Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Merasa Ragu


__ADS_3

SUDAH SAYA KATAKAN SEBELUMNYA BAHWA INI ADALAH KONFLIK TERKAHIR DAN MUNGKIN AKAN SEDIKIT PANJANG DAN SEDIKIT BERBELIT, MUNGKIN BEBERAPA DARI KALIAN SUDAH MENERKA NERKA ISI CERITA TAPI ITU BELUM TENTU BENAR, DAN BUAT KALIAN YANG BINGUNG BAGAIMANA JALAN KONFLIKNYA INI NANTI AKU BAKAL SELIPIN BEBERAPA FLASHBACK SETELAH MASALAHNYA SELESAI.


BUAT YANG SUDAH MERASA TEBAKAN KALIAN BENAR, SILAHKAN TERUS IKUTI CERITANYA APA SEPERTI YANG KALIAN DUGA ATAU MALAH SEBALIKNYA.


*************


Lolita terlihat sedang bermain dengan Aksa di kamarnya, perempuan itu nampaknya tidak seceria biasanya. Pikirannya terus terlempar dimana kejadian ia memergoki Felisha dan juga Aldi yang sedang berpelukan.


Lolita mencoba untuk tetap berfikir positif, ia tidak mau bertindak gegabah seperti saat dulu masih SMA. Bisa saja Aldi memiliki alasan tersendiri kenapa dia harus sedekat itu dengan Felisha mengingat sekarang kondisi perubahannya tidak stabil. Apalagi Aldi adalah tipe laki laki yang lemah lembut, saat SMA saja ia sampai berpacaran dengan Salsa hanya untuk melindungi gadis itu dari papa dan kakaknya.


Ingin Lolita berfikir seperti itu, tetapi rasanya sangat sulit mengingat Aldi tadi tidak mengejarnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan malah membiarkan Felisha yang menemuinya.


Lolita melirik kearah jam yang berada diatas nakas dan waktu menunjukkan pukul 20.03 WIB dan sampai saat ini Aldi belum pulang juga.


"Aksa nggak ngantuk hmm?" Tanya Lolita kepada Aksa yang masih sibuk dengan permainannya.


"Sudah malam ini sayang" Ujar Lolita. "Atau Aksa lagi nunggu papa pulang?" Imbuhnya lagi. Nyeri, itulah yang Lolita rasakan sekarang di dadanya saat mengatakan kaliamat nunggu papa pulang.


"Gendong sama mama yuk" Lolita langsung mengambil alih Aksa, dan meminangnya agar putra kecilnya itu lekas terlelap.


Tak butuh waktu lama Aksa pun sudah memejamkan matanya. Dan Lolita segera memindahkan tubuh Aksa kedalam box bayi. Bersamaan dengan itu pula Aldi pun tiba, laki laki itu terlihat masih lengkap dengan stelan kantornya.


Lolita menghampiri suaminya, perempuan itu mengambil tas kerja dan membantu melepaskan jas yang dikenakan oleh Aldi.


"Lolita kenapa tidak marah dan malah melayaniku, apa yang dikatakan oleh Felisha tadi" Gumam Aldi dalam hati. Laki laki itu hanya memperhatikan Lolita yang sibuk menyimpan tas kerja dan juga jasnya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Tak lama Lolita pun sudah keluar dari dalam kamar mandi, perempuan itu menghampiri Aldi yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya. "Mandilah airnya sudah aku siapkan, aku akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam untukmu" Ujar Lolita.


"Aku sudah makan malam sama Felisha" Jawab Aldi yang kemudian beranjak berdiri dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"O" Lolita hanya ber O ria, sebenarnya ia terluka mendapat jawaban dari Aldi. Tapi apa daya, ini semua semata mata untuk Aksa, dan mungkin juga untuk cinta mereka.

__ADS_1


Aldi terdiam di balik pintu kamar mandi. Laki laki itu merasa sudah menjadi suami terjahat yang di dunia, bagiamana bisa dirinya menolak dilayani istrinya dan berkata kalau sudah makan dengan perempuan lain.


******


Tak butuh waktu lama Aldi pun sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dilihatnya Lolita yang sudah merebahkan dirinya dengan posisi meringkuk membelakanginya dengan sehelai kain berbulu yang menutupi tubuhnya.


Aldi berlalu melewatinya, laki laki itu tidak mengenakan baju ganti yang sudah dipilihnya Lolita dan memakai baju yang baru saja di ambilnya dari dalam Almari. Setelah itu ia mengambil tas kerjanya dan membawanya menunju ke sofa.


Suara dering ponsel membuat Aldi yang hendak mendudukkan dirinya itu mengurungkan niatnya. Laki laki itu meletakan tas kerjanya diatas meja dan berjalan menuju nakas dimana handphone berada.


"Felisha" Gumam Aldi membaca nama si penelpon. Ia kemudian berjalan menuju ke balkon kamarnya dan tanpa di ketahui Aldi kalau sebenarnya Lolita belum tertidur. Perempuan itu hanya pura pura tidur.


Lolita segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Perempuan itu kemudian berjalan menuju ke balkon, tetapi langkahnya hanya terhenti di depan pintu kaca. Samar samar Lolita mendengar percakapan Aldi dan Felisha.


"Iya selamat malam dan selamat beristirahat" Itulah kalimat terkahir yang diucapkan oleh Aldi sebelum menutup sambungan telfonnya.


Laki laki itu kemudian membalikkan badannya dan mendapati Lolita yang sedang berdiri di depannya. Keduanya sama sama terdiam dan saling pandang.


Hingga akhirnya Aldi pun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya. Tetapi suara Lolita berhasil menghentikan langkahnya tepat di sampingnya. "Jadi?" Lolita melirik Aldi hanya dengan ujung matanya.


Lolita memutar tubuhnya menghadap kearah Aldi. "Jadi benar apa yang aku lihat tadi?" Ujar Lolita.


"Ya" Jawab Aldi singkat.


Lolita memejamkan matanya sejenak, mencoba menetralisir sesak yang menyeruak dalam dadanya. Lolita perlahan kembali membuka matanya kemudian berkata, "Sekarang aku menjadi ragu Al, apa aku harus tetap percaya kepadamu seperti apa katamu kemarin bahwa apapun yang terjadi tetap percaayalah kepadaku, percayalah bahwa itu semua bukan keinginanku" Lolita menjeda sejenak setelah mengulang kalimat yang kemarin sempat di katakan Aldi.


"Aku benar benar ragu untuk mempercayai kaliamat itu, tolong bantu aku agar tidak meragukan kalimatmu itu" Imbuh Lolita lagi sembari menepis air mata yang sudah mengalir nyaris deras dipipinya.


Aldi bungkam, dia hanya dia dan menatap lurus kedepan. Sama halnya dengan Lolita ia juga merasa nyeri didadanya.


"Tolong katakan kepadaku sekarang aku harus tetap mundur atau maju!" Ujar Lolita lagi.

__ADS_1


Keheningan malam yang hanya di temani oleh hembusan angin itu menambahkan kesan menyayat yang cukup dalam.


"Katakan kepada ku apakah aku harus bertahan atau merelakan?"


"Aku berfikir kamu cukup pintar untuk belajar dari masalalu, bahwa kunci dari sebuah hubungan adalah keterbukaan dan kejujuran"


"Aku harap kamu tidak terlalu egois hanya karena bosan, karena kita hidup, berjuang dan bertahan sampai sejauh ini bukan hanya untuk kita berdua, tapi juga untuk Aksa"


Lolita menepis air mata yang dengan nakal membasahi pipinya kemudian membalikkan badannya dan kemudian melangkahkan kakinya hanya beberapa langkah kemudian berhenti dan kembali menatap Aldi dan berkata "Aku masih tetap ingin berjuang dan bertahan untuk sebuah keutuhan yang didasari rasa cinta dan sayang, semoga kamu tahu akan itu Al" Setelah mengatakan itu Lolita kembali ketempat tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Sedangakan Aldi, laki laki itu masih dia dan bungkam, ia tidak berniat untuk mengeluarkan kata atau mungkin tidak mampu untuk berkata kata karena kalimat kalimat yang diucapkan Lolita sangat menyayat hatinya.


Aldi memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Jakunya naik turun saat ia dengan susah payah menelan ludahnya. Seakan dirinya juga menelan kepahitan didalamnya.


Aldi kembali membuka matanya. Ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia mengambil kunci mobilnya dan berlalu keluar dari dalam kamarnya.


Entah kemana tujuan laki laki itu malam ini, yang jelas sekarang ia benar benar membutuhkan ketengan. Masalah perusahaan mungkin sekarang sudah tidak terlanjur mengusik pikirannya, tetapi perkataan dan air mata Lolita sangat berpengaruh terhadap dirinya sekarang.


Apakah salah ia melakukan ini semua untuk membuat seseorang jera? Dirinya hanya ingin melindungi istrinya, itu saja.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mau ingetin lagi, Sekarang sedang konflik jan pada baper hehe


Percayakan semua pada mas Aldi, asal ada dukungan semua akan baik baik saja wkwk


__ADS_2