
Sejak demontrasi itu, nama Ryan makin terkenal, apalagi ada cuplikan video aksi heroiknya, yang menyelamatkan para mahasiswa dari semburan gas airmata dari aparat.
Namun, seiring dengan namanya makin ngetop itu, ada seseorang yang malah kena hukuman disiplin, dialah Ipda Alfito, yang ketangkap basah menodong Ryan dan di rekam warga hingga jadi viral.
Aksi koboy Alfito berimbas pada hukuman disiplin buatnya, hingga menimbulkan dendam tak terkira dari perwira muda ini.
Tiga minggu kemudian..!
Bambang, Budi dan Anwar kaget melihat seorang gadis blasteran cantik, naik mobil sport mehong masuk ke lingkungan kampus mereka dan nangkring di parkiran.
Bambang dengan lagak playboy kakap langsung mendekat ke mobil mehong warna merah ini. “Cari siapa neng geulis, perasaan bukan dari kampus ini deh kamiuuu?”
“Haiii…aku Isabella, kalian tahu nggak di mana Ryan Sasmita!”
Budi dan Anwar langsung saling pandang dan tertawa, karena gadis cantik ini langsung saja nembak, nyari sang ‘macan kampus’. Mati kutu lah si playboy cap ember ini, karena yang di cari Ryan.
Namun bukan Bambang namanya kalau tidak punya gaya. “Ohh nyari itu, ada dong, tapi harus melewati kami-kami ini…pengawal setianya…namaku Bambang, itu dua punggawa lainnya, namanya Budi dan Anwar!”
Isabella langsung tertawa dan keluar dari mobil mewahnya, ketiga orang ini langsung melotot, melihat body Isabella yang mulus abis.
Apalagi Isabella hanya kenakan rok selutut dan sepatu kets, sehingga kakinya yang jenjang jelas terlihat, dan tentu saja membuat ketiga-nya harus meneguk air liur masing-masing.
“Dyeuhhhh…siapa nih bidadari nongol di kampus…kenalkan eike Tomi, tapi kalau malam boleh panggil Miss Tomina!” si Ngondek muncul dan ikutan kagum memandang Isabella.
Isabella kembali tersenyum manis, lalu menyebutkan namanya dan menyalami Tomi, juga Bambang, Budi dan Anwar.
“Kalian lucu-lucu dehh, senang banget kenalan ama kalian…!” Isabella yang ceria langsung nyetel dengan 4 orang ini.
Tiba-tiba datang motor gede dengan helm tertutup dan jaket kulit, serta tas ransel di belakang. “Nahh ntu orangnya datang!” tunjuk Tomi.
Ryan melepas helmnya dan kaget melihat Isabella ada di kampus mereka. “Bella, tumben ke sini, kamu nggak kuliah?”
__ADS_1
“Sudah donkkk…aku ke sini sengaja mau nyari kamu!” Isabella langsung mendekati Ryan dan memegang lengan kokoh pemuda ini. Bambang, Budi dan Anwar otomatis ngalah dengan sang ‘The Godfather’ ini.
“Oh yaa…emank mau ngajak ke mana?” Ryan menatap Isabella.
“Malam ini kita ke klub yuks, oh ya yang lain juga boleh kok ikut, kita rame-rame ajah biar seru…mau yaaa…!” Isabella menyebutkan klubnya dan menatap Bambang cs.
“Mau pake bingit Bella…!” ceplos Tomi sumringah.
Setelah berbasa-basi, Isabella pun cabut, karena Ryan cs mau masuk kelas. “Bro, bagaimana dengan Dewi kalau ente dekat Isabella..?” Bambang berbisik ke Ryan.
“Hubungan kami agak renggang Mbang, Dewi terlalu sibuk ngejar karir sebagai atlet profesional…!” sahut Ryan santai.
“Woww…buat Eike aja deh Dewi yaa…!” Tomi langsung nyerocos.
“Eh banci, emank selera kamu udah normal yaa…?” ejek Bambang.
“Ih jangan salah biawak, eike cuman chasingnya aje klemer-klemer. Tapi eikei normal weceee, bisa bikin anak! Mau coba nggak? Sini pacar kamu…eh siapa sekarang pacar kamu, bingung eike, punya pacar di minong-minong!” ejek Tomi.
Malamnya, sesuai janji dengan Isabella, Ryan cs datang ke klub ini, tentu saja sahabat-sahabat Ryan ini senang bukan main. Klub ini ternyata sangat eksklusife dan hanya yang berdokat tebal yang bisa masuk ke sini.
Isabella langsung menggandeng Ryan, mereka bak dua sejoli yang sedang di mabuk cinta. Bambang, Budi dan Anwar terlihat sibuk merayu beberapa wanita cantik yang berseleweran di sana.
Tanpa Ryan sadari, ada seseorang yang terlihat menatapnya dengan mata penuh dendam dan amarah.
Orang ini lalu berbisik pada seseorang, lalu menyerahkan sebuah bungkusan kecil. Orang ini mengangguk paham, orang yang menyerahkan bungkusan kecil ini menelpon seseorang.
Ryan dan Isabella kini ikutan bergoyang, saat seorang DJ terkenal mulai beraksi, Isabella mengajak Ryan turun ke lantai dansa. Bambang, Budi, Anwar bahkan Tomi juga turun dengan pasangan masing-masing.
Saat itulah Ryan kaget saat seseorang tak sengaja menabraknya. Saat Ryan kaget dan ingin menegur orang ini, tiba-tiba ada tangan yang sangat cepat memasukan sesuatu ke jaket kulit Ryan.
“Ma-maaf…saya agak mabuk..!” orang ini cepat-cepat meninggalkan Ryan, tanpa curiga Ryan mengangguk.
__ADS_1
Setelah puas melantai, Ryan mengajak Isabella istirahat. Tiba-tiba blammm…lampu ruangan pub ini menyala terang. Lalu masuklah 10 polisi yang di pimpin Alfito yang berbaju preman.
“Selamat malam para pengunjung sekalian, mohon maaf kalau mengganggu acara santai kalian semua. Sesuai laporan yang kami terima, ada pengunjung yang membawa obat-obatan terlarang. Jadi semua pengunjung agar jangan kemana-mana, kami akan lakukan penggeledahan..!” Ipda Alfito lalu memerintahkan 10 polisi mulai lakukan pemeriksaan semua pengunjung.
Ryan yang merasa tak salah apa-apa santai saja, dia malah kembali aseek ngobrol dengan Isabella. Walaupun dia kaget si Alfito malah adakan razia malam ini di sini.
Saat tiba gilirannnya untuk di geledah, Ryan dengan enjoynya mengangkat tangannya. Namun bak di sambar petir Ryan, saat polisi yang menggeledahnya menemukan sebuah bungkusan putih dan dengan kasar mendorong Ryan agar tiarap ke lantai.
Isabella, Bambang, Budi, Anwar dan Tom kaget kepalang, karena Ryan di tuding membawa narkoba jenis sabu di saku jaketnya.
Ryan langsung sadar, dia sudah di jebak! Ryan diam saja, percuma membantah, karena bukti sudah di tangan polisi, pikirnya.
Namun Ryan sangat marah, saat Alfito dengan pongahnya menginjak punggungnya, sambil memborgol tangannya.
“Bawa pria ini ke markas, kita akan interogasi dia di sana!” perintah Alfito. Setelah itu Ryan dengan tangan di borgol di dorong kasar agar jalan dengan pengawalan ketat.
Ryan langsung di jebloskan ke tahanan, Isabella dan Bambang cs yang ingin menjenguk di tolak Alfito. Pria ini bahkan membentak Bambang cs yang ngotot ingin bertemu.
Ryan kini di bawa ke ruang intoregasi, tentu saja Ryan membantah kalau benda itu miliknya.
“Nggak usah ngeles kamu, benda haram ini ada di saku jaketmu, masih mau ngeles,” bentak Alfito sambil menggebrak meja di depan Ryan.
“Saya sudah jelaskan semuanya….tunggu pengacara saya datang. Saya tak akan ngomong lagi!” baru saja selesai bicara. Plakkk….sebuah tamparan keras Alfito layangkan ke wajah pemuda ini.
Kaget dan emosi bukan main Ryan, dia hampir berdiri. Tapi bahunya langsung di tekan dua polisi lainnya.
“Alfito, jangan seenaknya memukulku…aku bilang tunggu pengacaraku datang…!” Ryan menatap tajam wajah Alfito, hingga polisi muda ini tercekat, kaget juga melihat tatapan Ryan yang sangat tajam itu.
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1