
Suatu hari…!
Tak terasa, kini mereka sudah 1,5 tahunan jadi mahasiswa. Tomi datang dengan tergesa-gesa, di tangannya ada sebuah formulir. “Kenapa sih banser, ente kayak di kejar setan?” olok Bambang.
“Ryan cepeten deh ye tanda tangan, ini hari terakhir pendaftaran, bentar lagi mau di tutup!” Tomi mencueki ucapan Bambang.
“Pendaftaran apa sih?” Ryan mengambil formulir itu dari tangan Tomi, ternyata pendaftaran jadi Ketua BEM kampus ini.
“Duhh…nggak usah deh aku, yang lain saja, Bambang, atau Budi dan Anwar saja!” elak Ryan sambil mengembalikan formulir tersebut.
“Nggak bisa neekkk…ini permintan kawan-kawan, semua ingin ye yang gantikan si Arief itu!” desak Tomi.
“Ahh iya Ryan, kayaknya sudah saatnya ente yang jadi Ketua BEM, aku dukung kamu!” sela Budi. Bambang dan Anwar juga sama, mereka kompak meminta Ryan yang maju menantang calon lain.
Kampus Nusantara agak beda, kalau di kampus lain, Ketua BEM menjabat minimal hanya setahun, kampus ini satu setengah tahun. Tapi setelahnya tak boleh di pilih lagi.
Ryan tak punya pilihan lain, desakan rekan-rekannya tak bisa dia tampik lagi, setelag formulir itu di tanda tangani Ryan dan di isi Tomi, si ngondek ini langsung bawa formulir itu ke panitia pemilihan.
Ternyata ada 10 calon yang bersaing dan pemilihan hanya berlangsung satu putaran, siapa pun yang meraih suara terbanyak, maka otomatis akan jadi Ketua BEM yang baru, gantikan ketua lama.
Pemilihan akan berlangsung dua minggu dari sekarang. Semua calon mulai minggu depan dipersilahkan kampanye. Ryan yang ogah-ogahan malah malas kampanye, justru yang semangat ke 4 sahabatnya ini.
Namun, nama Ryan sudah kadung terkenal sebagai jawara tarung bebas, yakni sebagai Juara Intercontinental dan bulan depan akan bertarung mempertahankan gelar yang ke 2, sebelum nanti menantang sang juara nasional.
Bang Ramon meminta Ryan jangan dulu buru-buru menantang Johanes, si juara nasional itu. Tapi minimal 2X pertandingan pertahankan gelar, baru naik kelas. Nantang sang Jurnas itu.
“Kamu ku lihat masih bak jadi petarung jalanan, tekhnik kamu harus diperbaiki Ryan. Minimal dua atau tiga kali pertahankan gelar. Agar tekhnik kamu makin matang dan bisa atasi gaya bertarung Johanes itu,” nasehat Bang Ramon dan Ryan setuju.
Tim kampanye Ryan yang di komando Tomi memang hebat! Begitu nama Ryan di sodorkan, ibarat merek, rata-rata mahasiswa langsung simpati dan setuju BEM berikutnya di pimpin sang jawara tarung bebas ini.
__ADS_1
Dan begitu acara pemilihan, sudah bisa di duga, Ryan menang telak, suara Ryan jauh mengalahkan 9 kandidat lain.
Dari 2.500 mahasiswa yang punya hak suara, Ryan dapat dukungan hampir 1.500 suara, sisanya kandidat lain.
Ketika nyusun kepengurusan BEM, sudah pasti Tomi langsung minta jabatan Sekretaris, Ryan tak keberatan, karena Tomi kalau soal admin jagonya.
Bambang kebagian wakil ketua bersama Budi dan Bendahara di pegang Anwar, kalau soal ngitung duit, Anwar memang pakar-nya. Jabatan lain di isi mahasiswa-mahasiswa yang sehaluan dengan mereka dan pastinya di seleksi ke 4 sahabatnya ini. Ryan hanya duduk manis saja.
Tak lama kemudian Ryan konsen berlatih lagi untuk bertanding di ring octagon, setelah bertanding dan kembali menang TKO di ronde ke 3.
Dua minggu kemudian, Ryan di kagetkan dengan adanya rencana demo besar-besaran mahasiswa di Jakarta, agendanya mendemo para wakil rakyat di Senayan.
Ke 4 sahabatnya langsung bersemangat, karena sudah lama tidak melakukan demontrasi, sebagai Ketua BEM, Ryan mau tak mau terlibat aksi ini.
Bambang dan Budi yang jago orator memimpin para mahasiswa kampus ini, Ryan hanya mengkoordinir saja.
“Aku bertanggung jawab kalau sampai ada rekan-rekan kita yang cedera atau hilang pasca demo. So…Bambang dan Budi silahkan gantian jadi orator,” alasan Ryan.
Seminggu jelang demo, Ryan merasa dirinya mulai di pantau orang-orang berambut cepak bahkan gondrong. Ternyata ke 4 sahabatnya, terutama Bambang dan Budi juga sama.
“Hmm…ternyata begini tuhh…bikin pusing saja politik ini,” pikir Ryan, sama sekali tidak takut dirinya kadang diikuti tapi saat di toleh, orang-orang itu pada ngilang.
Tibalah demo besar-besar melanda Jakarta, puluhan ribu mahasiswa mengepung gedung wakil rakyat yang sejak pagi sudah di jaga ribuan aparat.
Demo awalnya berlangsung tertib dan lancar, para orator bergantian menyampaikan aspirasinya di atas bak mobil.
Mahasiswa marah karena makin meningkatnya korupsi dan naiknya harga-harga sembako. Ryan menonton saja aksi rekan-rekan mahasiswa ini. Sambil memantau situasi, kadang Ryan senyum sendiri melihat kalimat-kalimat mengelitik dari karton yang di bawa mahasiwa ini.
Namun, makin siang suasana mulai panas, selain panas menggantang, juga aparat tak membolehkan mahasiswa masuk ke area gedung wakil rakyat.
__ADS_1
Aksi saling dorong pun tak terelakan, tiba-tiba mulai melayang batu-batu dan air mineral ke aparat. Aparat langsung membalas dengan menembakan gas airmata.
Disinilah Ryan kaget bukan main, dia langsung berteriak memperingatkan rekan-rekannya, terutama yang cewek agar mundur ke belakang.
Aksi makin brutal, saling pukul antara mahasiswa nekat dan aparat pun tak terelakan. Sudah banyak yang berjatuhan, terutama para mahasiswa. Banyak yang luka-luka terkena pentungan aparat.
Ryan sudah tak terhitung lagi bolak-balik menarik dan memondong mahasiswa yang terkena gas airmata ataupun yang terluka.
Ryan tak peduli dari kampus mana, pokoknya kalau melihat ada mahasiswa yang terjatuh bahkan jadi bulan-bulanan aparat, Ryan langsung turun tangan membantu.
Aksinya ini diam-diam di pantau aparat, bahkan ada kamera televisi yang justru sibuk merekam ulahnya.
Ryan sudah mulai capek juga, suaranya juga serak memberi peringatan rekan-rekannya agar menjauh dan menahan diri.
Saat itulah Ryan melihat ada seorang mahasiswi yang terjatuh dan hampir ke injak mahasiswa lain. Dengan nekat Ryan berlari dan menerjang masuk, lalu menarik dan memondong si mahasiswi ini, yang terlihat pingsan.
Tembakan gas air mata terus di lontarkan aparat. Ryan yang kini memondong mahasiswi ber jas ungu ini, terpaksa berlari menjauh dari area kerusuhan.
Setelah agak jauh, barulah Ryan berhenti dan melepaskan pondongannya, saat melihat ada yang jualan air mineral, Ryan membelinya dan memercikan air ini ke wajah mahasiswi yang pingsan tersebut.
“Kamu tak apa-apa…?” Ryan menatap mahasiswi yang ternyata sangat cantik ini.
“Aduh mataku perih, kayaknya kena gas air mata!” mahasiswa ini langsung memejamkan matanya.
“Waduh bahaya ini, ayo kamu ku antar ke rumah sakit, jangan di kucek, ntar makin parah. Kamu naik ke punggungku.” Tanpa ragu, mahasiswi ini naik ke punggung Ryan.
Cukup jauh juga Ryan membawa mahasiswi ini, lumayan berat badannya, untungnya Ryan sudah biasa berlatih fisik yang keras…akan ada story panjang keduanya kelak.
Siapakah mahasiswa cantik ini….
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG