
Pengkhianatan Stella membuat Radin kini benar-benar sudah tak peduli lagi apapun kelakuan istrinya tersebut.
Egonya sebagai lelaki benar-benar terusik, agaknya hanya tinggal nunggu waktu. Ketuk palu cerai akan jatuh dari majelis hakim pengadilan agama.
Selfi, Sekretarisnya sampai kaget saat melihat bosnya ini kadang menginap di kantornya yang mewah, atau malah pulang hanya ke apartemen mewahnya yang tak jauh dari kantor.
Saat melihat foto-foto Stella dan kekasihnya yang sengaja tak Radin hapus, karena di otaknya sudah tersusun sebuah rencana. Radin tak sengaja tergeser ke sebuah video pendek.
Video Ryan sedang tertawa saat sambil mendorong sepedanya ke sana kemari di halaman rumahnya, karena dia belum pandai naik sepeda. Video ini kiriman Umi.
“Ryan…kangen...lama banget tak bertemu kamu!” Radin langsung bangkit dari kursinya dan memanggil Selfi.
“Jadi bapak mau ke luar kota selama 2 atau 3 hari.” Selfi menatap sang bos ini dengan alis menaik sedikit.
“Kalau ada yang urgen baru hubungi aku, kalau hanya urusan pekerjaan, serahkan ke pa Dirut Haryono, bilangin ke Adon siapkan mobil.”
“Baik pa…hati-hati di jalan.” Dengan buru-buru Selfi langsung nelpon sopir ini, Adon pun bilang siap.
Jalan tol membuat perjalanan menuju ke desa tempat tinggal Titin dan Braja, nenek dan kakek Ryan hanya memakan waktu kurang dari 2 jam, sejak keluar pintu tol.
Saat tiba, Radin terdiam sebentar ketika melihat mobil SUV milik Angelina juga nangkring di halaman rumah ini.
Sejak menerima kontrak fantastis dari Mira, Angelina langsung ganti mobil berharga hampir 1,4 miliaran dan kini sudah memiliki sebuah apartemen yang bagus dan mewah di Jakarta.
Rumah orang tuanya juga berubah baru, walaupun minimalis dan tapi terlihat mewah, dengan pagar di sekelliling rumah ini.
Namun karena terlanjur kangen dengan Ryan, bahkan di tangannya ada hadiah buat anaknya itu, Radin tetap meminta Adon masuk ke halaman rumah ini dan parkir di samping mobil Angelina.
Begitu keluar mobilnya, Radin tertegun saat melihat Ryan asek makan di teras dan sedang di suapi…Angelina.
Ryan tentu saja melihat kedatangan Radin. “Tunggu pah, Ryan lagi makan di suapin mama, kata mama pamali makan kalau nggak di habisin!”
Radin langsung mengangguk lalu senyum mendengar ucapan anaknya ini, ia pun duduk di kursi, tak jauh dari Ryan yang masih enak-enakan di suapi Angelina.
Wanita jelita ini hanya melirik saja, tidak menyapa sama sekali ke dirinya. Radin hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
“Masih marah dan merajuk…tak apa lah daripada di usir dan tabok lagi di pipi!” batin Radin.
Saat akan menyalakan rokok Radin terdiam mendengar suara teguran. “Kalau mau merokok sono jauh-jauh, jangan di sini, dasar nggak ngerti kesehatan.” Ketus dan jutek suara itu, Radin kembali menyimpan rokoknya.
Barulah Radin sadar, Angelina seorang dokter, tentu saja alergi dengan asap rokok. “Maaf…!” sahut Radin pendek dan buru-buru menyimpan rokoknya kembali.
Andai Angelina minta rokok itu di buang, agaknya Radin akan senang hati melempar rokok yang baru di belinya tersebut ke bak sampah.
Tapi hanya itu suaranya! Kini Angelina kembali cuek sambil menyuapi Ryan hingga makanan itu habis.
“Sono temui papah kamu, setelah itu mandi dan pergi les Bahasa Inggris dengan Tante Umi, nggak boleh main.”
“Iya mah!”
Radin sampai takjub melihat Angelina kini berubah 180 derajat, terlihat sangat menyayangi Ryan, bahkan kini dengan telaten nge-lap mulut bocil tampan ini, lalu masuk ke dalam rumah.
Radin tentu saja tak pernah menduga, teguran Titin ibunya kalau pembawa rejeki bagi Angelina dan semua orang rumah itu adalah si bocil Ryan ini.
Sejak itulah Angelina mulai berubah dan benar-benar tulus menyayangi anaknya ini, apalagi semenjak dirinya di tolong Radin saat hampir hanyut di Kali di kawasan puncak.
Kalau dulu dia memandang benci wajah Ryan yang justru makin lama makin mirip Radin, kini pelan tapi pasti pandangan itu berubah total.
“Ryan mau nggak jalan-jalan sama papah…kita holiday ke luar negeri, main es?”
“Mau banget pahh…kapan pah…ehhh tapi…?” Ryan dengan takut-takut menatap ke dalam rumah, seakan ada yang ditakutinya.
“Takut dengan Mama ya? kita ajak sekalian mamanya Ryan…tapi Ryan harus bujuk yaa!”
“Siapppp pah, benaran ya pah!” wajah polos Ryan seakan tak percaya dengan tawaran menggiurkan ayahnya ini.
Radin langsung mengangguk dan kini bocil tampan tersebut berlari masuk ke dalam rumah, sambil membawa hadiah Radin dan memperlihatkan pada kakek dan neneknya.
Radin ikut masuk ke dalam rumah ini, ketika melewati kamar Angelina yang nampak terbuka pintunya, Radin agak ragu antara masuk atau tidak.
Namun dia ingat ini rumah Angelina, dan kedua orang tuanya masih ada juga Umi di kamarnya, Radin pun mundur perlahan dan menuju ke ruang tamu dan duduk di kursi empuk yang juga masih baru.
__ADS_1
Kelakuan Radin itu bukannya tak di ketahui wanita cantik ini, dia sudah siap mendamprat kalau Radin berani masuk ke kamarnya, tapi ternyata tidak.
Braja kini duduk menemani Radin ngobrol santai, tak lama secangkir kopi panas juga tersaji, yang dibuatkan Titin.
“Jadi nak Radin mau bawa Ryan liburan ke luar negeri yaa, tadi si Ryan ngomong begitu?” Titin langsung nyerocos.
“Tergantung ibu sama bapak dan pastinya Ange, kalau tidak diizinkan, saya tak berani lancang membawa Ryan.”
Pembicaraan terpotong saat Umi membawakan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan, harum dan mengugah selera, apalagi ada sambelnya.
“Nak Radin, bapak dan ibu permisi dulu, ada kondangan di desa sebelah, soal jalan-jalan tadi, bapak nggak keberatan!” Braja dan Titin yang sudah berbaju rapi lalu meninggalkan Radin dan Umi.
“Bang…tau nggak, yang menggoreng pisang ini siapa?” Umi menatap Radin yang sangat lahap memakan pisang goreng ini.
“Paling kamu! Enak kok Umi, kamu cocok buka restoran gorengan, ntar abang bantu kalau kamu mau berwira usaha!” ceplos Radin sambil mencomot pisang goreng, ini yang ke tiga.
“Sssst…yang memasak ibunya si Ryan…!”
Geleguk….! Hampir saja Radin tersedak dan cepat-cepat minum kopi, apesnya kopi ini masih panas dan Radin hampir terlepas memegang gelas ini.
Umi yang kaget buru-buru berlari ke dapur dan hampir menabrak Angelina, lalu mengambil segelas air putih dengan tergesa-gesa balik lagi ke ruang tamu.
“Umi…kenapa sih buru-buru, hampir saja nabrak kaka!” tegur Angelina.
“Sorry kak, Abang Radin keselek pisang goreng bikinan kakak!”
“Hahh…!”
Angelina mengintip dan melihat Radin minum air putih yang di bawakan Umi tadi. Setelahnya Radin bisa menghela nafas lega. “Kenapa bang, kagak enak yaa..?” tanya Umi keheranan melihat Radin tadi keselek.
“Nggakk…justru karena enak Abang keselek. Tadi…hanya kaget saja, kakak kamu ternyata bisa bikin pisang goreng seenak ini.” Dan Radin kembali mencomot satu pisang goreng dan memakannya dengan lahap, artinya ini pisang goreng ke 4.
Angelina tiba-tiba keluar sambil membawa satu piring kecil pisang goreng, anehnya dia tak mampir di ruang tengah, hanya berlalu. Dan sesampainya di teras rumah, Angelina memanggil Adon, sopir Radin dan menyerahkan pisang goreng itu.
Umi dan Radin saling pandang melihat kelakuan Angelina ini.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG