
"Kamu salah sayang, bukan itu yang ingin papa katakan, yang ingin papa katakan adalah perjodohan kalian batal" Seru Afrindo sambil tersenyum menatap Disa yang memasang raut muka terkejut.
"Batal, kenapa pa? Bukannya itu yang membuat papa dan yang lain bahagia?" Tanya Disa yang merasa heran.
"Iya, mungkin itu membuat papa bahagia karena kamu mendapatkan laki laki yang baik, tapi untuk apa papa bahagia kalau kamu sendiri yang menjalani tidak bahagia?" Ujar Afrindo sambil menatap wajah Disa yang sayu, namun tak bisa di pungkiri kalau ia juga merasa bahagia.
"Terimakasih pa" Seru Disa sambil menghambur ke pelukan sang papa, Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang papanya, sedangakan papanya mengelus lembut surai Disa.
"Maafkan papa nak karena tidak bisa memahami kamu" Ujar sang papa, mendengar itu Disa kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam kearah papanya.
"Papa pikir dengan kamu bebas kamu bakal senang, dengan kamu jauh dari saudara saudara kamu, kamu bakal lebih tenang karena tidak di caci maki terus menerus sama kakak kakak kamu. Tapi ternyata papa salah, justru kamu merasa kurang kasih sayang dan juga merasa mendapat perlakuan yang tidak adil. Dan papa pulang hanya untuk memarahi kamu ketika kamu berbuat masalah, padahal itu hanya bentuk dari pelampiasan kamu" Ujar sang papa dengan wajah sayu dan suara yang berat.
Mendengar penuturan papanya Disa merasa terharu, ia tidak pernah tahu alasan dibalik papanya yang terus berpergian dan mengajak kakak kakaknya. Cairan bening pun lolos dari mata cantiknya.
"Papa tidak perlu meminta maaf, ini memang salah Disa, jikalau saja mama tidak melahirkan Disa mungkin semua ini tidak akan terjadi, mungkin mama masih disini dan menemani papa, kak Siska, kak Alana dan kak Ceacil" Ujar Disa, suara gadis itu terdengar sangat berat karena bercampur dengan tangis.
"Tidak sayang, itu semua tidak benar. Kamu adalah putri papa, hasil dari buah cinta papa dan mama, sama seperti kakak kakak kamu, jadi tidak ada yang perlu disalahkan atas itu semua, itu semua sudah menjadi takdir dan tidak ada yang bisa merubahnya" Tutur papa Disa. Laki laki yang sudah tidak muda itu melepaskan kacamata yang melekat di kedua bola matanya, ia menghapus cairan bening yang keluar dari matanya.
"Kata Kevin kamu mau melanjutkan pendidikan di luar ya? Kenapa? Mau menghindari Aldi?" Tanya sang papa.
"Hmm engga apa apa pa, Disa hanya mau memperbaiki hidup Disa aja, lagian Disa juga sudah tidak ada harapan lagi sama Aldi" Ucap Disa sambil tersenyum. Ia menghapus jejak air matanya.
"Kamu sudah dewasa nak" Ujar papa Disa sambil mengelus bahu gadis itu.
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan obrolan mereka, membicarakan kemana Disa akan melanjutkan pendidikannya.
Flashback off
***
"Aaaa jadi ikut baper" Seru Devi setelah Disa menyelesaikan ceritanya.
"Iya nih, geng kita jadi engga lengkap" Imbuh Stella.
"Iya, pasti nanti kita bakal kangen banget" Ucap Devi dengan muka sedihnya.
"Engga apa apa kan masih bisa ketemu lewat video call" Ujar Disa.
"Ya tapi kan engga asik kalau engga ketemu langsung" Seru Stella sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, mending sekarang kita habiskan waktu kita ini yang tersisa untuk senang senang sebelum besok gue berangkat" Tutur Disa.
__ADS_1
"Besok, ko cepet banget sih?" Ujar Devi.
"Lo engga ngurus pendaftaran dan keluar dari kampus yang sekarang?" Tanya Stella.
"Hari ini semua diurus sama papa, sudah jangan banyak bicara sekarang kita pergi senang senang" Ucap Disa sambil beranjak berdiri, ia memanggil pelayan dan membayar semua tagihan pesanannya dan kedua temannya itu. Setelah itu mereka pun keluar dari cafe tersebut.
****
"Pengantin baru pengantin baru" Ucap Yolanda sambil tersenyum menggoda Lolita dan Aldi yang duduk didepannya.
"Pengantin kadaluarsa iya" Jawab Lolita sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Kita perlu pesta nih" Timpal Amel.
"Kemarin sudah pesta kalian tidak puas?" Tanya Lolita sambil menatap Amel.
"Kurang puas karena terjadi keributan" Jawab Yolanda.
"Nenek sihir bungkam awkakak" Ucap Regan sambil tertawa terbahak bahak.
Melihat itu Yolanda memasukan kerupuk kedalam mulut Regan hingga membuat laki laki itu mengehentikan tawanya sambil menatap Yolanda kesal.
"Asli si Rere engga punya malu banget" Ujar Sisi.
"Pelakor kalau punya malu ya engga jadi pelakor bege" Ujar Amel menimpali.
"Lolita kita bisa berbicara sebentar?" Ujar seseorang yang menghentikan obrolan mereka semua.
Lolita menoleh kearah seseorang yang kini berdiri di pinggir meja. "Bicara saja!" Jawab Lolita dengan enggan.
"Bisa kita pergi dari sini sebentar?" Tanya orang itu dengan tatapan sungkan.
Lolita menoleh menatap kearah Aldi yang duduk disebelahnya. Melihat ekspresi Lolita yang seperti meminta ijin itu membuat Aldi menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapat persetujuan dari Aldi, Lolita kemudian beranjak berdiri.
"Pinjam Lolita sebentar" Ucap laki laki itu sambil menatap kearah Aldi. Namun Aldi hanya diam tak menjawab.
"Bagaimana kalau Aldi ikut saja" Ucap Lolita kemudian sebelum ia pergi berdua dengan orang yang ingin berbicara kepadanya.
Laki laki itu sejenak diam. Ia sebenarnya ingin berbincang berdua dengan Lolita. Tetapi sebelum ia membuka suara, Evan terlebih dahulu membuka suara.
__ADS_1
"Lebih baik seperti itu, bukankah tidak perlu ada rahasia antara suami dan istri" Ujar Evan yang menadapat pembenaran dari semua teman temannya.
"Baiklah" Ujar orang itu. Ia kemudian berjalan terlebih dahulu diikuti dengan Aldi dan Loli dibelakangnya.
Hingga kini langkah ketiganya berhenti di sebuah taman kampus.
Lolita terlebih dahulu membuka suara. "Mau ngomong apa?" Tanya Lolita tanpa minat.
"Lolita gue minta maaf" Ujar laki laki itu. Mendengar itu Lolita tetap diam, ia ingin mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan orang itu ucapkan.
"Gue minta maaf untuk semua kesalahan yang sudah gue perbuatan pada lo, gue menyesal karena dulu gue ninggalin lo demi Rere. Maafkan karena gue sudah membuat lo kesusahan selama ini, membuat lo menderita dengan semua tuduhan palsu yang Caca dan Rere lakukan tanpa gue cegah walupun gue tahu semua. Gue berharap lo mau memaafkan gue dan kita bisa menjadi temen. Gue---" Kevin menghentikan ucapannya ketikan Lolita menukasnya.
"Tidak ada yang perlu disesali, dan tidak ada yang perlu meminta maaf dan dimaafkan. Justru gue berterimakasih kepada lo, Rere dan Caca. Karena kalian berdua gue jadi tau siapa yang mencintai gue dengan tulus, siapa yang mau berteman dengan gue dengan tulus tanpa memandang harta yang bahkan itu hanya sekedar titipan sementara"
"Gue berterimakasih karena berkat kalian gue bisa menjadi seperti sekarang, menjadi Lolita yang kuat dan menjadi Lolita yang berbeda dari Lolita yang dulu."
"Dan gue bisa bersama dengan orang yang bener bener tulus mencinta gue" Lolita menoleh kearah Aldi sambil tersenyum, Aldi pun membalas senyum Lolita.
"Lo tidak perlu menyesali semua yang sudah pernah terjadi, Lo cukup menjadikan itu semua sebagai pelajaran agar kedepannya lo lebih bisa menghargai orang lain, mencintai tanpa memandang fisik, mengalahkan bosan tanpa meninggalkan agar tidak ada penyesalan lagi untuk kesekian kalinya"
"Sukses selalu buat lo" Setelah mengucapkan itu, Lolita mengandeng tangan Aldi, ia pergi meninggalkan Kevin yang berdiri dalam diam sambil menatap kepergian Lolita.
"Lo bener Lolita, gue akan menjadikan itu semua pelajaran agar tidak menjadikan penyelesaian dikemudian hari" Gumam Kevin. Laki laki itu kemudian pergi meninggalkan taman kampus tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author up banyak awas kalau jejaknya tertinggal.
__ADS_1