
Aldi terlihat sudah terlelap setelah sebelumnya disuntikan obat penenang. Ia merasa terpukul mendengar penjelasan dari bundanya kalau Lolita kehilangan sebagian dari ingatannya efek dari komanya. Wilna menarik selimut yang dikenakan oleh Aldi sebelum akhirnya ia keluar dari ruang inap Aldi.
Suara pintu yang terbuka membuat Lolita yang sedang duduk dengan ditemani oleh Wilna itu mengalihkan perhatiannya.
"Tante" Sapanya pada Wilna. Wilna pun mengulas senyum diwajahnya kemudian berjalan menghampiri Lolita.
"Belum tidur?" Tanya Wilna.
"Nggak bisa tidur Tan, apakah Aldi sudah tidur?" Tanya Lolita.
"Aldi sudah tidur tadi setelah disuntikan obat penenang oleh dokter" Terang Wilna.
"Aldi kenapa Tan kok sampai diberi obat penenang?" Tanyanya.
"Aldi sedang sedih" Jawab Wilna.
"Lolita" Panggil Wilna. Perempuan paruh baya itu menggenggam tangan menantunya itu.
"Iya kenapa Tan?" Tangannya.
"Menurut Loli Aldi itu gimana sih?" Tanya Wilna.
"Aldi baik, dia juga ganteng" Jawab Lolita.
"Lolita suka nggak sama Aldi?" Tanya Wilna lagi.
Lolita sejenak terdiam. Ia kemudian teringat akan wajah pucat Aldi tadi. Meskipun pucat, Aldi tetap terlihat sangat tampan. Batin Lolita.
"Siapa yang nggak suka sih Tan sama cowok sebaik dan seganteng Aldi, cewek manapun pasti sukalah" Ujarnya.
"Emang kenapa Tan?" Tanya Lolita.
"Nggak apa apa sayang, kamu jangan panggil Tante ah, panggil bunda ya biar sama kayak Aldi" Ujar Wilna.
"Tapi kan tante, eh bunda" Ujarnya.
"Nggak papa, kamu kan menantu bunda jadi ga lucu dong kalau manggilnya tante" Ujar Nita.
"Kenapa sih semua orang bilang kalau Loli udah nikah? Padahal Loli belum nikah, punya pacar aja belum" Seru Lolita.
"Iya itu kan karena Loli habis menjalani operasi dan koma, jadi Loli kehilangan sebagian ingatan Loli, Loli percaya kan kalau Loli udah nikah?" Tanya Wilna.
"Loli sih maunya nggak percaya Bund, tapi cincin ini buat Loli jadi percaya walaupun masih ragu" Terang Lolita sembari menunjukkan sebuah cincin yang pernah diberikan Aldi. Cincin yang terdapat nama Aldi terukir dengan sangat cantik diatasnya.
*
Seminggu kemudian.
Hari ini Lolita maupun Aldi sudah diperbolehkan oleh dokter untuk pulang. Teman teman Lolita maupun Aldi pun tak segan segan untuk menemani mereka di rumah sakit, meskipun ingatan Lolita belum kembali tetapi gadis itu tetap berteman baik dan Yolanda, Sisi dan juga Amel.
"Bunda, apa Lolita akan ikut kita pulang kerumah?" Tanya Aldi yang kini sedang terduduk di kursi rodanya.
Aldi bukan lumpuh tapi ia hanya tidak diperbolehkan untuk banyak bergerak terlebih dahulu termasuk berjalan. Takut takut jika jahitannya kembali terbuka mengingat Aldi penderita hemofilia.
"Iya, Lolita akan pulang bersama kita" Ujar Wilna.
"Kamu bisa bantu Lolita untuk memulihkan ingatannya dengan cara menceritakan masalalu kalian, menunjukan foto dan lain sebagainya" Terang Wilna.
__ADS_1
"Iya, bunda kamu benar" Jawab Putra.
"Ya udah yuk keluar semuanya sudah selesai" Terang Wilna. Ia kemudian mendorong kursi roda yang diduduki oleh Aldi keluar diikuti dengan Putra yang membawa barang barang milik Aldi.
"Hai Aldi" Sapa Lolita ketika melihat Aldi yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Hai" Jawab Aldi.
"Sudah mau pulang juga ya?" Tanya Lolita .
"Iya" Aldi merasa sangat canggung. Ia berbicara dengan istrinya tetapi seperti berbicara dengan orang lain saja.
"Ya sudah yuk kita ke parkiran bareng" Ajakannya.
**
"Ma, ini kan bukan jalan ke rumah kita" Seru Lolita ketika melihat jalanan yang ia lewati bukan mengarah kerumahnya. Melainkan kerumah Aldi.
"Ini memang bukan kerumah kita sayang" Ujar Nita.
"Lah, terus kita mau pulang kemana?" Tanya Lolita.
"Kerumah Aldi" Jawab Nita.
"Ngapain?" Tanya Lolita dengan cepat.
"Kamu lupa kalau kamu sudah menikah sama Aldi?" Tanya Nita.
"Lolita masih ragu aja ma, bahkan Loli tidak ingat kapan Loli akan menikah" Terang Lolita dengan muka sedih.
Mobil yang ditumpangi oleh Lolita pun sudah memasuki halaman rumah Aldi.
Satya yang mengendarainya itu segera menginjak rem mobilnya tepat disebelah mobil yang ditumpangi oleh Aldi. Semuanya turun secara bersamaan.
Lolita melihat rumah Aldi yang menjulang tinggi. "Kenapa rumahnya seperti tidak asing" Gumamnya dalam hati.
"Ayo masuk" Ajak Wilna.
Lolita pun dituntun oleh Nita masuk kedalam rumah. Daan saat didalam ia disambut oleh para Art, ada Aksa juga yang sedang di gendong oleh Wilda.
Aksa yang melihat mamanya itu seketika mengulurkan tangannya, bayi itu meminta untuk di gendong.
Lolita yang melihat itu pun begitu heran, kenapa bayi itu malah meminta gendong kepadanya bukan kepada mamanya. Lolita kemudian menoleh kearah mamanya.
"Dia adalah Aksa, putra kamu sama Aldi" Terang Nita.
"Anak aku?" Tanya Lolita.
"Iya, ya udah sih gendong aja Aksa pasti sangat merindukan mamanya" Ujar Nita.
Lolita pun langsung mengambil alih Aksa dari gendongan Wilda. Seketika hati Lolita merasa hangat, ia merasa sangat sayang dengan baby Aksa.
"Ayo biar bunda antar kalian ke kamar" Ujar Wilna.
Ia terlebih dahulu mendorong kursi roda yang ditempati oleh Aldi menuju ke lift yang sudah dibuatkan oleh Putra. Lolita pun mengikutinya dari belakang dan keempatnya pun masuk kedalam lift bersama.
Sampai akhirnya mereka pun sampai didepan pintu kamar Aldi dan Lolita.
__ADS_1
Wilna membuka kamar tersebut dan mendorong kursi roda Aldi kedalam. Pun Lolita yang masih mengikutinya masuk kedalam.
Lolita memperhatikan kamar Aldi, kamar itu terlihat sangat rapi dan juga nyaman.
"Lolita" Panggil Wilna.
"Iya bunda" Ujarnya.
"Bunda tinggal dulu ya, kalian berdua istirahatlah" Ujar Wilna.
"Iya bunda"
Setelah mendapatkan jawaban dari Lolita. Wilna pun segera keluar dari dalam anaknya itu.
Sedangakan Lolita. Ia masih sibuk mengamati kamar Aldi, ia merasa tidak asing dengan kamar itu tapi ia masih tidak bisa mengingat kamar itu.
Lolita tiba tiba merasa kepalanya sangat sakit. Kenangannya dengan Aldi seperti dejavu yang berputar putar di kepalanya. Tetapi ia tidak bisa dengan jelas mengingatnya.
"Agrhhh" Erang Lolita sembari memegangi kepalanya menggunakan satu tangannya yang tidak memegangi Aksa.
Aldi yang melihat itu pun merasa cemas, ia beranjak dari kursi rodanya kemudian memegangi Lolita.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Aldi.
"Kepala ku sakit banget Al" Lolita terus memegangi kepalanya. Kenangannya dengan Aldi masih berputar putar dikepalanya.
"Duduk dulu" Aldi menuntun Lolita menuju ketempat tidur. Dengan hati hati Aldi mengambil alih Aksa dari gendongan Lolita dan meletakkan diatas tempat tidur. Meskipun sedikit nyeri dipinggangnya tetapi ia tidak menghiraukannya.
Dipeluknya Lolita yang masih terus menyerang sembari memegangi kepalanya.
"Sayang lihat aku" Ujar Aldi dengan pelan.
Perlahan Lolita membuka matanya. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Aldi yang sedang menatapnya. Perlahan kenangan bersama Aldi pun menghilang. Rasa nyerinya pun mulai reda.
"Sudah tidak sakit lagi?" Tanya Aldi. Lolita menganggukkan kepalanya.
Ia masih sibuk mengamati wajah Aldi yang begitu dekat dengannya. Ada sebuah rasa yang menyelinap dalam hatinya. Jantungnya pun tiba tiba berdetak dengan sangat kencang.
"Aldi" Panggil Lolita pelan.
"Iya" Jawab Aldi.
"Bisakah kamu membantuku untuk mengingat semuanya?"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1