
Aldi tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, dia tahu kalau sekarang itu istrinya sedang merasa khawatir akan kelanjutan pernikahan di masa depan.
"Tentu saja" Jawab Aldi.
Mendengar jawaban Aldi, hati Lolita rasanya sangat sakit, dadanya terasa sangat sesak seperti ada seseorang yang merenggut paksa oksigen yang melingkupi paru parunya, matanya pun sudah mulai berkaca-kaca, pelukan di pinggang Aldi pun mulai merenggang, dan bibirnya terasa kelu tidak bisa berkata kata. Jawaban Aldi benar benar menghujam jantungnya dan meremukkan hatinya.
"Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkan istri sebaik, secantik dan setulus wanita yang sedang berada di dalam pelukan aku ini" Serunya sembari kembali menarik tangan Lolita agar memeluknya dan ia juga memeluk tubuh Lolita.
Mendengar perkataan Aldi, Lolita langsung memukul dada bidang Aldi yang masih bertelanjang dada itu. "Keterlaluan, tahu engga sih jantung aku tadi udah kek di hujam dengan pisau yang sangat tajam" Serunya.
"Kamu tenang saja, karena aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai kapanpun itu, karena kamu sudah benar benar memenuhi ruang didalam hatiku, kamu juga sudah membuat aku jatuh cinta se jatuh jatuhnya akan pesona dan ketulusan hati kamu, sampai aku lupa bagaimana caranya untuk bangkit kembali" Terang Aldi.
Lolita pun ternyata mendengar perkataan Aldi. Ia sejenak diam dan menatap dalam wajah Aldi. "Aldi, maafkan aku karena sempat meragukan perasaan dan ketulusan mu, dan maafkan aku karena menyembunyikan sesuatu dari kamu" Lolita sejenak menjeda kalimatnya sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya saat aku masih SMP..." Lolita tiba tiba menghentikan ceritanya tatkala jari telunjuk Aldi mendadak menempel di bibirnya dan pandangan keduanya pun saling terkunci bersama.
"Aku sudah mengetahui semuanya, jadi kamu tidak perlu menceritakan itu kembali dan membuat luka yang sudah tertutup rapat itu kembali menganga" Ujarnya.
*******
"Gimana, kamu sudah mulai memantau pergerakannya?" Ujar seorang perempuan cantik.
"Sebenarnya gue itu engga ada dendam dengan mereka ya, tapi kenapa gue harus lakuin ini semua?" Seru sang laki laki yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Lo bilang lo suka sama gue, Lo bakal lakuin apa aja demi bisa meyakinkan gue bahwa lo benar benar serius dan tulus sama gue" Seru sang gadis.
"Ya memang, tapi bukankah jika gue lakuin ini semua berarti lo yang untung, karena lo bakal dapetin dia dan gue ngga dapatin apa apa?" seru laki laki itu.
"Tentu saja kita berdua yang untung, gue tidak akan bersama dengan dia, gue tetap akan memilih lo, gue hanya mau buat Lolita merasakan kehilangan sama seperti gue yang juga harus merasa kehilangan" Seru gadis itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Lagian perasaan gue sama dia sudah sirna sejak dia mengatakan kalau dia membenci gue, apa untungnya mencintai dia yang tidak bisa mencintai gue" Imbuh gadis itu dengan kedua tangannya yang terkepal sempurna.
"Iya iya, tapi lo tahu kan? Gue adalah tipe orang yang tidak bisa dihianati" Ujar laki laki itu.
"Iya" Jawab sang perempuan.
"Oke kalau begitu mari kita jalan" Laki laki itu segera beranjak berdiri dari kursi kebesarannya. Merapikan jas yang dikenakannya dan mengulurkan tangannya kepada perempuan yang tadinya duduk berhadapan dengannya.
Perempuan itu pun menerima uluran tangan dari laki laki tersebut, dan keduanya pun berjalan keluar menikmati angin malam.
******
Sedangkan di tempat Lolita sekarang, ia baru saja selesai memandikan Aksa. Terlihat ia sedang membalurkan minyak telon di tubuh Aksa agar lebih hangat dan tidak mudah masuk angin, kemudian memasangkan baju tidur di tubuh mungil Aksa. Tak lupa pula ia membalurkan parfum dan juga bedak tabur di wajah Aksa.
"Aduh, anak mama udah ganteng dan udah wangi" Serunya sembari mengangkat tubuh Aksa dan menggedongnya, tak lupa ia mendaratkan beberapa ciuman di wajah Aksa dan bagian dada juga ketiak Aksa.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan menampilkan sosok Aldi yang baru saja keluar dengan handuk berwarna coral yang melilit pinggangnya.
Aldi segera mengambil pakaian rumahan yang sudah disiapkan oleh Lolita, dan segera mengenakannya. Tak lupa pula ia menyemprotkan parfum di beberapa bagian yang menurutnya penting. Meskipun dia tidak pergi kemana mana, tetapi tetap saja ia memakai parfum meskipun berada didalam kamar sekalipun, karena menurutnya menjaga kesegaran dan bau badan itu sangat penting.
"Papa sudah selesai ganti baju, Aksa main sama papa dulu ya, mama mau rapiin kamar terus mandi" Ujar Lolita sembari memberikan alih Aksa kedalam gendongan papanya.
__ADS_1
Aldi pun menerimanya dan menggendong Aksa, "Jagoan papa udah ganteng, wangi lagi" Ujar Aldi, ia pun melakukan hal yang sama dengan Lolita, memberikan ciuman di beberapa bagian tubuh Aksa.
"Ya udah, kalian berdua turun dulu, nanti aku nusul" Pinta Lolita.
"Oke mom" Jawab Aldi dengan menirukan suara anak kecil dan berlalu dari dalam kamar tidurnya.
Lolita menghela nafasnya, ia segera memunguti barang barang Aksa yang tergeletak di atas tempat tidur dan meletakan ketempat yang semestinya. Tak lupa pula ia merapikan tempat tidurnya yang sudah dibuat acak acakan akan pergelutan yang sudah ia dan Aldi lakukan.
Setelah semuanya rapi, Lolita segera berjalan menuju ruang ganti, ia mengambil pakaian ganti dan berjalan menuju kedalam kamar mandi, tak lupa pula ia mengambil handuk Aldi yang diletakan di sembarang tempat untuk diletakan di tempat yang semestinya.
******
Sedangkan Aldi, laki laki itu terlihat baru saja turun dengan Aksa yang berada di gendongannya.
"Cucu Ayah sudah ganteng dan wangi ya" Ujar Putra yang sedang duduk di atas karpet bulu berhadapan dengan Aldo untuk mengawasi putra bungsunya itu untuk mengerjakan tugasnya.
Aldi mendudukkan dirinya di sebelah ayahnya, pun dengan Aksa yang duduk di atas pangkuannya.
Bayi laki laki itu seketika di ambil alih oleh kakeknya, dan hal yang sama ia lakukan seperti Aldi dan Lolita yaitu memberikan ciuman gemas.
Aksa pun tertawa karena merasa geli saat rambut rambut tipis itu mengenai wajahnya.
Tak lama Lolita pun tiba, perempuan itu sudah terlihat lebih segar dari pada sebelumnya. "Lagi pada ngapain nih?" Serunya sembari mendudukkan dirinya di sebelah Aldo.
"Nemenin Aldo mengerjakan tugasnya" Ujar ayah Putra.
"Ooo ya udah, Loli mau kebelakang dulu bantuin bunda siapin makan malam" Ujarnya yang kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Lolita mengambil dua cangkir dari dalam rak. "Mau buat apa sayang?" Tanya Wilna sembari mengehentikan aktifitasnya memotong sayuran.
"Oh ya udah" Ujar Wilna.
Lolita melirik bunda dan Bi Tuti yang sibuk dengan aktivitasnya masing masing. "Bunda tumben masak banyak banget, mau ada acara penting ya?" Tanyanya sembari menghidupkan kompor untuk memasak air.
"Iya sayang, nanti malam bakal ada seseorang datang kerumah kita dan dia akan makan malam bersama dengan kita" Terang Wilna.
Lolita pun mengangguk anggukkan kepalanya. "Siapa Bund?" tanya Lolita lagi sembari mematikan kompor saat di rasa air yang di rebusnya sudah mendidih.
"Felisha" Jawab Wilna.
Lolita yang hendak menuang air kedalam gelas itu seketika menghentikan aktifitasnya tatkala air panas itu malah mengenai tangannya akibat saking terkejutnya.
"Aw" Peliknya sembari meletakan panci berisi air panas tersebut diatas tempat semula. Lolita segera berjalan menuju wastafel yang ada di dekatnya dan membasuh tangannya itu menggunakan air mengalir.
"Astaga sayang, kamu makannya hati hati dong" Seru Wilna sembari mendekati Lolita.
"Iya maaf Bun, Lolita tadi cuma sedikit kaget" Jawabnya.
"Ya udah engga papa, biar Bi Tuti yang lanjutin buat tehnya" Ujar Wilna.
"Iya non, biar saya yang melanjutkan membuat tehnya" Seru Bi Tuti sembari memberikan kotak P3K kepada Wilna.
__ADS_1
"Terimakasih ya Bik" Ujar Lolita.
"Ya udah sini duduk dulu biar bunda bantu mengobati lukanya" Ujar Wilna. Lolita pun menurut, mertua dan menantu itu pun sekarang duduk dengan berdampingan di kursi meja makan. Sedangkan Bi Tuti mengantarkan teh hijau itu untuk Aldi dan Putra.
"Sini biar bunda bantu oleskan salepnya" Seru Wilna sembari mengambil alih salep untuk luka bakar dari tangan Lolita.
"Engga usah bunda, Loli bisa sendiri kok" Tolak Lolita dengan halus, tetapi Wilna tidak menerima penolakan dan ia tetap membantu Lolita mengoleksi salep di tangannya yang terkena air panas.
"Oh iya, Felisha itu dulu teman masa kecil Aldi, dan sekarang dia berada di Indonesia dan kayanya bakalan melanjutkan pendidikannya di Indonesia, dia baru saja kembali dari London. Apa Aldi tidak pernah memberikan ke kamu sebelumnya kalau Aldi mempunyai teman masa kecil?" Terang Wilna sembari mengoles salep di tangan Lolita.
"Aldi sudah cerita kok bunda" Jawab Lolita sembari menatap tangannya yang kini sudah teroles dengan salep anti bakar.
"Sayang, kamu engga papa?" Tanya Aldi yang tiba tiba muncul dengan tergesa gesa dan mengambil alih tangan Lolita.
Wilna yang sedang merapikan kotak P3K itu menarik kedua sudut bibirnya sembari menggelengkan kepalanya melihat ulah putranya.
"Aku engga apa apa kok, cuma ketumpahan sedikit air panas saja" Terang Lolita.
"Sedikit bagaimana, ini lebar banget" Ujar Aldi. "Kita ke dokter aja yuk" Imbuhnya.
"Astaga, aku engga apa apa, engga perlu ke dokter sayang" Ujar Lolita.
"Haduh, ya udah kalau gitu bunda lanjutin masak makan malam dulu" Seru Wilna yang kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Iya bunda, terimakasih" Ujar Lolita kepada mertuanya.
"Kamu serius engga papa?" Tanya Aldi lagi memastikan.
"Iya engga apa apa, lagian tadi juga sudah di obati sama bunda kok, kamu tenang aja, sebentar lagi juga sembuh" Terang Lolita.
"Ya udah, makannya kamu itu kalau ngapa ngapain hati hati, jangan ceroboh" Ujar Aldi sembari menyentil dahi Lolita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa berikan dukungannya yaaaaaa