Tirai Kasih yang Terkoyak

Tirai Kasih yang Terkoyak
Bab 25: Hubungan Memburuk


__ADS_3

Radin menatap foto-foto Stella dengan seorang pria tampan melalui ponselnya, walaupun pria ini sadar sudah lama tidak menggauli istrinya, namun harga dirinya terusik juga melihat istrinya kini nyata-nyata sudah berselingkuh.


“Hmmm…kamu sudah mulai main api Stella, oke, kita lihat saja.” Radin melempar smartphone-nya dan memejamkan mata.


Radin mendapatkan foto-foto ini dari anak buahnya yang memang sengaja di tugaskan memantau Stella. Radin memang egois, dia pria yang tak ingin di khianati siapapun, termasuk istrinya sendiri.


Radin pun hari ini sengaja pulang cepat dari kantornya, kalau biasanya pukul 9 atau 10 malam, kini pukul 5 sore dia sudah berada di rumah, sudah tentu Stella belum pulang dan rumah mereka terlihat sepi.


Stella pulang jam 8 malam, dia heran melihat Radin sudah ada di rumah dan sepertinya sedang menunggu dirinya di sofa tamu.


“Stella tunggu..!” wanita cantik ini langsung berbalik dan heran melihat suaminya tiba-tiba memanggilnya.


“Kamu dari mana saja?”


“Hmmm…tumben kamu bertanya, ada angin apa nih?” Stella memandang heran.


Radin bergerak mendekati istrinya, dalam hati Radin mengakui, Stella sangat sempurna sebagai wanita.


Melihat suaminya mendekat dan sepertinya menahan kemarahan, Stella agak gentar juga, dia malah mundur-mundur dan menuju ke kamarnya sendiri, yang selama hampir 10 bulanan ini dia tiduri sendiri, karena Radin pindah ke kamar lain.


Begitu masuk ke kamarnya dan bermaksud mengunci dari dalam, Stella makin kaget, Radin justru menahan pintu itu dan mendorongnya keras, hingga pintu ini terbuka.


Hampir saja Stella terjengkang, andai tak cepat-cepat berpegangan ke meja riasnya.


“Kamu mau apa…!” Stella jadi gugup melihat suaminya benar-benar beda malam ini.


“Kamu…pasti barusan dengan kekasih lama kamu itu kan..?” Stella terpojok ke dinding, kedua tangan kokoh Radin menghalangi jalannya.


Lengan itu menapak ke dinding dan wajah Radin kini dekat sekali dengan wajahnya, hingga dengus nafas pria tampan ini menerpa wajahnya.


Stella benar-benar gugup dan jadi takut melihat kelakuan tak biasa suaminya ini. “Radin…ka-kamu mau apa...ja-jangan bikin aku ketakutan!” wajah Stella agak pucat.

__ADS_1


Tiba-tiba dengan kasar Radin merentakan baju blouse mewah Stella yang berharga puluhan juga, saking kerasnya rentakan itu, baju ini sobek besar dan memperlihatkan bukit Stella yang membusung.


Stella sampai menjerit kaget, dia sedapat mungkin menutupi dadanya, tapi Radin sudah melihat ada beberapa titik merah di benda yang dulu sangat ia kagumi.


“Hmm…kamu sudah berselingkuh ternyata…dasar wanita ******!”


Radin bikin Stella bak tikus terjepit seekor kucing jantan yang kelaparan, pria tampan ini lalu melepas seluruh pakaian sendirinya, dan Stella terpekik saat Radin menerkamnya dengan buas.


Radin merentakan seluruh pakaiannya, sampai habis seluruh benda yang melekat di badannya.


Radin lalu mendorong tubuh istrinya ini ke ranjang dan dengan kasar menarik kedua paha istrinya ini.


“Ra-radinnn…tolong hentikan…kenapa kamu memperkosaku..!” jerit Stella makin ketakutan.


“Apa kamu bilang, suami sendiri di sebut memperkosa, pacar bangsat kamu yang harusnya di sebut memperkosa, bukan aku?” sentak Radin marah.


Mata Stella langsung terbeliak, dia tak bisa mengelak saat Radin yang malam ini berubah bak serigala liar memperlakukannya dengan kasar.


Waktu 1 jam lebih bagi Stella bukan kenikmatan yang dapat seperti dulu di awal-awal mereka menikah. Tapi dia bak seorang wanita yang jadi korban perkosaan dan pelakunya adalah…suaminya sendiri.


Radin memperlakukannya bak wanita murahan, tidak ada kemesraan, tidak ada foreplay yang dulu selalu mereka lakukan. Tapi langsung ke sasaran dengan gaya menggebu-ngebu.


Radin bangkit dari tubuh istrinya yang hanya bisa menahan tangis dan kemurkaan yang luar biasa di dalam dada.


“Sekarang kamu rasakan, mana lebih nikmat pacar bangsat kamu itu, dibandingkan aku suamimu, dasar wanita murahan!”


“Kamu yang bangsat Radin, ternyata begini cara kamu memperkosa wanita yang bernama Angelina itu, tak aneh dia menampar kamu, dasar lelaki tak punya perasaan, kamu lelaki bangsaatttt!”


“Terserah kamu mau ngomong apa, tapi malam ini kamu bukan ku perkosa, tapi sebagai suami aku minta jatah!” Radin berlalu sambil tertawa sinis dan menutup pintu kamar dengan kasar, meninggalkan Stella yang marah-marah sambil menahan tangis.


Radin kini duduk termenung di balkon kamarnya, sambil meneguk wine dan sudah lebih 5 batang rokok dia habiskan.

__ADS_1


“Kamu akan segera ku cerai Stella, wanita yang sudah berani berselingkuh tapi masih terikat dalam perkawinan bukan lagi wanita yang layak di pertahankan. Bulshit soal harta, silahkan ayah kamu tarik semua saham di perusahaanku, aku tak peduli!” gumam Radin menahan kemangkelan hatinya.


Radin lalu melempar botol wine yang ke kosong ke bawah, bunyi botol pecah makin mengejutkan Stella di kamar nya.


Paginya…


Stella masih berbaju kimono saat melihat Radin sarapan seorang diri di meja makan, dia langsung melengus dan menuju ke meja makan, lalu duduk sambil mengambil buah.


Radin hanya melirik ulah istrinya ini, tanpa menawarkan makanan yang sudah terhidang di atas meja ini.


Stella seakan memanasi suaminya, kimononya sengaja di biarkan agak terbuka, sehingga memperlihatkan belahan dadanya dan yang bikin Radin kheki sendiri, 2 cap merah itu nampak sekali di belahan itu.


“Nggak sekalian saja kamu telanjang di sini, biar semua ART melihat bekas-bekas kamu melayani pacar kamu itu!” ejek Radin sambil menyudahi sarapannya.


“Hmm ide yang bagus, sekalian saja aku ingin perlihatkan hasil perkosaan kamu tadi malam, masih berasa perih di ************ aku!” balas Stella tak mau kalah.


Radin terdiam, lalu menatap tajam wajah Stella yang kini tak pakai make up, baru Radin sadar, wajah istrinya biasa-biasa saja kalau sudah begini.


“Kalau masih tak puas, aku dengan senang hati akan perkosa kamu lagi di sini, biar di lihat semua ART sekalian!” Radin benar-benar berdiri dan bermaksud mendekati Stella.


Stella refleks mengambil pisau buah yang berada di dekatnya. “Berani kamu mendekat, pisau ini tak segan aku tusukan ke tubuh kamu!” Stella benar-benar acungkan pisau itu ke arah Radin.


Walaupun punya basic ilmu beladiri, tapi Radin terdiam juga melihat kelakuan nekat istrinya ini.


Radin lalu tertawa dan menjauh dari istrinya. “Semoga kamu sadar, punyaku lebih berasa di bandingkan pacar bangsat kamu itu!” Radin pun berlalu dan mengambil jasnya dan langsung beranjak menuju ke teras depan untuk berangkat ke kantor.


“Brengsek kamu Radin…!” jerit Stella menumpahkan kemarahannya pada suaminya sendiri, tapi Radin hanya tertawa-tawa saja.


Setelah tak terdengar suara tawa Radin, Stella duduk termenung seorang diri di meja makan. “Benar juga sih, harus ku akui, si Radin ini menang dari si Frans, kekasihku itu…!” tanpa sadar Stella malah senyum sendiri.


*****

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2