Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Merasa Bersalah


__ADS_3

Ting


Lampu operasi pun mati mendadak bahwa operasi telah selesai. Semua orang harap harap cemas menunggu kabar dari dokter. Dan tak lama pintu pun terbuka dan menampilkan seorang dokter yang terlihat masih lengkap menggunakan perlengkapan baju operasinya kecuali sarung tangannya yang sudah terlepas.


"Bagaimana keadaan anak dan menantu saya dok? Apakah oprasinya berjalan berjalan dengan lancar?" Tanya Putra.


Dokter itu terlebih dahulu membuka masker yang dikenakannya kemudian berkata "Alhamdulillah, oprasinya berjalan dengan lancar. Tapi" Dokter itu menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa dok?" Seru Nita.


"Kemungkinan keduannya akan mengalami koma pasca operasi" Lanjutnya.


Tubuh yang tadinya tegang kini seketika melemas. Merasa tenang namun juga merasa khawatir.


"Kira kira berapa lama dok mereka berdua akan sadar?" Tanya Satya.


"Untuk itu saya sendiri belum bisa memprediksi" Jawab sang dokter.


Brankar yang di tempati oleh Aldi dan Lolita terlihat didorong keluar dari dalam ruang operasi, keduannya terlihat masih sama sama tidak sadarkan diri.


"Dok, saya ingin anak dan menantu saya di taruh di ruangan yang sama" Pinta Putra.


"Baik Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak dan menantu anda" Sambung dokter.


Semuanya orang menantap sedih kearah Lolita dan Aldi yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Keduanya dipindahkan ke ruang ICU untuk memulihkan kondisi pasien setelah menjalani operasi.


********


"Dok, apakah pasien sudah boleh di jenguk?" Ujar Nita.


"Boleh Nyonya, tapi harap memenuhi protokol dan maximal hanya dua orang yang boleh masuk" Terang Dokter.


Nita pun mengerti. Ia dan Wilna terlebih dahulu untuk menjenguk keadaan Aldi dan Lolita setelah sebelumnya mencuci tangannya dan memakai pakaian khusus yang di gunakan untuk menjenguk pasien ICU.


Wilna dan Nita menatap sendu anak dan menantunya yang kini sedang berbaring bersebelahan dengan berbagai peralatan medis sebagai penunjang hidup.


Nita dan Wilna sama sama mendudukan dirinya di kursi yang sudah disediakan.


Dinggengamanya tangan Lolita. Air mata Nita pun seketika Lolos dari pelupuk matanya. "Sayang, cepat sadar ya kamu berhak bahagia, selama ini kamu sudah terlalu banyak menderita hanya demi melihat orang yang kamu sayangi bahagia" Nita menyeka air matanya.


"Kamu harus hidup, demi Aksa, demi Aldi dan kamu juga harus bahagia. Jangan sia siakan pengorbanan Aldi yang rela mempertaruhkan nyawanya buat kamu" Lanjut Nita.


Hal yang sama pun dilakukan oleh Wilna kepada putranya. Air matanya pun ikut tersapu disana melihat keadaan putranya yang terbaring tak berdaya.


"Aldi, maafkan mama sayang" Ujarnya.


"Maafkan mama yang mungkin tidak bisa selalu ada untuk kamu sehingga mungkin kamu selama ini merasa kesepian sampai sampai kamu rela mengorbankan nyawa kamu demi orang yang sangat kamu cintai" Air mata Wilna semakin mengalir deras.


"Mama percaya bahwa Lolita adalah bahagia kamu, Lolita adalah raga kamu, dan Lolita adalah nyawa kamu, Lolita yang selalu ada untuk kamu disaat suka maupun duka, disaat susah maupun senang" Nita menjeda ucapannya. Suaranya kian memberat.


"Jadi mama mohon, cepat sadar sayang, berjungalah. Jangan sampai kamu tidak bisa merasakan buah dari hasil perjuangan kamu, Aksa dan Lolita menunggu kesadaran kamu sayang" Imbuh Wilna.

__ADS_1


Nita yang mendengar itu mengalihkan perhatiannya kearah menantu dan besannya. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Wilna. Wilna yang menyadari besannya berada disebelahnya itu pun segera menghapus air matanya. Ia kemudian beranjak berdiri dan beradu pandang dengan Nita.


Kedua wanita paruh baya itu kemudian saling memeluk satu sama lain dan mencoba untuk menguatkan. "Sudah, kita berdoa saja yang terbaik untuk anak anak kita, yakin kalau mereka pasti bisa melewati semuanya" Ujar Nita. Wilna pun menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian saling melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya yang tadi sempat keluar.


"Ya sudah, ayo kita keluar terlebih dahulu!" Ajak Nita.


******


"Bagiamana keadaan Lolita Bang?" Seru Andra kepada Satya. Laki laki itu terlihat baru saja tiba bersama dengan teman temannya. Bersamaan dengan Nita dan Wilna yang keluar dari dalam ruang ICU.


"Lolita didalam, ia mengalami koma pasca operasi" Jawab Satya.


"Terus Aldi dimana?" Seru Yolanda ketika tidak melihat keberadaan suami dari sahabatnya.


"Aldi yang mendonorkan ginjalnya buat Lolita, jadi mereka berdua sekarang sama sama koma" Terang Satya.


"Astaga" Seru Andra.


"Semoga mereka berdua baik baik saja, karena Lolita pasti akan sangat terluka jika Aldi sampai kenapa napa" Ujar Andra.


"Maafin gue Lolita nggak bisa nepatin janji lo" Gumam Andra dalan hati.


Flashback On


Andra terlihat baru saja menebus obat, laki laki itu baru saja mengajarkan ibunya yang sedang sakit.


"Terimakasih Sus" Ujar Andra. Ia kemudian membalikkan badannya hendak kembali ke ruang tunggu untuk menyusul mamanya. Tapi mata Lolita tidak sengaja mengkap sosok yang sangat familiar.


Ia kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Lolita, Lolita yang tidak sadar akan kedatangan Andra itu membuat laki laki itu menjadi tersenyum jail.


"Woy" Seru Andra.


Tubuh Lolita seketika berjingkat "Astaga Andra, lo ngagetin gue aja" Seru Lolita kesal.


"Lagian lo jalan ngelamun aja dari tadi, nabrak baru tahu rasa lo" Ujar Andra sembari mengalungkan tangannya di leher Lolita.


"Bodo" Seru Lolita.


Mata Andra tidak sengaja menangkap sebuah surat yang sedari tadi di pegang oleh Lolita. Ia pun segera menurunkan tangannya dari leher Lolita dan menarik kertas yang sedaritadi digenggam oleh Lolita hingga membuat Lolita begitu terkesiap.


"Andra, balikin nggak" Seru Lolita sembari mencoba merebut kertas itu dari Andra.


"Apa sih ini, kayaknya penting banget" Ujar Andra. Dengan sigap ia menjauhkan kertas itu dari Lolita dan segera membukanya.


"Andra balikin" Seru Lolita lagi.


Tapi Andra malah mengangkat kertas tersebut ke atas hingga membuat Lolita yang tidak setinggi Andra itu tidak dapat menjangkaunya.


Andra segera membuka kertas tersebut dan membacanya, mengabaikan Lolita yang meminta Andra untuk mengembalikan kertas itu kepadanya.


Setelah membaca surat yang ternyata berisi hasil pemeriksaan ginjal Lolita itu, Anda menurunkan tangannya. Ia kemudian menoleh kearah Lolita dan berkata "Lolita Lo?"

__ADS_1


"Iya" Lolita segera menyahut kertas dari tangan Andra dan menyimpannya kedalam tasnya.


Andra terdiam, ia sungguh tidak menyangka jika sahabatnya atau lebih tepatnya sosok yang dulu pernah mengisi hatinya itu menderita sakit gagal ginjal.


"Andra, apakah Lo bisa berjanji sesuatu sama gue?" Ujar Lolita setelah menyimpan hasil laporan kesehatannya.


"Apa?" Tanya Andra.


"Cukup kamu yang tahu kalau aku sedang sakit, jangan memberitahukan kepada siapa siapa terutama Aldi" Pinta Lolita.


"Nggak, gue nggak bisa janji. Aldi adalah suami lo dan dia berhak tahu semuanya" Ujar Andra tegas.


"Andra please" Seru Lolita.


"Lolita, Lo yang please. Disaat saat yang seperti ini Lo itu butuh dukungan penuh dari keluarga lo, dan terutama Aldi suami Lo" Tegas Andra.


"Gue nggak mau Ndra kalau harus jadi beban buat Aldi" Seru Lolita.


"Lolita, lo dengerin gue baik baik" Andra menangkup kedua pipi Lolita kemudian melanjutkan kalimatnya "Nggak ada seorang suami yang merasa terbebani oleh istri. Apapun itu keadaanya" Ujarnya lembut sembari menghapus air mata Lolita yang meleleh membasahi pipinya.


"Andra, gue hanya nggak mau kalau Aldi harus donorin ginjalnya buat gue, lo tahu kan Aldi itu mengidap hemofilia, dan itu akan membahayakan nyawa dia, gue nggak siap jika harus kehilangan Aldi" Suara Lolita terdengar sangat berat.


"Jadi please, tolong jangan beritahukan keadaan gue kepada siapapun termasuk Aldi" Lolita menangkup kedua tangannya didepan Andra.


Melihat itu Andra pun merasa tak tega, ia bisa melihat cinta dan kekhawatiran Lolita yang begitu besar kepada Aldi suaminya.


"Baiklah, gue akan merahasiakan ini semua dari semuanya" Ujar Andra.


"Terimakasih Ndra" Ujar Lolita.


Flashback Off


Andra memejamkan matanya, ia sekarang benar benar merasa bersalah. Tapi apa boleh buat? Dirinya juga tidak bisa melihat Lolita menderita dan berjuang sendirian. Ia juga tidak tega melihat Aldi yang seperti orang gila.


"Maafin gue Lolita, gue benar benar minta maaf, gue nggak berniat untuk membuat Lo kehilangan Aldi jika sampai dia kenapa napa" Gumamnya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Ranknya keluar dari 10 besar, jadi Jan lupa tinggalkan jejaknya berupa like dan vote sebanyak banyaknya. Terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2