
“Jenny lagi apa sayang…?” Angelina selalu memperlakukan anak sambungnya ini lembut. Angelina tahu, Jenny mirip dengannya, kadang sangat sensitive.
“Belajar Mi, kan bentar lagi ulangan kenaikan kelas, pokoknya Jenny harus nomor satu di kelas. Nggak mau kalah sama Abang Ryan yang selalu juara satu!”
Ryan sejak kelas 1 SD selalu juara kelas, kadang Radin membanggakan anak sulungnya ini, yang tak jauh beda dengannya. Yakni juara kelas.
Angelina tersenyum sambil mengelus kepala Jenny, makin besar si bocil ini makin jelita saja dan semakin nampak perpaduan wajah Stella dan wajah Radin.
“Mami boleh tanya nggak?”
“Boleh dong Mi, mau tanya apa…eh dede udah mulai gede ya di perut Mami, moga ini cowok. Kan sudah ada cewek baby Delima dan Jenny!” Jenny mencium perut Angelina yang mulai membuncit, karena sudah memasuki bulan ke 6.
“Waktu Jenny ultah dulu, jalan sama Mami Stella kan. Papi Radin datang juga ya ikut menyusul?” Angelina menatap Jenny, yang di tatap sama sekali tak paham apa yang ada di pikiran ibu sambungnya ini.
“Iya Mi, papi nyusul..!” deg…hati Angelina mulai tak nyaman. Tapi Angelina tetap pasang wajah senyum.
“Ngapain aja papi nyusul..?” pancing Angelina lagi. Jenny yang lugu dan polos bercerita, kalau papinya setelah makan siang bersama Mami Stella menemaninya bermain di mall. Lalu setelah puas main, mengantar pulang ke apartemen. Saat ini Jenny diminta Stella nginap di apartemen.
“Papi nggak mau nginap, padahal udah Jenny minta. Kata papi nggak enak sama Mami Ange. Trus papi cium Mami Stella dan pulang!”
“Cium nya di mana sayang, di pipi apa di bibir. Trus mami kamu minta papi nginap nggak?!” desak Angelina, hatinya mulai di landa cemburu.
Sifat sensitive mulai timbul, selain bawaan janin dalam perutnya, agaknya juga akibat tahu masalalu sang suami, yang memang nakal ini.
“Emm….bentar Jenny ingat-ingat, soalnya kan Jenny nginap sama Mami di apartemen di Jakarta Barat, yang kata Mami Stella ini apartemen milik Papi…oh yaa ciumnya hanya di dahi Mi, setelah itu papi pulang. Mami Stella malah diam saja, nggak minta papi nginap!” Angelina sedikit lega, setidaknya suaminya masih ingat dirinya dan anak-anak mereka.
“Iya udah belajar yaa…mami mau siapkan makan malam, bentar lagi papi kamu pulang!”
__ADS_1
Tanpa sadar, Angelina melamun berjalan menuju dapur.
“Hmm…buat apa sih harus berhubungan lagi dengan Stella, dan kenapa harus membelikan apartemen diam-diam. Apa mau rujuk? Kalau sampai ada niatan rujuk, apa boleh buat…aku akan pergi…biarin aku siap jadi ibu tunggal bagi ke tiga anak-anak ini!” sungut Angelina.
Lagi-lagi hati yang panas membuat api cemburu makin kuat. Ditambah cerita Rohmano yang makin membuatnya tak nyaman hati.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata suaminya yang nelpon, Angelina mengangkatnya. “Sayang…papi nggak bisa pulang cepat, malam ini ada pertemuan dengan kolega dari Korsel, mungkin jam 10 an lewat baru pulang!”
Angelina hanya mengiyakan singkat lalu klik mematikan ponselnya. Kini Angelina malas ke dapur, perutnya yang tadi lapar mendadak kenyang.
Di seberang telpon Radin kaget, tak biasanya istrinya hanya menjawab singkat telponnya dan langsung mematikan ponsel.
“Aneh…kenapa lagi…apakah bawaan si jabang bayi yaa…beberapa hari ini jadi sensitive sekali, salah dikit merengut. Lambat pulang omonganya selalu nyindir-nyindir…!” batin Radin kebingungan sendiri.
Radin datang jam 11, dia melihat istrinya sudah terlihat nyenyak tidur, Radin tidak jadi mengecup istrinya, karena Angelina tidur miring dan memunggunginya. Padahal Angelina tidak tidur, malah berharap di cium seperti biasa, tapi malam ini Radin tidak melakukannya.
“Mi…kok dari tadi papi lihat diam saja…ada apa sih..?” tanya Radin pelan-pelan sambil ngelap mulutnya dan kini mencicipi buah.
“Ga papa…kalau Papi malam ini ada lembur lagi, ga papa juga…sering-sering aja lembur, kalau perlu lemburnya ke apartemen yang ada di Jakarta Barat sono!” ketus jawaban istrinya. Sambil bicara Angelina menuangkan kopi panas ke gelas suaminya ini.
Radin kaget, kini langsung terdiam, sindiran halus Angelina membuat hatinya mulai tak nyaman.
“Mi…sudah penuh…!” tegur Radin yang kaget, karena air kopi panas langsung meluber dan mengenai celananya, dan pas kena di antara pahanya.
Kagetnya Angelina, gelas Radin penuh dan tertumpah ke meja dan kini dengan cepat air mengalir ke bawah dan membasahi celana kerja suaminya.
Radin berdiri, karena otomatis air panas itu merembes. “Aduhh ma-maaf Pi, Mami nggak sengaja!” Angelina kelabakan dan tanpa sadar melepas celana suaminya, sampai ke CD sekalian, hingga Radin kaget sendiri.
__ADS_1
Untung saja di dapur ini mereka hanya berdua, tidak ada siapapun. “Mi…liat, ada yang keluar…si dede,” tegur Radin sambil menahan tawa.
Angelina yang masih terkaget-kaget, hampir ikutan tertawa, lalu buru-buru menarik lagi CD dan celana suaminya.
Dan saat berganti celana di kamar, Angelina langsung mengunci pintu kamar dan…pagi ini bikin Radin melongo, karena Angelina…minta jatah.
Radin pun kini harus mandi lagi, dan dia harus kesiangan ke kantor, karena Angelina bak sedang bulan madu. Minta jatah hingga…2X.
“Ingat sayang…perut udah buncit…jangan minta sampai dua kali, papi ngeri, kalau si jabang bayi kenapa-kenapa. Mana Mami mainnya semangat banget..!” maksud Radin hanya bercanda, tapi Angelina malah merengut tiba-tiba.
“Ooo gitu ya, mentang-mentang mami gendut begini karena hamil, jadi papi sudah tak doyan lagi,” sentak Angelina sambil menarik kencang dasinya, hingga hampir tercekik leher Radin.
“Bu-bukan begitu sayang…maksud pa..!” ucapan Radin terpotong.
“Ahhh sudah, sono berangkat ke kantor, sudah siang! Mungkin di kantor pegawai-pegawai papi yang cantik-cantik dan semampai bisa papi ajak tuh main-main. Atau yang di Jakarta Barat sono!” istrinya kembali nge-gas.
“Makk…salah lagi papi ngomong…!” Radin melonggarkan dasinya. Angelina menarik wajah suaminya dan seakan gemas malah mengecupnya kencang, sampai bunyi kericupan.
“Ingat yaa…kalau tak ingin istri merengut, pulang cepat, jangan pake alasan segala. Kapan-kapan ajak mami ke apartemen di Jakarta Barat, pingin sesekali nginap di sana!” dan pintu pun tertutup, Radin langsung terdiam di lobby rumahnya yang mewah.
Adon, sopirnya hanya menatap bengong melihat tuan mudanya ini termangu di depan pintu.
“Kenapa selalu sebut-sebut apartemen di Jakarta Barat…hadeuhh apakah Jenny yang keceplosan?” pikir Radin, sambil berjalan menuju mobilnya.
*****
BERSAMBUNG
__ADS_1