Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Marah 2


__ADS_3

Keesokan harinya, Lolita bangun terlebih dahulu dari pada Aldi, ia menitipkan Aksa kepada ibu mertuanya.


"Bunda" Panggil Lolita pada Wilna yang kini sedang sibuk dengan urusan dapurnya.


"Eh, kamu tumben pagi pagi sekali sudah rapi?" Ucap Wilna yang melihat Lolita tidak seperti hari hari biasanya.


"Iya, Lolita ada sesuatu yang perlu diurus sama teman, Loli duluan ya bund, titip Aksa. Dan Loli minta tolong nanti siapkan Aldi sarapan" Ujar Lolita sambil menyerahkan Aksa kepada bundanya.


"Ya udah, kamu mau di antar supir?" Tanya Wilna sambil mengambil alih Aksa.


"Tidak usah bund, Loli pakai taxi aja. Maaf ya bund, Loli merepotkan bunda pagi pagi sekali" Ucap Lolita yang merasa tidak enak.


"Tidak apa apa, ya udah hati hati ya" Ucap Wilna sambil tersenyum. Lolita pun mengangguk lalu mencium tangan Wilna kemudian berjalan keluar dari rumah mewahnya.


.


.


***


.


.


Aldi meraba tempat tidur sebelahnya, namun ia tidak mendapati Lolita disebelahnya.


Aldi mengucek matanya, sambil mengumpulkan nyawanya. "Hufft dasar betina kalau marah susah dibujuknya" Gumam Aldi, ia kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tak perlu waktu lama, Aldi sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia segera memakai pakaiannya, mengambil tas dan juga ponselnya lalu turun.


"Pagi" Sapa Aldi pada keluarganya yang sudah berkumpul dimeja makan.


"Pagi" Jawab Ayah, Bunda dan juga adiknya.


Aldi mendudukkan dirinya kursi yang biasa ia tempati duduk. "Hmm Loli udah berangkat ya bund?" Tanya Aldi sambil menerima sarapan yang diambilkan oleh bundanya.


"Iya katanya ada urusan yang harus diselesaikan" Jawab Wilna kemudian memasukkan nasi kedalam mulutnya.


"Hmmm" Aldi menganggukkan kepalanya sambil menguyah makanannya. "Urusan ngambek" Gumam Aldi dalam hati.


Ia kemudian buru buru untuk menyelesaikan sarapannya. "Aldi sudah selesai, Aldi berangkat dulu ya bund" Ujar Aldi, ia meminum airnya, mencium kening Aksa dan menyalami kedua orang tuanya kemudian keluar dengan terburu buru.


****


Lolita sedang menikmati sarapannya di kantin kampusnya. Seakan tidak ada masalah apa apa, Lolita tetap menikmati sarapannya dengan semangat seperti biasanya.


Memang apa yang lebih membuat Lolita semangat dan seakan lupa segalanya kalau bukan makanan? Sepertinya tidak ada.


"Boleh gue duduk?" Tanya seseorang sambil membawa makanan dan juga minuman.


"Duduk aja" Ucap Lolita tanpa melirik orang yang sekarang sudah mendudukan dirinya dihadapannya.


"Lo ternyata ngga berubah ya, masih tetap sama, selalu semangat kalau soal makanan" Ucap laki laki itu sambil tersenyum dan memperhatikan Lolita yang sibuk mengunyah tanpa meliriknya sama sekali.


"Hmm, sebaiknya lo buruan makan makanan lo tanpa banyak bicara" Jawab Lolita sambil menguyah makanannya.


"Kebiasaan ngomong sambil nguyah" Ucap laki laki yang tak lain dan tak bukan ialah Kevin.


Tangan laki laki itu tiba tiba bergerak untuk membersihkan sudut bibir Lolita ketika ia melihat bumbu yang menempel di sudut bibirnya.


Lolita yang terkejut pun refleks mendongakkan wajahnya hingga kini mata keduanya saling bertemu dengan ibu jari Kevin yang masih menempel di sudut bibir Lolita.


"Ekhem, apa apaan sih lo, sok romantis" Ucap Lolita sambil menepis tangan Kevin.


"Maaf" Ucap Kevin lalu memakan makanannya.


Lolita tidak memperdulikan ucapan maaf dari Kevin, ia tetap melanjutkan makannya setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kelasnya.

__ADS_1


Sebenernya Lolita hanya mengikuti kelas elektif sekedar untuk menghindari Aldi agar ia terlihat benar benar marah kepadanya.


***


Sesampainya didalam kelas, Lolita memilih tempat duduk yang masih kosong. Namun tak berselang lama seseorang duduk disebelahnya. Orang itu tak lain dan tak bukan ialah Sisi.


"Eh Sisi" Sapa Lolita sambil menggeser tubuhnya untuk memberikan bangku kepada Sisi, dan Sisi pun mendudukkan dirinya disebelah Lolita.


"Tumben lo ikut kelas elektif, sejarah lagi" Ucap Sisi yang merasa heran.


"Iya sengaja. Kesel aja gue sama Aldi" Ujar Lolita.


"Kesel kenapa? Dia marahin lo karena lo belanja pakaian banyak?" Tanya Sisi.


"Bukan gitu, Lo tahu nggak. Aldi ternyata selama ini diam diam ngawasin gue pakai orang sewaannya, kan gue jadi kesel. Seakan akan dia itu ngga percaya sama gue" Seru Lolita dengan kesal.


"Ya mungkin saja Aldi ada alasan tertentu kenapa dia lakuin itu" Ujar Sisi.


"Alasan apaan, dia itu emang ngga percaya sama gue, makannya sampai mata matain gue" Bantah Lolita.


Tiba tiba pintu terbuka ditengah obrolan antara Sisi dan juga Lolita.


Semua orang pun menoleh kearah pintu yang terbuka, namun tidak terlihat dengan jelas siapa orang yang baru saja masuk itu karena cahaya yang ikut masuk hingga menerangi sebagian ruangan yang gelap itu.


"Wuaaa"


"Tampan sekali"


"Eh eh dia berjalan ke arah kita"


"Astaga dia sangat cool"


"Eh dia menatap kearah kita"


Seperti itulah para ciwi ciwi ketika berhasil melihat wajah orang yang baru saja masuk kedalam kelas.


Ya Aldi. Aldi melangkahkan kakinya sambil memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana bahannya.


Langkah kaki Aldi berhenti tepat di sebelah bangku yang diduduki oleh Sisi dan juga Lolita.


"Minggir bentar Si!" Titah Aldi, Sisi yang memang tidak suka debat pun langsung berdiri membiarkan Aldi mendudukkan dirinya di bangkunya.


Lolita menggeser tubuhnya ketika Aldi mendudukkan dirinya disebelahnya, tetapi Aldi mengikutinya sehingga Sisi bisa mendudukan dirinya.


Aldi menoleh kearah Lolita. "Kenapa berangkat terlebih dahulu?" Tanya Aldi.


"Ngga papa" Jawab Lolita ketus sambil memalingkan mukanya.


"Masih marah?" Tanya Aldi lagi.


"Ga" Jawab Lolita dengan sangat singkat.


"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi dan akan menyuruh mereka berhenti untuk mengikuti mu" Ujar Aldi.


"Hmm" Jawab Lolita.


"Huftt, dasar betina kalau sudah ngambek pelit bicara, tapi kalau lagi seneng nyerocos sampai merusak gendang telinga" Gumam Aldi dengan suara pelan. Namun Lolita masih bisa mendengarnya dengan samar samar.


"Ngomong apa kamu?" Tanya Lolita sambil memelototkan matanya menatap Aldi dan melipat kedua temannya didepan perut.


"Ah ngga ngga istriku sayang" Ucap Aldi sambil tersenyum, mendengar itu Lolita rasanya ingin terseyum namun ia seberusaha mungkin menahannya.


Lolita melihat kearah sekitar, banyak gadis gadis yang memperhatikannya dan Aldi. "Sana pergi, tuh ciwi ciwi mu pada ngantri" Usir Lolita.


"Bener nih? Aku disuruh pergi?" Tanya Aldi sambil tersenyum.


"Hmm, pergi sana yang jauh, kalau perlu ngga usah balik" Ucap Lolita kesal.

__ADS_1


"Oke, aku pergi jauh. Jangan rindu" Ucap Aldi sambil tersenyum, ia kemudian beranjak berdiri.


Sisi yang melihat itu pun ikut berdiri untuk memberikan Aldi jangan keluar. Dan setelah Aldi pergi, Sisi kembali mendudukan dirinya disebelah Lolita.


"Ish, nyebelin" Kesal Lolita.


"Ekhem, beneran ngga nyesel kalau ditinggal pergi sama Aldi beneran?" goda Sisi.


"Iii apaan sih, nggak" Jawab Lolita sambil memasang muka cemberut.


"Bilangnya udah sana pergi ngga usah kembali, tapi di hati bilang jangan pergi, ayolah bujuk aku supaya tidak merajuk lagi suamiku hahahaha" Goda Sisi sambil tertawa.


"Tau ah males" Ucap Lolita lalu beranjak berdiri lalu keluar dari kelas yang belum ada dosennya itu.


"Yee Saroh, keluar masuk seenak jidatnya kek kampus punya kakeknya" Cibir Sisi.


.


.


***


.


.


Aldi membuka pintu mobilnya hendak masuk kedalam mobil, tapi suara seseorang yang memanggilnya itu membuat ia mengurungkan niatnya dan menutup kembali pintu mobilnya.


"Kenapa?" Tanya Aldi dingin.


"Hmm, ini papa nitipin berkas ini buat Aldi" Ucap Rere sambil menyerahkan sebuah map.


"Hmm" Aldi mengambil map itu, ia hendak masuk kembali kedalam mobil namun suara Rere kembali membuat ia harus mengurungkan niatnya.


"Aldi hari ini sibuk nggak? Kalau ngga sibuk jalan yuk" Ajak Rere.


"Gue sibuk" Jawab Aldi masih dengan ekspresi dan intonasi yang sama.


"Hmm sebentar saja" Paksa Rere sambil bergelayut di lengan Aldi.


Aldi melirik kearah tangan Rere, ia kemudian melepaskan tangan gadis itu. "Maaf nona Kusuma tapi saya sedang ada keperluan" Ucap Aldi lalu masuk kedalam mobilnya.


Ia segera menghidupkan mesin mobilnya, menancap gasnya dan meninggalkan Rere yang masih menatapnya.


Mendapat penolakan yang kesekian kalinya itu membuat Rere semakin kesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2