
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, semua orang pun sudah terlelap tak terkecuali Lolita dan Aldi. Semuanya larut dalam mimpi indahnya, tetapi tidak dengan Lolita. Perempuan itu terlihat sedang resah dalam tidurnya. Entah apa yang sedang dimimpikan hingga membuat ia seperti itu, air matanya bahkan keluar dari pelupuk matanya. Aldi yang merasa tidurnya terusik karena kasurnya yang terus bergoyang akibat gerakan yang diciptakan oleh Lolita itupun pun akhirnya terbangun, dan betapa terkejutnya Aldi saat melihat istrinya itu seperti orang yang ketahuan.
Aldi menggeser tubuhnya untuk bersandar ke kepala ranjang. Ia kemudian menepuk pipi istrinya itu perlahan.
"Sayang, bangun!" Pintanya pelan.
Mendengar suara lembut Aldi, Lolita pun akhirnya membuka matanya. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah mata Aldi yang menatapnya dengan wajah cemas penuh kekhawatiran.
Lolita segera merubah posisinya menjadi duduk bersandar seperti Aldi.
"Mimpi buruk?" Tanya Aldi. Lolita pun menganggukkan kepalanya.
"Aldi" Panggil Lolita.
"Kenapa?" Ujar Aldi sembari menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Lolita.
"Kenapa selama dirumah sakit Revan nggak pernah jenguk aku ya? hanya Rere dan Caca saja" Ujarnya bertanya.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" Tanya Aldi.
"Karena tadi aku memimpikannya" Jawab Lolita.
"Mimpi bagaimana?"
"Dia mengatakan kalau aku tidak boleh kembali kesini lagi seperti saat dia mengganggu ku, tapi aku nggak mau, aku ingin bersama dengan dia, tapi dia malah menjawab kalau aku tidak bisa bersama dengan dia karena aku sudah mempunyai cinta sejati" Terang Lolita.
"Aku sungguh tidak paham dengan mimpi itu" Imbuhnya lagi.
Ada rasa sakit saat Lolita mengatakan kalau dirinya ingin bersama dengan Revan. Tetapi Aldi berusaha untuk mengerti keadaan Lolita yang sedang dalam mode hilang ingatan.
"Itu hanya mimpi, mending kamu sekarang tidur soalnya ini masih malam" Ujar Aldi sembari mengusap pelan pipi Lolita.
Ingin Lolita menolak perlakuan Aldi, tetapi ia merasa nyaman dengan perlakuan Aldi terhadapnya.
"Tapi aku masih tidak percaya kalau ternyata kita sudah menikah, dan sudah mempunyai seorang anak yang usianya bahkan hampir satu tahun" Ujar Lolita.
"Apa yang membuat kamu tidak percaya? Bukankah sudah jelas semuanya? Foto yang terpasang di kamar kita itu adalah foto kita" Ujar Aldi.
Lolita menoleh kearah nakas, disana terdapat Fotonya dan juga foto Aldi yang terlihat sangat bahagia. Ia kemudian kembali menoleh kearah Aldi. "Iya" Jawab Lolita.
"Tapi kenapa aku seperti tidak memiliki rasa terhadapmu, bukankah seorang suami istri akan saling mencintai? Tapi kenapa aku mencintaimu orang lain?" Ujar Lolita lagi.
Sesak semakin mendera didada Aldi. Ia tidak pernah berfikir kalau hilangnya ingatan Lolita juga akan menghapuskan rasa cintanya terhadapnya.
"Aku akan membuat kamu kembali jatuh cinta lagi dengan ku" Ujar Aldi.
"Kalau aku tidak bisa jatuh cinta denganmu gimana? Karena jujur aku masih mengharapkan Revan" Ujar Lolita.
"Kamu ingin bertemu dengan Revan?" Tanya Aldi.
Lolita pun menganggukkan kepalanya.
"Bisakah kamu berjanji denganku, setelah kamu bertemu dengan Revan kamu akan membuka hati untuk ku dan melupakan Revan?"
*
"Aku ingin kamu membawa ku dan Lolita ketempat Revan" Ujar Aldi diseberang telfon.
"Kenapa tiba tiba lo pengen ke makam Revan?" Tanya Rere.
__ADS_1
"Lolita ingin bertemu dengan Revan" Jawab Aldi.
"Em Lo yakin mau bawa Lolita ke makam Revan?" Tanya Rere dengan sedikit ragu.
"Kalau itu bisa membuat ingatan Lolita kembali dan dia bisa membuka hatinya lagi untuk gue kenapa tidak" Ujar Aldi.
"Baiklah, gue akan bersiap siap untuk ketempat kalian" Putus Rere akhirnya.
Setelah berkomunikasi dengan Rere, Aldi pun memutuskan sambungan telefonnya. Ia kemudian berjalan menghampiri Lolita yang terlihat sedang bermain dengan Aksa.
"Lolita" Panggil Aldi.
Lolita sejenak menghentikan aktifitasnya, ia menoleh kearah suaminya.
"Iya, kenapa?" Tanya Lolita.
"Bersiap siaplah, kita akan ketempat Revan" Ujar Aldi lalu berlalu keluar dari dalam kamarnya.
Lolita menatap punggung Aldi yang berjalan menjauhinya. Entah kenapa perasaannya sekarang berubah bercampur aduk melihat ekspresi Aldi yang seperti tidak bahagia.
"Sudahlah, mending sekarang aku siap siap saja" Gumamnya yang kemudian beranjak berdiri menuju ke ruang ganti.
*
Lolita terlihat keluar dari dalan lift dengan Aksa yang berada di dalam strollernya. Terlihat di ruang tamu ada Caca, Rere, dan Bunda Wilna dan juga Aldi yang sudah siap menunggunya.
"Kalian juga ada disini" Ucap Lolita senang.
"Iya, kita berdua akan temani Lo dan Aldi ke tempat Revan" Jawab Rere sembari beranjak untuk berdiri dan menghampiri Lolita.
"Oh iya" Jawaban Lolita terdengar sedikit tidak senang karena dirinya mengetahui kalau Rere juga memiliki rasa terhadap Revan.
"Iya sebentar" Lolita kemudian mengalihkan perhatiannya kearah bunda Wilna.
"Bund, Loli titip Aksa sebentar ya" Ujarnya.
"Iya sayang, ya sudah kalian hati hati ya" Ujar Wilna yang mengambil alih stroller Aksa.
"Iya" Lolita dan yang lainnya bergantian mencium tangan Wilna.
Keempat orang itu kemudian memasuki mobil masing-masing dan melajukannya menuju ke pemakaman.
Di tengah jalan tiba tiba mobil yang dikendarai oleh Rere dan Caca berhenti, pun mobil yang ditumpangi oleh Loli dan Aldi. Kedua mobil tersebut berhenti didepan toko bunga.
"Pak tolong belikan satu buket bunga anyelir dan bunga gladiol!" Titah Aldi kepada supirnya itu.
"Baik tuan" Sopir itu pun segera turun dari dalam mobil untuk memenuhi perintah Tuan Mudanya.
"Kenapa kamu meminta supir untuk membeli dua bunga itu, bukankah bunga itu untuk orang yang sudah meninggal?" Tanya Lolita.
Tetapi Aldi hanya diam tidak menanggapinya. Ia hanya menoleh kearah Lolita sekilas kemudian kembali menatap kedepan sampai akhirnya supir yang tadi dipintai oleh Aldi untuk membeli bunga itu kembali.
"Ini bunga yang Tuan minta" Ujarnya sembari memberikan dua buket bunga itu kepada Aldi.
Aldi pun menerimanya. Aldi kemudian menoleh kearah Lolita dan memberikan satu buket bunga anyelir itu kepada istrinya.
"Kenapa kamu memberikan bunga ini kepadaku?" Tanya Lolita sembari menerima bunga dari Aldi.
"Nanti kamu akan tahu" Jawab Aldi. Mobil yang ditumpangi oleh keduannya pun kembali melaju meninggalkan halaman toko bunga.
__ADS_1
Hingga lima belas meniti kemudian mobil pun kembali berhenti. Aldi terlebih dahulu keluar dari dalam mobilnya diikuti dengan Lolita.
Lolita mengedarkan pandangan keseluruh, tetapi ia tidak menemukan satu rumah pun kecuali pemakaman.
"Kenapa kamu membawaku ke pemakaman? Bukan kerumah Revan?" Tanya Lolita bingung.
"Karena kita akan bertemu dengan Revan disini" Aldi segera mengenakan tangan Lolita dengan erat.
"Ayo" Ajaknya mengikuti Rere dan Caca yang sudah terlebih dahulu berjalan didepan.
Lolita pun langsung mengikuti kemana Aldi menuntunnya. Lumayan jauh mereka berjalan hingga kini akhirnya keduanya sampai disebuah gundukan tanah yang terlihat sudah sangat lama.
Rere dan Caca segera berjongkok disebelahnya. Pun Aldi, ia segera melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lolita dan ikut berjongkok berhadapan dengan Rere dan Caca. Lolita yang melihat itu bingung, tetapi ia akhirnya ikut berjongkok.
Lolita membaca nama yang tertulis dinisannya, seketika itu matanya pun membola. "Revan Atira Dirga" Gumam Lolita. Matanya tiba tiba memanas.
"Ini makam Revan?" Tanya Lolita dengan suara yang bergetar dan juga terdengar berat.
"Iya, ini adalah makam Revan" Jawab Rere.
Lolita kembali menatap kearah batu nisan Revan, ia mengusap batu tersebut dengan air mata yang sudah meleleh dipipinya.
"Bunga anyelir itu memiliki warna yang beragam, seperti bunga anyelir putih ini. Bunga anyelir putih mempunyai arti ketulusan dan kesucian. Seperti cinta kamu yang tulus terhadap Revan dan kesucian dari cinta kalian diwakili oleh bunga berwarna putih ini" Ujar Aldi.
"Sedangkan bunga anyelir merah ini, ini adalah perantara sebagai penyemangat. Mungkin bukan semangat memperjuangkan cinta kalian lagi, tapi bisa menjadi penyemangat Revan yang mungkin sedang menunggu cinta sejatinya yang sebenarnya" Aldi menjeda kalimatnya. Ia menoleh kearah Lolita yang sudah menangis berurai air mata.
"Dan terakhir anyelir pink melambangkan kenangan. Kamu dapat memberikan bunga ini untuk memberikan pesan bahwa kenangan bersama orang yang meninggalkan memang sulit dilupakan, tapi setiap orang mempunyai hak untuk terus menjalani kehidupan yang lebih baik. Seperti kamu saat ini, kamu berhak untuk melanjutkan hidup kamu, mungkin kenangan kalian sulit untuk dilupakan tetapi sebisa mungkin aku akan mengisi kenangan baru di hati dan pikiran kamu"
Lolita menoleh kearah Aldi. Aldi segera meletakan bunga yang dibawanya, ia kemudian menangkup kedua pipi Lolita dan menghapus air matanya menggunakan ibu jarinya.
"Lolita, cukup kamu jadikan masalalu itu sebagai kenangan dalam hidup kamu, jangan jadikan kenangan itu sebagai hidup kamu karena yang namanya kananga itu adalah bagian dari masalalu, dan sekarang masa depan kamu lebih berharga dari semua itu"
"Mungkin untuk saat ini kamu tidak mengingat ku, dan mungkin rasa di hati kamu juga ikut terhapus untuk ku, tapi tolong buka kembali hati kamu dan biarkan aku menempati ruang itu lagi sepenuhnya" Pintanya.
Tangis Lolita kembali pecah. Ketulusan Aldi membuat hatinya begitu tersentuh.
"Aku boleh hilang dari ingatanmu, tapi tolong jangan hilangkan aku dari hatimu" Aldi segera menarik tubuh Lolita kedalam pelukannya.
Lolita menangis dalam pelukan Aldi yang terasa sangat nyaman itu, tetapi tiba tiba sebuah kenangan kembali melintas di otaknya. Pusing pun menderanya, kenangan itu seperti dejavu yang berputar di kepalanya.
"Lolita" Seru Aldi.
Lolita tidak mampu merespon perkataan Aldi. Kepalanya benar benar nyeri seperti ingin meledak.
"Arghhhh" Satu teriakan Lolos dari mulut Lolita sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya.
.
.
.
.
.
.
Votenya tenggelam jauh, sek sedih aku:(
__ADS_1
Yok berikan dukungan lagi berupa like dan vote sebanyak banyaknya biar masuk 10 besar lagi