
Tok
Tok
Tok
Lolita mengetuk pintu yang tertutup rapat itu menggunakan punggung tangannya.
Tak butuh waktu lama pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Satya dengan pakaian rumahnya.
"Loh dek, kamu ngapain malam malam kesini?" Seru Satya. Melihat penampilan Lolita yang kacau dengan mata sembab serta koper itu membuatnya tidak tega jika harus menyambut kedatangan adiknya dengan berdebat.
"Bang" Lolita seketika menghamburkan dirinya kepelukan kakaknya dengan Aksa yang masih diperlukannya.
Badan Lolita berguncang hebat, perempuan itu menangis dalam pelukan Satya. Kalau dulu dirinya hanya pura pura kuat dengan tetap tersenyum maka kali ini dia tidak bisa berpura pura. Semua ini terlalu menyakitkan untuk di pendam dan disembunyikan.
Satya mengelus rambut Lolita, ia membiarkan adiknya itu menangis dalam pelukannya.
"Siapa sayang?" Suara Nara terdengar dari dalam.
"Loh Lolita, kamu kenapa?" Seru Nara.
"Lepas dulu" Ujar Satya lembut.
Lolita pun melepaskan Satya dari dalam pelukannya. Ia kemudian menghapus air matanya.
"Sini Aksa biar sama kakak dulu" Nara mengambil Alih Aksa dari dalam gendongan Lolita.
"Ya udah yuk masuk" Ajak Satya. Laki laki itu mengambil koper Lolita dan membawanya ke kamar yang dulu sempat di tempat oleh Lolita.
Mata sembab Lolita menyusuri setiap inci kamarnya, dan kamar itu tetap sama tidak ada yang berubah. Lolita mendudukan dirinya diatas tempat tidurnya diikuti dengan Satya.
"Sekarang kamu ceritakan, kenapa kamu bisa sampai datang sendiri kesini, malam malam gini dan dengan keadaan kacau" Ujar Satya sedikit memaksa.
"Aldi ingin kita bercerai" Ujar Lolita. Seketika itu Satya dan Nara di buat terkesiap tidak percaya.
"Aldi bener bener keterlaluan, bagaimana bisa di melakukan itu" Seru Satya dengan amarah yang meledak ledak.
"Bang, aku mencoba mempertahankan hubungan kita, tapi dia malah ingin mengakhirinya" Air mata Lolita kembali mengalir dengan deras.
Satya menarik tubuh asiknya itu kedalam pelukannya. Memberikan kehangatan seorang kakak untuk adik. Nara pun mendudukan dirinya disebelah Lolita, wanita itu juga merasa sedih dengan masalah yang menimpa adik iparnya. Tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberikan semangat kepada adiknya itu.
"Sabar ya sayang, percayalah di balik semua kejadian ini pasti ada hikmahnya" Ujar Nara sembari mengelus punggung Lolita.
Lolita melepaskan pelukannya dari pelukan kakaknya. "Sudah jangan nangis lagi" Ujar Satya sembari menghapus jejak air mata Lolita menggunakan ibu jarinya.
Lolita menganggukkan kepalanya kemudian menoleh ke arah Nara. "Ya udah kalau gitu kakak pergi dulu ada yang harus di urus" Seru Satya yang kemudian langsung beranjak berdiri dan keluar dari kamar adiknya.
"Kamu yang sabar ya, kamu harus kuat demi Aksa" Ujar Nara. Lolita lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mau kakak buatin minuman hangat?" Ujar Nara.
"Tidak usah kak, Loli mau istirahat aja dulu" Ujar Lolita.
"Ya sudah kalau gitu" Nara meletakkan Aksa di sisi tempat tidur yang kosong. Sedangkan Lolita, garis itu langsung merebahkan tubuhnya dan Nara pun membantu membalutkan selimut di tubuh Nara.
"Selamat malam" Ujar Nara, perempuan itu mendaratkan ciuman di kening Lolita sebelum akhirnya ia bergegas keluar dari dalam kamar adik iparnya.
********
Tok
Tok
Tok
Satya mengetuk pintu rumah Aldi dengan keras dan juga kasar. Laki laki itu seperti orang kebakaran.
"Aldi bukak pintunya" Seru Satya berteriak keras.
Tok
Tok
Tok
Satya kembali mengetuk pintu dengan kasar hingga tak lama pintu bercat putih itu pun terbuka dan menampilkan sosok Bik Tuti.
"Aldi dimana Bik?" Tanya Satya masih dengan emosi yang membludak.
"Tuan Muda Aldi di bawa ke rumah sakit Den" Jawab Bi Tuti.
"Rumah sakit?" Tanya Satya sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Iya Den" Jawab Bi Tuti.
"Emang Aldi kenapa bi?" Satya kembali bertanya. Kini nada bicaranya sedikit menurun.
"Kurang paham si Den, tapi tadi wajahnya berdarah banyak banget" Terang Bi Tuti.
"O ya udah Bik kalau begitu Satya mau langsung ke rumah sakit" Ujar Satya yang kemudian kembali masuk kedalam mobilnya. Bi Tuti pun kembali menutup pintu rumahnya setelah kepergian Satya.
*******
Lolita merubah posisinya yang semula tidur telentang menatap langit langit kamarnya kini miring menatap Aksa. Dilihatnya putranya itu kini masih terlelap dengan tenang.
Tetapi melihat Aksa yang tenang dalam tidurnya malah membuat Lolita menjadi sesak, air matanya pun kembali mengalir.
"Sayang, kamu tenang saja ya karena tanpa papa pun kita pasti bisa. Mama pastikan kamu akan selalu bahagia dan tidak kurang suatu apapun" Lolita menghapus air matanya yang mulai membasahi bantalnya.
__ADS_1
"Mama akan berusaha untuk menjadi ibu sekaligus ayah untuk kamu sayang" Lolita mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa lalu mendaratkan ciuman di kening Aksa. Lolita memejamkan matanya dan mencium Aksa dengan sedikit lama hingga akhirnya suara tangis Aksa yang tiba tiba itu membuat Lolita segera menjauhkan wajahnya.
Lolita segera bangun kemudian menggendong Aksa. Tanpa banyak bicara Lolita langsung turun dari tempat tidur Aksa. "Kenapa nangis sayang" Ujar Lolita.
Nara yang mendengar suara tangisan Aksa itu buru buru menuju ke kamar. "Loh, Aksa kenapa nangis Lolita?" Tanya Nara.
"Nggak tahu kak, tiba tiba aja dia terbangun dan menangis" Ujar Lolita sembari menimang Aksa.
"Dimana susunya biar kakak buatkan" Ujar Nara menawarkan bantuan.
"Susunya ada dalam tas kak" Jawab Lolita.
Nara mengambil tas yang berada di atas koper, perempuan itu membuka tas tersebut dan mengambil susu yang berada didalamnya.
Sedangkan Lolita, ia masih mencoba menenangkan Aksa yang menangisi semakin kencang. "Apakah kamu juga merasakan perihnya hari mama sayang?" Gumam Lolita dalam hati.
*******
"Suster, dimana ruangan Aldi Ferlando Putra?" Tanya Satya kepada suster yang berada dimeja receptionist.
"Sebentar ya Tuan Biar saya cek terlebih dahulu" Setelah mengatakan itu suster itu langsung mengecek komputer yang ada di depannya.
"Tuan Aldi berada di ruang VIP 1 Tuan" Ujar Suster itu.
"Terimakasih sus" Setelah mendapatkan nomor kamar Aldi, Satya langsung bergegas menuju ke ruangan yang digunakan untuk merawat adik iparnya itu.
Satya mengentikan langkahnya didepan pintu berwarna putih dengan kaca kecil di tengahnya. Tangannya tergerak untuk menari knop pintu sehingga pintu bercat putih itu pun terbuka dengan sempurna.
Terlihat Wilna dan Putra yang sedang duduk berdampingan disofa. "Ayah, Bunda" Panggil Satya.
"Satya" Ujar Wilna. Sepasang suami istri itu segera beranjak dari duduknya.
"Kamu tahu dari mana Aldi di rumah sakit?" Tanya Wilna.
"Tadi aku ke rumah bund, tapi akta Bi Tuti Aldi di bawa ke rumah sakit" Jawab Satya. Laki laki itu kemudian melirik kearah Aldi yang terbaring dengan selang infus di tangannya.
"Kamu pasti marah kan dengan Aldi, maafkan Aldi ya Satya" Ujar ayah Putra.
Satya tidak menjawab. Laki laki itu berjalan menghampiri Aldi dan berhenti tepat disebelah brankar Aldi. Ia memperhatikan Aldi dengan seksama. Wajahnya penuh dengan luka. Melihat kondisi Aldi seperti itu Satya pun seakan tidak tega untuk memberi perhitungan kepada adik iparnya tersebut. Tetapi ia juga tidak mudah untuk memaafkan begitu saja, luka yang sekarang diderita Aldi itu tidak seberapa dengan luka yang sudah di torehkan kepada Lolita.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Absen yang setia menemani cerita susah senang sampai akhir😂