
Ambulance beruntun tiba di rumah sakit, semua pasien korban kecelakaan pun di bawa menuju ke ruang UGD tak terkecuali Rere dan Revan. Lolita yang sedari tadi mengikuti mereka kini mengentikan langkahnya didepan ruang UGD ketika suster melarangnya untuk ikut masuk.
Lolita menunggu dengan harap harap cemas, fikirannya begitu sangat kacau dan tak butuh waktu lama Kevin dan Caca pun tiba.
"Lolita gimana keadaan Rere dan Revan?" Tanya Caca khawatir.
Lolita bukannya menjawab malah langsung menghambur kedalam pelukannya Caca. "Revan dan Rere, Ca" Ujarnya sembari menangis di pelukan Caca.
"Lo yang sabar ya Lol, semuanya pasti baik baik saja" Ujar Caca.
"Terus sekarang keadaan mereka bagaimana?" Tanya Kevin.
Lolita melepaskan pelukannya dari Caca, perempuan itu mengalihkan perhatiannya kearah Kevin "Gue nggak tahu Vin, dokter sedari tadi belum keluar juga" Ujar Lolita.
"Lolita, lo juga terluka mending di obati dulu" Ujar Caca sembari memegang pergelangan tangan Lolita. Terdapat luka cukup lebar dibagian sikunya.
Kevin yang melihat itu langsung mengambil alih pergelangan tangan Lolita. Diperhatikannya dengan seksama luka di siku Lolita.
"Pasti sakit kan?" Tanya Kevin.
"Gue nggak apa apa, yang terpenting sekarang adalah keadaan Revan dan Rere didalam" Ujar Lolita.
"Suster" Panggil Kevin kepada suster yang kebetulan lewat.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?" Ujar sister itu.
"Sus tolong obati luka pacar saya" Ujar Kevin.
Caca yang mendengar itu dibuat bingung, pasalnya ia tidak pernah tahu kalau Kevin dan Lolita itu sebenarnya pacaran.
"Pacar?" Tanya Caca.
"Nanti gue jelasin, sekarang yang terpenting adalah luka Lolita di obati terlebih dahulu" Ujar Kevin.
"Vin, gue nggak apa apa" Jawab Lolita.
"Tapi sayang, ini luka kamu cukup dalan kalau nggak segera di obati nanti infeksi" Ujar Kevin dengan lembut dan sedikit memaksa.
"Mari ikut saya" Ujar suster itu. Lolita pun tidak punya pilihan lain dan ia akhirnya mengikuti suster yang sudah menunggunya.
"Lo disini dulu biar gue temani Lolita" Ujar Kevin kepada Caca. Caca hanya menganggukkan kepalanya dan Kevin pun mengikuti Lolita.
"Jadi gimana ceritanya kok bisa sampai terjadi kecelakaan seperti itu?" Tanya Kevin setelah suster yang mengobati Lolita sudah pergi.
"Jadi....." Lolita menceritakan detail tetang kecelakaan yang terjadi beberapa menit yang lalu, tak terkecuali pengakuannya tetang perasaannya kepada Revan.
Kevin memahami keadaan Lolita, laki laki itu kemudian memindah posisinya menjadi duduk bersebelahan dengan Kevin, ia memangkup wajah Lolita menggunakan kedua tangannya kemudian menghapus air mata Lolita menggunakan ibu jarinya.
"Ya sudah, sekarang lo yang tenang ya, serahkan semua kepada dokter semoga Revan dan Rere baik baik saja" Ujar Kevin dengan lembut. Lolita pun mengangguk. Kevin menarik tubuh Lolita kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan hangat.
*******
Lolita dan Kevin kembali ke UGD, disana sudah ada orang tua Lolita, orang tua Rere dan juga orang tua Revan.
Nita yang melihat putrinya baik baik saja itu langsung berlari dan memeluknya. "Sayang kamu tidak apa apa kan?" Tanya Nita dengan cemas.
"Loli nggak apa apa kok ma" Jawab Lolita.
Tak berselang lama suster pun keluar, Lolita yang melihat itu langsung beringsut untuk mendekati suster itu. "Sus, bagaimana keadaan Revan?" Tanya Lolita cemas.
"Saudari Lolita saudara Kevin?" Ujar Suster itu.
"Saya sus" Jawab Lolita dan Kevin bersamaan.
"Pasien ingin bertemu dengan kalian berdua" Ujar suster kemudian memberikan jalan untuk Lolita dan Kevin.
Lolita dan Kevin sejenak saling berada pandang, sebelum akhirnya Lolita memilih untuk masuk terlebih dahulu dan diikuti dengan Kevin. Suster itu segera menutup pintunya kembali.
"Revan" Panggil Lolita kepada sahabatnya itu dengan lirih dan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Bro" panggil Kevin.
Revan melirik kearah Lolita dan Kevin, karena menggunakan cervical collar ia tidak bisa menoleh dengan leluasa.
"Syut, jangan menangis" Ujar Revan dengan suara yang lemah.
Lolita segera menghapus air matanya. Gadis itu mencoba menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Seperti itu lebih cantik" Ujar Revan.
"Van, gue yakin Lo pasti bisa sembuh lo harus kuat, perjuangkan cinta lo untuk Rere" Ujar Lolita.
Revan hanya menanggapi dengan senyuman. Ia kemudian melirik kearah Kevin. "Vin" Panggil Revan.
"Iya bro, kenapa?" Tanya Kevin.
"Gue boleh minta tolong?" Ujar Kevin.
"Lo mau minta tolong apa?" Tanya Kevin.
"Gue minta tolong lo jagain Lolita untuk gue, jangan pernah kecewakan dia, jangan pernah menyakitinya atau sampai membuatnya terluka dan menangis" Ujar Revan.
Kevin menoleh kearah Lolita, begitupun Lolita yang juga menoleh kearahnya.
"Lo ngomong apa sih, Lo harus kuat nanti kita jaga pasangan kita sama sama" Ujar Kevin.
Revan tersenyum "Gue nggak bisa, gue harap kalian bisa bahagia, dan buat Lo Lolita, jangan pernah lupakan gue" Ujar Revan.
"Lo ngomong apa sih, gue bakal tetap disini buat lo, gue ga bakal ninggalin lo, lo harus kuat oke" Ujar Lolita.
"Iya, Lo senyum dong" Ujar Revan.
Lolita pun menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, Revan yang melihat itu pun merasa senang.
"Ya udah, kalau gitu gue mau istirahat dulu" Ujar Revan.
"Iya, lebih baik lo istirahat aja jangan banyak bicara" Ujar Lolita. Perempuan itu membenarkan kain putih yang menutupi sebagian tubuh Revan.
"Pasien sudah meninggal" Ujar dokter itu sembari melepaskan alat bantu yang terpasang di tubuh Lolita.
Lolita yang mendengar itu langsung menangis histeris. "REVAN, TIDAK LO PASTI SEDANG TIDUR KAN? REVAN LO JANGAN BOHONGIN GUE" Tubuh Lolita ambruk memeluk tubuh Revan yang sudah membeku.
"REVAN" Lolita terus berteriak dan menangis, Lolita menggoyang tubuhnya Revan berharap laki laki itu terbangun dan membuka matanya, tapi apalah daya, nyawa sudah terlepas dari raga. Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang.
Kevin yang melihat itu pun merasa lemas, air matanya juga luruh, dirinya ingin menguatkan Lolita tetapi ia juga merasa terpukul atas kepergian temannya.
"REVAN BANGUN" Lolita terus mengguncang tubuh Revan.
Kevin yang melihat itu langsung memeluk tubuh Lolita. Ia mencoba menenangkan Lolita yang terus saja memberontak ingin menghambur kejasad Revan.
Suster yang sudah menyelesaikan mencabuti alat alat yang terpasang tubuh Revan itu langsung menyedekapkan tangan Revan kemudian menarik kain putih yang menutupi tubuh Revan itu hingga kewajahnya.
Brankas yang ditempati Revan itu di dorong oleh suster untuk di pindahkan ke kamar mayat. Diikuti dengan Lolita yang masih dalam pelukan Kevin.
Layaknya Lolita yang histeris, keluarga Revan pun tak kalah histeris, terutama orang ibu Revan. Wanita yang masih terlihat cantik itu langsung memeluk tubuh putranya yang terbujur kaku. Semua orang pun larut dalan duka tak terkecuali Caca, orang tua Rere maupun orang tua Lolita.
.
.
.
.
.
.
Kenapa Visualnya Yang Yang? kan dari dulu sebelum ganti judul juga Yang Yang kan.
__ADS_1
Visual itu sesuai bayangan kalian sendiri, jadi ga usah di komplain cukup ikuti aja alurnya.
Lolita
Aldi
Aldi dan Loli
Felisha
Adrian
Rere
Rere dan Adrian
Caca
Ethan
__ADS_1
Visual hanya bayangan penulis, kalian tidak harus mengikuti Visual yang diberikan oleh penulis, kalian bisa membayangkan sesuatu tokoh yang kalian suka, ataupun diri anda sendiri. Jan komplain soal Visual karena itu cuma bayangan.