Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Aku tidak apa apa


__ADS_3

Mobil Aldi berhenti tepat di sebrang jalan toko kue milik Nara.


"Nanti mau dijemput jam berapa?" Tanya Aldi sebelum Lolita turun dari dalam mobilnya.


"Ngga usah, nanti biar aku pulang naik taxi aja" Ujar Lolita.


"Ya udah deh kalau begitu" Putus Aldi akhirnya.


"Ya udah, kalau begitu aku turun dulu ya" Ucap Lolita sambil mencoba melepas Seltbetnya. Namun seltbelt itu tak kunjung terlepas.


"Kok ngga bisa lepas sih" Gumam Lolita, Aldi yang sedari tadi memperhatikan pun akhirnya membantu Lolita untuk melepaskan seltbeltnya.


Bukannya memegang seltbeltnya Aldi malah memegang tangan Lolita, hingga membuat Lolita dan Aldi mengehentikan sejenak aktivitasnya.


Lolita dan Aldi saling menatap tangannya yang kini tergenggam dan menggenggam.


Lolita dan Aldi sama sama mengangkat wajahnya hingga kini mata keduanya saling bertemu.


Lolita menatap Aldi dalam begitu juga dengan Aldi, hingga beberapa detik kemudian.


"Eh, apaan sih kayak ABG baru jatuh cinta aja pakai tatap tatapan mata segala" Ucap Lolita sambil mengalihkan pandangannya dan melepaskan genggaman tangan Aldi.


"Emmm salting kan" goda Aldi sambil menarik hidung Lolita yang mancung kedalam.


"Ih apaan sih, siapa yang salting coba" Elak Lolita sambil menipis tangan Aldi dari hidungnya.


"Udah deh, ngaku aja, udah menjadi pasangan lama juga masih malu malu" Ujar Aldi.


"Apaan sih enggak. Enggak ada salting saltingan. Ingat, status sudah jadi orang tua juga" Seru Lolita.


"Iya deh iya mama muda" Jawab Aldi sambil melepaskan seltbelt yang dikenakan Lolita.


"Tuh udah terlepas" Seru Aldi ketika ia berhasil melepaskan seltbeltnya yang tadinya sempat macet.


"Hmm ya udah gue turun dulu kalau begitu" ucap Lolita sambil membuka pintu mobil.


"Ya udah!" Ucap Aldi. "Ya udah bye" Lolita kemudian keluar dari dalam mobil Aldi.


"Ya udah kalau gitu aku langsung ke kantor" Pamit Aldi.


"Iya hati hati di jalan" Ucap Lolita kemudian menutup pintu mobil.


Aldi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Lolita yang masih berdiri sambil menatap kepergiannya di sebrang jalan toko kue milik Nara.


Setelah mobil Aldi tidak terjangkau lagi oleh penglihatan Lolita, wanita itu kemudian menyebrangi jalan yang sekarang sepi.


***


"Hallo mbak Indah" Sapa Lolita pada karyawan di toko kue milik Nara itu.


Lolita memang sudah mengenal Indah, begitu juga sebaliknya.


"Eh ada Lolita, cari mbak Nara ya?" Tanya Indah ramah.

__ADS_1


"Iya, kak Naranya ada?" Tanya Lolita.


"Mbak Nara lagi di cafe, kamu langsung susul aja deh, tadi ada tamu cari dia soalnya" Ujar Indah.


"Oo ya udah, Loli ke Kak Nara dulu ya Indah, bye" Ucap Lolita sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju mini cafe yang masih menyatu dengan toko kue milik Nara.


Lolita mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk yang kosong sambil menunggu Nara selesai mengobrol dengan tamunya. Sampai akhirnya pandangan gadis itu jatuh pada sofa yang berada di pojok yang kini sedang diduduki oleh Nara dan juga seorang wanita paruh baya.


"Kak Nara kenapa nangis ya" Gumam Lolita ketika melihat ternyata calon kakak iparnya itu sedang tidak baik baik saja.


"Gue susul aja deh" Putus Lolita akhirnya. Bukannya kepo atau apa, Lolita hanya takut jikalau calon kakak iparnya itu kenapa kenapa.


"Tapi ma Nara tidak bisa memberikan jantung Nara untuk Maura" Ucap Nara sambil terisak.


Lolita yang mendengar itupun begitu terkejut. "Jantung" Gumam Lolita pelan, bahkan sangat pelan sampai dirinya sendiri pun tak mendengar.


"Heh, kamu itu ngga tahu diri banget sih jadi anak, masih beruntung saya mau melahirkan kamu, dan kamu malah menjadi pembunuh. Sekarang, Saya ingin kamu mendonorkan jantung kamu untuk Maura, tidak ada tapi tapian" Ucap Wanita paruh baya yang duduk didepan Nara.


"Tapi kan ma-.." Nara menggantungkan ucapannya, rasanya ia tidak sanggup lagi untuk meneruskan kalimatnya.


"Tidak ada tapi tapian saya bilang. Kalau kamu masih menganggap saya sebagai mama kamu, maka kamu harus mendonorkan jantung kamu untuk Maura, apa kamu mau kakak kamu meninggal dan mama kehilangan satu satunya orang yang mama punya?" Seru Wanita paruh baya yang mengaku sebagai mama Nara itu.


Mendengar itu dada Nara semakin sesak, apa tadi yang dikatakan oleh mamanya, kehilangan satu satunya orang yang ia punya?. Lantas Nara selama ini dianggap sebagai apa?. Setelah dilahirkan, dicap sebagai pembunuh, ditelantarkan dan dibesarkan di pantai asuhan, kini mamanya datang dan memintanya untuk memberikan nyawanya?.


"Anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih kamu kepada saya karena saya sudah mau melahirkan kamu kedunia ini dan mempertaruhkan nyawa saya. Anggap saja itu sebagai bayaran karena kamu sudah merenggut nyawa suami saya" Imbuh wanita paruh baya itu.


Ctarrrrr


"Ba--baiklah..." Ucap Nara dengan bibir yang gemetar.


"Kak Nara jangan pernah melakukan itu" Ucap Lolita dengan Lantang. Hingga berhasil menarik semua perhatian para pengunjung cafe itu untuk menatap kearahnya.


"Lolita" Ucap Nara hanya dengan gerakan bibir. Ia begitu terkejut saat melihat Lolita sudah berdiri disebelahnya, hingga Nara pun refleks berdiri diikuti dengan mamanya.


Lolita melangkahkan kakinya untuk mendekat ke meja Nara dan juga wanita yang mengaku sebagai mamanya.


"Tapi Lolita" Ucap Nara dengan tersedu sedu.


"Kak Nara dengarkan Loli, jangan pernah kakak melakukan hal bodoh itu" Ucap Lolita sambil menatap Nara dalam.


"Hey, bocah siapa kamu berani melarang dia itu mendonorkan jantungnya untuk kakaknya" Ucap wanita paruh baya itu sambil melirik kearah Lolita.


"Siapapun saya itu tidak penting. Tapi siapakah anda berani meminta dia untuk memberikan nyawanya" Jawab Lolita dengan lantang sambil menunjuk kearah Nara.


"Heh, kamu tidak usah ikut campur urusan saya dengan anak pembawa sial ini" Balas wanita paruh baya itu.


"Apapun yang menyangkut soal Kak Nara, makan saya akan ikut campur. Seharusnya anda malu, menjadi seorang ibu bukannya merawat anaknya malah membuang anaknya ke pantai asuhan, dan dengan mudahnya anda kembali lalu meminta nyawanya sebagai bayaran atas nyawa yang sudah anda korbankan saat anda melahirkannya kedunia"


Lolita menjeda ucapannya sekedar untuk mengambil nafas.


"Dimana hati nurani anda dan jiwa keibuan Anda?. Anda tidak tahu kan seperti apa pertumbuhan kak Nara setelah Anda buang ia di pantai asuhan, Anda tidak tahu kan seberapa menderitanya kak Nara atas semua tuduhan anda. Dan setelah ia mendapatkan kebahagiaannya, anda malah mau merenggutnya. Ibu macam apa anda" Lolita seakan sudah kehilangan sopan santunnya saking geram dan juga emosinya.


Semua orang yang menyaksikan itupun mulai berbisik bisik membicarakan mama Nara.

__ADS_1


Mama Nara yang melihat itupun merasa risi. "Heh kamu berani sekali mempermalukan saya ditempat umum" Ucap mama Nara pelan namun penuh penekanan.


"Oh, Anda ternyata bisa merasakan malu juga, saya kira anda tidak punya malu" Jawab Lolita dengan santainya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Loli, sudah biarkan kakak mengorbankan nyawa kakak" Ucap Nara menengahi.


"Tidak kak, Kak Nara tidak perlu melakukan itu semua" Bantah Lolita dengan nada bicara yang mulai menurun sambil menurunkan tangannya.


"Apa kak Nara tidak sayang dengan bang Satya? Bang Satya sangat mencintai kak Nara, apa kak Nara tega melihatnya sedih saat kak Nara meninggalkannya? bang Satya pasti akan sangat merasa terluka, apalagi sebentar lagi kalian akan menikah" Imbuh Lolita.


"Tapi Lol, Buat apa kakak hidup jika tidak ada yang menginkan kakak ada disini? Kakak tidak punya siapa siapa disini" Ucap Nara, air mata gadis itu semakin mengalir deras.


"Kakak punya bang Satya yang sangat mencintai kakak, kakak punya bunda Fatima yang sayang sama kakak, kakak punya adik adik panti, kakak punya Loli, mama, papa, ayah, bunda, Aldi. Kita semua sayang sama Kak Nara" Jelas Lolita. Nara yang mendengar itu pun diam. Ia merasa sangat bersalah ketika berfikir semua orang tidak ada yang menyayanginya hanya karena ucapan mamanya.


"Dan untuk masalah jantung putri Anda, saya akan membatu anda mencarikan pendonor yang cocok. Jadi anda tidak perlu khawatir" Ucap Lolita pada mama Nara.


"Baiklah kalau begitu, saya pegang ucapan kamu" Ucap mama Nara lalu pergi dari mini cafe milik Nara.


"Sudah kak Nara tidak usah memikirkan ucapan tadi" Ucap Lolita sambil memegang bahu Nara dan membantunya untuk duduk.


Indah yang baru saja masuk kedalam mini cafe itu pun langsung menghampiri Nara dan Lolita. "Mbak tidak apa apa?" Tanya Indah.


"Aku tidak apa apa Indah" Jawab Nara.


.


.


.


.


.


.


.


Ini sudah direvisi ulang kok sebelum dikirim, jadi kalau ada typo mohon dimaklumi dan diingatkan dengan baik baik di kolom komentar. maklum author masih remaja masa masa pubertas jadi mudah tersinggung dan juga salah paham.


Buat kalian semua yang sudah baca MCW2 ini dari episode 1-28 ini kalau menemukan banyak typo mohon untuk di tegur dengan baik baik di kolom komentar, jangan sungkan.


Tidak ada yang namanya menulis lalu sengaja untuk dibuat typo itu tidak ada, maunya juga mulus tanpa typo, tapi apalah jempol suka kepencet yang lain. Saya juga manusia biasa, jadi bisa juga melakukan kesalahan. Mungkin saat revisi ada yang terlewat, atau gimana gitu. Jadi saya tidak pernah sengaja menulis dengan salah ketik itu tidak.


Jangan beda bedakan saya juga dengan author lain, karena memang pada dasarnya sudah berbeda.


mungkin mereka bisa menulis tanpa typo sama sekali, tapi saya tidak. terkadang juga masih ada typo meskipun sudah dicek ulang.


jadi buat kalian semua yang merasa karya saya ini banyak typo bertebaran dari eps 1-28 mohon di maafkan dan diingatkan.


Maaf kalau saya tengah malam seperti ini ceramah hehehe


Jangan lupa jejaknya❤️

__ADS_1


__ADS_2