
"Terimakasih sudah menolong suami saya, tapi bagaimana dengan keadaannya?" Tanya Lolita, raut muka cemas terlihat sangat kentara diwajahnya.
"Saya tidak tahu Nona, karena sedaritadi dokter belum juga keluar. Tetapi ia tadi mengalami banyak luka dan mengeluarkan banyak darah" Mendengar itu Lolita dibuat semakin khawatir tak karuan, Luka dan darah adalah sesuatu yang paling ia takutkan. Padahal ia tidak memiliki phobia terhadap darah.
Lolita seketika menghambur ke pelukan sang mama. "Aldi pasti baik baik saja" ujar Nita menenangkan putrinya walau ia sendiri juga merasa takut.
Orang yang menolong Aldi itu memperhatikan Lolita dan Nita secara bergantian dari atas hingga bawah. "Maaf sebelumnya, apakah anda benar benar istri dari korban?" Tanya laki laki itu lagi untuk memastikan. Karena ia berfikir kalau Lolita masih terlalu kecil dan tidak cocok jika disebut sebagai seorang istri meskipun kenyataannya korban kecelakaan juga tidaklah tua.
"Iya, dia adalah istri korban" Jawab Nita yang masih memeluk Lolita.
"Tapi--" perkataan laki laki itu terpotong ketika seorang dokter keluar.
"Keluarga pasien?" Seru dokter itu.
Lolita segera melepaskan pelukannya, ia kemudian mendekat kearah dokter itu. "Saya istrinya dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Lolita dengan tidak sabar. Dokter itu sejenak diam dan memperhatikan Lolita dari atas hingga bawah sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.
"Kami sudah berusaha sebaik mungkin nona, tetapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Suami anda mengalami serangan jantung dadakan dan kepalanya mengalami benturan yang sangat keras hingga membantu nyawanya tidak terselamatkan" Jelas Dokter.
Mendengar penjelasan sang dokter, Lolita serasa ditikam menggunakan belati yang sangat tajam, ia kembali dihadapan dengan perpisahan. Dan yang lebih menyesakkan ialah perpisahan tanpa pertemuan.
Omong kosong apa yang dikatakan oleh dokter itu tadi. Serangan jantung dadakan? Rasanya Lolita ingin tertawa sekencang kencangnya. Bisa bisanya dokter itu membuat lelucon dengannya.
"Lelucon apa yang ada katakan? Serangan jantung dadakan? Anda bercanda? Kenapa tidak sekalian serangan hati dadakan?" Tanya Lolita dengan nada membentak, ia menatap dokter itu tajam dan sepertinya Lolita akan gila.
"Maaf nona, tetapi kita sudah berusaha sebaik mungkin" Ujar dokter itu yang tidak bisa berbuat apa apa.
Lolita memutar badannya menatap mamanya, air matanya perlahan kembali mengalir melewati pipi mulusnya.
"Sabar sayang, kamu pasti kuat melewati semua ini" Ujar Nita mencoba memberi kekuatan kepada Lolita.
"Sabar apa sih ma? Cobaan apa? Mama juga mau ikut bercanda? Aldi tadi bahkan ia masih baik baik saja, bagaimana mungkin ia bisa mengalami serangan jantung dadakan?" Bentak Lolita yang merasa tidak terima akan perkataan mamanya sambil menghapus air matanya dengan kasar.
Nita pun tidak bisa berbuat apa apa, ia tahu kalau sekarang ini Lolita merasa sangat terpukul. Ia sendiri masih tidak percaya jika menantunya itu akan pergi secepat itu. Meninggalkan keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Saya mau melihat suami saya" ucap Lolita.
Dokter itu pun mempersilahkan Lolita dan mamanya untuk masuk dan melihat jasad Aldi.
Air mata Lolita kembali mengalir melihat tubuh Aldi yang kini terbaring kaku dan ditutup menggunakan kain berwarna putih.
"Lelucon apa ini Aldi?" Ucap Lolita, ia mengulurkan tangannya hendak membuka kain yang menutupi wajah Aldi. Tetapi rasanya ia tak sanggup untuk melakukan itu, tangannya bergetar hebat, tubuhnya lemas hingga membuat tubuhnya ambruk memeluk Aldi.
Lolita semakin menangis sejadi jadinya. "Bangun bodoh" Ucap Lolita sembari mengguncang tubuh Aldi.
"Kamu bilang kamu cinta sama aku, engga akan ninggalin aku, tapi ini apa?" Ucap Lolita lagi sambil terus mengguncang tubuh Aldi berharap laki laki itu akan terbangun.
"Kamu lupa ada aku dan Aksa yang menunggu kepulangan mu, dan kamu malah enak enakan tiduran disini" Ucap Lolita lagi.
Nita dan suster yang menyaksikan itu pun tak kuasa menahan air matanya.
Lolita benar benar akan gila, bagaimana tidak seperti orang gila? Aldi meninggalkannya padahal dulu ia berjanji tidak akan pergi. Ia dihadapkan dengan perpisahan yang sangat menyakitkan yaitu kematian.
Tangan Lolita kemudian beralih kewajah Aldi yang masih tertutup. Ia dengan tangan gemetar membuka kain yang menutupi wajah Aldi. Dan Lolita seketika menghentikan tangisnya, begitu pula Nita.
Tetapi Lolita benar benar merasa lega ketika melihat wajah mayat tersebut dan ternyata bukan Aldi.
Bodoh memang kenapa ia tidak membuka terlebih dahulu kain yang menutupi wajah mayat tersebut baru menangis? Ah tetapi Lolita sungguh tidak bisa berfikir jernih, bagaimana bisa ia berfikir jernih ketika seseorang mengatakan suaminya yang positif hemofilia itu kecelakaan dan meninggal, tentu saja Lolita langsung percaya karena hemofilia itu memang sangat berbahaya dan mampu merenggut nyawa.
"Bukan Aldi ma" Ucap Lolita, meskipun ia merasa lega, tetapi tidak di pungkiri kalau ia masih masih merasa khawatir sebelum melihat suaminya itu baik baik saja dengan mata kepalanya sendiri.
Sedangkan dirumah, Aldi baru saja terlihat sampai dirumahnya. Ia langsung memasukan mobilnya kedalam garasi kemudian ia keluar dari dalam mobilnya tak lupa membawa barang belanjaannya.
Aldi membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci, ia pun masuk kedalam rumahnya tak lupa kembali menutup pintunya.
Suara tangisan Aksa membuat Aldi yang hendak pergi ke dapur itu mengurungkan niatnya dan menuju halaman samping.
Terlihat ayah mertuanya yang sedang menggendong Aksa dan mencoba menenangkan cucunya itu dengan ditemani oleh Bi Tuti.
__ADS_1
"Papa" Panggil Aldi dari belakang papa mertuanya.
Doni dan BinTuti pun segera membalikkan badannya dan mendapati Aldi yang kini berdiri dihadapannya dengan keadaan baik baik saja. Bahkan tidak ada bekas memar atau apapun di tubuhnya.
"Aldi, bukannya kamu--" Doni menggantungkan kalimatnya hingga membuat Aldi mengeryitkan dahinya.
"Kenapa pa?" Tanya Aldi yang merasa bingung.
"Kamu bukannya kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit?" Ujar Doni melanjutkan kalimatnya yang sempat terjeda.
Mendengar perkataan papanya, Aldi semakin menautkan alisnya hingga membuat kedua alisnya itu menyatu dan juga dahi yang mengeryit.
"Kecelakaan? Enggak, Aldi baik baik saja" Ujar Aldi.
"Terus Lolita sekarang dimana pa?" Tanya Aldi yang kini ekspresinya sudah kembali biasa.
"Dia mungkin sekarang sedang pingsan di rumah sakit sama mama kamu" Jawab Doni.
"Aldi baik baik saja, terus ini kenapa Aksa menangis?" Tanya Aldi sambil mengalihkan perhatiannya kearah Aksa.
"Den Aksa sudah sejak tadi sore nangis tuan engga mau diem" Ujar Bi Tuti.
"Coba sini pa, Biar Aldi gendong" Seru Aldi, ia memberikan kantung plastik yang ia bawa kepada Bi Tuti kemudian mengambil alih Aksa dari gendongan papa mertuanya.
Aksa seketika terdiam ketika Aldi menggendongnya, bayi itu seakan tahu siapa yang mengajaknya.
"Bi Tuti simpan belanjaan saya ke dapur ya!" pinta Aldi.
"Baik Tuan" Seru Bi Tuti yang kemudian berlalu masuk meninggalkan Aldi, Aksa dan Doni.
Aldi menatap wajah Aksa yang memerah dan juga basah karena air matanya. Ia kemudian menghapus jejak air mata Aksa menggunakan ibu jarinya.
"Jagoan papa kenapa nangis?" Tanya Aldi. Namun Aksa tidak menjawab, ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak papanya.
__ADS_1
Aldi pun tersenyum dan mengelus puncak kepala Aksa dengan sayang hingga membuat anak itu tertidur karena kelelahan menangis.
Jangan lupa beri dukungan kalian berupa like dan votenya, terimakasih.