
Aldi dan Satya terlihat masih setia menunggumu kabar Lolita didepan pintu IGD yang tak kunjung terbuka. Suara derab langkah tak membuat keduannya mengalihkan perhatiannya. Apalagi Aldi, laki laki itu sedari tadi tidak bisa mengentikan kakinya yang terus bergerak seperti orang yang sedang mejahit. Kedua tangannya ia gunakan untuk menompang dahinya.
"Aldi, Satya bagaimana keadaan Lolita?" Tanya Nita cemas. Wanita itu terlihat datang rame rame bersama dengan Nara, Wilna, Putra dan juga Doni.
Aldi tak menghiraukan pertanyaan mama mertunya. Satya yang melihat itu pun menjawab perkataan mamanya "Lolita masih diperiksa ma, mama tolong tenang dulu" Pintanya.
Tak berselang lama pintu pun terbuka, Aldi yang mendengar suara pintu terbuka itu langsung beranjak berdiri dan menghampiri sang dokter. "Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanyanya dengan nada bicara yang terlihat tergesa gesa.
"Keadaan ginja pasien semakin memburuk dan secepatnya membutuhkan ginjal baru, apakah pihak keluarga ada yang berniat untuk mendonorkan ginjalnya?" Ujar sang dokter.
"Saya dok" Seru Aldi dan Doni secara bersamaan.
"Biar saya saja dok, saya ayahnya" Ujar Doni.
"Saya saja dok, saya suaminya" Timpal Aldi.
"Baiklah kalau begitu" Dokter itu menjeda kaliamatnya kemudahan memanggil seorang suster yang sejak dari tadi berdiri disebelah kemudian berkata "Sus, Tolong antarkan mereka keruang pemeriksaan!" Titahnya.
"Baik dok" Seru Aldi dan Putra secara bersamaan.
"Mari" Seru suster yang kemudian berjalan mendahului Aldi dan Doni diikuti oleh ayah dan menantu itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi terlebih dahulu" Ujar sang Dokter yang kemudian pergi mengikuti Aldi dan Doni.
Keduanya di bawa menuju ke ruang periksa secara bergantian. Hingga akhirnya setengah jam kemudian pemerikasaan pun selesai.
Aldi dan Doni pun kembali ketempat Lolita dirawat. Lebih tepatnya tempat Lolita menginap karena beberapa menit yang lalu Lolita sudah dipindahkan.
Semua orang terlihat sedang duduk di kursi tunggu yang sudah disediakan oleh rumah sakit kecuali Nita. Wanita paruh baya itu tidak nampak disana.
"Aldi" Panggil Wilna.
"Aldi mau menemani Lolita bund" Ujar Aldi yang kemudian masuk keruang inap Lolita. Terlihat Nita sedang duduk do kursi sebelah brankar Lolita dengan keduanya tangannya menggenggam tangan Lolita.
"Mama" Panggil Aldi pelan.
Nita pun membalikan badannya. Terlihat menantunya yang kini sedang menatap nanar ke kearah Lolita.
"Mau jagain Lolita?" Tanya Nita. Dan Aldi hanya menganggukkan kepalanya.
Nita pun mengerti, ia segera beranjak berdiri dan berlalu keluar, sedangkan Aldi laki laki itu langsung mendaratkan tubuhnya di kursi yang sempat ditempati oleh mertuanya.
__ADS_1
Ditatapnya wajah istrinya yang terlihat pucat. Tangannya pun terangkat untuk membelai wajah sang istri. "Sebentar lagi kamu pasti akan terlepas dengan semua penderitaan ini sayang" Bisik Aldi.
"Apapun untukmu, aku akan memberikan dunia bahkan nyawaku sekalipun" Lanjutnya kemudian. Digenggamnya tangan istrinya dan diciumnya dengan penuh sayang.
********
"Bagaimana dok? Apakah salah satu dari kita bisa mendorkan ginjal kepada putri saya?" Tanya Doni ketika dokter yang menangani Lolita itu tiba.
"Dari hasil pemeriksaan, ginjal keduannya cocok tetapi keduannya sama sama tidak bisa mendonorkan ginjalnya untuk Nona Lolita" Terang dokter.
"Tapi kenapa dok?" Seru Aldi. Mendengar penjelasan sang dokter membuat dirinya benar benar frustasi. Rasa takut kelihatan terus menyelinap memenuhi relung hati.
"Dari hasil pemeriksaan, Tuan Doni memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan itu menjadi salah satu alasan anda tidak bisa mendonorkan ginjal anda untuk Putri Anda" Terang dokter.
Mendengar itu Doni menghela nafasnya kasar, ingin rasanya ia berteriak kencang ketika putrinya sedang membutuhkan bantuan tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Dan untuk anda Tuan Aldi, anda ternyata memiliki gangguan pembekuan darah atau yang biasa disebut dengan hemofilia. Hemofilia sendiri sangatlah berbahaya dan tidak memungkinkan untuk melakukan operasi karena itu bisa membahayakan nyawa anda" Terang sang dokter.
"Saya tidak perduli dok, saya akan tetap memberikan salah satu ginjal saya untuk istri saya" Seru Aldi dengan serius.
"Aldi, apa maksud kamu? Kamu ingin membahayakan nyawa kamu sendiri?" Seru Wilna.
"Aku hanya ingin menyelamatkan orang yang aku cintai saja Bunda" Tegas Aldi.
"Apa artinya aku jika tanpa Lolita, Lolita adalah hidupku dan dia adalah separuh dari raga dan nyawaku, jika Lolita tidak bisa diselamatkan maka aku pun tidak ada gunanya untuk hidup" Tegas Aldi.
Wilna terdiam. Ingin dirinya membantah perkataan putranya tapi dirinya tidak bisa. Bagaimana pun juga Lolita adalah istrinya, dan Aldi berkah atas dirinya dan istrinya.
"Dokter, saya yang akan mendonorkan ginjal saya untuk istri saya" Tegas Aldi.
"Tapi tuan, itu akan sangat berbahaya atau mungkin bisa menyebabkan kematian" Ujar sang dokter.
Semuanya terhenyak mendengar penuturan dokter itu.
"Aldi, jangan lebih baik kita mencarikan pendonor yang benar benar sehat" Seru Putra.
Aldi menoleh kepada ayah mertuanya kemudian bermata "Tidak ada banyak waktu untuk mencari papa" Jawab Aldi.
"Tapi itu membahayakan nyawa kamu sendiri Al" Seru Wilna.
"Lebih baik Aldi yang kehilangan nyawa dari pada hidup tapi kehilangan Lolita, keputusan Aldi sudah tidak bisa di ganggu gugat" Finis Aldi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, maka saya akan menyiapkan operasi transplantasi ginjal nona Lolita, tapi sebelumnya mohon kepada keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien harap membantu dengan cara mendonorkan darahnya karena operasi kali ini kita akan membutuhkan darah yang lebih banyak" Terang sang dokter.
******
Keesokan harinya.
Brankar yang ditempati Lolita terlihat didorong oleh beberapa perawat menuju ke ruang operasi. Pun brankar yang di tempat Aldi, keduanya sama sama masuk kedalam ruang operasi.
"Mas Aldi siap?" Tanya dokter yang akan membantu operasi transplantasi ginjal Lolita. Dan Aldi hanya menganggukkan kepalanya.
Seketika lampu pun menyala. Dokter pun mulai menyuntikan anestesi kepada Aldi dan seketika itu pula kesadaran Aldi pun mulai menurun.
"Untuk Lolita" Gumam Aldi dalam hati sebelum akhirnya matanya benar benar terpejam dengan sempurna.
Suara mesin pendeteksi detak jantung mengiringi dokter urologi yang mulai membuat sayatan di bagian bawah perut Aldi. Dan seketika itu pula darah Aldi pun sekakan membanjiri tempatnya. Dan darah baru pun terus mengalir dari kantongnya menuju ke tubuh Aldi untuk menggantikan darah yang sudah keluar.
Selama operasi berjalan, semua orang nampak sibuk dengan pikirannya masing-masing, wajahnya terlihat cemas berlebih.
Semuanya saling berdoa supaya operasi berjalan dengan lancar. Aldi dan Lolita pun baik baik saja.
Waktu terasa berjalan dengan sangat lambatnya. Pintu operasi tak kunjung terbuka, lampu pun masih terus menyala dan semuanya sibuk dengan kebisuannya tanpa ada yang berniat untuk membuka suara. Dalam hati semuanya berdoa yang terbaik untuk Aldi dan Lolita. Pasutri yang sedang berjuang dengan merenggang nyawa didalam ruang operasi.
Sedangakan dirumah. Baby Aksa terlihat sedang menangis, sedari tadi tidak mau diam sehingga membuat mbak Wilda pengasuhnya begitu kewalahan.
"Sayang cup ya jangan nangis lagi nanti gantengnya ilang loh" Ujar Mbak Wilda sembari menggoyang goyangkan tubuhnya yang kini sedang menggendong Aksa. Berharap agar Aksa terdiam dari tangkisnya. Tapi Aksa tak kunjung berhenti menangis juga, bayi itu terus menangis seakan ia ikut merasakan perjuangan orang tuanya yang kini sedang merenggangkan nyawa.
"Ya Allah nak, kamu kenapa nangis terus sih, apa kamu juga merasakan apa yang orang tua kamu rasakan" Gumam mbak Wilda.
.
.
.
.
.
.
Doakan Lolita semoga baik baik saja wkwkwk, ini sudah dipercepat alurnya, biar cepat tamatnya capek juga kalau ini di perpanjang nanti lama lama aku bisa semakin mencak mencak sama yang suka nyinyir 😂😂😂
__ADS_1
padahal aku ngomong santet cuma bercanda, eh di anggap serius lagian aku juga ga berani main santet santetan WAHAI NETIZEN 😂😂😂
KEEP CALM DAN NIKMATILAH SAAT SAAT TERAKHIR KALIAN DENGAN ALDI DAN LOLITA. YA MAU HUJAT SILAHAKAN HUJATAN KALIAN SAYA NIKMATI 😙