
Keesokan harinya Disa terbangun. Ia mengerjakan matanya menyesuaikan pencahayaan yang masuk kedalam Indra penglihatannya.
"Kepala gue pusing sekali, pasti gue mabuk berat" Gumam Disa sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
Disa mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru. "Kamar ini lagi" Gumam Disa.
Ia kemudian beranjak untuk duduk, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Disa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Siapa sih sebenarnya yang nolongin gue" Batin Disa. Ia kemudian menoleh kearah nakas. Terdapat dua buah paper bag dan sebuah surat. Disa mengambil surat tersebut kemudian membacanya.
~Bersihkan dirimu, gue sudah membelikan perlengkapan mandi untuk. Setelah itu turunlah untuk sarapan!~
Disa melihat isi paper bag tersebut. Dan benar saja sudah ada pakaian dan peralatan mandi yang lengkap disitu.
Disa mengambil paparbag itu lalu masuk kedalam kamar mandi yang sudah menyatu dengan kamar itu.
Disa membuka semua baju yang menutupi tubuhnya, menghidupkan shower dan membiarkan shower itu menguyur tubuhnya, kemudian membaluri tubuhnya dengan sabun yang memiliki wangi mawar.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Disa memakai handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
Ia kemudian mengambil paparbag yang satunya lagi. Terdapat satu set pakaian lengkap beserta dalamnya.
"Astaga" Gumam Disa dengan wajah yang memerah. Ia merasa malu ketika melihat satu set pakaian itu.
Disa kemudian memakai semua pakaian yang terlihat sangat pas ditubuhnya.
"Cowok apa cewek sih yang nolong gue, kenapa bisa pas gini" Gumam Disa sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Setelah puas melihat penampilannya, Disa akhir keluar juga dari dalam kamar mandi masih dengan rambut yang basah. Disa pun mendudukkan dirinya di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.
"Gue harus berterimakasih sama orang yang sudah menolong gue" Gumam Disa. Ia kemudian meraih sisir dan menyisir rambutnya yang setengah basah itu. Setelah rambutnya tersisir dengan rapi, Disa mengembalikan sisir itu pada tempatnya. Ia juga menyimpan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut ketempat yang semestinya. Setelah itu Disa pun keluar dari dalam kamar tersebut.
****
Kevin sedang menata makanan yang sebelumnya sudah ia pesan di atas meja makan.
"Sudah bangun belum ya dia" Gumam Kevin sambil menatap kearah kamar yang di tempati Disa.
Tak berselang lama setelah Kevin melirik kearah kamar yang ditempati Disa. Disa pun akhirnya muncul juga.
"Sudah bangun, ayo sarapan!" Ajak Kevin ketika melihat kedatangan Disa.
"Elo?" Ucap Disa sambil menunjuk kearah Kevin.
"Iya gue, gue yang nolong lo" Jawab Kevin sambil mendudukkan dirinya kursi.
Disa membelakakan matanya. "Dia, astaga apakah gue udah di apa apain sama dia?" Gumam Disa dalam hati.
"Kenapa lo melotot?" Tanya Kevin heran.
Disa menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Kevin.
"Lo makan sup itu untuk meredakan mabuk lo" Ucap Kevin sambil menunjuk sup yang ada dihadapan Disa.
Disa pun mulai memakan supnya sambil menatap Kevin yang juga menikmati sarapannya yang terlewat karena sekarang sudah hampir siang.
"Kenapa lo lihatin gue?" Tanya Kevin ketika tidak sengaja memergoki Disa yang sedang menatapnya.
"Lo apakan gue?" Tanya Disa dengan tatapan menyelidik.
"Apakan? Emang gue ngapain lo?" Tanya Kevin yang memang tidak tahu apa yang dimaksudkan Disa.
"Hmmm" Disa masih menatap Kevin dengan tatapan menyelidik dan tajam.
"Kevin tiba tiba tersenyum ketika ia sudah memahami kemana arah pembicaraan Disa.
"Kenapa lo tersenyum? Lo? Lo sudah?" Disa menghentikan ucapannya sambil menunjuk kearah Kevin.
"Tau" Jawab Kevin sambil mengangkat bahunya.
Melihat itu Disa menjadi sangat marah dan kesal. "Lo keterlaluan dasar brengsek" Ucap Disa sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
"Apa salahnya? Bukannya kita akan menikah?" Tanya Kevin sambil tersenyum smirk.
"EMANG SIAPA YANG MAU NIKAH SAMA LO, DASAR ORANG GILA" Teriak Rere dengan kesal.
"Kenapa? Bukannya sudah tidak ada yang bisa lo harapkan dari Aldi lagi? Karena ternyata dia sudah menikah?" Tanya Kevin sambil beranjak berdiri dan berjalan mendekati Disa.
Plakkkkk
Tangan Disa pun mendarat tepat di pipi mulus Kevin.
"Kenapa lo nampar gue?" Tanya Kevin sambil memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras Disa.
"Karena lo brengsek" Ucap Disa. Gadis itu kemudian berlari masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya sambil menangis.
Ia tidak menyangka kalau ternyata dirinya sudah tidak suci lagi.
Disa memang nakal, dia juga suka membully tapi dia selalu menjaga mahkotanya. Apa kata saudara saudara jika tahu kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Dia pasti akan semakin di benci dan di caci maki.
Disa terus saja menangis sampai akhirnya sore hari pun tiba.
Tok
Tok
Tok
Kevin mengetuk tiga kali pintu kamar Disa. Namun tidak ada sautan dari dari dalam sana. Hanya isakan tangis dengan jarang yang bisa Kevin dengar. Mendengar itu Kevin merasa sangat bersalah.
"Disa buka pintunya!" Pinta Kevin. Namun pintu bercat putih itu masih belum terbuka juga.
"Dis" Panggi Kevin sambil memainkan jarinya di pintu itu. Jika dilihat Kevin lebih mirip dengan seorang kekasih yang sedang membujuk kekasihnya untuk tidak ngambek lagi dari pada merasa bersalah.
"Gue dobrak nih pintunya kalau masih ngga dibukain" Ucap Kevin lagi.
Mendengar itupun Disa kemudian turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu sambil menghapus sisa air matanya.
Disa membuka kuncinya lalu menarik ganggang pintu itu kebawah hingga pintu itupun terbuka dan menampilkan sosok Kevin yang berdiri sambil menatapnya.
Kevin pun mengikuti Disa masuk kedalam kamar, ia menutup pintu kamar itu lalu mendudukkan dirinya disebelah Disa.
"Jangan dekat dekat sama gue" Ucap Disa ketus dengan suara seraknya.
"Maafin gue" Ucap Kevin dengan nada bersalah.
"Gue ga sudi maafin orang brengsek seperti lo" Ujar Disa ketus.
"Uda lo tenang aja, gue belum pernah nyentuh Lo sama sekali kok" Tutur Kevin. Mendengar itu Disa pun memutar lehernya menatap wajah Kevin.
"Maksud lo?" Tanya Disa.
"Tadi gue cuma bercanda. Gue ngga apa apa in lo sumpah" Ujar Kevin sambil mengangkat tangannya membentuk peace.
"Bercanda lo ngga lucu tahu ngga" Ucap Disa kesal sambil mendorong tubuh Kevin lalu memukulinya.
"Iya iya maafin gue. Masa Lo ngga bisa bedain sih gimana rasanya habis itu dab tidak" Ucap Kevin.
Mendengar itu Disa seketika menghentikan pukulannya pada tubuh Kevin.
"Gue mau ngajak Lo kesuatu tempat untuk menenangkan diri" Ujar Kevin kemudian.
"Kemana?" Tanya Disa.
"Udah ngga usah banyak tanya ikut aja" ujar Kevin sambil memegang tangan Disa. Melihat itupun Disa merasa sangat terkejut. Ia menatap kearah Kevin yang juga menatap. Mereka berdua pun akhirnya saling memandang satu sama lain sampai akhirnya.
"Lepasin tangan gue!" Ketus Disa sambil menepis tangan Kevin.
"Gue ngga mau pergi sama lo, lo pergi aja sendiri" Ucap Disa sambil memalingkan mukanya.
"Kenapa?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Lo ga lihat mata gue sembab kayak gini, malu lah" Jawab Disa dengan dengan Kesal.
"Oh iya hp gue mana?" Tanya Disa sambil mengedarkan pandangannya.
"Ngga tahu mungkin tertinggal di bar" Jawab Kevin dengan santainya.
"Ya hilang dong" Ucap Disa sedih.
"Masalahnya disitu ada video" Jawab Disa.
"Video apaan?" Tanya Kevin sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Video lo sama mantan lo" Jawab Disa ketus.
"Lo dapat Video itu dari mana?" Tanya Kevin yang kini sudah memasang muka serius.
"Dari Devi" Jawab Disa ketus.
"Udahlah biarin aja, lagian itu video sudah menjadi sampah yang tidak berguna" Ucap Disa sambil mengingat pesta perayaan pernikahan Aldi dan Lolita.
"Saat gue tahu kalau ternyata Lo adakah mantan Lolita yang sekarat sudah menjadi istri Aldi gue berniat buat ngajak lo kerja sama buat dapetin orang yang kita sukai, tapi sekarang gue udah ngga tertarik dengan itu lagi" Jelas Disa.
"Mundur, itu lah pilihan yang tepat" Ujar Kevin. Mendengar itu Disa kemudian menoleh kearah Kevin.
"Ya lo benar, karena kita tidak mungkin merusak hubungan seseorang yang sudah jelas jelas sah dimata hukum dan agama" Ujar Disa.
"Apalagi ternyata mereka sudah mempunyai buah hati. Hmm gue tidak mungkin merebut papanya. Karena gue tahu bagaimana rasanya tidak mempunyai orang tua yang genap" Ujar Disa sambil tersenyum getir.
"Aku juga bisa merasakan gimana pahitnya jika orang tua kita berantem dan nyaris pisah hanya karena orang ketiga" Seru Kevin.
"Orang tua lo pernah nyaris berpisah?" Tanya Disa sambil menatap Kevin.
"Hmm iya tapi itu sudah lama sekali" Jawab Kevin sambil tersenyum.
"Mending sekarang kita lupakan mereka, biarkan mereka bahagia dengan orang yang tepat dan lebih berhak" Ucap Kevin. Meskipun sakit tapi itu adalah keputusan yang benar.
"Iya, senakal nakalnya gue, gue ngga akan merebut suami orang" Ujar Disa sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan perjodohan kita? Apa Lo tetep bersedia?" Tanya Kevin.
"Jujur gue tidak mengharapkan perjodohan ini. Gue ingin menata hidup gue dan membuka lembaran baru. Tapi jika itu yang diinginkan papa apa yang bisa gue lakuin?" Jelas Disa.
Kevin hanya diam mendengar ucapan Disa sambil menatap gadis itu. "Lo masih mau disini atau kau gue anterin pulang?" Tanya Kevin.
"Kalau lo ijinin, gue masih mau menginap diapart lo, itu juga kalau lo ngga keberatan" Jawab Disa.
"Tentu, ya udah kalau gitu lo disini aja. Gue mau keluar sebentar" Ucap Kevin, dan Disa pun mengangguk.
Kevin kemudian beranjak berdiri dan pergi meninggalkan kamar Disa. Sedangkan Disa hanya menatap punggung Kevin yang menghilang dibalik pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa part akan berisi Rere, Disa dan Kevin