
102.
Rapat
Hari demi hari pun berlalu, dan selama itu Felisha sering ke rumah Aldi, entah untuk sekedar bermain atau membicarakan pekerjaan. Ya, setelah hari dimana Lolita dan mendengar suara perempuan saat itu juga Felisha lebih sering bermain ke rumah Aldi, atau bahkan menginap. Seperti sekarang ini, Aldi dan Felisha sedang berbincang bincang di halaman belakang, kedua orang itu sedang membahas soal pekerjaan.
"Serius banget" Ujar Lolita yang tiba tiba muncul dengan nampan di tangannya.
"Eh Lolita, sini gabung" Seru Felisha.
"Nggak Fel, gue nggak mau gangguin kalian yang lagi bahas pekerjaan, gue kesini cuma mau nganterin teh aja" Ujar Lolita yang kemudian meletakan nampan yang dibawanya di tempat yang kosong.
"Terimakasih sayang" Ujar Aldi. Lolita pun hanya mengangguk dan mengulas senyum.
"Aduh, repot banget Lol" Ujar Felisha.
"Enggak repot kok" Jawab Lolita. "Ya udah kalau gitu gue masuk dulu, mau mandiin Aksa" Ujar Lolita.
Setelah mengatakan itu, Lolita segera masuk kembali ke rumah. Ia tidak menaruh rasa curigai sama sekali dengan Aldi dan Felisha karena menang mereka terlihat biasa biasa saja layaknya rekan kerja.
Aldi meletakan laptop yang dibawanya di diatas meja. Ia menatap ke arah pintu penghubung dengan halaman belakang, pun Felisha yang mengikuti arah pandang Aldi.
"Gimana lo udah siap ketika dia kembali nanti?" Tanya Felisha sembari kembali menoleh kearah Aldi.
"Jujur Fel, gue nggak sanggup kalau harus melukai Lolita lagi, meskipun itu demi kebaikannya" Ucap Aldi resah.
"Lo harus bisa, karena kita sudah membicarakannya waktu itu" Ujar Felisha.
"Kenapa kita tidak memberitahukan saja sih yang sebenarnya?" Tanya Aldi.
"Bagaimana bisa seperti itu, jika kita memberitahukan langsung itu hanya akan membuat dia tidak percaya dan tidak puas dengan penjelaskan kita, setidaknya biarkan dia terbang lalu kita jatuhkan dengan kenyatan" Terang Felisha.
Aldi mengacak-acak rambutnya frustasi. Untuk kedua kali dia akan melakukan hal yang sekiranya menyakitkan buat Lolita, tetapi ini untuk kebaikan bersama.
"Besok kita ada rapat dengan pemegang saham, dan kemungkinan besar perusahaan kamu dalam waktu dekat akan masuk ke surat kabar, lo ikuti apa kata gue atau lo akan menyesal di kemudian hari" Terang Felisha yang kemudian beranjak berdiri masuk kedalam rumah Aldi.
Sedangakan Aldi, laki laki itu masih termenung sendiri. Benar apa yang dikatakan Felisha karena sekarang saja perusahaanya sudah di ambang kehancuran.
Memang roda kehidupan itu seperti itu, terkadang kita berada di atas dan terkadang kita berada di bawah.
Aldi mengambil teh yang sudah di buatkan oleh Lolita lalu meminumnya sekedar untuk menenangkan paginya.
******
Lolita terlihat sedang memakaikan baju Aksa. Gadis itu terlihat tidak seceria biasanya saat mengurus Aksa.
__ADS_1
"Se serius apa sih masalah perusahaan Aldi sampai Aldi aja kadang nggak pulang" Gumam Lolita.
Lolita menghentikan aktifitas menggantikan baju Aksa ketika sebuah tangan tiba tiba melingkar di perutnya. Dari baunya pun sudah bisa ia tebak kalau itu adalah Aldi suaminya.
"Sudah selesai bahas pekerjanya?" Tanya Lolita.
"Sudah" Jawab Aldi. Laki laki itu dengan nyaman menyandarkan kepalanya di ceruk leher Lolita.
"Lepaskan sebentar biar ku bereskan dulu ini barang barang Aksa" Ujar Lolita.
"Biarkan seperti ini sebentar saja" Ujar Aldi, laki laki itu semakin mengeratkan pelukannya pada perut Lolita sehingga membuat Lolita semakin kesulitan untuk bergerak. Ia pun akhirnya membiarkan Aldi memeluknya sepuasnya.
Hingga beberapa menit akhirnya, Aldi pun melepaskan pelukannya. Ia membalikan badan Lolita untuk menatapnya. "Kenapa?" Tanya Lolita yang melihat tatapan mata Aldi tidak seperti biasa.
"Aku minta kepada apapun yang terjadi percayalah padaku, percayalah bahwa itu semua bukan keinginanku dan percayalah itu untuk masa depan kita kelak" Ujar Aldi sembari menggenggam erat tangan Lolita.
Lolita yang tadinya mengulas senyuman dibibirnya seketika mengentikan senyumnya. Tatapan berubah menjadi serius layaknya Aldi yang juga menatapnya serius. "Ada apa? Apakah ini semua ada hubungannya dengan perusahaan papa?" Tanya Lolita. Wajah gadis itu terlihat sangat gusar.
"Tidak apa apa, cukup percayalah bahwa aku pasti bisa menyelesaikan semuanya" Aldi langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian berlalu meninggalkan Lolita berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangakan Lolita masih berdiam diri di tempatnya. Perempuan itu masih menatap punggung Aldi yang kini sudah menghilangkan dibalik pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
Lolita mencoba menenangkan pikirannya yang sekarang sedang sangat kalut dan kacau. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. "Semuanya pasti baik baik saja" Gumamnya sembari melesatkan senyuman di wajahnya.
"Silahkan mas Aldi sudah di tunggu " Seru seseorang yang berjaga di depan ruang yang akan digunakan untuk rapat kali ini.
Aldi dengan diikuti Felisha dan sekretaris Viona langsung memasuki ruangan tersebut, suara bising orang orang seketika berubah menjadi hening.
Terlihat ayah Putra yang kini sedang duduk sambil memijat pelipisnya. Aldi segera mendudukan dirinya di kursi yang sudah disediakan, pun Felisha dan sekretaris Viona.
"Semuanya sudah disini, apa kita sudah bisa memulai?" Tanya seorang laki laki paruh baya yang kerap di panggil pak Darma.
"Bagaimana ini perusahaan kita sekarang sedang berada di ambang kehancuran, saham saja sudah di tariknya sebanyak itu 35% dan itu cukup banyak belum lagi kita mengalami kerugian besar karena hotel yang berada di pinggiran kota mendadak sepi, hotel di Bali juga stop pemberhentian dan sekarang desas desus sudah mulai tersebar" Seru laki laki yang berada di depan Pak Darma.
"Kalau perusahaan ini tidak kunjung mendapat orang baru yang bisa menanamkan saham, makan saya akan menarik saham saya dari perusahaan ini sekarang juga" Seru seseorang yang berada di sebelah pak Darma.
"Kalian tenang dulu, kita juga saat ini sedang mencari orang yang bisa menanamkan sahamnya disini" Terang ayah Putra.
"Harus tenang sampai kapan?" Tanya Pak Darma.
"Maaf Pak Putra, dilihat dari kondisinya sekarang tidak memungkinkan kita untuk mendapatkan orang baru yang akan mengamankan saham di perusahaan kita, secara berita tentang penggelapan uang yang di telan oleh perusahaan Putra ini cukup besar dan sudah di dengar oleh banyak pengusaha" Seru Pak Hendra.
"Kalian kasih saya waktu satu minggu, jika dalam waktu satu minggu kita belum bisa mendapatkan orang baru untuk menanamkan saham di perusahaan kita, kalian boleh menarik saham kalian" Ujar Aldi yang akhirnya membuka suara.
"Aldi, apa yang kamu katakan?" Seru Ayah Putra.
__ADS_1
"Ayah percaya semua pada Aldi" Ujar Aldi.
"Maaf mas Aldi, tapi satu minggu terlalu lama, tiga hari jika dalam waktu tiga hari anda tidak bisa mendapat orang baru yang mau menanamkan sahamnya disini maka saya akan menarik saham saya dari perusahaan ini" Seru Pak Darma.
"Ya saya setuju itu" Seru yang lain.
"Baiklah, tiga hari. Jika dalam tiga hari saya tidak bisa mendapatkan orang baru, kalian boleh menarik saham kalian dari perusahaan ini" Ujar Aldi yang kemudian beranjak berdiri lalu keluar dari ruang rapat tersebut.
*****
Aldi mendudukan dirinya di kursi kebesarannya. Kepalanya terasa sangat pusing sekarang.
"Lo kenapa menyetujuinya dalam tiga hari?" Tanya Felisha.
"Lebih cepat lebih baik" Ujar Aldi sembari memejamkan matanya dan memijat pelipisnya.
"Lo udah siap untuk itu?" Tanya Felisha.
"Iya" Jawab Aldi.
"Bagus" Jawab Felisha dengan senyum senangnya.
Telfon Aldi tiba tiba berdering. Dengan cepat laki laki itu mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya, nama bang Satya terlihat memenuhi layar ponselnya.
"Iya, kenapa bang?" Tanya Aldi.
"Al kita bisa bertemu?" Ujar Bang Satya.
"Baiklah" Jawab Aldi yang langsung mengkahiri sambungan telefonnya dan beranjak berdiri lalu berjalan cepat keluar ruangan mengabaikan Felisha yang memanggilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1