
Kini ke 4-nya menoleh ke depan, dan terlihat Andre dengan 3 orang tak dikenal, tapi berbadan gempal menghadang di depan mobil mewah ini.
Ryan yang kaget, kini ambil nafas, tanpa takut dia pun keluar dari mobilnya ini. “Hmm…agaknya bentrokan tak terelakan malam ini, si pengecut itu bawa 3 centeng sekaligus” batin remaja ini tanpa takut.
“Hello Don Juan…hebat sekali yaa…malam ini langsung bawa 3 cewek sekaligus!” olok seorang berbadan gempal ini.
Ryan kini berhadapan dengan ke 4 nya, matanya tajam menatap Andre, teman sekolah SMU 69 nya, yang sejak dulu memang sirik dengannya. Tapi tak pernah ada nyali dan keberanian di ajak duel satu lawan satu.
“Rupanya kamu dalangnya, tak berani satu lawan satu malah bawa centeng!” ejek Ryan.
“Woww…nyalinya besar juga,” sahut rekan si gempal. Amanda dan Rika yang tadinya hampir main jambak-jambakan, kini menatap penuh perhatian di dalam mobil Ryan, juga Dewi. Keduanya sama-sama cemas melihat kenekatan Ryan ini.
“Heii Ryan, nggak usah belagak kau, malam ini kalau emank jago nih hadapi Polo, Cacu dan Panai, ketiganya mantan atlet pelatnas hehe…!” Andre balas ngejek, lalu dia pun mundur dan memberi kesempatan buat 3 rekannya ini.
Saat melihat Amanda dalam mobil Ryan, remaja ini mendengus marah, tapi di tahannya dalam hati. Diam-diam dia punya rencana sendiri.
Ryan pun kini waspada dan ia bersiap, lawannya malam ini bukan main-main, kalau memang benar mantan atlet pelatnas, ini lawan yang berat!
Seorang mulai memancing Ryan, remaja yang juga rutin berlatih ilmu beladiri ini tak terpancing. Namun orang ini malah kembali menyerang Ryan bertubi-tubi, agaknya lawannya ini sudah tahu dari cerita Andre, kalau Ryan ini bukan remaja biasa, tapi mempunyai ilmu beladiri yang hebat,
Dua rekannya hanya menonton, rupanya label sebagai mantan atlet pelatnas, membuat mereka enggan melakukan pengeroyokan ke Ryan. Masih ada rasa gengsi..!
Adu pukulan tak terelakan, musuh Ryan ini agaknya tak takut saling adu pukul dari jarak dekat. Bukk…plakk…terdengar sangat keras.
“Bangsat, tahan pukul ni orang,” batin Ryan, yang kini sudah merasakan sakitnya di wajah dan tubuhnya, akibat adu pukulan dari jarak dekat ini.
Ryan pun mulai ubah taktik, dia gunakan kehebatan tendangan yang dia miliki saat latihan di Sasana. Tendang mundur, lalu tendang lagi, musuhnya yang bernama Polo ini rupanya paham gaya berkelahi Ryan ini.
__ADS_1
Saat Ryan lakukan tendangan, dia balas menendang kaki Ryan, adu kaki yang sangat keras tak terelakan, hingga keduanya saling mundur, sama-sama sakit bukan main.
“Polo kamu mundur…ayo sekarang lawan aku anak muda!” kali ini yang maju Panai, Polo mengangguk, tak dia duga Ryan sangat tangguh.
Ryan kini menegakan tubuhnya, sambil menahan sakit nyiut-nyiut di tulang keringnya, pertemuan antar kaki tadi membuatnya nyeri bukan main.
Panai kini bergaya bak di film-film kungf*, dia bergerak ke sana kemari dan sesekali menendang sangat keras, dengan sasaran wajah Ryan.
Kalau sampai kena, pasti fatal akibatnya, salah-salah dia bisa pingsan seketika. Kalau wajah paling rawan kena pukulan atau tendangan yang keras.
Jengkel bukan main Ryan, musuhnya yang ini justru lebih lincah dan lebih hebat dari Polo, Panai benar-benar bikin Ryan kelabakan.
Terlihat Andre berbisik ke Cacu yang belum bertarung, pemuda ini mengangguk paham. Saat Ryan sibuk menangkis dan mundur-mundur, yang justru tak sadar malah dekat dengan Cacu, tiba-tiba pemuda ini bergerak dan sebuah tendangan keras dia lontarkan dan tepat mengenai punggung Ryan.
Tanpa ampun, Ryan terjungkal ke tanah. Bibir dan alisnya sudah mengeluarkan darah. Ryan benar-benar marah bukan main.
Saat itu dia melihat Amanda di tarik Andre keluar dari mobilnya. “Baiklah, malam ini kita bertarung habis-habisan, mantan atlet pelatnas ta’i kucing, beraninya main keroyokan!” dengus Ryan, sambil melepas him nya dan lalu menghempaskan ke aspal, kini dia hanya kenakan baju kaos.
Panai dan Cacu kagum juga dengan daya tahan tubuh Ryan, karena remaja ini benar-benar tangguh. Padahal Ryan sudah berkali-kali menerima pukulan dan tendangan, tapi belum menyerah.
Namun kenekatan Ryan justru harus di bayar mahal, kedua musuhnya tak percuma mantan atlet pelatnas.
Ryan malah jadi bulan-bulanan keduanya, sudah 3X Ryan terhempas ke aspal, sampai Rika dan Dewi menutup wajah masing-masing. Tak tega melihat Ryan terjauh begitu.
Tiba-tiba ada motor singgah dan saat melepas helmnya, orang tersebut ternyata Budi dan Anwar, teman dekat Ryan. Mereka datang di saat tepat yang tepat...ternyata diam-diam Dewi-lah yang menghubungi keduanya, Dewi tahu Budi dan Anwar juga ahli beladiri.
“Hehh Ryan…!” Anwar langsung menahan tubuh Ryan. Budi melepas jaketnya. “Ohh rupanya ada yang main keroyokan malam ini.” Budi yang aslinya juga atlet pelatnas. Kini menatap Panai dan Cacu.
__ADS_1
Ryan kini bangkit dan dia berhadapan kembali dengan Panai dan Budi menghadapi Cacu, dan Andre yang ketakutan lari di belakang Polo.
Tentu saja Andre tahu, Budi dan Anwar ini bukan remaja sembarangan, mereka sama seperti Ryan, rutin latihan di Sasana.
Pertarungan kini seimbang, satu lawan satu, ternyata pertarungan tak ada yang menang dan kalah, benar-benar imbang. Sayangnya Ryan yang sudah menderita duluan, kini hampir keok melawan Panai.
Tiba-tiba terdengar patroli polisi, kini semuanya saling pandang, Panai lalu memberi kode pada Cacu dan Polo, ketiganya kini mundur dan Andre yang sudah dalam kemudi mobilnya langsung tancap gas, dengan Amanda di sampingnya.
Ryan terjatuh sambil menahan tubuhnya. Budi langsung mengangkat tubuh sahabatnya ini. Lalu dia ambil alih kemudi dari Dewi dan dikuti motor Anwar di belakang, Budi membawa Ryan ke rumah sakit terdekat, karena kondisi Ryan sudah sangat kepayahan.
Rika kemudian minta jemput sopir keluarganya, dia ogah menemani Ryan di rumah sakit, sedangkan Dewi bertahan, karena Bambang dan Tomi datang setelah di hubungi Budi.
Bambang marah bukan main mengetahui Ryan di keroyok Andre cs. “Awas nanti, ku hajar tu anak di sekolah,” dengus Bambang marah.
“Jahara tu anak, main keroyokan, eike cakar tu wajahnya nanti,” cetus Tomi nyolot, yang juga gemas bukan main melihat Ryan babak belur.
Ryan tak perlu harus nginap di rumah sakit, setelah di beri obat dan suntikan, dia kini diperbolehkan pulang.
Tentu saja Ryan tak berani pulang ke rumah, ingat wajah jelita Mami-nya, dia langsung keder dan memutuskan tidur di apartemennya nanti. Saat tahu Rika pulang, Ryan langsung tak respek lagi dengan gadis cantik ini.
Kini ke 5 nya nongki di kafe, Dewi tadi sudah di antar Bambang pulang. “Gemas aku dengan 3 orang itu, nanti kita bikin perhitungan,” kali ini Budi yang bersuara. “Akurrr…!” sahut Bambang
“Ihh emanknya ye bisa beladiri, serahkan ke Ryan, Budi dan Anwar aja deh, ye dan eike nonton saja!” ceplos Tomi, hingga Bambang terdiam. Ryan menganggukan kepala, diapun penasaran bukan main.
Rencana pembalasan pun di susun…!
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG