Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Titik Terlemah Aldi


__ADS_3

"Jadi bagaimana perkembangan keadaan Lolita dok?" Tanya Andra kepada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Lolita.


"Kalau bisa Nyonya Lolita dirawat inap saja, dan tolong secepatnya carikan pendonor untuk Nyonya Lolita, karena keadaannya semakin menurunnya dan kondisi ginjalnya kini sudah memasuki stadium 4" Ujar sang dokter.


Andra yang mendengar itu seketika melemaskan tubuhnya disandaran kursi yang didudukinya.


"Dok apa disini tidak ada stok ginjal yang cocok dengan Lolita?" Tanya Andra lemas.


"Kebetulan sekali tidak ada Tuan, karena mencari ginjal tidaklah mudah" Terang sang dokter.


******


Andra berjalan dengan gontai memasuki ruang inap Lolita. Dilihatnya Lolita yang sedang duduk disofa bermain dengan Aksa. Melihat tawa Lolita seakan luka bagi Andra.


"Aksa, sini sama om sudah malam waktunya untuk tidur karena besok kita akan kembali ke Jakarta dan mama juga butuh istirahat" Ujar Andra sembari mengangkat tubuh Aksa.


"Loh Andra, lo udah balik apa kata dokter?" Tanya Lolita.


"Dokter mengatakan lo harus segera mendapatkan pendonor ginjal yang baru karena sekarang keadaan ginjal lo sudah memasuki stadium akhir" Terang Andra.


Mendengar itu wajah Lolita seketika berubah menjadi sedih, tetapi ia mencoba untuk tetap terlihat biasa aja didepan Andra. "Stadium Akhir kek judul lagu aja" Ujar Lolita dengan senyum di wajahnya.


Mendengar itu Andra segera mendudukan dirinya disebelah Lolita. "Lolita, ini bukan waktunya untuk bercanda" Ujar Andra.


"Aku tidak sedang bercanda Andra" Ujar Lolita.


"Mbak Wilda" Panggil Andra.


Mbak Wilda yang sedang mendudukan dirinya di sofa itu beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Andra yang kini sedang menggendong Aksa.


"Mbak, tolong ajak Aksa keluar sebentar ya, tapi jangan jauh jauh tolong tidurkan dia ya" Ujarnya.


"Baik mas" Wilda mengambil alih Aksa dari gendongan Wilna. Perempuan itu kemudian membawa baby Aksa untuk ditidurkannya. Sedangakan Andra, laki laki itu menggenggam erat tangan Lolita yang terasa dingin.


"Lolita" Panggil Andra lembut.


Lolita mengalihkan perhatiannya kearah Andra. Ditatapnya manik mata Andra yang juga menatapnya.


"Kita ke Jakarta besok" Ujar Andra.


Seketika itu Lolita langsung melepaskan genggaman tangan Andra dari tangannya. "Tidak" Tolak Lolita.


Andra meraih wajah Lolita dan kembali menghadapkan kewajahnya. "Lo mau sampai kapan sembunyi sembunyi seperti ini?" Ujar Andra.


"Gue nggak mau buat mereka cemas dengan keadaan gue Andra" Ujar Lolita dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Terutama mama dan Aldi" Ucap Lolita dengan berat.


"Lo yakin sama gue kalau lo bisa sembuh" Ujar Andra menyemangati.


"Iya gue sembuh tapi dengan cara mengambil papa gue? Atau nggak Aldi?. Gue nggak bisa untuk itu, papa gue itu memiliki tensi yang tinggi apalagi Aldi, dia itu mengidap Hemofilia, jika mereka memberikan ginjalnya untuk gue, yang ada mereka yang akan merenggang nyawa" Ujar Lolita.


"Lolita, kita bisa mencari pendonor lain" Andra tidak patah semangat.


"Mau sampai kapan kita mencari? Sampai aku benar benar tidak bernyawa lagi" Ujar Lolita putus asa. Mendengar itu Andra langsung membekap mulut Lolita. Ia menarik tubuh Lolita untuk di peluknya.


"Lo jangan ngomong seperti itu, Lo harus berjuang karena Aksa butuh Lo. Seperti Lo yang dulu dengan suka hati mendonorkan ginjal untuk Rere, maka lo juga pasti akan mendapatkan pendonor ginjal baru" Terang Andra.

__ADS_1


Andra merenggangkan pelukannya dengan Lolita. Ia memangkup pipi Lolita dan menghapus air mata Lolita menggunakan ibu jarinya.


"Ikutlah aku ke Jakarta, jika bukan buat Aldi maka kembalilah demi orang tua lo yang selama ini sudah mencemaskan keadaan lo" Andra sejenak menjeda ucapannya.


"Jika seandainya lo memang tidak bisa mendapatkan pendonor, setidaknya lo menghabiskan saat saat terkahir Lo dengan keluarga Lo, dengan orang yang benar benar Lo cintai" Ujar Andra dengan suara yang berat namun menyakinkan.


"Jangan sampai lo menyesal kelak" Imbuh Andra lagi yang akhirnya menurunkan tangannya dari leher Lolita yang ia gunakan untuk menangkapnya.


Lolita sejenak terdiam, ia menatap dalam manik mata Andra yang juga menatapnya dengan tatapan penuh keseriusan dan permohonan.


Ia sejenak mencoba untuk memikirkan perkataan Andra, dan ia menebarkannya.


"Baik, gue akan ikut lo ke Jakarta" Putus Lolita.


Mendengar itu Andra pun merasa sangat senang.


"Tapi dengan satu syarat" Ujar Lolita.


"Apapun itu" Seru Andra dengan cepat.


"Aku ingin lo dan gue berpura pura menjalin hubungan didepan Aldi, gue ingin membuat Aldi membenci gue agar kelak saat dia kehilangan gue untuk selama lamanya dia tidak akan terluka dan sedih terlalu dalam" Ujar Lolita.


*******


Suara musik yang sangat kencang dan juga memekakkan telinga, orang orang berjoget ria dan bau alkohol yang sangat menyengat. Itulah tempat yang menggambarkan dimana keberadaan Aldi sekarang.


Laki laki itu terlihat sudah mabuk dengan sangat berat. Terlihat jelas sekali kepalanya yang diletakkan diatas meja.


"Lolita, kamu dimana aku rindu" Gumamnya dengan suara yang tidak begitu jelas.


Tanpa banyak bicara bartender itu pun menerimanya gelas Aldi dan menuangkan wine berwarna merah keunguan didalamnya.


Aldi kembali menerima gelas tersebut dan langsung meneguknya hingga tandas tak tersisa.


Aldi kemudian beranjak berdiri dari duduknya. Dengan sempoyongan ia berjalan keluar dari dalam bar tersebut, dan saat ia keluar kebetulan Evan hendak masuk. Evan yang melihat Aldi sudah mabuk berat itu pun segera memapahnya.


"Lo gila mabuk kaya gini" Ujar Evan.


"Lolita" Hanya itu yang keluar dari mulut Aldi. Bau Alkohol tercium oleh Evan.


"Gila, mau cari mati Lo" Evan membantu Aldi berjalan menuju ke parkiran. Tetapi saat sudah dekat di parkiran Aldi tiba tiba melepaskan tangan Evan yang sedang merangkul bahunya.


Tubuh Aldi jatuh berlutut di atas aspal yang kebetulan sepi. Wajahnya mendongak menatap langit malam yang terlihat cerah.


Air matanya tiba tiba jatuh membasahi wajahnya. Mengalir dengan begitu derasnya. "LOLITA LO DIMANA?" Teriaknya.


"GUE RINDU SAMA LO LOLITA, KEMBALILAH" Teriak Aldi lagi. Aldi menangis. Ia menundukkan kepalanya, tangannya bergerak menuju aspal dengan membabi buta.


"Kalian kemana" Gumam Aldi lagi.


Evan yang melihat sahabatnya seperti itu merasa tidak tega, dihampirnya sahabatnya dan di cekalnya pergelangan tangannya agar berhenti memukuli aspal.


"BERHENTI, APA LO GILA HA? LO MENYAKITI DIRI LO SENDIRI BODOH" Seru Evan.


"GUE GILA, GUE EMANG SUDAH GILA, GUE GILA KARENA LOLITA" Teriak Aldi.

__ADS_1


Laki laki itu kini benar benar berada di titik yang paling terlemah, bahkan Evan tidak pernah melihat Aldi sahabatnya berada di titik serendah dan selemah itu.


Laki laki itu sangat jarang menangis, tapi ada kalanya dia akan menangis ketika seorang pria menangis karena wanita,maka saat itu lah dipastikan wanita itu sangat dicintainya dengan sungguh-sungguh . menyembunyikan tangisnya di dalam kekuatan akalnya.


Aldi sekarang benar benar rapuh. Kehilangan Lolita merupakan rasa yang mendalam. Saat ini Aldi benar benar berada di dalam posisinya yang menyedihkan, dirinya tidak sanggup untuk memikul beban perasaan yang sebegitu beratnya terhadap Lolita.


"Lo tahu Van, gue sangat mencintai Lolita, gue benar benar sangat mencintai Lolita dan tidak ada wanita lain di hati gue selain Lolita" Seru Aldi sembari menatap Evan.


"Iya, gue tahu perasaan Lo" Ujar Evan.


"Lo nggak tahu apa yang gue rasakan, ditinggalkan tanpa pamit, tanpa adanya kabar, tanpa pertemuan lo nggak tahu itu semua" Seru Aldi.


"Gue emang nggak merasakannya tapi gue peduli" Ujar Evan.


Aldi terdiam. Melihat tidak ada respon dari sahabatnya itu Evan lantas membantu Aldi untuk berdiri, ia membantu sahabatnya itu untuk dibawa masuk kedalam mobilnya dan diantarkannya ke rumahnya.


Sesekali Evan melirik kearah Aldi yang terlelap. Mungkin laki laki terlalu lelah. "Lolita" Gumam Aldi dalam tidurnya.


Evan yang melihat itu benar benar dibuat tidak tega. Sebegitu besarnya cinta Aldi terhadap Lolita.


*******


Evan menjatuhkan tubuh Aldi diatas tempat tidurnya. "Makasih ya Van kamu sudah membantu Aldi" Ujar Wilna.


"Iya Bunda, kalau begitu Evan pamit pulang dulu Bunda" Ujar Evan.


"Apa nggak sebaiknya kamu menginap saja disini? Ini sudah malam dan akan sangat berbahaya jika kamu pulang sekarang" Ujar Wilna.


Evan terlihat sedang berfikir, menimang nimang perkataan Wilna hingga akhirnya Evan memilih untuk menyetujuinya.


"Ya udah bunda, kalau gitu Evan ke kamar sebelah dulu ya" Pamitnya yang kemudian pergi.


Wilna menatap prihatin Aldi yang kini sudah berbaring diatas tempat tidurnya. Ia mendudukkan dirinya disebelah putranya itu kemudian menyugar rambutnya dengan penuh sayang. "Maafkan bunda Al" Gumam Wilna. Air matanya seketika luruh membasahi pipi mulusnya.


"Jangan pergi Lolita" Gumam Aldi lagi dengan mata yang masih terpejam.


Wilna yang melihat itu pun semakin tak kuasa menahan air matanya. Sesak melihat anaknya yang kini sedang jatuh dalam kubangan derita.


.


.


.


.


.


.


Hukuman masih berlangsung, nikmati aja detik detik terkahir kalian baca cerita "Untuk Lolita"


Vote terus sebanyak banyaknya, karena dukungan kalian sangat berharganya, pertahanan Vote kalian agar Lhnya tidak turun ya man teman semua. Terimakasih


Hari ini triple up dong🤗

__ADS_1


__ADS_2