
Aldi dengan sekretaris Viona kini sedang melakukan pertemuan dengan Tuan Kusuma di sebuah Coffiee shop yang tidak jauh dari perusahaannya. Mengingat baru jam sepuluh tidak mungkin mereka akan melakukan pertemuan disebuah restauran.
Aldi melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah Coffiee Shop dengan sekretaris Viona yang menuntun jalannya hingga kini mereka sampai di sebuah meja dekat jendela.
"Maaf membuat anda menunggu Tuan Kusumah" Ucap Aldi sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Tidak masalah, silahkan duduk Tuan Aldi" Ujar Kusuma mempersilahkan Aldi untuk duduk diikuti dengan dirinya dan juga sekretaris Viona.
Secara umur Aldi memang lebih muda, tetapi ini adalah bisnis. Tidak ada yang namanya tua dan muda, semuanya saling menghormati satu sama lain karena ini adalah bentuk kerja sama yang akan menghasilkan sebuah keuntungan.
"Sebelumnya saya meminta maaf akan kejadian beberapa bulan yang lalu Tuan-"
"Tidak perlu membahas soal itu, anda sudah terlalu sering meminta maaf kepada saya, dan kejadian itu juga sudah cukup lama" Tukas Aldi.
"Ah iya maaf, mari kira bicarakan tentang pekerjaan" Ucap Tuan Kusuma akhirnya.
Meskipun Aldi masih seorang pelajar, tetapi ia adalah sosok yang jenius dan ia juga memiliki aura kepemimpinan yang tegas juga jiwa profesionalitas yang kuat. Ia tidak akan membicarakan hal pribadi dalam pekerjaannya.
"Silahkan Tuan Kusuma untuk menjelaskan proyek yang akan kita bangun di Bali" Ujar sekretaris Viona dengan sopan.
"Ah iya, jadi begini pembangunan hotel yang ada di Bali mengalami sedikit kendala karena ada beberapa pedangan yang tidak mau meninggalkan area pantai karena itu merupakan sumber mata pencaharian mereka, tapi saya sudah mengatur semua kendala, dari pihak kami akan mengusir mereka secara paksa yang tidak mau meninggalkan lahan dengan sendirinya serta tidak mau menerima uang kompensasi yang telah kita berikan" Jelas Tuan Kusuma, sedangkan Aldi dan Sekretaris Viona mendengarkan dengan seksama.
Aldi mencerna baik baik perkataan Tuan Kusuma "Mbak Viona coba buka denahnya!" Pinta Aldi. Sekertaris Viona pun dengan cekatan membuat tapnya dan membuka denah pembangunan yang akan ia lakukan di Bali.
"Apakan kita akan memindahkan letak pembangunannya Tuan? Tapi itu tidaklah mungkin karena lokasi itu sudah sangat pas dan juga strategis, kita bisa membangun hotel dengan langsung menghadap kearah pantai dan itu akan membuat orang menjadi lebih tertarik untuk menginap dan menikmati sunset dari hotel kita" Ujar Tuan Kusuma lagi.
__ADS_1
Aldi mengalihkan perhatiannya dari tap yang diamati kearah Tuan Kusuma. "Tuan Kusuma, anda lebih dulu terjun kedunia bisnis dari pada saya, tetapi cara anda menangani masalah seperti itu salah. Dengan anda mengusir para pedangan tersebut itu akan membuat mereka menjadi membenci kita seakan akan kita adalah orang jahat yang ingin merebut mata pencaharian mereka" Ujar Aldi.
"Tapi jika kita tidak membangun hotel disitu maka kita akan mengalami keruangan besar Tuan, karena kita sudah mengeluarkan dana yang sangat banyak untuk pembangunan hotel itu" Jelas Tuan Kusuma lagi.
"Kita akan tetap membangun hotel tersebut, dan untuk masalah pedangan itu kita hanya perlu membujuknya dengan sedikit kerja keras lagi, selain memberikan uang kompensasi kita juga harus memberikan mereka lahan untuk tetap bisa berdagang" Jelas Aldi.
"Tapi bukankah itu juga bisa membuat rugi karena adanya pedangan kaki lima di dekat hotel Tuan?" Tanya Tuan Kusuma lagi.
"Sepertinya kejeniusan anda berkurang karena di makan usia Tuan, tentu saja itu tidak akan mempengaruhi hotel karena dari pihak kita sudah mengaturnya dengan sedemikian rupa. Apa perlu Tuan Aldi turun tangan sendiri mengenai masalah kerjasamanya ini?" ujar sekretaris Viona yang seketika membuat Tuan Kusuma bungkam.
Keluarga Kusuma memang kaya, tapi jika di bandingkan dengan kekuatan Putra itu tidak ada apa apanya. Dan mungkin Kusuma juga cerdik dalam memainkan taktik berbisnis, tetapi ia selalu menggunakan cara yang kasar, sedangkan Aldi? Ia tidak akan sampai hati untuk menghancurkan mata pencaharian orang lain demi keuntungannya sendiri, ia pasti akan memilih jalan tengah yang bisa membuat kedua belah pihak sama sama untung sehingga tidak ada yang dirugikan meskipun itu hanya orang kecil.
"Tidak perlu Tuan Aldi, saya yang akan mengurus mengenai pembangunan tersebut" Jelas Tuan Kusuma.
"Oh iya, ada satu lagi yang ingin saya bicarakan dengan anda, Tuan Kusuma" Seru Aldi sebelum ia mengakhiri acara meetingnya.
"Suatu Kehormatan, tetapi anda bisa menempati Villa saya kapanpun anda mau, tidak perlu membayar uang sewanya" Ujar Tuan Kusuma.
"Terimakasih, Tetapi saya akan tetap membayarnya" Ujar Aldi.
"Baiklah, kapan Tuan Aldi akan menginap di Villa saya?" Tanya Tuan Kusuma.
"Untuk waktunya nanti akan saya beri tahu" Ucap Aldi. Ia kemudian mengambil cangkir coffiee yang sudah di antarkan oleh pelayan beberapa menit yang lalu.
"Kalau sudah tidak ada yang perlu di bicarakan, saya duluan" Ucap Aldi sembari meletakkan kembali cangkir kopi yang baru saja disesapnya itu diatas meja.
__ADS_1
"Ah iya, di tunggu kabar baiknya" Ucap Tuan Kusuma. Aldi pun mengangguk kemudian berdiri diikuti dengan Tuan Kusuma dan juga sekretaris Viona.
Setelah itu mereka pun saling berjabat tangan kemudian Aldi terlebih dahulu keluar dari Coffiee shop tersebut.
"Tidak heran jika Rere sangat menyukai anaknya Putra, selain tampan ia juga pintar dalam berbisnis" Gumam Hans Kusumah sambil menatap punggung Aldi yang semakin mengecil.
Melihat Aldi, Kusuma tiba tiba teringat akan putrinya yang sudah lima bulan itu keluar dari rumahnya.
"Ah iya, Rere sudah lima bulan tidak pulang seperti apa kehidupan anak itu diluar sana" Gumam Kusuma, ia kemudian mengambil ponselnya lalu berlalu dari dari cofiee shop tersebut.
Sedangkan di rumah Caca, Rere terlihat sedang mendudukkan dirinya di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Re, lo engga ada niatan buat pulang?" Tanya Caca yang baru saja muncul dari dalam dan mendudukkan dirinya disebelah Rere.
Mendengar suara Caca, Rere kemudian menurunkan tangannya yang sedang bermain ponsel dan berselancar di instagram. Ia kemudian menoleh kearah Caca. "Lo ngusir gue?" Tanya Rere.
"Bukan gitu Re, Lo kan udah lima bulan nginep di rumah gue bahkan tanpa pulang. Apa lo engga kangen sama orang tua lo? Apa lo engga kangen sama kehidupan Tuan Putri Lo?" ujar Caca agar tidak menyinggung sahabatnya itu.
Mendengar kalimat itu, Rere seketika teringat dengan orang tuanya, tiba tiba ia merasa rindu dengan mama papanya, rumahnya dan juga semua fasilitas yang pernah ia dapatkan sebelumnya.
"Tapi mereka engga ada jemput gue" Ucap Rere akhirnya.
"Meskipun mereka engga jemput Lo, mungkin mereka menunggu kepulangan lo" Ujar Caca.
Rere sejenak terdiam, ia berfikir untuk pulang menemui orang tuanya, tetapi tiba tiba ia mengurungkan niatnya ketika mengingat pertengkaran terkahirnya dengan papanya. Apa papa tidak berfikiran untuk menjemputku? Apa mereka tidak merindukan ku? Pikir Rere dalam lamunannya.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan like dan votenya.