
"Tenang aja, nanti di tangkap sama pangeran Aldi, ya udah Ca, ayo kita cek siapa sih gadis yang dibilang ceweknya Aldi, yang lebih cantik dari gue" Ucap Rere sambil menarik tangan Caca dan membawanya menuju ke kelas Aldi.
Namun di tengah perjalanan Caca malah menghentikan langkahnya hingga membuat Rere juga ikut mengentikan langkahnya.
"Ca, kenapa berhenti? Kelas Aldi kan masih jauh" Ucap Rere sambil melirik Caca.
"Re, bentar lagi dosen masuk. Mending kita ke kelas aja dulu, saat jam istirahat nanti kita baru cek ke kelas Aldi" Saran Caca. Rere melirik kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan benar saja, lima menit lagi dosen akan masuk ke kelas mereka.
"Ya udah deh" Putus Rere dengan sangat terpaksa karena keingintahuannya harus di pending terlebih dahulu.
🌼
Aldi dan Loli kini sedang mengikuti mata kuliah jam pertama mereka.
Terlihat Lolita yang sedang menyangga dagunya dan memperhatikan materi yang di sampaikan oleh dosen.
"Kapan selesainya sih" Gumam Lolita dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh Aldi yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" Tanya Aldi tanpa menoleh ke arah Lolita, laki laki itu masih fokus dengan materi yang sedang di jelaskan.
"Ngga papa, males aja biasanya kalau sedang materi seperti ini enaknya tidur sama Yolan dan Amel" Balas Lolita.
"Pantes ngga pinter pinter, orang molor waktu pembelajaran" Cibir Aldi. "Hm" Balas Lolita dengan deheman.
🌼
"Lo bilang lo mau masuk kuliah saat Aksa umur 7 bulan, kok sekarang sudah masuk kuliah?" Tanya Sisi. Ya, sekarang mereka sedang berkumpul di kantin kampus.
"Iya gue juga ngga tahu, semua serba dadakan di rencanakan sama Ayah Putra" Balas Lolita yang kemudian di sambung dengan memasukkan camilan kedalam mulutnya.
"Kok bisa lo langsung semester dua sih?" Tanya Yolanda heran. "Yolanda sayang, yang kece bade selalu cantik mempesona bak Dewi Fortuna yang bibirnya merah merona---" Belum selesai Lolita mengucapkan kalimatnya Amel terlebih dahulu menukasnya.
"Lo mau ngomong sampai ke Samudera mana?" Tanya Amel yang merasa kesal karena Lolita tidak langsung to the point.
"Iya dengerin dulu makannya" Balas Lolita kesal karena ucapannya di potong. "Iya buruan!" Ucap Amel yang semakin dibuat kesal.
"Ya udah lo diem dulu makannya" Ucap Lolita yang semakin nyolot. "---" Amel kembali mengatupkan mulutnya karena Evan terlebih dahulu membuka suara.
"Kalau kalian debat terus kapan Lolita jelasinnya" Ucap Evan menengahi. "Nah bener itu, makannya dengarkan inces mau ngomong ini" Balas Lolita.
"Iya buruan ga usah bertele tele" Amel merasa sangat dongkol dengan Lolita. "Tele tele itu bukannya yang digoreng itu ya?" Ucap Lolita dengan nada bertanya.
"Tela tela bege" Balas Yolanda sarkas. "Eh iya iya mbak Yol, kalem ngga usah ngegas" Ucap Lolita sambil nyengir tanpa dosa.
"Ya udah buruan jelasin a**** dari tadi ngomong ga kelar kelar" Saut Sisi akhirnya.
"Iya iya, jadi gini..... Loli juga waktu itu tanya sama Ayah Putra, kok bisa Loli langsung lompat semester 2 gitu, nah Ayah Putra jawab gini Semuanya pasti bisa kalau ada uang" Jelas Lolita dengan gaya sombongnya saat mengatakan Semua pasti bisa kalau ada uang.
__ADS_1
"Yaelah sombong banget lo" ucap Yolanda sambil melempar kulit kacang kearah Lolita.
"Bukan sombong tapi emang gitu kenyataannya ya kan Sayang" Ucap Lolita sambil menatap ke arah Aldi mencari pembelaan.
"Hmm" Balas Aldi hanya dengan berdehem. "Kamu mah gitu" Ucap Lolita sambil memalingkan muka. "Iya iya" Ucap Aldi akhirnya.
"Sultan mah bebas" Saut Regan.
"ALDI, MY BABY HONEY, WHERE ARE YOU DEAR?" Teriak seseorang dari arah pintu itu berhasil menyita perhatian semua orang beralih untuk menatapnya tak terkecuali Lolita.
"Dia" Ucap Lolita ketika melihat sosok gadis yang baru saja masuk ke area kantin.
🌼
"Sayang udah mending kamu jangan mikir yang aneh aneh dulu, kamu mending sekarang fokus sama kesehatan kamu" Ucap Satya. Ya, laki laki itu kini sedang duduk di sebelah Nara yang sudah membuka mata sejak satu jam yang lalu.
"Gimana ngga kepikiran sayang mereka adalah orang tua aku, wajar kan kalau aku rindu sama mereka berdua" Balas Nara. Terlihat raut kesedihan di wajah gadis itu.
"Iya aku tahu itu, tapi kan" Satya menghentikan ucapannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya berjilbab dengan seorang anak gadis yang sudah sangat Nara dan Satya kenal. Siapa lagi kalau bukan Indah.
"Assalamualaikum" Ucap wanita paruh baya itu dan juga Indah secara bersamaan.
"Waalaikumsalam" Balas Nara dan Satya secara bersamaan. "Bunda" Sapa Nara dengan bibir pucatnya.
"Iya sayang" Balas wanita paruh baya yang bernama Fatima.
Dimana semua orang bermanja-manja dengan mama mereka, maka Nara hanya bisa membagi kasih sayang bunda Fatima bersama dengan anak panti yang lainnya.
Dimana semua anak membagi cerita dengan mama papanya, tetapi Nara hanya bisa membagi cerita dengan Bunda Fatima.
Mengeluarkan segala keluh kesah yang di rasakannnya.
Dan ketika semua teman teman di sekolahnya didampingi oleh mamanya, maka Nara hanya di dampingi oleh Bunda Fatima.
Satya yang tadinya duduk di kursi kini sudah merubah posisinya menjadi berdiri. Tanpa di perintah layaknya bocah, Satya langsung mengambil tangan Bunda Fatima dan menciumnya.
"Silahkan duduk bunda" Ucap Satya sopan mempersilahkan Bunda Fatima untuk duduk.
"Iya Terimakasih nak Satya" Ucap Bunda Fatima lalu mendudukkan dirinya.
"Mas Satya sudah makan siang?" Tanya Indah. Dan Satya hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Ya udah, mending Mas Satya cari makan dulu, biar Kak Nara, Indah sama Bunda yang jaga" Pinta Indah.
"Ngga lah, mas mau jagain Nara disini" Tolak Satya. "Iya nak Satya, mending kamu cari makan dulu, biar Nara, Bunda sama Indah yang jagain" Saut Bunda Fatima ikut menimpali.
"Ngga bund, Satya ngga lapar" Satya masih kekeh untuk menolak makan siang. Ia enggan jika harus meninggalkan sang kekasih.
__ADS_1
"Sayang, mending kamu makan dulu deh, aku ngga mau kamu sakit" Titah Nara.
"Tapi sayang--..."
"Udah ngga papa, aku baik baik saja, sekarang kamu cari makan aja dulu" Pinta Nara.
"Iya, kamu percaya sama Bunda, Nara ngga akan kenapa kenapa" Ucap Bunda.
"Ya udah, kalau gitu Satya keluar sebentar" Putus Satya akhirnya. Nara pun mengangguk dan Satya pun pergi meninggalkan ruang rawat Nara.
"Nara, kenapa bisa sampai sakit seperti ini?" Tanya Bunda Fatima selepas kepergian Satya.
"Ngga papa kok Bunda, Nara hanya kecapekan saja" Balas Nara sambil tersenyum.
"Kamu ngga usah bohong sama bunda, kamu itu yang ngerawat bunda, jadi bunda sangat paham dengan kamu" Ucap bunda Fatima lembut.
Nara diam, benar apa yang di katakan oleh bunda Fatima, Nara tidak pandai berbohong kepada beliau yang sudah merawatnya selama ini.
Tiba tiba saja air mata Nara lolos dari pelupuk matanya.
"Nara rindu sama mereka bunda" ucap Nara lirih.
Bunda Fatima tahu apa yang sedang Nara rasakan sekarang. Bunda Fatima merubah posisinya menjadi berdiri.
Sosok wanita paruh baya, ibu banyak anak itu pun memeluk dengan penuh sayang tubuh Nara.
"Sudah, suatu saat mereka pasti akan tahu betapa berharganya kamu, dan mereka pasti akan mencari kamu dengan segudang rindu" Ucap bunda Fatima lembut untuk menenangkan Nara.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalin jejaknya
author begandang demi kalian ini wkwkw...
sampai ketemu di lapak Sisi kalau udah isi kuota tapi
papay All👋👋
kalau di kasih up tripel jan lupa sama Likenya
__ADS_1