“Suka banget pah, boleh nggak tiap hari Ryan ke sini?” Ryan menatap ayah kandungnya penuh harap.


“Huss…kamu itu sekolah, papah kamu kerja di sini, mana sempat main nemani kamu!” tegur Angelina.


Ada ketukan di pintu, ternyata Megi Sekretaris Radin yang masuk dan seorang waitres membawakan minum segar. “Sekretaris papah kok cantik? Jangan macam-macam ya pah, kasian mama!” ceplos Ryan sambil menatap Megi.


Megi dan Angelina terperanjat sekali dengar celotehan Ryan. Radin hanya tersenyum saja. Megi kaget karena tak mengira sang bos nya ini sudah punya anak sebesar Ryan dan ‘istri’ yang sangat cantik.


“Tenang anak ganteng, tante nggak bakal berani godain papa kamu, lagian selera papa kamu beda kalee he-he. Mami kamu cantik banget, tante mah bukan saingan Mami kamu!” goda Megi tertawa kecil, sambil mencubit pipi Ryan.


Angelina langsung merah padam saat saling pandang dengan Radin. Megi lalu menyampaikan ke Radin, kalau ada tamu yang sudah janji mau bertemu dengannya.


Radin pun permisi ke Angelina. Dan meminta keduanya menunggu di sini. Angelina mengangguk.


Setelah Radin keluar ruangan, dan Ryan kini menguap, tanda ingin tidur, lalu tak lama kemudian anak ini tertidur di kursi dengan nyenyaknya.


Iseng-iseng Angelina duduk di kursi empuk milik pria ini dan dia melihat laptop yang tadi sempat Radin buka.


Awalnya Angelina ingin menutupkan laptop itu, tapi dia jadi penasaran saat melihat pic, dengan iseng Angelina pun mengeser ke pic itu. Dan bibir wanita ini tersenyum, saat pic itu ternyata foto dirinya, yang di capture dari sebuah iklan yang dia perankan.


Dan yang bikin Angelina makin sumringah, ada kalimat yang membuat dia makin menatap antusias ke layar laptop.


“Tuhan maha baik…wanita suci yang pernah ku nodai, justru jadi ibu anakku, juga jadi malaikat penolongku. Dulu aku diam-diam membantunya, dengan meminta Mira mengontraknya secara eksklusive selama 10 tahun, dengan nilai 100 miliar. Siapa nyangka, malaikatku ini justru jadi awal kebangkitanku, uang itu ternyata bawa berkah. Walaupun aku harus patah hati, saat tahu dia bertunangan. Tapi aku selalu berdoa yang terbaik buatnya juga anakku tercinta. Malaikatku berhak bahagia, dengan lelaki pilihannya…walaupun hatiku terluka…!


Angelina-ku…malaikatku…biarlah cinta suci ini terus ku simpan dalam hati, selamanya.


Terhenyaklah Angelina. “Jadi…selama ini, Radin diam-diam sengaja membantu aku..?” batinnya, benar-benar hampir tak percaya, andai dia tak membaca tulisan ini.


Rasa bersalah pun menyeruak dalam batinnya, kekasarannya dan ke jutekannya terhadap Radin, ternyata tak membuat pria ini berhenti membantu dirinya.

__ADS_1


Dan secara tak langsung, orang yang membuat dirinya bisa seperti sekarang ini adalah, pria yang dulu sangat di bencinya!


Angelina lalu mematikan laptop itu dan kini dia mendekati anaknya yang nyenyak tertidur. Bibirnya terus menyunggingkan senyum sambil membelai wajah Ryan, yang makin besar makin mirip Radin, papahnya.


Dua jam kemudian Radin balik lagi ke ruang kerjanya yang mewah. Dulunya kantor ini memang miliknya juga dan sempat di sita bank. Kini setelah Radin mentake over kembali dengan di permak sana sini, kantor ini pun kembali ke tangannya.


Radin senyum sendiri saat melihat Angelina tertidur sambil duduk, sedangkan Ryan enak-enakan bobo sambil berbaring di sofa tamu yang empuk.


Radin melepas jasnya dan pelan-pelan mendekati Angelina, sambil melonggarkan dasinya. Melihat bibir Angelina yang agak terbuka, hingga memperlihatkan mulutnya yang merah pink serta giginya yang rata.


Radin tak tahan juga, dengan pelan-pelan dia mendekati wajah Angelina. Begitu bibir Radin sampai ke bibir Angelina. Wanita jelita ini kaget, tapi saat tahu yang menciumnya lembut adalah Radin, Angelina pura-pura masih tidur dan membiarkan bibirnya di kecup lembut pria ini.


Radin kini menatap lama wajah Angelina, lalu tangannya menjamah ke arah dadanya, Angelina kembali kaget melihat aksi pria ini.


Tapi dia senyum sendiri dalam hati, saat tangan itu justru secara lembut merapikan kancing blousenya.


Angelina pelan-pelan membuka matanya, pura-pura baru bangun. “Kamu sudah selesai rapatnya Bang..?”


“Iyah…kalau masih ngantuk, ngga apa-apa tidur saja lagi. Aku akan temani kok di sini, nggak kemana-mana!” Radin kini duduk di samping Angelina.


Radin lalu menyodorkan air mineral yang baru dibuka tutupnya. “Minumlah..!” Angelina mengangguk.


“Iya…Ange mau tanya apa?” Radin menatap ke samping dan mereka kembali saling bertatapan.


“Kenapa Abang tidak menikah lagi, atau memiliki kekasih. Setelah bercerai dengan Stella dua setengah tahunan yang lalu?’


Radin menatap kosong ke depan, sebuah pertanyaan gampang. Tapi agak sulit dia menjelaskan pada wanita jelita yang diam-diam sangat dia cintai.


“Haruskah aku jawab Ange..?”


“Iya…kita sudah sama dewasa Bang…jujurlah, tak usah di sembunyikan...dan ku lihat Abang sejak dari restoran tadi…emm…terlihat berubah, lebih bahagia…kenapa Bang?”


Radin kembali menatap Angelina. Haruskah saat ini aku jujur, pikirnya.


Setelah menghela nafas panjang, Radin menatap lagi ke wajah Angelina.

__ADS_1


“Karena…aku mencintai seseorang…secara diam-diam. Tapi aku tak tahu, apakah perasaannya juga sama!”


“Hmm…beruntung banget wanita itu, dicintai Abang…dengan keadaan Abang sekarang, siapa sih wanita yang begitu bodoh menolak cinta Abang!”


Radin tersenyum. “Justru karena keadaan aku saat ini, aku jadi tak berani mengungkapkan hatiku padanya…!”


“Aneh…kenapa?”


“Karena…wanita ini sangat spesial, dia tak silau dengan harta dan wajahku. Benar-benar wanita sempurna…!” gumam Radin, sambil kembali menatap ke depan.


“Bang…kalau si wanita itu minta kamu terbuka mengungkapkan hatinya sekarang ini. Apakah Abang mau mengucapkan itu..?”


Radin terdiam sesaat, lalu kembali mereka berpandangan. “Aku…!”


“Kenapa Abang ragu…bukankah dulu Abang seorang lelaki yang paling mudah mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Kenapa sekarang ini berubah?”


Radin tertawa kecil, tapi Angelina tahu, tawa itu agak di paksakan, seolah menyesali masa lalunya.


“Semenjak malam itu…aku benar-benar bukan lagi Radin yang Ange kenal sebelumnya. Rasa bersalahku yang besar, di tambah aku menemukan mantan istriku berselingkuh, lalu usahaku bangkrut…telah merubah jiwaku…!”


“Bang…kenapa saat menikah dengan Stella, abang tak punya anak…?” Angelina sengaja bertanya, walaupun dari cerita Mira, dia sudah tahu. Tapi dia ingin dengar langsung dari bibir Radin.


“Ange…aku…tak enak menceritakan aib mantan istriku itu. Tapi secara garis besar…Stella sulit hamil…karena...pernah dua kali aborsi…saat bersama mantan pacarnya dulu!”


Radin kemudian melanjutkan omongannya.


“Makanya…saat aku dengar dari Mira…dulu kamu sempat…maaf, ingin aborsi anak kita, sejak saat itulah aku berusaha mendekatimu Ange…untuk memelihara Ryan.”


“Iyahh…saat itu aku kalut…karena tak menyangka, hamil anak kamu Bang. Sedangkan aku sudah terlanjur benci dengan kamu!”


Radin menarik tangan Angelina dan mencium jari lentik itu.


“Makasih…Ange sudah membatalkan aborsi dan…terima kasih, sudah melahirkan Ryan, memeliharanya dan…jadi malaikat penolongku…kamu…benar-benar malaikat yang dihadirkan untuk melengkapi diriku!”


“Ucapkanlah…sekarang juga, agar hatiku yakin!” Angelina menatap wajah Radin.

__ADS_1


*****


BERSAMBUNG


__ADS_2