
Cuaca sangat dingin menyergap rombongan ini, begitu 3 bus ini sampai di Pegunungan Unggaran. Dua orang pemilik tenda sudah menyambut 3 guru dan Ryan sebagai kepala rombongan dan mempersilahkan semua siswa beristirahat di tenda yang sudah di atur.
“Kamu ke sana Amanda jangan di tenda ini,” bisik Ryan, karena Amanda tiba-tiba saja pingin kumpul ke tendanya.
“Dyehhh ni anak, ntar pulang-pulang masuk angin, baru nyaho dehhh!” olok Tomi, hingga Amanda memerah dadu wajahnya dan langsung ngacir ke tenda khusus siswa wanita.
“Bambang, ngapain kamu antar Dewi dan Amanda biarkan saja mereka ke sana,” tegur Ryan, saat melihat sohib dekatnya ‘mengawal’ kedua gadis ini.
Bambang buru-buru balik dengan wajah merah padam.
“Dasarr loe yeee…di bus udah kamu apain anak orang!” ejek Tomi. Bambang langsung melotot, karena selain Ryan dan Tomi, juga ada dua teman mereka. Satu tenda di isi 5 siswa.
Karena baru tiba, kegiatan hari ini hanya beristirahat seharian, malam baru ada kegiatan.
“Kamu ngapain dengan si Amanda di bus tadi malam,” bisik Bambang kepo. Saat mereka rebahan beristirahat di tenda ini.
“Ngga ada…!” bisik Ryan cuek.
“Alaaahh…jangan bohong, saat mampir di rest area, Amanda kan ke toilet dengan Dewi, dia bilang hampir bablas gara-gara kamu. Katanya…punya dia basahhhhhh” bisik Bambang cekikikan, hingga Ryan langsung menyepak kaki Bambang.
“Lhaa kamu sendiri, di apain si Dewi?’ Ryan balik bertanya.
“Cuman…ciuman doang, suwerr ga ngapain-ngapain!”
“Bohong kamu, ku lihat di atas dadanya ada tanda merah kecil!” Bambang gantian menyepak kaki Ryan, hingga keduanya terbahak-bahak. Tomi melotot melihat keduanya begitu, karena dia terganggu tidurnya.
“Huss para buayaa bisa dieemmm ga sih, akika mau bobo!” sentak Tomi, Bambang pura-pura ngorok dan Ryan berbalik, sambil menahan tawa.
Sementara dua teman mereka sudah terbang ke alam mimpi sejak tadi, tak terganggu dengan ulah 3 sahabat dekat ini.
Ryan yang tak bisa tidur memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan di sekitaran kaki bukit ini. Matahari yang bersinar masih tertutup halimun, sehingga cuaca belum begitu terik.
Bambang dan Tomi masih nyenyak tidur, sehingga Ryan tak membangunkannya. Ryan memandang kemah-kemah lain pun rada sunyi, tanda masih beristirahat semuanya.
“Huhh dasar kebo semua, betah banget molor!” pikir Ryan dan kini terus jalan-jalan, sambil mengencangkan jaketnya, karena hawa di Unggaran ini sangat dingin.
__ADS_1
Saat melihat jam tanganya, waktu masih menunjukan pukul 8.25 pagi. Tak terasa Ryan agak jauh meninggalkan kemahnya.
Kini Ryan sudah menyusuri sungai kecil yang airnya sangat jernih, tapi airnya sedingin es. Saat itulah Ryan mendengar suara-suara orang lagi mandi dan tertawa cekikan. Penasaran, Ryan pun mendekati arah suara itu.
Matanya langsung membulat, karena ada 3 gadis desa yang sedang mandi. Mereka hanya kenakan kemben sebatas dada dan sampai paha, sehingga lekukan tubuh mereka terlihat jelas.
Ryan terus saja berindap-indap menyaksikan mereka ini mandi. “Amboii…indahnya..!” batin Ryan. Ketika melihat mereka mulai mengosok tubuh dengan spon dan menyabuni, hingga ke perabot dalam.
Saking aseeknya mengintip, Ryan tak sadar ada seseorang yang berdiri dibelakangnya. Orang ini sengaja batuk-batuk, Ryan kaget bukan kepalang.
Saat berbalik, ada seorang pria setengah tua yang geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
“Ngapain kamu di sini hahhh..!” tegurnya setengah marah.
3 gadis yang tadi di intip dan kini sudah berpakaian kaget. karena di seberang sungai kecil aktivitas mereka ternyata diam-diam di intip seorang remaja tampan. Mereka pun buru-buru naik dan pergi dari sana.
“A-anu pa…anu..tadi mau cari ca-cacing...iya cacing..buat di-di makan, eh buat kail ikan!” Ryan gelagapan bukan main, kelakuan nakalnya ketangkep basah.
“Hmm…kamu ikut saya ke rumah, sekarang juga..eh mau kabur, apa kamu mau saya teriakin maling!” bentaknya, hingga nyali Ryan ciut seketika dan membatalkan niatnya untuk pergi.
Ryan pun terpaksa mengikuti pria setengah tua ini ke rumahnya.
Ryan makin kaget, ternyata pria ini kepala desa di sini. Sebab, setiap kali berpapasan dengan warga, semuanya menghormat sambil menyapa pa Kades, sekaligus heran, kenapa pa Kades jalan dengan ‘remaja kota’ ini.
Begitu sampai di rumahnya yang lumayan besar dan ada dua mobil nangkring di garasi, si Kades ini mengajak Ryan duduk di terasnya yang luas.
Tak lama kemudian keluar seorang wanita yang masih muda dan manis. Meletakan dua kopi di depan Ryan dan pa Kades ini.
“Ini siapa pa…kayak bukan warga sini, guanteng banget kayak artis drakor!” sapa wanita ini sambil duduk di dekat si Kades, lalu tertawa kecil.
“Heii anak muda, siapa nama kamu…?” tegur si Kades dengan suara bariton dan kini terlihat berwibawa, wajahnya juga terlihat tenang.
“Aku Ryan pa Ka-kades…aku dari SMU 69 Jakarta, kami lagi adakan acara kemah dan berwisata di kaki bukit Unggaran itu..!”
“Ooo…dari Jakarta, pantess…anak kota tuhh…!” nyolot lagi wanita manis ini, Ryan awalnya mengira wanita ini anak si Kades.
__ADS_1
“Hmm…iya ya, seminggu yang lalu si Kona si pemilik kemah yang kalian sewa ada laporan ke kantor,” sela si Kades.
Si Kades ini lalu mengenalkan diri dengan nama Kades Imron, dan yang di sampingnya ini ternyata istri keduanya, bernama Leni. Dan istri ke 3 dan ke 4 nya ada di rumah yang lain. Ryan melongo saking kaget. Si Kades punya 4 istri…amazing sekaleee…pikir Ryan.
“Hebat banget pa Kades ini, istrinya sampai 4…!” tanpa sadar Ryan memuji.
“Hebat apaan, mendiang ayah saya yang jadi Kades di sini dulu istrinya 9 loh!”
“Waduhh….!’ Ryan langsung melongo, hingga si kades dan istri keduanya ini tertawa melihat keheranan remaja tampan ini.
Pa Kades yang tadinya ingin menegur dan memarahi kelakuan Ryan, malah tak jadi. Gara-gara melihat keheranan remaja ini, karena kaget istrinya sampai 4 orang.
“Pa Kades lagi pusing yaa…aku lihat dari tadi pegang buku terus!” Ryan kini alihkan pembicaraan, walaupun sejak tadi matanya sering nge-lirik istri kedua si Kades yang kadang agak kenes ini.
“Iya nih dek Ryan, kan bentar lagi 17 an, nah anak-anak muda di kampung ini mau banyak adakan kegiatan, dananya masih kurang. Kan belum masa panen, trus pemilu masih lama, biasanya jelang pemilu, banyak Caleg yang bantu!” keluh Kades Imron.
“Kalau boleh tahu, kurangnya berapa pa Kades?”
“Banyak dek Ryan, emank mau nyumbang?” tanpa ragu Ryan langsung mengangguk.
“Kurangnya sekitar 10 jutaan, dari total anggaran 35 juta…!”
“Bapak punya rekening kan, saya akan bantu 35 juta dan langsung aku transfer ke rekening pa Kades!”
“Woww…anak orkay ternyata dia pak!” nyolot langsung si Leni karena kaget .
Kades Imron lalu mengambil ponselnya dan Ryan mencatat nomor rekeningnya dan dalam hitungan detik, tertransfer-lah uang 35 juta rupiah.
Bukan main senangnya si Kades Imron ini. Ryan pun langsung di peluknya dan kini malah di jamu bak tamu agung. Buah-buahan seger dan kue dikeluarkan istri si Kades.
Tak lama kemudian, dengan alasan mau mengumpulkan panitia 17 an, Kades Imron malah meninggalkan Ryan bersama istri keduanya ini di teras.
Leni sejak tadi sudah paham, remaja ini suka sekali melirik dirinya…!
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG