Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Perubahan Aldi


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Bi Tuti terlihat sedang mengetuk pintu kamar Aldi, tetapi tidak ada sahutan dari dalamnya. Sekarang sudah pukul 11.25 WIB, tetapi Aldi terlihat masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi tengkurap, sepatu pantofel masih melekat dengan sempurna di kedua telapak kakinya, pun dengan dasi dan kemeja kerjanya.


"Mas Aldi, bangun mas sudah siang" Ujar Bi Tuti, tapi itu sama sekali tidak membuat Aldi terbangun.


"Mas Aldi belum bangun ya Bi?" Tanya Mbak Lili yang tiba tiba datang.


"Iya Li, padahal sekarang sudah siang" Ujar Bi Tuti.


"Kasian ya Bi, semenjak Non Loli pergi Tuan Muda Aldi seperti tidak memiliki semangat hidup lagi, pulang pagi dalam keadaan mabuk, keadaanya juga seperti orang yang tak terawat, kurus dan juga mata panda" Ujar Mbak Lili.


"Iya, pasti Tuan Muda merasa kehilangan banget" Ujar Bi Tuti.


"Nggak hanya Tuan Muda Bik, saya saja merasa kehilangan Nona Muda dan Den Aksa, seperti apa ya Bik keadaan mereka sekarang, kangen banget sama Den Aksa" Ujar Mbak Lili sedih.


"Iya Li, rumah ini sekarang sepi" Ujar Bi Tuti.


"Udah jangan ngobrol lagi, sana kamu kembali kebelakang biar aku saja yang membangunkan Tuan Muda" Ujar Bi Tuti kemudian.


"Iya Bik" Setelah itu mbak Lili pun pergi meninggalkan Bi Tuti sendiri.


Sedangkan Bi Tuti, tangannya kembali terangkat untuk mengetuk kamar Aldi, berharap Tuan Mudanya itu terbangun.


Tapi Aldi masih saja tak berniat untuk membuka matanya hingga sebuah bisikan berhasil membuat Aldi langsung membelalakkan matanya dengan sempurna "Sayang bangun, sudah siang apa kamu tidak ingin ke kampus atau ke kantor?"


Aldi seperti mendengar suara Lolita dengan lembut membisiki telinganya. Tetapi saat dirinya membuka mata tidak mendapati istrinya itu didalam kamarnya.


Aldi merubah posisinya menjadi duduk. Laki laki itu mengambil sebuah vigura yang terletak di atas nakasnya. Terlihat foto dirinya, Lolita dan Aksa. Tawa bahagia terpancar di wajah masing masing.


Aldi mengusap bingkai foto tersebut menggunakan ibu jarinya. Air matanya tiba tiba jatuh mengenai wajah Lolita. Rasa rindu bercampur khawatir dan rasa bersalah seperti mengepul menjadi satu dalam hati. "Sayang, kalian dimana?" Gumamnya.


"Kenapa kalian pergi?" Imbuh Aldi lagi. Perasaannya benar benar kalut. Sebulan serasa setahun bagi Aldi dan selama itu pula dirinya belum bertemu dengan anak dan istrinya yang sangat di cintanya itu.


Aldi mengusap air matanya yang membasahi kaca bingkai yang menampilkan wajah Lolita dengan senyum manis yang terpahat diwajahnya. Ia kembali meletakkan bingkai foto tersebut ke tempat yang semula sebelum akhirnya ia memilih beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


******


Lolita terlihat masih berbaring di brankar rumah sakit dengan di temani oleh Andra, baby Aksa dan juga baby sitter yang disewa Andra.


"Aksa tidur ya Ndra?" Tanya Lolita.

__ADS_1


"Iya" Jawab Andra.


"Mending kalian pulang aja deh, biar Aksa bisa istirahat di rumah" Ujar Lolita.


"Terus Lo gimana?" Tanya Andra.


"Disini kan banyak perawatan dan juga dokter, jadi lo nggak usah khawatir" Ujar Lolita.


"Udah ah, Lo kan nggak bisa sering sering lihat Aksa, lagian juga nanti kita nggak lama disini, biar aja Aksa disini biar Lo juga bisa puas menghabiskan waktu dengan Aksa" Ujar Andra.


"Ya udah deh, oh iya Mbak Wilda sini Aksa taruh disebelah aku aja" Ujar Lolita.


Baby sitter yang sedang menggendong Aksa itu berjalan mendekati ketempat Lolita, ia meletakkan baby Aksa di sebelah Lolita dengan sangat hati hati agar tidak terbangun.


Melihat putranya tertidur, Lolita merasa sangat tenang, ia mengusap puncak kepala Aksa dengan sayang.


*******


Aldi sudah selesai dengan acara membersihkan dirinya. Ia kini terlihat dari kamar mandi dengan menggunakan handuk berwarna coral yang melilit pinggangnya.


Suara dering telfon membuat Aldi mengurungkan niatnya untuk menuju ke ruang ganti. Langkahnya berbelok menuju ke tempat tidur. Diraihnya ponselnya yang tergeletak sembarangan itu. Terlihat tulisan papa memenuhi layar ponselnya.


Aldi segera menggeser icon berwarna hijau tanda ia menerima panggilan telefon tersebut.


"Hallo Aldi, gimana apa kamu sudah menemukan keberadaan Lolita?" Tanya Papa Doni dari sebrang telfon.


"Belum pa" Nada bicara Aldi terdengar lesu.


"Papa sendiri bagaimana?" Imbuh Aldi.


"Selama sebulan ini papa sudah mencari dimana keberadaan Lolita, tapi papa belum juga menemukannya" Nada bicara Doni terdengar frustasi.


"Papa tenang saja, Aldi pasti bisa menemukan Lolita, seluruh dunia pun akan Aldi pijakin asal bisa menemukan keberadaan Lolita" Ujar Aldi.


"Iya nak, terimakasih ya" Ujar papa Doni.


"Papa tidak perlu berterimakasih, ini juga tanggung jawab Aldi" Ujar Aldi.


"Ya sudah kalau begitu papa matikan dulu telfonnya" Ujar Doni. Dan tak menunggu lama sambungan telfon itu pun terputus.


Aldi melempar ponselnya itu dengan kasar di atas tempat tidurnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya.


*******


Aldi terlihat sedang memasangkan dasinya di kerah kemeja kerjanya. Ia menatap pantulan tubuhnya di depan cermin yang terletak dipjok membelakangi kaca besar yang menampilkan pemandangan luar. Ia tiba tiba teringat dengan Lolita yang biasa membantunya untuk memasangkan dasi dan juga membantu memakaikan jas kerjanya.

__ADS_1


Senyum manis Lolita selalu terbayang bayang dipikiran Aldi. Setelah selesai memasangkan dasinya, Aldi memasangkan jasnya dan keluar dari ruang gantinya.


Suara sepatu yang membentur lantai itu membuat Bi Tuti dan Mbak Lili yang sedang menyiapkan makan siang mengehentikan sejenak aktifitasnya.


"Sepertinya Tuan Muda sudah bangun, biar aku panggil buat makan" Ujar Bi Tuti yang kemudian berjalan meninggalkan Aldi.


"Tuan Muda Aldi" Seru Bi Tuti ketika melihat Aldi hendak melintas didepannya nya.


"Kenapa Bik?" Tanya Aldi dengan nada dingin.


Ya seperti itulah Aldi, dia berubah menjadi sosok yang dingin sejak kepergian Lolita.


"Makan siang sudah siap Tuan, kan Tuan belum sarapan dari sejak tadi pagi" Ujar Bi Tuti.


"Saya Tidak lapar Bik" Ujar Aldi yang kemudian melanjutkan langkahnya. Tetapi baru beberapa langkah, suara mamanya yang memanggil namanya itu membuat Aldi kembali menghentikan langkahnya.


"Makan siang dulu sayang" Ujar Wilna setelah berdiri disebelah putranya.


"Aldi tidak lapar ma" Ujar Aldi.


"Dari tadi pagi kamu belum makan loh, masa iya nggak lapar, mau mama masakin khusus buat kamu?" Ujar Wilna menawarkan.


"Aldi tidak ingin makan jika bukan masakan Lolita" Ujar Aldi yang kemudian berlalu pergi.


Wilna yang melihat putranya seperti itu merasa sedih. Ia tidak tega dengan keadaan anaknya yang kurus kering seperti tidak terawat. Bagaimana tidak kurus kering, Aldi selama sebulan ini sudah seperti robot. Hari harinya hanya diisi kuliah, kerja, mencari Lolita, mabuk mabukan dan pulang waktu pagi, syukur kalau pagi Aldi bisa tertidur, kadang 24 jam Aldi bahkan tidak tidur. Perutnya pun bahkan seperti tidak terisi dengan nasi karena hanya air, alkohol dan juga selembar roti yang masuk kedalam perutnya. Aldi benar benar ingin menyiksa hidupnya.


"Yang sabar ya Nyonya, pasti Tuan Muda Aldi merasa sangat kehilangan" Ujar Bi Tuti menenangkan majikannya itu.


"Tapi Bi, Aldi selama sebulan ini sudah menyiksa dirinya sendiri" Ucap Wilna sedih.


.


.


.


.


.


Katanya konflik terkahir?


Iya, tadinya gitu tapi banyak yang minta buat kasih hukuman ke Aldi dulu, jadi Aldi di hukum dulu lagian ini juga masuk bagian.


Ayo Vote sebanyak-banyaknya ❤️ semakin banyak vote banyak up❤️

__ADS_1


__ADS_2