
Rere baru saja sampai dirumahnya dengan keadaan yang sudah biasa biasa saja. Dia juga sudah mengganti pakainya dengan pakaian baru.
"Rere astaga sayang kamu pulang" Ujar sang mama senang ketika melihat putrinya pulang. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu pun dengan buru buru turun dari anak tangga dan memeluk putrinya.
"Kamu dari mana saja, mama sangat khawatir" Ucap sang mama sambil melepaskan pelukannya. Ia memegang bahu Rere lalu memperhatikan putrinya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala untuk memastikan kalau putrinya itu baik baik saja.
"Rere baik baik saja ma" Jawab Rere dengan nada lelah.
"Kamu sudah makan? Semalam kamu menginap dimana?" Tanya Nita sambil menatap wajah Rere.
Mendengar pernyataan sang mama, Rere terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah mamanya.
"Dirumah temen" Jawab Rere kemudian.
"Syukurlah sayang kamu baik baik saja" Saut mama Rere sambil tersenyum.
"Ma, Rere lelah mau ke kamar" Ucap Rere.
"Ya udah, kamu istirahat ya sayang, biar mama memasak makanan kesukaan kamu" Ucap sang mama senang.
Tanpa menjawab ucapan sang mama, Rere langsung saja berjalan meninggalkan mamanya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Rere melempar tubuhnya dengan kasar diatas tempat tidur.
Ia memejamkan matanya mencoba untuk melepaskan beban pikirannya. Namun semua itu terus membayang bayangngiya.
Dimana ia mendengar kabar kalau ternyata Aldi sudah menikah, melihat Aldi dan Lolita yang berjalan dengan sangat mesra. Dan mengingat kejadian setelah ia mabuk.
Ingatan terkahir membuat Rere begitu terkejut, ia membuat matanya dan merubah posisinya menjadi duduk. Nafas gadis itu tersenggal senggal.
"Astaga bodohnya" Geram Rere sambil meremas rambutnya.
Rere mengambil tas slempangnya yang ia lemparkan diatas tempat tidur. Ia kemudian mengambil sebuah obat dalam bentuk tablet dari dalam tasnya.
Tanpa membaca aturan minumnya, Rere langsung membuka tiga butir obat dan menelannya menggunakan air yang entah kapan sudah tersedia di atas nakasnya.
Setelah meminum obat itu, Rere kembali menyimpan obat itu kedalam tas. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi, tanpa melepas pakaiannya ia kemudian masuk kedalam bath up yang berisi air. Rere memjamkan matanya mencoba merilekskan otaknya.
Setelah ia merasa puas berandam, Rere Kemudian melepaskan semua bajunya. Ia mengguyur tubuhnya menggunakan air dari shower dan meluluri tubuhnya dengan sabun yang memiliki wangi sakura.
Setelah semuanya rata dengan sabun Rere pun membilasnya hingga bersih. Setelah itu ia memastikan shower dan memakai kimononya tak lupa pula melilit rambutnya.
Rere keluar dari dalam kamar mandi. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Rere meraih tasnya dan mencari ponselnya.
Setelah benda pipih itu ketemu, Rere kemudian menghidupkan ponselnya yang semalaman ia nonaktifkan.
Terlihat banyak sekali pesan pesan yang masuk dari Caca. Rere pun membuka pesan dari Caca dan membacanya.
Di tengah aktifitasnya membaca pesan, ponsel Rere tiba tiba berdering. Nama Caca tertera di layar ponselnya.
"Iya kenapa Ca?" Tanya Rere setelah mendekatkan ponselnya itu dekat dengan daun telinganya.
__ADS_1
"Re lo dimana? Are you okey? Kuatkan hatimu Re, jangan melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri Lo sendiri" Cerocos Caca dari sebrang telfon.
"Gue dirumah, dan gue baik baik saja" Jawan Rere.
"Syukurlah, hari ini gue kerumah lo ya" Ujar Caca.
"Hmm" Jawab Rere sambil mematikan sambungan teleponnya sepihak.
*****
Malam harinya.
Keluarga Rere sedang melakukan makan malam bersama tak lupa pula dengan Caca yang baru saja sampai beberapa menit yang lalu.
"Papa mau bicara sama kamu Rere" Ucap Hans dengan nada dingin setelah menyelesaikan makan malamnya.
Laki laki paruh baya yang terlihat berkharisma itu beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan menunggu ruang keluarga.
"Ma, Rere selesai" Ucap Rere sambil beranjak berdiri dan mengikuti papanya.
Mama Rere hanya memperhatikan anak dan ayah yang sekarang sedang berjalan menuju keruang keluarga.
"Tante kira kira om Hans mau ngomong apa ya sama Rere?" Tanya Caca yang ikut memperhatikan dari belakang.
"Tante juga ngga tahu, yok kita ikutin mereka" Ujar mama Rere sambil berdiri. Mereka pun mengikuti Rere dan juga papanya yang sudah terlebih dahulu sampai diruang keluarga.
Plakkkkk
"Kamu benar benar sungguh memalukan" Ujar papa Rere yang sudah dipenuhi amarah.
"Kamu tahu, apa yang sudah kamu lakukan itu sangat berpengaruh terhadap bisnis papa?" Bentak Hans pada Rere. Namun Rere hanya diam sambil memegangi pipinya yang terasa perih.
"Sayang sudah jangan memarahi putri kita" Seru mama Rere sambil memegang tangan suaminya dan mencoba menenangkan.
"Sudah ma, jangan membela dia terus. Karena sering dimanja dia menjadi seperti itu. Dia seperti wanita j***** yang tidak tahu malu. Diluar sana masih banyak laki laki tapi kenapa dia harus menyukai laki laki lain" Ujar Hans yang masih sangat kesal dan diliputi amarah.
"PAPA" Teriak Mama Rere.
"Dia itu putri kamu. Tidak seharusnya kamu merendahkan putri kamu sendiri dengan sebutan seperti itu" Seru mama Rere yang tidak kalah marah.
"Mama masih saja membela dia, dia bahkan tidak memikirkan apa yang dia lakukan di acara pesta itu" Geram Hans.
"PAPA CUKUP!" Teriak Rere.
"Papa bahkan lebih mementingkan bisnis papa dari pada kebahagiaan putri papa sendiri. Papa bahkan menyebut putri papa sendiri j*****. Ayah macam apa papa ini" Teriak Rere dengan sangat kesal.
Plakkkkk
Satu tamparan keras lagi mendarat di pipi mulus Rere tanpa bisa dihalangi.
"Kebahagiaan apa yang kamu katakan? Kebahagiaan merusak rumah tangga orang lain? Papa menyekolahkan kamu tinggi tinggi bukan untuk menjadi perebutan suami orang" Bentak sang papa.
__ADS_1
"Mama jangan pernah membelah anak tidak tahu diri itu. Coba mama bayangkan berada di posisi Lolita. Apa yang akan mama rasakan ketika papa direbut oleh perempuan lain. Dan itu sahabat sendiri" Ujar Hans pada mama Rere.
Orang tua Rere memang tahu kalau Rere, Lolita dan Caca itu dulu bersahabat. Karena Lolita sering bermain dirumah Rere. Dan tidak jarang mereka pergi bersama saat akhir pekan.
Mama Rere yang hendak membela Rere pun akhirnya diam tak bersuara. Ia membenarkan perkataan suaminya. Pasti sakit saat kita dihianati oleh teman sendiri.
"DIA BUKAN TEMAN RERE! SELAMANYA DIA TIDAK AKAN PANTAS UNTUK MENJADI TEMAN RERE!" Teriak Rere.
"Kamu yang tidak pantas menjadi teman Lolita" Ujar Hans.
"Asal kamu tahu Rere. Semua rekan bisnis papa membatalkan semua kontrak kerja. Dan ayah mertua Lolita membantu papa untuk menyelamatkan perusahaan. Semua itu karena Lolita yang meminta" Ujar sang papa.
"Setelah semua perlakuan kamu sama dia. Dan Lolita masih baik terhadap keluarga kita. Apa kamu tidak malu?" Ujar sang papa.
"Rere sama sekali tidak malu" Jawab Rere dengan menantang.
"Dasar anak tidak tahu diri. Mulai sekarang semua fasilitas yang papa kasih ke kamu papa tarik sampai kamu bisa menyadari kesalahan mu dan meminta maaf kepada Lolita" Ucap sang papa lalu pergi meninggalkan Rere bersama dengan mama dan juga Caca di ruang keluarga.
"Sabar Re" Ucap Caca menenangakan.
"Sudah lah Ca, mending kita pergi dari rumah ini" Ucap Rere.
"Sayang jangan pergi!" Pinta mama Rere sambil memegang tangan Rere.
"Lepaskan tangan Rere ma, Rere mau pergi dari sini" Rere menepi tangan mamanya dengan kasar lalu menarik tangan Caca dan mengajaknya keluar dari rumah mewahnya.
"Rere lo mau kemana?" Tanya Caca setelah mereka sudah berada di jalan
"Rumah Lo" Jawab Rere dengan ketus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1