Untuk Lolita (MCW2)

Untuk Lolita (MCW2)
Bagaimana bisa?


__ADS_3

Nara terlebih dahulu menarik napasnya, ia kemudian menatap kearah Lolita. "Bukan masalah besar kok, itu cuma masalalu aja" Ujar Nara memulai ceritanya.


"Masalalu? Mantan maksudnya?" Tanya Lolita.


"Ya gitu, sebenarnya Jonathan dulu adalah mantan kakak, dan kita harus terpaksa putus karena orang tua dia tidak setuju dengan hubungan kita karena kakak tinggal di panti asuhan" Ujar Nara sambil tersenyum menatap Lolita seakan masalalu itu tidak meninggalkan bekas luka dihatinya.


"Ia kemudian dijodohkan dengan istrinya tersebut dan baru saja nikah kemarin malam, sebenarnya istrinya itu sudah suka dengan dia sejak kita masih pacaran. Kita memang satu sekolah, dia adalah primadona di sekolah kita dulu, dan dia dengan Jonathan itu bersahabat" Lanjut Nara lagi menyelesaikan ceritanya.


Mendengar cerita Nara, Lolita seakan teringat akan Salsa. Bukankah Salsa bersahabat dengan Aldi? dan bukankah Salsa dulu menyimpan rasa terhadap suaminya itu?


Seperti apa Salsa sekarang? Apakah dia semakin cantik? Apakah dia sudah punya kekasih? Ataukah dia masih menyimpan rasa terhadap suaminya? Pikir Lolita.


Melihat Lolita yang malah melamun itu membuat Nara sedikit heran. "Lolita" Panggil Nara sambil melambaikan tangannya didepan wajah Lolita.


Mendengar panggilan Nara, Lolita seketika tersentak karena terkejut. Ia pun segera menepis beberapa pertanyaannya yang sempat mengganggu pikirannya.


"Apa kak Nara dulu sangat mencintainya?" Tanya Lolita lagi.


"Iya dulu memang kakak sangat mencintai ia, tetapi apa boleh buat lagian ia hanya bagian dari masalalu kakak, tidak ada lagi yang perlu di ingat tentang dia" Ujar Nara lagi.


"Iya kak Nara emang harus move on, kan sekarang ada bang Satya" Seru Lolita.


"Itu mantan kak Nara saat kakak kelas berapa?" Tanya Lolita yang menang tidak mengetahui soal pendidikan Nara.


"Saat kakak SMA, dulu kakak sekolah di SMA Pancasila. Itu memang salah satu sekolah elite, tetapi kakak bisa masuk karena beasiswa dan juga kakak bekerja disebuah toko kue" Jelas Nara sambil mengingat masa masa SMA-nya yang tidaklah mudah.


"Wah, Bang Satya juga dari SMA Pancasila dulu. Apa jangan jangan Bang Satya sudah suka sama kak Nara semenjak SMA ya" Tebak Lolita.


"Ngaco kamu, Kakak aja dulu engga dekat sama abang kamu, kita pacaran kan baru satu tahun" Nara sejenak menjeda Kalimatnya. "Lagian juga setelah kejadian itu, beberapa minggu kemudian tepatnya saat kenaikan kelas dua belas kakak pindah sekolah" imbuh Nara.


"Ya siapa tahu kalau selama ini bang Satya diam diam menyimpan rasa sama kak Nara" Cetus Lolita. "Berarti waktu SMA engga kenal sama bang Satya ya, kan bang Satya pindah ke SMA Pancasila saat kenaikan kelas 12, soalnya bang Satya dulu ikut sama Oma di Berlin" Imbuh Lolita.


Ya benar. Lolita dan Satya dulu memang sempat terpisah karena saat Satya menginjak kelas 1 SMA ia bersekolah di Berlin ikut dengan kakek dan neneknya, lebih tepatnya ialah orang tua ibu Lolita.


waktu itu, dan Satya kembali ke Jakarta ketika mengetahui berita tentang Lolita yang terkena PTSD gara gara bullying di sekolahnya.


Sebenarnya ibu Lolita itu asli orang Indonesia, tetapi ibu Lolita ikut orangtuanya tinggal di Berlin. Dan saat di Berlin ibu Lolita berkenalan dengan papa Lolita yang ternyata putra dari sahabatnya hingga akhirnya mereka dijodohkan.


Orang tua Lolita pun akhirnya kembali ke Jakarta hingga akhirnya mengandung Satya dan Lolita.


"Em, tapi kak Nara apa engga terkejut atau sesak gitu, ya gimana ya kalau lihat mantan nikah ambyar lah pastinya" Imbuh Lolita.

__ADS_1


"Hmm ya gitu lah, tapi ya apa boleh buat, semua sudah terjadi dan perasaan kakak ke dia juga udah engga ada" Jawab Nara sambil tersenyum.


"Iya, dia kan udah di tendang bang Sat dari hati kak Nara ke Pluto, biar sekalian ada tapi engga di anggap hahahaha" Seru Lolita kemudian di sambung dengan gelak tawa.


Pintu kamar Lolita tiba tiba terbuka hingga membuat perhatian Lolita dan Nara tersita kearah pintu yang bercat coklat tersebut dan menampilkan sosok Aldi dengan pakaian olahraganya lengkap beserta handuk yang masih menggantung dilehernya.


"Aldi" Ucap Nara dan Lolita secara bersamaan sembari beranjak berdiri.


"Kamu sudah balik dari joging?" Tanya Lolita sembari berjalan mendekat kearah Aldi yang kini masih berdiri diambang pintu.


"Iya, gerah aku mau mandi" Jawab Aldi.


"Ya udah, kakak keluar dulu ya, kalian lanjutin aja" Ucap Nara kemudian berlalu dari kamar Aldi dan Lolita.


"Emm, ya udah kalau gitu kamu mandi dulu aja biar aku siapin pakaian dulu" Ujar Lolita memutar tubuhnya hendak melangkahkan kakinya menuju walk in closed yang ada di kamarnya. Tetapi langkah Lolita terhenti ketika Aldi tiba tiba menarik tangannya.


"Engga usah, kamu juga belum mandi kan? Mending sekarang kita mandi bareng aja" Ujar Aldi sembari menampilkan senyumnya.


"Ah engga kalau mandi bareng nanti bakal lama" Tolak Lolita.


"Engga lama, paling cuma satu jam" Jawab Aldi dengan santainya.


"Ya Tuhan, ku kira dulu mantan ketua OSIS songong ini bener bener polos dan tidak mesum, tapi apa? Ini sungguh benar benar di luar dugaan" Gumam Lolita dengan nada yang dibuat seakan akan ia menyesal karena telah menikah dengan ketua OSIS-nya semasa ia SMA.


*****


"Eh sayang dari mana kamu?" Tanya Satya kepada Nara yang kebetulan berpapasan dengannya di ruang tamu.


Nara pun menghentikan langkahnya dan memutar lehernya kearah sumber suara "Oh kamu sudah kembali, tadi aku dari kamar Lolita".


"Iya, kenapa kamu ke kamar pasutri gila itu?" Tanya Satya sembari melanjutkan langkahnya untuk menyusul yang lainnya.


"Biasa adik kamu, introgasi masalah semalam" Jawab Nara sambil tersenyum.


"Emang dasar Jubaedah satu itu tingkat ke kepoannya parah" Jawab Satya sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua menghentikan langkahnya ketika sampai di meja makan, terlihat semua orang sudah mengambil posisi duduk masing masing termasuk Aksa yang sudah stay diatas stroller disebelah kursi sebelah Nita.


"Kalian sudah balik, silahkan duduk dan ayo kita mulai sarapannya" Tutur Wilna mempersilahkan Nara dan Satya untuk mengambil tempat duduk.


"Kita tidak menunggu Lolita sama Aldi bunda? Tadi Aldi sudah balik dari joging" Ujar Nara sambil mendudukkan dirinya bersebelahan dengan Satya.

__ADS_1


"Tidak perlu, pasti akan lama jika menunggu mereka, apalagi mereka sama sama belum mandi, keburu dingin nanti makanannya" Jelas Wilna.


Nara pun menganggukkan kepalanya dan sarapan bersama di kediaman putra pun berlangsung seperti biasanya dengan diselipi sedikit obrolan dan candaan.


Meskipun mereka orang kaya, tetapi mereka tidak menerapkan cara makan ala bangsawan yang harus makan dengan diam tanpa mengeluarkan suara. Mereka tetap makan dengan biasa layaknya orang biasa.


*****


Sarapan pun sudah selesai sejam yang lalu. Hari ini adalah akhir pekan jadi keluarga Lolita dan Aldi kini berkumpul bersama untuk menghabiskan waktu besama dengan cucu pertama mereka.


"Benar kan, mereka akan lama sudah sejam dan mereka belum juga turun" Ujar Putra.


"Papa kaya engga gitu" Ucap Wilna sambil menatap kearah Putra yang duduk bersebelahan dengan Doni ayah Lolita.


"Tentu saja itu pasti gen dari papanya" Tutur ayah Lolita sehingga berhasil mengundang gelak tawa mereka semua.


Sedangakan dikamar, Aldi dan Lolita tampak baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Tentu saja aktifitas mandinya dibumbui dengan sedikit percintaan orang dewasa.


"Kau sungguh benar benar keterlaluan mengajak istrimu ini berlama lama di kamar mandi hingga kedinginan" Ucap Lolita sambil melilitkan handuk di rambutnya.


"Tapi kau juga menikmatinya" Jawab Aldi sambil menatap Lolita, handuk berwarna coral masih melilit pinggangnya.


"Cepat pakailah bajumu, atau kau ingin kita menambah beberapa ronde lagi?" Tanya Aldi dengan nada menggoda serta memasang senyum smriknya.


"Kau sungguh tidak pernah puas" Ucap Lolita. "Benar kata orang, kalau orang yang terlihat baik dan pendiam itu aslinya menghanyutkan" Imbuh Lolita kemudian berlalu masuk kedalam ruang ganti.


"Bagai mana bisa aku membiarkan mangsa yang menggiurkan sepertimu" Ujar Aldi sembari tersenyum penuh kemenangan.


****


"Nah, ini orangnya baru nongol" Ucap Satya ketika melihat Aldi dan Lolita yang turun bersamaan.


"Kenapa, apa Lo rindu sama gue?" Tanya Lolita kepada Satya.


"Idih najis" Jawab Satya dengan nada jyjyk.


"Kita semua sudah sarapan, jadi mending kalian sarapan dulu" Ujar Wilna menghentikan perdebatan Lolita dan Satya.


"Nah sono mending kalian sarapan, abis olahraga kan capek jangan lupa teh angetnya diminum biar engga masuk angin karena abis main air" Oceh Satya.


"Bacot lu, kek tau aja" Jawab Lolita sembari berlalu mengajak Aldi menuju meja makan untuk menyatap sarapan yang kesiangan.

__ADS_1


Satya kemudian menatap Lolita dengan tajam kemudian mengatakan kalau Reader harus meninggalkan jejaknya berupaya vote dan like sebagai dukungan untuk author. Terimakasih


__ADS_2