
"Terimakasih pak" Ucap Lolita kemudian turun dari taxi yang ditumpanginya.
Kaki jenjang wanita itu mengajaknya melangkah untuk masuk ketempat dimana suaminya sedang mencari nafkah untuk keluarga kecilnya.
"Selamat sore mbak Loli" Sapa beberapa dari karyawan dan juga karyawati yang mengenal Lolita.
Lolita hanya membalas sapaan itu dengan senyum anggunya dan terus saja melanjutkan langkahnya untuk menuju keruangan Aldi.
Hingga kini langkah Lolita berhenti tepat didepan lift. Beruntungnya Lolita ketika ia sampai di depan lift, pintu lift terbuka dan menampilkan beberapa karyawan yang baru saja keluar. Hingga membuat Lolita bisa langsung masuk kedalam lift itu tanpa harus menunggu lama.
Lift itu pun membawa Lolita ketempat dimana ruangan Aldi berada.
Ting
Suara pintu lift terbuka, Lolita segera keluar dan melanjutkan langkahnya. Hingga kini langkah wanita itu terhenti tepat didepan meja sekretaris Aldi.
"Selamat sore mbak Viona" Sapa Lolita pada sekretaris suaminya itu.
Sekretaris Viona yang tadinya fokus dengan komputernya Sampai tidak melihat kedatangan kekasih dari atasannya itu segera mengalihkan atensinya untuk menatap Lolita.
"Selamat sore mbak Loli" Jawab Sekertaris Viona ramah sambil berdiri.
"Apakah Aldi ada?" tanya Lolita pada sekretaris Viona sebelum ia masuk kedalam ruang kerja suaminya itu.
Bukannya Lolita tidak berani masuk tanpa ijin, tapi ia menghormati Aldi yang sekarang sedang bekerja, ya kalau ruangan Aldi sedang sepi. Kalau sedang ada tamu? Kan sungguh tidak sopan.
"Mas Aldi sedang ada tamu, mbak Loli bisa menunggu sebentar" Jawab sekretaris Viona sambil menunjukan sofa di dekat meja kerjanya dengan sopan kepada Lolita.
Pandangan Lolita pun mengikuti kemana arah tangan sekretaris Viona memintanya untuk duduk.
Tepat bersamaan dengan tamu Aldi yang baru saja keluar dari ruangan Aldi.
"Eh tamunya sudah keluar, mbak Loli bisa langsung masuk" Ucap Sekretaris Viona ketikan melihat tamu Aldi sudah keluar.
Lolita pun memutar lehernya 180° untuk melihat siapa tamu yang menemui suaminya itu.
Terlihat seorang laki laki paruh baya dan seorang perempuan yang kini sedang berjalan beriringan.
"Dia, seperti tidak asing" Gumam Lolita sambil menatap punggung perempuan yang baru saja bertamu di kantor suaminya itu.
"Kenapa mbak?" Tanya Sekretaris Viona.
Suara sekretaris Viona itu berhasil mengalihkan atensi Lolita kembali untuk menatap kearah sekretaris Viona bersamaan dengan laki laki paruh baya dan seorang wanita yang kini berbelok menuju kearah lift.
"Ah tidak apa apa mbak, kalau begitu saya masuk duluan" ucap Lolita kemudian meninggalkan meja kerja sekretaris Viona dan masuk kedalam ruangan Aldi.
.
.
***
.
.
"Sayang" panggil Lolita pada Aldi yang kini terlihat sedang fokus dengan laptopnya tak lupa jari jarinya dengan lihai menari di atas keyboard.
"Eh sayang" saut Aldi sambil mengalihkan atensinya menatap kearah Lolita.
Aldi kemudian melepas kaca mata yang melingakar diantara kedua matanya dan meletakkannya diatas meja. Ia kemudian beranjak berdiri untuk menyambut istri tercintanya itu dengan pelukan hangatnya.
Lolita pun langsung memeluk tubuh suaminya itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Aldi. Sedangakan Aldi menciumi puncak kepala Lolita yang sudah seperti candu baginya.
"Apa yang membuatmu kesini?" Tanya Aldi sambil melepaskan pelukannya.
"Kenapa? Ngga boleh jika seorang istri datang ke kantor suaminya?" Tanya Lolita sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Aldi.
"Tentu saja boleh" Balas Aldi sambil merapikan rambut Lolita.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" Ucap Lolita dengan wajah yang sangat serius.
Aldi yang melihat itu pun mengernyitkan dahinya bingung. Ia kemudian melepaskan pegangannya pada pinggang Lolita.
"Mau ngomong apa?" Tanya Aldi sambil berjalan meninggalkan Lolita untuk mengambil minum.
Pandangan Lolita mengikuti arah gerak Aldi. Sesaat ia menatap Aldi yang kini sedang membuka kulkas dan mengambil sebotol orange jus.
Aldi kembali menutup pintu kulkas tersebut. Setelah itu ia menutup kembali pintu kulkas dan berjalan menuju ke sofa yang ada di ruangannya itu sambil membuka penutup botol minumannya kemudian meneguknya.
Lolita pun mengikuti Aldi yang kini sudah mendudukkan dirinya di sofa, ia pun ikut mendudukkan dirinya disebelah Aldi.
"Mau ngomong apa?" ucap Aldi mengulangi pertanyaannya.
Lolita masih terdiam, ia sedang menyusun kalimat yang pas untuk dikatakan kepada Aldi.
Mencari pendonor jantung itu bukan perkara yang mudah, ah rasanya Lolita sangat menyesali perkataannya tadi.
Aldi yang melihat Lolita tak kunjung membuka suara itu kemudian meletakkan botol minuman yang ia pegang diatas meja.
Ia kemudian merubah posisi duduknya menjadi menatap Lolita, tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Lolita yang sedang di pangku sambil memainkan jari jarinya.
"Ngomong saja, tidak perlu gugup seperti itu" Ucap Aldi kemudian. Lolita yang tadinya menunduk kini mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Aldi.
"Hmm... Tadi kan aku ketempat kak Nara" Ucap Lolita menggantung.
"Aku tahu itu, terus kenapa?" Tanya Aldi yang semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
"Tadi aku ketemu sama mamanya Kak Nara, dan...." Lolita kemudian menceritakan semua yang terjadi tadi ditempat Nara. Dan Aldi pun mendengarkan dengan seksama tanpa menjedanya sedikit pun.
"Kamu tidak marah kan?" Tanya Lolita setelah menyelesaikan ceritanya. Ia membalikkan tangan Aldi hingga kini menjadi ia yang menggenggam tangan Aldi.
Lolita yang merasa ditatap Aldi dengan tatapan tajamnya itu merasa takut. Ia berfikir bahwa Aldi sekarang sedang marah terhadapnya.
"Tega sekali ibunya kak Nara melakukan itu pada anak kandungnya sendiri" Ucap Aldi kemudian.
"Kamu tidak marah kan?" Ucap Lolita mengulangi pernyataan yang sama.
"Tidak, kenapa aku harus marah" Ucap Aldi sambil tersenyum lembut.
Melihat itu, Lolita akhirnya bernafas dengan lega. Kecemasan dihatinya rasanya sudah hilang dengan sendirinya.
"Tapi bagaimana kita bisa mendapatkan pendonor yang tepat untuk kakaknya kak Nara?" Tanya Lolita.
"Kamu tenang aja, nanti aku akan bicarakan dengan ayah agar membantu mencarikan pendonor jantung untuk kakaknya kak Nara" Ucap Aldi lembut.
Mendengar itu pun Lolita merasa sangat senang. "Terimakasih" Ucap Lolita sambil tersenyum.
"Ya udah, mending sekarang kita pulang. Mama pasti sudah menunggu kita" Ucap Aldi sambil beranjak berdiri.
"Apa tidak apa apa kalau kita pulang sekarang?" Tanya Lolita yang juga ikut berdiri.
"Tentu saja, memang siapa yang akan melarangku untuk pulang" Jawab Aldi sambil berjalan menuju kemeja kerjanya, ia menutup laptopnya, mengambil ponsel kemudian menggandeng Lolita dan mengajaknya keluar dari ruang kerjanya itu.
"Nanti aku mau ajak kamu kesuatu tempat dulu" Ucap Aldi sebelum akhirnya ia masuk kedalam Lift.
"Kemana?" Tanya Lolita
"Nanti juga tahu" Jawab Aldi sambil memencet angka 1. Dan lift pun meluncur membawa pasutri itu hingga kelantai dasar.
Ting
Pintu lift pun terbuka, Aldi dan Lolita pun berjalan bergandengan keluar dari lift dan berjalan menuju keparkiran.
"Penasaran nih, kasih bocoran dong mau kemana" Ucap Lolita ketikan kakinya sudah melangkah keluar dari lobi.
"Ngga ada bocoran" Jawab Aldi sambil tersenyum menatap Lolita.
"Ngeselin" Ucap Lolita sambil mencubit pinggang Aldi.
"Aw" Ringis Aldi sambil memegang pinggangnya.
Demi ayam goreng spesial uncle Muthong. Cubitan Lolita sakitnya bukan main, bener bener sakit.
"Makan tuh cubitan maut" Ucap Lolita dengan ketus.
"Wah, KDRT nih" Ucap Aldi dengan wajah yang sok tersiksa.
Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang dibelakang Aldi yang sedang memperhatikannya.
Namun orang itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah Lolita karena terhalang oleh tubuh Aldi.
"Seperti tidak asing dengan muka wanita itu ya" gumam gadis itu masih memperhatikan Lolita yang kini sudah masuk kedalam mobil.
Aldi pun menutup pintu mobil Lolita kemudian berbalik dan berjalan menuju kursi kemudi.
"Aldi" Gumam gadis itu lagi.
"Apa jangan jangan itu tadi kekasih Aldi" monolog gadis itu dalam hati.
"Rere sayang, kamu lihat apa? Ayo buruan masuk!" Ujar papa Rere.
Ya, gadis yang memperhatikan Lolita dan Aldi Adalah Rere dan Papanya. Dia baru saja selesai ikut meeting bersama dengan papanya dan juga Aldi.
"Ah iya pa, ini Rere masuk" Ucap Rere. Ia kemudian menoleh ketempat Aldi mempakirkan mobilnya sebelum ia masuk kedalam mobil. Namun ia sudah tidak menemukan mobil Aldi terparkir.
"Sudah pergi" Gumam Rere. Gadis itu kemudian masuk kedalam mobil. Dan mobil yang ditumpangi oleh ayah dan anak itu pun melaju meninggalkan Putra Group.
.
.
***
.
.
"Aldi, sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanya Lolita pada Aldi yang kini sedang fokus mengemudi.
"Udah, nanti juga kamu bakal tahu" Jawab Aldi tanpa mengalihkan atensinya dan tetap fokus dengan mengemudinya.
Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Aldi kini berhenti ditepi jalan yang terlihat sepi.
"Kita sudah sampai?" Tanya Lolita sambil menatap kesekitar dari dalam mobil.
"Iya" Jawab Aldi sambil melepas seatbeltnya. "Ayo turun!" Ajak Aldi sambil membuka pintu mobilnya kemudian keluar terlebih dahulu.
Lolita pun membuka seatbeltnya dan ikut keluar dari dalam mobil.
Hanya terlihat pepohonan dengan daun yang hijau yang berjajaran. Tidak ada yang istimewa dimata Lolita.
"Ngapain sih kita kesini kalau hanya untuk melihat pohon doang, mending kamu ajak aku ke restoran dan kita makan lebih berfaedah" Ucap Lolita sambil menatap Aldi kesal.
"Nanti juga kamu suka" ucap Aldi sambil tersenyum dan menarik tangan Lolita menuju kearah pepohonan yang berjajar rapi.
__ADS_1
"Eh mau bawa aku kemana?" Tanya Lolita.
"Udah ngga usah banyak tanya, nanti juga suka" Ucap Aldi sambil tersenyum dan terus menarik Lolita. Mengikuti rumput yang memanjang dan pepohonan berjajar rapi dikanan kirinya yang seakan menuntunnya.
"Pohonnya udah kek pengawal aja" Ucap Lolita sambil tersenyum menatap ke kanan dan kirinya.
Hingga kini langkah mereka berdua berhenti dengan sempurna.
"Wah bagus banget" Ucap Lolita, ia melepaskan genggaman tangan Aldi yang berjalan sedikit didepan Aldi.
Iya melihat sekelilingnya, semua dipenuhi dengan pohon. Ia seakan berada didalam lingkaran pohon yang terdapat danau di tengahnya dan juga beberapa jenis bunga yang tumbuh dengan sangat cantik.
"Ini sungguh sangat indah" ucap Lolita, ia kemudian membalikkan badannya untuk menatap Aldi.
"Kamu suka?" Tanya Aldi.
"Suka banget, kamu kok bisa menemukan tempat yang sebagus ini" ujar Lolita.
"Sebenarnya tempat ini sudah ada lama kok, cuma tidak banyak orang yang kesini. Mereka berfikir disini hanya ada pohon saja, karena memang hanya pepohonan yang terlihat dari luar. Mereka tidak tahu kalau disini ada danau juga" Jelas Aldi.
Mendengar itu Lolita hanya tersenyum, rasanya ia begitu menyatu dengan alam.
Aldi kemudian menarik tangan Lolita, ia membawa Lolita ke tepi danau.
Aldi kemudian menjatuhkan dirinya hingga kini posisinya ia berbaring diatas rerumputan hijau.
Lolita pun ikut berbaring dengan posisi yang berbalik dengan Aldi.
Aldi meletakkan salah satu tangannya di atas, dan yang satunya lagi menggenggam tangan Lolita. Begitu pula Lolita. Ia juga meletakkan salah satu tangannya diatas hingga kini kedua tangan mereka membentuk sebuah simbol hati.
Aldi memiringkan kepalanya hingga kini menatap wajah Lolita dari samping.
"Sayang" Panggil Aldi.
Lolita pun ikut memiringkan kepalanya, hingga kini mereka saling berhadapan.
"I Love You" Ucap Aldi tanpa senyum ataupun marah.
"I Love Tou Too" Jawab Lolita dengan ekspresi yang sama.
Aldi kemudian menatap kearah atas. Begitu pula dengan Lolita.
Mereka bersama sama menatap Langit yang sama, ditempat yang sama dan juga waktu yang sama.
"Aku berharap kita akan selamanya seperti ini, selalu bahagia bersama, melawati suka dan duka sama sama sampai maut memisahkan kita" Ucap Aldi.
"Aku akan berjanji untuk selalu ada disamping kamu, menjagamu, menemanimu dan menjadi alasan kamu tersenyum" Imbuh Aldi.
Sunyi. Itulah yang mereka berdua rasakan. Hanya suara Aldi yang mampu Lolita dengar. Dan hanya hembusan angin yang mampu Lolita rasakan.
"Jangan pernah berjanji kalau untuk mengingkari, jangan pernah berjanji untuk selalu ada kalau nyatanya tidak ada, jangan berjanji untuk selalu menjaga jika akhirnya menjadi sosok yang harus di hindari, jangan berjanji untuk selalu menemani kalau akhirnya akan sendiri bersama dengan sunyi, dan jangan pernah berjanji untuk menjadi alasan tetap terseyem jika akhirnya menjadi alasan untuk menangis" Ucap Lolita lembut.
Aldi yang mendengar itupun memiringkan kepalanya untuk menatap Lolita.
Ia sadar, bahwa ia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada Lolita. Sehingga luka itu membekas dan sulit untuk dilupakan.
Karena selain melekat dalam hati, luka itu juga terus melekat dalam otak.
Mungkin mudah untuk memaafkan, tapi sulit untuk menghapus semua bekas luka yang telah tertorehkan.
Layaknya menulis dipapan tulis menggunakan spidol permanen, kita butuh waktu untuk benar benar menghilangkan tinta tinta itu hingga tak meninggalkan bekas.
"Hubungan yang harmonis itu ibarat persahabatan, maka anggaplah aku seperti sahabatmu. Yang selalu ada disaat kamu butuh" Ujar Aldi.
"Seperti sebuah kanvas, awalnya ia kosong. Namun perlahan akan ada sebuah warna yang mengisinya. Hingga akhirnya beberapa warna pun ikut melengkapinya. Sama seperti kehidupan, awalannya kosong, namun akhirnya ia terisi. Misalnya kamu yang sudah mengisi hidupku dan memberikan banyak warna" Ucap Lolita sambil tersenyum.
Mendengar itu Aldi pun tersenyum. Ia kemudian bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk. Begitu pula dengan Lolita.
"Sudah sore, yuk pulang" Ucap Aldi sambil beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Lolita berdiri.
Lolita pun menerima uluran tangan Aldi, kemudian beranjak berdiri.
Mereka berduaan kemudian bergandengan tangan dan keluar bersama sama.
.
.
.
.
.
Pemanis
Auto semangat kalau lihat visual Aldi eheee😂
Hallo, udah Senin dong dan kita ketemu lagi.
Jangan lupa jejak dan juga tandai bila ada typo❤️
Revisi besok ya, karena sekarang sudah pukul 1.20 author mau istirahat dulu papay.
tanganku pegel lurrr, nek iseh mok arani sitik yo kebangeten awkwkwkwk😂😂🙏
__ADS_1