Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Mengatakan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, dan selama seminggu itu pula keluarga Lolita maupun Aldi terus bergantian berjaga dirumah sakit. Tetapi seminggu itu pula tidak ada tanda tanda Lolita maupun Aldi akan membuka matanya, keadaan masih tetap sama seperti saat mereka baru dipindahkan dari ruang operasi.


Tidak hanya keluarga Lolita maupun Aldi, teman teman keduanya pun tak segan segan untuk menginap dirumah sakit. Seperti sekarang, Andra terlihat sedang duduk dengan menggenggam salah satu tangan Lolita.


"Lo kapan buka mata?" Ujar Andra.


"Apa lo nggak kangen sama Aksa?" Imbuh Andra lagi.


"Sudah seminggu Lo masih aja menjamin mata, kebo banget lo" Seru Andra kemudian di lanjut dengan kekehan garingnya.


"Gue minta maaf, jika suatu saat nanti lo benci sama gue, lo mau marah sama gue, gue terima asalkan lo buka mata lo, lo bangun, maki gue, atau pukul gue juga gapapa karena gue nggak bisa nepati janji lo" Andra mengusap usap tangan Lolita yang digenggamnya menggunakan ibu jarinya.


Flashback On


Andra sengaja tidak ingin berlama lama setelah mengantarkan Lolita check up sekaligus cuci darah karena dirinya berinisiatif untuk bertemu dengan Aldi.


Andra yang sedang duduk di balik kemudian itu menatap gedung tinggi yang menjulang tinggi dihadapannya. Ia ingin turun dari mobilnya, tapi mendadak ia merasa ragu tapi sekali lagi ia meyakinkan dirinya hingga akhirnya Andra pun melepaskan seatbeltnya dan memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya.


Kaki jenjangnya itu menuntut tubuh tegapnya untuk memasuki Putra Group yang ada didepannya.


"Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Ujar resepsionis ketika Andra menghampirinya.


"Selamat malam, bisa tolong beritahukan saya dimana ruang Tuan Aldi?" Ujar Andra.


"Maaf tapi sebelumnya apakah anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis tersebut.


"Belum" Jawab Andra.


"Maaf, kalau begitu Anda tidak bisa bertemu dengan Tuan Aldi sekarang" Ujar resepsionis itu lagi.


"Katakan kepada Tuan Aldi kalau ada tamu untuknya" Seru Andra.


"Tapi pak?" Resepsionis itu terdengar seperti hendak menolak.


"Sudah, cepat katakan saja kalau Andra Keynand Holtra ingin menemukan!" Titah Aldi.


Mendengar marga Holtra itupun membuat resepsionis itu tidak bisa menolak pemerintah dari Aldi. Di raihnya sebuah tablephone yang ada di depannya, jarinya dengan lancar menekan satu persatu nomor yang tertera diatasnya kemudian segera menyambungkan telfonnya.


"Hallo selamat siang pak, maaf mengganggu waktunya sebentar tapi ini ada tamu yang katanya ingin bertemu dengan bapak" Ujar resepsionis itu ketika telepon sudah tersambung.


"Siapa?" Tanya Aldi dingin.


"Tuan Andra Keynand Holtra" Seru receptionist itu.


"Baiklah suruh dia keruangan saya sekarang!" Titah Aldi kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.


"Mari pak saya antar" Ujar resepsionis itu.


*****

__ADS_1


Di tempat Aldi.


"Andra, ngapain dia kesini" Gumam Aldi yang terlihat sedang duduk di kursi kebesaran. Hari memang sudah malam, hampir memasuki jam makan malam tetapi Aldi masih setia di perusahan milik ayahnya, ia tidak berniat untuk pulang.


Suara ketukan itu tak membuat Aldi menatap ke arah pintu. Tatapannya masih fokus kedepannya dengan salah satu tangannya di depan bibir.


"Permisi Tuan" Ujar resepsionis dengan diikuti Andra dibelakangnya.


"Ya, terimakasih sekarang kamu boleh kembali" Seru Aldi.


Resepsionis itu pun menundukkan sedikit tubuhnya sebelum akhirnya memilih keluar dari ruang kerja atasannya itu.


"Duduklah" Ujar Aldi mempersilahkan. Dan Andra pun langsung mendudukan dirinya didepan pemilik ruangan setelah dipersilahkan.


"Mau ngomong apa?" Tanya Aldi masih tak mengubah nada bicaranya.


"Ini soal Lolita" Ujar Andra.


"Kalau Lo kesini hanya untuk meminta gue menceraikan Lolita, mending Lo pergi dari tempat gue sekarang karena gue selamanya nggak akan pernah meninggalkan Lolita" Tegas Aldi.


"Lolita sakit" Ujar Andra to the point.


Aldi yang mendengar itu seketika langsung menenggak posisi duduknya, ekspresi wajahnya menunjukan kebingungan dan juga keterkejutan.


"Lolita sakit ginjal stadium akhir, dan secepatnya ia membutuhkan pendonor ginjal baru" Imbuh Andra.


"Lo tahu dari mana kalau Lolita sakit?" Seru Aldi.


"Gue ga sengaja ketemu Lolita waktu check up ke dokter" Ujar Andra.


"Terus kalau Lo tahu kenapa lo nggak kasih tahu ke gue" Seru Aldi dengan amarah yang meluap luap.


"Kenapa gue harus kasih tahu ke Lo, Lo sebagai suaminya harus tahu dengan keadaan istri lo sendiri" Seru Andra.


"Bagaimana gue bisa tahu, Lolita selama ini selalu terlihat baik baik saja dan tidak nampak seperti orang sakit" Ujar Aldi mengingat Lolita yang memang terlihat seperti orang yang sehat, kecuali batinnya yang terluka karena drama yang dibuatnya.


"Dan selama satu bulan kedepan pun Lolita pergi entah kemana" Imbuh Aldi lagi, tatapanya menatap sendu kesembarang arah sebelum akhirnya kembali menatap kearah Andra dengan tatapan yang penuh amarah.


"Lo waktu itu kenapa bisa bersama dengan Lolita dan Lolita mengatakan kalau lo adalah pengganti gue?" Seru Aldi sarkas.


"Lolita selama ini di Jogja, dia sengaja menjauh dari kalian karena dia tidak mau kalian nanti sedih dan terbebani dengan keadaannya, terutama lo. Lolita tidak mau jika Lo tahu lo malah mendonorkan ginjal lo buat dia dan akan membahayakan hidup Lo sendiri" Terang Andra.


"Lolita sangat mencintai Lo. jadi, dia tidak ingin kehilangan lo dan memilih untuk pergi"


"Selama ini Lolita sudah berjuang sendiri, dan aku merasa sangat tidak tega untuk itu, melihatnya bersedih saat sedang merindukanmu, tidur dengan memeluk bajumu atau fotomu sehingga gue minta dia untuk pulang"


"Lolita awalnya menolak, tapi karena sedikit pemaksaan dia jadi luluh dan minta kepada gue untuk berjanji kalau kita akan berpura pura memiliki hubungan dengan gue"


"Jadi sekarang temui lah istri lo, bayarkan rasa rindu yang selama ini sama sama kalian pendam, temanilah dia berjuang" Ucap Andra terkahir.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Andra, Aldi seketika langsung menyahut ponsel dan kunci mobilnya yang tergelatak di atas meja. Dengan tergesa gesa dirinya keluar dari ruang kerjanya menuju lantai bawah. Ia bahkan tidak menghiraukan Andra yang masih duduk di tempatnya.


Sesampainya di parkiran, Aldi langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil mewahnya itu meninggalkan area perusahaan.


Rasa bersalah, rasa sedih, rasa kecewa, rasa takut kehilangan berkumpul menjadi satu dalam benak Aldi.


Dengan kecepatan tinggi laki laki itu membelah jalanan malam yang lumayan senggang. Hingga tak butuh waktu lama Aldi pun sudah sampai di rumah mertuanya.


Aldi langsung saja keluar dari dalam mobilnya, ia kemudian berlari menerobos masuk kedalam rumah yang kebetulan pintunya sedang tidak terkunci.


"Loh Aldi, kok masuk rumah nggak salam" Ujar Nita.


"Maaf ma, Aldi tergesa gesa. Apa Lolita dirumah?" Tanyanya.


"Iya, Lolita di kamarnya" Ujar Nita.


"Aldi ke atas dulu ma" Serunya yang kemudian berlari menaiki satu persatu anak hingga menuju ke kamar istrinya. Sesampainya di depan kamar istrinya, ternyata pintunya sedikit terbuka. Aldi pun dengan tanpa ragu langsung membukanya perlahan memastikan bahwa istrinya benar benar berada di dalam.


Dan saat pintu sudah terbuka, Aldi melihat sosok Lolita yang sedang berdiri di balkon dengan memeluk tubuhnya sendiri. Aldi pun melangkahkan kakinya masuk dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara, dan langkahnya seketika terhenti tepat di tengah tengah pintu balkon yang terbuka. Pas dibelakang Lolita.


"Aldi, aku merindukanmu" Gumamnya dengan suara pelan. Tetapi ternyata Aldi masih bisa mendengarnya.


Laki laki itu seketika merasakan bahagia yang luar biasa ketika orang yang dicintainya itu benar benar masih memiliki rasa untuknya, ia pun melangkahkan kakinya mendekati isterinya kemudian dan memeluknya dari belakang. Bisa dirasakan tubuh Lolita tiba tiba menengang, tetapi ia tidak menghiraukannya dan malah membalas ucapan rindu Lolita "Aku juga sangat merindukanmu"


Flashback off


"Lolita, gue pamit dulu. Gue harap saat gue kembali nanti lo sudah membuka mata lo" Ujar Andra yang kemudian melepaskan genggamannya pada tangan Lolita dan beranjak berdiri.


Andra terlebih dahulu mampir ke brankar Aldi sebelum benar benar pergi "Bro, Lo juga cepat bangun, buktikan kalau lo itu kuat, lo tidak akan meninggalkan Lolita, demi Aksa dan cinta kalian berdua" Seru Andra sembari menepuk pelan bahu Aldi.


"Gue pamit dulu" Ujarnya. Andra pun segera keluar dari ruangan Aldi dan Loli. Ia tidak bisa berlama lama disana karena hanya akan terus merasa sedih dan juga merasa bersalah.


.


.


.


.


.


.


.


Kenapa kalian nggak mau Sad Ending padahal realitanya itu semua bakal berakhir dengan kematian???


Jan lupa tinggalkan like dan votenya, bantu aku bertahan tetap di 10 besar seperti aku yang bantu kalian membayarkan rasa penasaran. Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2