
SEBELUMNYA MAU INGETIN NIH, KONFLIK SEDANG MODE ON:)
JAN PADA BAPER T_T
SERAHKAN SEMUA PADA MAS ALDI, ASAL ADA DUKUNGAN SEMUA AKAN BAIK BAIK SAJA \ _____ /
< ○|○ >
︶
Satya meletakan cangkir kopi yang baru saja di minumnya. Pun Aldi yang juga melakukan hal yang sama. Kedua lelaki berbeda umur itu sedang berada di sebuah Coffiee Shop yang tidak jauh dari kantor Aldi.
"Jadi gimana soal perusahaan kamu?" Tanya Satya.
"Seperti yang abang ketahui, Sekarang kita sangat memerlukan orang baru untuk menanamkan saham di perusahaan papa karena jika dalam tiga hari tidak mendapatkan orang itu maka orang orang pemenang saham itu akan mencabut sahamnya" Terang Aldi.
"Bagaimana bisa perusahaan kamu bisa berada di ambang kehancuran secara dadakan?" Tanya Satya.
"Ada karyawan yang melakukan korupsi atas nama pemimpin perusahaan, dan itu dengan jumlah yang sangatlah besar sehingga membuat kita kehilangannya banyak dana, bersamaan dengan itu Dimitra's Group malah mencabut sahamnya di perusahaan ayah" Terang Aldi.
"Bagaimana bisa kalian pebisnis hebat bisa sampai lalai akan hal itu?" Tanya Satya lagi.
"Ya gimana ya bang, namanya juga musibah, gue sendiri juga bingung kenapa bisa dia korupsi sebanyak itu tapi tidak ketahuan, dan selama ini laporan yang masuk juga normal semua tidak ada yang mencurigakan" Ujar Aldi frustasi.
Satya terdiam, kalau seorang Aldi yang jenius saja bisa lalai bagaimana dengan dirinya yang bahkan tidak sejenius Aldi.
"Bang lo tahu nggak siapa yang sudah mengambil alih Dimitra's Group?" Tanya Aldi kemudian.
"Nggak Al, tidak ada pemberitahuan mengenai perusahaan Dimitra's yang sudah berpindah tangan" Ujar Satya.
"Bang gue benar benar merasa sangat pusing, disaat seperti ini malah dia kembali dan ingin membalaskan dendam" Ujar Aldi.
"Dia siapa?" Tanya Satya.
"Rere"
*******
"Mas Aldi" Panggil sekretaris Viona ketika melihat Aldi melintas di hadapannya.
"Iya kenapa mbak?" Tanya Aldi yang kini sudah mengentikan langkahnya.
"Maaf Mas, saya mendapat laporan dari perusahaan cabang yang ada di Bandung, katanya banyak warga yang demo karena katanya perusahaan kita menggunakan tidak menggunakan bahan bahan yang higienis dalam minuman terbaru yang baru kita luncurkan" Terang sekretaris Viona.
__ADS_1
Ya, selain bergerak di bidang properti perusahaan Aldi juga bergerak di bidang minuman.
Aldi terdiam, ia masih menunggu sekretarisnya itu untuk melanjutkan penjelasannya. "Mereka juga menuntut ganti rugi mas per kepala, dan ini mungkin akan membuat keadaan perusahaan kita semakin di ambang kehancuran" Lanjut sekretaris Viona.
"Baiklah mbak" Setelah mengatakan itu Aldi segera masuk kedalam ruangannya. Laki laki itu mendapati Felisha yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari membolak balikan sebuah dokumen.
"Sudah kembali?" Tanya Felisha tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Hm" Aldi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, laki laki itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari memijat pelipisnya.
Felisha meletakan dokumen yang sedang ia baca, gadis itu kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu mendudukan dirinya di sebelah Aldi.
"Sudah mendengar kabar terbaru mengenai perusahaan cabang?" Tanya Felisha.
"Dia benar benar menyerang habis habisan" Ujar Aldi sembari menegakkan tubuhnya.
"Lo sekarang tahu kan apa yang harus lo lakukan? Semakin cepat semakin baik" Ujar Felisha yang kemudian beranjak dari tempat dudukan dan berdiri di depan jendela sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Gue benar benar nggak bisa menarik uang sepeser pun dari perusahaan cabang, semua proposal yang gue ajukan juga di tolak" Seru Aldi kesal.
"Udah sih Al nggak usah dipikir pusing, kita kan sebelumnya sudah bicara soal ini" Ujar Felisha.
"Bukan gitu Fel, kalau bisa cari perusahaan lain kenapa harus perusahaan Arisena" Ujar Aldi.
"Tapi gue bener bener nggak bisa buat Lolita sedih untuk kesekian kalinya" Ucap Aldi lesu.
Felisha kembali mendudukan dirinya di sebelah Aldi. "Al lo percaya kan sama gue, lo itu sama gue udah berteman dari sejak kecil, gue juga saksi bisu lo ditinggal oleh orang tua lo demi perusahaan ini, terus apa lo tega membiarkan perusahaan ini hancur dan lo harus mulai dari nol lagi? Apa lo tega jika Aksa bernasib dengan lo saat kecil?" Felisha menjeda kalimatnya, ia kemudian menggenggam tangan Aldi dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Percayalah bahwa gue tidak akan pernah menipu lo dan gue juga nggak akan pernah memanfaatkan sekecil apapun yang ada, gue mohon sama lo jangan pernah ragu untuk semua ini".
"Felisha, thanks gue percaya sama lo dan terimakasih karena lo mau mendukung gue" Ujar Aldi.
"Iya sama sama" Jawan Felisha. Gadis itu melesatkan senyum manis di wajahnya. "Gue nggak di kasih peluk ini?" Ujar Felisha sembari merentangkan tangannya dan memoyongkan bibirnya.
"Gak berubah ya lo, manja bener" Aldi mencubit hidung Felisha kemudian merangkuh tubuh Felisha kedalam tubuhnya.
"Gue sayang banget Al sama lo, dari kecil sampai sekarang rasa sayang itu nggak akan pernah berubah" Ucap Felisha sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Aldi.
"Apa maksud dari kalimat Lo tadi?" Seru Lolita yang tiba tiba muncul. Gadis itu berdiri sembari menggendong Aksa.
Aldi dan Felisha segera melepaskan pelukannya. "Lolita, sayang ini semua nggak seperti apa yang kamu lihat" Ujar Aldi sembari beranjak berdiri dan menghampiri Lolita.
"Kalau seperti apa yang aku lihat juga nggak papa, gue cukup tahu dan cukup sadar diri kalau ternyata seseorang dari masalalu itu cukup berarti" Setelah mengatakan itu Lolita langsung berlari keluar dari ruangan Aldi. Melihat itu Aldi pun hendak mengejarnya tetapi suara Felisa menghentikannya.
"Aldi, biarkan saja, atau lo mau semua rencana kita hancur dan Aksa akan mengalami pedihnya hidup tanpa kasih sayang orang tua?" Ujar Felisha.
__ADS_1
"Tapi Fel, gue nggak bisa membiarkan Lolita salah paham seperti itu" Ujar Aldi.
"Bersabarlah biar gue yang ngomong sama Lolita" Ujar Felisha. Tanpa menunggu persetujuan dari Aldi gadis itu langsung saja berjalan keluar menyusul Lolita yang nyaris masuk kedalam lift.
"Lolita" Seru Felisha.
Lolita yang hendak masuk kedalam lift itu mengurungkan niatnya. Ia membalikan badannya menatap Felisha.
"Kenapa? Apa lo sekarang merasa puas?" Tanya Lolita dengan sarkas.
Felisha menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Puas, sangat puas" Ujar Felisha.
"Felisha, gue berfikir Lo itu benar benar tulus mau menjadi teman gue, tapi ternyata gue salah, gue terlalu bodoh karena percaya dengan manusia ular seperti lo yang menjelma menjadi seekor kucing yang baik hati" Ujar Lolita.
"Terimakasih untuk pujiannya" Jawab Felisha dengan tenang.
"Apa lo nggak malu, lo itu cantik dan Lo juga pintar, tapi sayang perebut suami orang" Ujar Lolita.
"Nona Lolita ternyata sangat suka banyak bicara" Ujar Felisha.
"Dengar Felisha, sekeras apapun lo berjuang untuk mendapatkan hati, tetapi status gue tetap masih berada di atas lo" Tegas Lolita.
"Oh ya? Bagaimana jika setelah ini semua berubah dan gue yang berada di atas lo?" Seru Felisha yang kemudian membalikkan badannya untuk kembali keruangan Aldi.
Lolita sejenak terdiam. Ia mencerna baik baik apa yang dikatakan oleh Felisha, Lolita menatap punggung Felisha yang semakin mengecil di penglihatannya. "Aldi, apa lo setega itu untuk menorehkan luka yang kesekian kalinya dia hati ku?" Gumam Lolita. Tiba tiba setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. "Nggak Lolita, lo nggak boleh nyerah, lo harus berjuang, jika bukan karena diri lo sendiri setidaknya berjuanglah untuk Aksa" Imbuh Lolita yang kemudian masuk kedalam Lift.
.
.
.
.
.
.
Gimana pusing? Kalian sih pada spoiler wkwk.
Awalnya ku mau kasih konflik yang ringan, tapi karena lihat komentar kalian di part 99 isinya spoiler jadi ya alurnya ku tanjakin biar kalian sekalian menerka nerka sampai pusing hehe.
Nah lo, gosah mikir wkwk biar aku yang mikir, karena tugas kalean tuh cuma baca, like, rate 5, komen yang bae² terus vote sebanyak banyaknya. Masalah kelangsungan hidup Loli dan Aldi mah biar aku yang mikir kalean gosah ikut²an nanti pusing wkwkkk🤣
__ADS_1